Selasa, September 29, 2015

50 Tahun Proklamasi Kedua

Selengkapnya......

Senin, Juni 30, 2008

Tubuh

Tubuh/yang mulai akrab/dengan saya ini/
sebenarnya mayat yang saya pinjam ….
(sajak "Tubuh Pinjaman", Joko Pinurbo
)

Spencer Tunick pernah membikin geger New York. Ia berhasil mengumpulkan puluhan orang yang bersedia menjadi model untuknya. Saat sesi pemotretan, Tunick lebih dulu memberi sejumlah instruksi kepada puluhan orang yang hendak dipotretnya. Begitu aba-aba dikeluarkan puluhan model sukarela itu melolosi kain yang mereka kenakan. Telanjang. Mereka lalu merebahkan diri. Ada yang telentang. Beberapa tengkurap. Sejumlah orang nungging. Secepat kilat Tunick menjepretkan kameranya. Klik… klik….

Tunick pun digiring polisi. Ia didakwa mengganggu ketertiban umum. Kita lantas bisa bertanya: Siapa yang sebetulnya berkuasa atas tubuh kita?

Di Indonesia sendiri, soal tubuh menjadi salah satu pokok terpenting yang memicu polemik Rancangan Undang-undang Anti Pornografi dan Pornoaksi (RUU APP). Dalam RUU itu, soal bagaimana cara berpakaian pun diatur. RUU itu secara jelas memosisikan tubuh sebagai sumber dosa dan kejahatan. Karenanya tubuh mesti didisiplinkan. Negara sendiri yang akan mendisiplinkan.

Aksiden yang menimpa Tunick dan lahirnya RUU APP menegaskan satu hal pokok: kita ternyata tak sepenuhnya berkuasa atas tubuh sendiri!

****

Berabad-abad lamanya tubuh tak pernah menjadi perhatian. Sebelum fajar humanisme menyingsing di ufuk Eropa, para filsuf dan para teolog lebih kerap abai pada tubuh. Jika pun didedah, tubuh biasanya selalu diposisikan secara negatif.

Dalam soal tubuh, ada tiga kubu di Yunani. Kubu pertama, yang digagas Cyrenaic, memaklumatkan kebahagiaan tubuh sebagai kebahagiaan yang terpenting. Epicurus menjadi pendiri kubu kedua yang memroklamirkan keyakinan ihwal arti penting kebahagiaan jiwa. Menurut kubu ini, kebahagiaan tubuh tetap diperlukan, tapi kebahagiaan jiwa jauh lebih penting. Sedangkan kubu ketiga secara esktrim berpihak pada kebahagiaan jiwa. Kutub yang didirikan oleh Orpheus ini menegakkan prinsip kalau tubuh adalah neraka bagi jiwa.

Kendati tak populer, gagasan tentang tubuh sebagai penjara/neraka ini dianut banyak sekali filsuf Yunani, tentu saja dengan pelbagai variannya.

Socrates (469-399 SM) menjadi salah satu pelopornya. Murid terbaik Socrates, Plato, juga dipengaruhi ide ihwal tak berharganya tubuh dan segala hal yang bersifat fisikal. Ia mewariskan pemikiran ihwal arti penting “idea”. Baginya, “idea” adalah sumber segala hal. Aristoteles juga melibatkan diri dalam sejarah “terpuruknya” tubuh dengan menekankaan fakultas sensoris dan inteligensi dalam “know theyself”.

Hal itu terus menubuh dalam tradisi filsafat Barat hingga Rene Descartes. Filsuf ini menyusun dikotomi: res extensa (yang berpikir) dan res cogitans (yang dipikirkan). Lewat diktum terkenalnya, “saya berpikir maka saya ada” (cogito ergo sum), orang Prancis yang berjasa besar dalam terbentuknya tradisi filsafat modern itu secara tegas mementingkan intelegensia dan semua aktifitas yang berkaitan dengan proses berpikir, dan dengan demikian menempatkan gerak-gerik tubuh ke dalam aktivitas kelas dua.

Bukan sebuah koinsidensi jika kebanyakan doktrin dan tradisi agama pun selanggam sehaluan dengan doktrin para filsuf di atas. Agama yang terkadang saling berbunuhan dan menebar dengki satu sama lain justru lumayan kompak dalam satu hal ini: tubuh adalah sumber segala dosa.

Laidlaw, lewat bukunya The Bible Doctrine of Man, menunjukkan beberapa variasi pemakaian kata yang tertera dalam Perjanjian Lama untuk menunjukkan elemen yang lebih rendah dalam diri manusia, seperti "daging", "debu", "tulang", "usus", "ginjal" dan juga pemakaian bentuk metafora "pondok tanah liat", sedangkan "roh", "jiwa", "hati", dan "pikiran", menurut Laidlaw, dipakai untuk menunjuk elemen yang lebih tinggi. Kendati Perjanjian Baru jauh lebih netral, hal itu tak berhasil menolong terbentuknya tradisi Kristen yang lebih optimis memandang tubuh.

