Senin, Januari 28, 2008

Soeharto dan Ibu-ibu yang Diperkosa Jin

:: Soeharto dalam 27 Front Page Koran Hari Ini

Dari 27 koran yang bisa saya dapatkan hari ini, hanya Lampu Merah yang tidak memasang headline berita kematian Soeharto. Lampu Merah “membandel” dengan memasang headline berjudul “Ibu-ibu Diperkosa Jin”.

Selebihnya, semua memasang headline berita kematian Soeharto. Tak hanya itu, nyaris semua halaman muka (front page) koran-koran yang terbit hari ini dipenuhi oleh berita tentang kematian Soeharto dan tak menyisakan untuk berita yang lain. Suara Karya, Bisnis Indonesia, Non-Stop, Top Skor dan Lampu Merah menjadi contoh koran yang tak menghabiskan semua front page-nya untuk memberitakan kematian Soeharto.

Saya belum membaca secara detail semua koran. Tapi, dari pembacaan secara acak, ada satu feature yang menarik buat saya, yaitu feature di halaman 2 Koran Tempo yang berjudul “Dua Puluh Menit Menuju Cendana” yang ditulis oleh Dwi Wiyana. Feature ini menceritakan pengalaman sopir ambulance yang membawa jenasah Soeharto dari RSPP ke Cendana. Ini mengingatkan saya pada tulisan Jimmy Breslin berjudul “Ini Sebuah Kehormatan” yang menceritakan kisah penggali kuburannya John F Kennedy.

Saya puas bisa mendapatkan nyaris semua koran yang saya temukan di Jakarta. Ada beberapa yang saya tak bisa dapatkan yaitu Suara Pembaruan edisi Minggu (27/1) dan Kontan edisi Senin (28/1). Mungkin saya akan mencarinya lagi.

Saya membayangkan, 30 tahun kemudian, saya tak akan kesulitan jika mesti menulis tentang kematian Soeharto. Ini sumber sejarah, saya kira. Mungkin, kelak, saya juga bisa membantu siapa saja yang hendak meneliti subjek ini.

Di bawah ini, Anda bisa melihat 27 front page koran hari ini.

Selengkapnya......

Minggu, Januari 27, 2008

Former President of Indonesia and Brutal Ruler, Dies




"Brutal Ruler". Ya, judul postingan ini, yang ada kata-kata "Brutal Ruler", dipilih oleh Times edisi online untuk menyebut Soeharto dalam headline berita kematian Soeharto. Saya hanya mengunduhnya begitu saja.

Bukan hanya Times, berita kematian Soeharto juga diangkat banyak (edisi online) surat kabar berpengaruh di luar negeri, bersanding dengan berita kemenangan Obama di primay dan kaukus pemilihan calon presiden untuk partai demokrat. Ada yang hanya menurunkan berita dan ada yang menurunkan tulisan khusus.

Nyaris semua berita di media massa luar negeri mencantumkan kata "diktator" dalam tulisannya. Frase "pelanggaran HAM", "kekerasan" dan "korupsi" bertaburan dalam setiap berita tentang kematian Soeharto.

Apa boleh buat, tuan, dunia sudah kadung punya catatannya sendiri tentang sampeyan!

Selengkapnya......

Sabtu, Januari 26, 2008

Death!

Akhirnya....

Dua tahun lalu, juga di hari Minggu, Pram lebih dulu. Bung Pram, sambutlah "kawan lamamu" ini sebaik-baiknya.

Selamat jalan, Jenderal!

Jumat, Januari 25, 2008

Sampah!

Coba sampeyan lihat gambar di bawah ini. Sampeyan pasti sering atau pernah melihatnya.

Coba perhatikan sosok di ujung paling kiri dan paling kanan. Keduanya, sama-sama ada dalam posisi dengan tinggi yang palind rendah. Bedanya, yang di ujung kiri tampak rendah karena masih berbentuk kera sementara yang ujung kanan tampak rendah karena ia dalam posisi duduk. Selain itu, keduanya juga sama-sama tak mengenakan pakaian. Telanjang. Bedanya, gambar di ujung kanan, manusia macam kita, duduk telanjang sambil memelototi komputer.

Ini satire yang bagus saya kira. Charles Darwin pasti tak pernah berpikir bahwa evolusi (kecerdasan) manusia, yang mampu menciptakan mesin hebat bernama komputer, ternyata bisa berakhir sama: ketelanjangan manusia.

Selengkapnya......

Jumat, Januari 18, 2008

Adik Kecil Socrates

Semalam saya menonton interview Peter F Gontha dengan Sinta Nuriyah di Q-TV, membaca bagian kedua buku Arthur Shcopenhauer, The World as Will and Idea, lalu mengakhirinya dengan ngobrol gak bermutu bersama dua teman sekantor yang gagal jadi pastor tapi berhasil menggondol gelar sarjana filsafat dan teologi.

