Jumat, Januari 18, 2008

Adik Kecil Socrates

Semalam saya menonton interview Peter F Gontha dengan Sinta Nuriyah di Q-TV, membaca bagian kedua buku Arthur Shcopenhauer, The World as Will and Idea, lalu mengakhirinya dengan ngobrol gak bermutu bersama dua teman sekantor yang gagal jadi pastor tapi berhasil menggondol gelar sarjana filsafat dan teologi.

Interview di Q-TV dengan mantan ibu negara, Sinta Nuriyah, lebih banyak berbicara tentang pemberdayaan perempuan. Itu sih gak menarik. Biasa aja. Yang menarik justru sewaktu mulai menyentuh soal kehidupan pribadi Sinta Nuriyah.

Sinta Nuriyah adalah seorang anak mbarep, sulung. Coba tebak, dia punya adik berapa? Satu? Dua? Empat? Lima? Delapan? Sampeyan salah kabeh. Adik Sinta Nuriyah ternyata ada… 17 orang! Dan itu lahir dari (pinjam istilahnya Rendra) “gua garba” yang sama, dari simbok yang esa.

Saya yang tadinya nonton sambil leyeh-leyeh di sofa langsung terlonjak dan bener-bener mangap tak percaya. Ibu dari Sinta Nuriyah ternyata adalah anak tunggal. Dia merasa gak nyaman jadi satu-satunya anak. Kesepian. Itulah sebabnya dia memilih beranak banyak. Tapi kalo banyaknya sampai 18, weleh… weleh!

Sinta Nuriyah menyebutnya sebagai sweet revenge alias balas dendam yang manis. Itu betul-betul metafora yang manis dan berkadar humor, Bu.

[Dari buku Richard Dawkins berjudul Sungai dari Firdaus yang menjelaskan tentang DNA dan genetika dengan bahasa populer, saya menemukan bahwa ada lelaki dari Maroko bernama Moulay Ishmael yang punya harem seribu lebih. Bayangkan, berapa si Moulay itu punya anak? Sultan-sultan Jawa jelas lewat, bro!]

Saya tak mampu menahan ketawa sewaktu teman saya yang sarjana filsafat, Agustinus alias Ino yang bukunya tentang pemikiran Guattari dan Deleuze diterbitkan Jalasutra, nyeletuk dengan gaya dingin khas pastoral: “Anak yang ke-18 mungkin lahir hanya gara-gara ibunya berdehem!”

Dengan gayanya yang selalu serius, Sebastian Sambi, yang meraih gelar sarjana filsafat dan teologi dengan menulis tesis tentang Derrida, langsung menyambar-nyambar dengan bicara tentang naluri seksual yang tertekan dengan sederetan kutipan dari Freud (maklumlah, dia kelamaan di seminari, jadi praktis dalam hal begituan dia cuma bisa ngutip. Hihihi….).

Kebetulan bagian kedua buku Schopenhauer yang baru saya baca beberapa saat sebelumnya berbicara tentang “kehendak” dan “tubuh” serta bagaimana keduanya berhubungan dan dirayakan (saya paling suka kutipan Schpenhauer yang ini: “Kehendak adalah pengetahuan apriori tentang tubuh dan tubuh adalah pengetahuan aposteriori tentang kehendak”. Pancen jenius! Pantesan Nietzsche sering merujuknya.)

Seperti biasanya diskusi rak mutu, bukannya makin meruncing dan mengerucut, omong-omong makin melebar ke mana-mana. Kalo pinjam istilahnya Markenun alias Emha Ainun Najib di kumpulan esainya yang berjudul “Dari Pojok Sejarah”, diskusi rak mutu kaya gini disebut diskusi nggladrahisme, makin lama makin nggladrah.

Bastian juga bilang bahwa Freud itu diinspirasi oleh Schopenhauer. Saya manggut-manggut setuju, karena begitu juga yang saya tahu. Schopenhauer, di buku itu, memang berbicara tentang kehendak, baik kehendak yang pasif atau Blind Will maupun aktif.

“Pengetahuan tentang manusia itu gak mungkin sempurna karena separuh persepsi manusia atas dunia dan realitas itu dibentuk oleh Blind Will,” kata Bastian.

Blind Will itu, dalam konsep psikoanalisinya Freud, barangkali bisa disebut sebagai "alam bawah sadar".

“Kata Schopenhauer, Blind Will itu susah dipetakan dan pada saat ia masih hidup belum pernah dibahas secara serius. Sebab, kalo ada filsuf yang mau membahas Blind Will, dia bukannya menganalisis pemikirannya Socrates, tapi adik kecilnya Socrates!” ujar Bastian serius.

Saya kebingungan. “Kapan Socrates punya adik kecil? Perasaan Shcpenhauer gak pernah menganalisis adiknya Socrates?”

Sambil tertawa-tawa, dia bilang: “Sana pergi ke toilet, kamu pasti bakalan nemu adik kecilnya Socrates, walau pun dengan ukuran Melayu!”

Woalah, jebule kuwi, toh! Kalo masih belum ngeh maksud dari "adik kecil"-nya Sicrates, mari mari.... saya antar ke toilet. hehehe....

----------------
Moral cerita: Sopan santun dan rasa jengah berbicara vulgar yang merupakan karakter sehari-hari Bastian, ternyata bisa membuat metafora yang sederhana bisa bikin lawan bicaranya terlihat culun, macam saya ini. Hehehe…..

6 komentar:

Iman Brotoseno mengatakan...

Jangan jangan pembicaraan kalian sudah menyerupai diskusi antara Soekarno, Cokroaminoto dan Semaun pada masanya. Begitu dalam dan susah diikuti orang orang seperti saya.

kw mengatakan...

sepakat mas iman. bahasannya sampai di luar kepala (ku). jadi seks itu kehendak alam bawah sadar? masa sih?

zen mengatakan...

kebalik mas kw. justru sebaliknya. kesadaran manusia itu dikendalikan oleh alam bawah sadar. dan, kata freud, alam bawah sadar itu banyak dibentuk oleh pengalaman seksual yg terepresi. ini kata freud loh, ya! hehehe....

MANUSIA PNEUMOTOFOS mengatakan...

Perkenalkan, nama 'adik kecil' saya: BUDIMAN.

Huwahaha..

bubbles mengatakan...

klo kata temen saya, coba saja mushroom, karena pada saat dia memakai mushroom, seringkali kesadarannya dia justru bangkit dari ketidaksadarannya (alam bawah sadar) pada saat itu. mungkin dia menyoba mushroom karena alam bawah sadarnya belum terbentuk oleh pengalaman seksual yah? hihihi

ken-pradnya mengatakan...

yang seperti itu patut dicoba, tidak sekedar didiskusikan bung.
kasihan, kalau terus melakukan pembunuhan berencana. bagaimanapun, itu masa depan heheheh