Dalam teologi Islam, tubuh lagi-lagi diposisikan sebagai sumber maksiat dan kotor sehingga wajib ditutupi dan disucikan secara khusus lewat sebuah tata cara standar (wudlu) tiap kali sebuah ritus ibadat hendak digelar. Tata cara berpakaian juga diatur secara rigid. Islam bahkan punya kosa kata khusus untuk bagian tubuh yang haram diperlihatkan yaitu kata “aurat”.

Dalam tradisi Buddha, perayaan kebahagiaan tubuh bahkan dikurung sebagai hal yang bisa menghambat pencapaian menuju nirwana. Terlalu mengejar kenikmatan tubuh bisa membikin seseorang akan berreinkarnasi ke dalam ujud yang lebih buruk di kehidupan selanjutnya. Itulah sebabnya sejumlah ritual yang meminimalisir kebahagiaan tubuh menjadi penting dalam tradisi Buddha (puasa dan semedi dengan durasi waktu yang lama, misalnya). Samsara menjadi bagian tak terlewatkan dalam prosesi menuju puncak pencapaian spiritualitas.

*****

Tubuh mulai menjadi perhatian ilmu sosial mulai abad 19. Antropologi menjadi disiplin yang sejak awal kelahirannya sudah meletakkan tubuh sebagai bagian penting. Itu terjadi karena sedari kemunculannya antropologi berada dalam tekanan kolonialisme yang membebaninya tugas mencari unsur-unsur yang jadi persamaan semua kebudayaan untuk mengurangi relativitas sosial dan budaya. Istilah human universal (yang dipersempit menjadi culture universal) lantas menemukan tubuh manusia berikut asal-usul dan gerak-geriknya sebagai common denominator bagi pelbagai kelompok.

Antropologi juga menjadi dispilin yang paling awas terhadap peran tubuh masyarakat pramodern. Tubuh adalah penanda penting bagi status sosial, posisi keluarga, umur, gender, dan hal-hal yang bersifat religius. Gerik tubuh dalam pelbagai ritus hingga tatto menjadi tematik yang penting dalam setiap studi atas kebudayaan-kebudayaan pramodern atau primitifyang dilakukan para antropolog.

Ignas Kleden pernah memberi tengara bahwa perhatian intelektual terhadap ide-ide Nietzsce menjadi humus yang menyuburkan perhatian ilmu sosial atas tubuh. Dalam serangannya terhadap fatsoen kelas menengah Jerman dan gereja, Nietzsche yakin benar bahwa yang disebut sebagai pengalaman estetik lebih akrab dengan ekstasi seksual maupun dalam extravaganza tarian primitif. Pendek kata, dipicu oleh gerak dan kebahagiaan tubuh, ketimbang kontemplasi atau rasionalitas. Terutama dengan mencontohkan tradisi olahraga (olympic), Nietzsche menyatakan bahwa Yunani mencapai puncak kemajuannya bukan karena pemikiran rasional, melainkan karena spirit Dyonisian yang penuh kemabukan dan daya rangsang.

Sejak itulah tubuh tak lagi dipahami semata sebagai anasir fisikal melainkan juga sosial (the physical body is also social).

Banyak teori yang muncul berkaitan “tubuh sosial” ini. Robert Hertz percaya bahwa tubuh merefleksikan pola pikir masyarakat. Marcel Mauss bahkan yakin kalau pengetahuan ihwal bagaimana masyarakat menggunakan tubuhnya adalah cara paling strategis untuk mengetahui sebuah peradaban. Mary Douglas meyakini tubuh sebagai suatu sistem simbol. Dalam buku Purity and Danger (1966), Mary melontarkan tese, "Sebagaimana segala sesuatu melambangkan tubuh, demikian tubuh juga adalah simbol bagi segala sesuatu".

Dari semua nama itu, Michael Foucault adalah yang paling terkenal. Beberapa bukunya bahkan menjadi klasik dalam studi tubuh. Ia seperti menjungkirbalikkan tese filosofis para pendahulunya. Baginya, jiwa dan pikiran adalah efek dari tubuh. Tubuhlah penentunya. Turunan dari tese itu menyebabkan jiwa justru dimengerti sebagai perangkap bagi tubuh.

Dalam The History of Sexuality (1978) ia menjelaskan dua bentuk kekuasaan yang berperan di dalam wacana ketubuhan: (1) kekuasaan atas tubuh yaitu kekuasaan eksternal yang mengatur tindak tanduk, mengadakan pembatasan, pelarangan dan pengendalian terhadap tubuh (hukum, tabu dan undang-undang) dan (2) kekuasaan yang memancar dari dalam tubuh, yaitu berupa hasrat dan potensi libidonya.