Interview di Q-TV dengan mantan ibu negara, Sinta Nuriyah, lebih banyak berbicara tentang pemberdayaan perempuan. Itu sih gak menarik. Biasa aja. Yang menarik justru sewaktu mulai menyentuh soal kehidupan pribadi Sinta Nuriyah.

Sinta Nuriyah adalah seorang anak mbarep, sulung. Coba tebak, dia punya adik berapa? Satu? Dua? Empat? Lima? Delapan? Sampeyan salah kabeh. Adik Sinta Nuriyah ternyata ada… 17 orang! Dan itu lahir dari (pinjam istilahnya Rendra) “gua garba” yang sama, dari simbok yang esa.

Selengkapnya......

Selasa, Januari 15, 2008

Sebuah Nisan Penuh Cinta

Paper Henri Chambert Loir, sejarawan Prancis yang sempat dididik oleh mahaguru Dennys Lombard, membuat saya kembali membaca sebuah kisah cinta yang melankolik.

Paper itu membicarakan sebuah teks yang susunan hurufnya diacak sedemikian rupa sehingga teks tersebut bukan hanya tak bisa dipahami, tetapi sekaligus juga tak bisa dibaca. Untuk membaca dan memahaminya, kita mesti mengerti lebih dulu polanya. Dan itulah kesulitannya.

Teks yang dibicarakan di situ merupakan sebuah inskripsi yang ditemukan di nisan tua dari awal abad-20 yang ditemukan di Desa Sinderan yang sekarang berada di wilayah Pacitan. Siapa yang menyangka jika inskripsi yang susunan hurufnya diacak sedemikian rupa itu ternyata sebuah pasase penuh pujian dan pernyataan cinta untuk jenazah yang dikubur di bawahnya?

Saya ketikkan satu baris saja dari inskripsi yang tergurat di nisan itu sebagai contoh:

Z ? G JX F X F N T B D F W E F
D X W B U J H R V W W G Z E B Q
Z Z Z B ? G K B M A G X B Z M Q

Coba, apa yang bisa dibaca dari deretan huruf yang susunannya begitu acak itu?

Selengkapnya......

Minggu, Januari 13, 2008

Dua Orang Kakek Haji Rebutan Seorang Nenek Haji

Sewaktu membaca majalah Pandji Poestaka edisi 17 Juli 1930, saya menemukan berita yang bikin saya tertawa terpingkal-pingkal. Coba lihat dan baca kliping di bawah ini:



Kalau berita ini bener, saya geli sendiri. Belum sampe ke tanah air, dua haji yang sudah kakek-kakek ini masih sempet-sempetnya rebutan nenek-nenek. Soal mabrur nggaknya haji mereka emang Tuhan yang atur, tapi kalo gini kejadiannya, sampe tikam-tikaman segala, waduhhh....

Apa nenek haji yang direbutin itu secantik Sophia Loren atau Barbara Streisand yang awet muda itu kali?

Jumat, Januari 11, 2008

Berapa Presiden RI yang Sudah Wafat?

Soeharto sedang sekarat. Mari berhitung, ada berapa mantan presiden RI yang sudah meninggal?

Jika jawabannya satu orang, maka pastilah itu merujuk pada Presiden Soekarno. Ya, dia wafat pada 21 Juni 1970.

Jika jawabannya dua orang, maka pastilah itu merujuk pada Mr. Assa'at. Ya, dia wafat pada 16 Juni 1976. Dia juga Presiden RI loh, persisnya antara Desember 1949 sampai Agustus 1950. Ibukota RI waktu itu ada di Yogyakarta. Lha, terus Soekarno ngapain kalau Assa'at yang jadi Presiden? Soekarno tetap jadi Presiden, kok. Cuma waktu itu dia jadi Presiden Republik Indonesia Serikat (RIS, bukan RI).

Jika jawabannya tiga, maka pastilah itu merujuk pada Mr. Sjafruddin Prawiranegara. Ya, dia wafat pada 15 Februari 1989. Dia juga bisa dianggap presiden loh, persisnya antara Desember 1948 sampai pertengahan 1949. Lha, terus ngapain Soekarno kalau Sjafruddin jadi Presiden? Soekarno tetap jadi presiden, kok. Cuma berhubung dia lagi ditahan Belanda gara-gara Agresi Militer II, maka Soekarno dan Hatta sempat mengirim telegram kepada Sjafruddin yang sedang berada di Sumatera untuk mendirikan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (DPRI) di Sumatera. Sjafruddin inilah yang menjadi Ketua PDRI dan memimpin pemerintahan Indonesia dengan bergerilya.

Nah, jadi jika Soeharto meninggal, tebaklah, sudah berapa Presiden RI yang wafat? Mau pilih versi yang umum atau versi yang barusan saya paparkan?

Saya gak lagi do'ain Soeharto meninggal. Saya cuma mendadak ingat sama Pram. Mungkin dia sudah tak sabar menunggu untuk mengucapkan kalimat: "Welcome, bro...."

[akhirnya saya bisa menulis pendek, jadi gak perlu read more. hehehe....]

Kamis, Januari 10, 2008

Risalah tentang Kehendak

[:: pito, ini secangkir kopi buatmu, bonus untuk pertanyaanmu kemarin]


“Jika kita puas dengan kelemahan tubuh,” kata Hazrat Inayat Khan dalam kumpulan ceramahnya yang berjudul In the Eastearn Rose Garden, “Boleh jadi kita juga puas tanpa memiliki kekuatan kehendak.”

Buku itu betul-betul sedang berada di tangan saya sewaktu tadi malam sedang menyaksikan film Amazing Grace yang mengisahkan perjuangan politisi Inggris yang menjadi pelopor Anti Perdagangan Budak pada akhir abad 18, William Wilberforce.

Wilber tahu tubuhnya berkualitas buruk, tapi ia menolaknya, mungkin lebih tepat mengabaikannya. Ketika akhirnya dia jatuh sakit, dokter pribadinya berkomentar tentang Wilber kepada Perdana Menteri Inggris yang sedang datang menjenguk: “Dia selalu merasa jiwanya terpisah dari tubuh fisiknya.”

Selengkapnya......

Senin, Januari 07, 2008

Fabregas Tahu Tapi Menunggu

[Ini esai bola yang pertama saya tulis. Dibuat beberapa jam setelah leg pertama perempatfinal liga champions 2005/2006 antara Arsenal-Juventus pada 29 Maret 2006. Ini juga menjadi saat pertama di mana Viera, eks kapten Arsenal, kembali ke kandang Arsenal dalam status sebagai lawan. Esai ini menjadi penting artinya buat saya karena menjadi persiapan/latihan yang baik ketika beberapa bulan kemudian saya menjadi kolomnis bola di Jawa Pos selama Piala Dunia 2006 berlangsung]

Arsenal kini mengenang Patrick Viera tak lebih sebagai sebentuk nostalgia yang menghibur. Jika pun kerinduan terhadapnya kemarin-kemarin masih sering hadir tiap kali anak-anak London ini melewati sebuah pertandingan dengan buruk, pekan ini mereka paham bahwa kerinduan itu tak lebih sebuah déjà vu.

Sehari menjelang leg pertama partai perempatfinal Liga Champions yang memertemukan Viera dengan klub yang membesarkan namanya itu, Viera sempat berujar bahwa ia pindah ke klub yang tepat. Kelebihan Juventus dari Arsenal, kata Viera, terletak pada kenyataan bahwa segenap pemain, pengurus dan pendukung Juventus adalah orang-orang yang lapar akan kemenangan dan gelar juara. Arsenal, kata Viera, “adalah klub yang tak punya rasa lapar.”

Fabregas, anak ingusan yang mendadak diserahi tanggungjawab besar di Arsenal sepeninggal Viera, tahu betul kalau Viera keliru. Dan ia menunggu-nunggu hari pembuktian itu.

Omong-omong soal lapar, Sophocles, penulis naskah Antigone yang terkenal, pernah melahirkan sebuah kalimat bersayap yang kurang lebih berbunyi: “Anak-anak muda adalah mahluk dengan rasa lapar yang selalu mengendap di ujung kerongkongannya.”

Selengkapnya......

Jumat, Januari 04, 2008

Membayangkan Neraka

Saat membongkar buku-buku lama yang berdebu saya menemukan sebuah paragraf panjang yang menarik. Di tepi sebelah kanan halamannya, terdapat tulisan tangan yang merupakan respons sekaligus komentar spontan saya sewaktu pertama kali membacanya pada 2004 silam, di sesela KKN di sebuah kampung di kaki Merapi.

Di situ saya tuliskan juga sepucuk nama yang terkenal: Heidegger. Saya bilang di sana: Bahasa dalam paragraf macam inikah yang dimaksudkan oleh Heidegger sebagai “House of Being” atau “Rumah Maujud”?

Baiklah saya tulis ulang paragraf tersebut untuk Anda. Saya harap Anda cukup bersabar dan punya daya tahan untuk membaca paragraf panjang ini. Jika boleh menyarankan, Anda jangan hanya membaca, tapi coba kerahkan juga imajinasi hingga batas terjauh yang bisa dijangkau:

Selengkapnya......