Dua modus kekuasaan itu saling bertempur. Filsafat, agama, hingga negara adalah “kekuasaan dari luar” yang merepresi “kekuasaan dari dalam tubuh”. Seraya menentang kekuasaan atas tubuh, Foucault menggarap proyek yang ia sebut sebagai "revolusi tubuh" yang akan menciptakan ruang lapang bagi pembiakkan diskursus seksual yang bebas dari represi. Revolusi tubuh juga akan memungkinkan tiap orang merayakan tubuh lewat pelbagai ekstase dan penyaluran hasrat, baik libido seksual, ekonomi hingga libido atas kepuasan diri sendiri (narsisme).

Istilah “spesies” yang dipakai Foucault dimaksudkan sebagai tubuh yang telah menjadi target kekuasaan. Inilah politik tubuh (bio-politik) untuk memertahankan bio-power lewat pendisiplinan dan kontrol regulatif.

Dalam pendisiplinan tubuh dianggap sebagai mesin yang harus dioptimalkan, dibuat berguna dan patuh. Kontrol regulatif meliputi politik populasi, kelahiran dan kematian, dan tingkat kesehatan. Semuanya ditopang oleh standarisasi “normal-tidak normal”, “sopan-mesum” hingga “sehat-waras” lewat kedokteran, psikiatri, psikologi, dan kriminologi.

Foucault berjasa besar dalam menjlentrehkan betapa cap “sakit-waras” atau “mesum-sopan” adalah bukti bagaimana kekuasaan merejalela, dari mulai kamar mandi rumah kita, di jalanan, hingga dalam mimpi-mimpi.

-----
Post-script: Saya pernah menulis tentang visi seorang tokoh teater terkemuka, Artonin Artaud, mengenai tubuh. Untuk membacanya, sila klik di sini.

Selengkapnya......

Jumat, Juni 27, 2008

Laron

“Kapan kau terakhir menyesal?” Ia bertanya dengan wajah yang begitu tenang, seakan-akan kematian masih teramat jauh dari lehernya.

“Ada banyak berkah yang tak ku syukuri, banyak kesia-siaan yang kutelan. Mungkin, bisa jadi, salah satunya adalah kau. Tapi tak pernah kubiarkan rasa sesal menggagahiku. Penyesalan hanya membuat usia akan makin terasa pendek. Hidup terlalu pendek untuk dibebani sederet penyesalan!”

Itu jawabku. Dia menghela nafas. Kali ini lebih berat dari sebelumnya-sebelumnya. Aku tak tahu apa yang dipikirkannya. Aku lebih memilih menatap wajahnya yang terasa makin tirus. Ada satu rahasia yang makin tak mampu ku raba. Jalanan makin gelap, juga sepi --mungkin seperti hidupnya.

“Kita ini seperti laron. Satu waktu kau yang menjadi api dan aku yang menjadi laron. Lain kali aku yang menjadi api dan kau yang menjadi laron.”

Aku tak memotongnya. Kubiarkan ia mengeluarkan semua yang ingin dikatakan. Ada satu perasaan yang muncul diam-diam: sebaiknya ku biarkan ia bicara apa saja, sekehendak hatinya.

“Kenapa kau selalu diam malam ini? Hanya menjawab pendek-pendek saja. Setahuku kau tak pernah kehabisan bahan cerita jika sedang menghabiskan malam. Ayolah, aku ingin kau bicara tentang laron-laron. Bicaralah tentang 'Lagu Siul' itu!”

Aku rapatkan jaket hitam yang sudah apak oleh keringat dan debu. Kusulut api dan kupindahkan bara itu menjadi gumpalan asap yang terhembus dari mulut, tentu saja setelah kuhisap lebih dulu kretek dengan lingkar kuning di sepertiga ujungnya.

“Aku bukan Ahasveros lagi. Lupakanlah. 'Lagu Siul' itu amat bagus bicara ihwal kematian dan etos untuk terus berjalan menuju titik terang, kendati laron tahu makin dekat titik terang itu sayap-sayapanya akan terbakar, dan ia akan tewas. Tidak begitu aku ingin mampus.”

Aku menolak permintaanya dan mencoba berkelit demi membiarkan ia bisa terus berbicara dan mengoceh saja.

“Kau bajingan tengik. Tapi itu pun bahkan tak sanggup membuatku menganggapmu sebagai sampah. Karena sejak awal aku tahu resikonya!”

Aku tertawa agak getir kali ini. Itu sarkasme paling telengas yang pernah ia sembur di depan mukaku. Tapi aku menganggapnya justru sebagai pujian. Tak mudah bisa memunggungi orang ini berkali-kali tanpa sekali pun dianggap sampah.

Belakangan, aku tahu, itu percakapan terakhir yang ku gelar dengannya. Tapi ia tahu, sangat amat tahu, seperti apa resiko pernah menyentuh rambutku dan menyelipkan ujungnya di balik daun telingaku…. di ujung peron Stasiun Tugu, saat aku hendak pergi untuk sebuah perjalanan tanpa tiket kepulangan.

Selamat jalan, Mevrouw. "Introitus: Requiem"-nya Mozart lantas mengalun pelan.

[ katakunci: lagu siul + chairil ]

Selengkapnya......

Sabtu, Juni 21, 2008

Senin

Aku mengirim do’a untuk Senin dalam hidupmu: lekaslah pulih, cepatlah sehat, biar aku bisa melihat wajahmu yang cerah, yang sumringah, seperti yang sering kulihat dulu saat aku berteriak memanggilmu dari luar pagar dan rautmu lantas muncul dari balik balkon.

Beberapa pisau kecil akan menyentuh tubuhmu, menyayat beberapa bagian kulitmu yang langsat. Setelah itu, sejumlah luka akan mengendap di sana, sesuatu yang akan menjadi bagian dari biografimu. Tapi, percayalah, gurat luka –sebanyak apa pun itu—tak akan banyak mengubah: karena keindahanmu tidak dipertaruhkan pada seberapa banyak luka yang membekas.

Menurutku kau sudah menjalani hidup dengan cara yang hebat, melewati waktu dengan cara terbaik yang mampu kau lakukan. Kini, saatnya kau menyempurnakan hidupmu yang hebat itu dengan cara yang tak kalah bagusnya: tersenyum, tenang, mengepalkan tangan disertai sikap sumeleh yang bening.

Jika pun momen ini mesti dikhidmati sebagai sesuatu yang penting, sebaiknya pahamilah ini sebagai satu titik balik: setelah ini, kau yang baru telah lahir kembali, kau yang lebih mampu memahami betapa hidup adalah berkah tak tertandingi, lebih dari apa pun.

Senin bukan menjadi awal keruntuhan atau kejatuhanmu. Senin akan kau rayakan sebagai hari lahirmu yang kedua.

Semoga aku masih bisa menjadi bagian perayaan itu.

Selengkapnya......

Kamis, Juni 19, 2008

Jakarta

Selamat ulang tahun Jakarta, Ibukota Senja.

Buatku, kau tak pernah menjadi Jancukarta.Ini bukan soal penghasilan atau pekerjaan, tapi tentang bagaimana seseorang membuka diri pada semua kemungkinan yang akan diberikan sebuah kota dan menolak untuk menelan begitu saja sejumlah stereotipe yang mengepungnya.

Saya masih harus belajar menyukai siangmu yang panas dan rudin, tapi saya sudah bisa menyukai senja dan malammu: sebuah pentas karnaval cahaya di atas cahaya dibalut dingin dan sunyi yang kadang terasa ganjil.

--------------------------------------

[Saya pasang sajak bagus Toto Sudarto Bachtiar ini, anggap saja sebagai kado ulang tahun bagi Jakarta yang ke-481]

Ibukota Senja
-- Toto Sudarto Bachtiar

Penghidupan sehari-hari, kehidupan sehari-hari
Antara kuli-kuli berdaki dan perempuan telanjang mandi
Di sungai kesiangan, o, kota kekasih
Klakson oto dan lonceng trem saling menyaingi
Udara menekan berat di atas jalan panjang berkelokan

Gedung-gedung dan kepala mengabur dalam senja
Mengintai dan layung-layung membara di langit barat daya
O, kota kekasih
Tekankan aku pada pusat hatimu
Di tengah-tengah kesibukanmu dan penderitaanmu

Aku seperti mimpi, bulan putih di lautan awan belia
Sumber-sumber yang murni terpendam
Senantiasa diselaputi bumi keabuan
Dan tangan serta kata menahan napas lepas bebas
Menunggu waktu mengangkut maut

Aku tidak tahu apa-apa, di luar yang sederhana
Nyanyian-nyanyian kesenduan yang bercanda kesedihan
Menunggu waktu keteduhan terlanggar di pintu dinihari
Serta di keabadian mimpi-mimpi manusia

Klakson dan lonceng bunyi bergiliran
Dalam penghidupan sehari-hari, kehidupan sehari-hari
Antara kuli-kuli yang kembali
Dan perempuan mendaki tepi sungai kesayangan
Serta anak-anak berenangan tertawa tak berdosa
Di bawah bayangan samar istana kejang
Layung-layung senja melambung hilang
Dalam hitam malam menjulur tergesa

Sumber-sumber murni menetap terpendam
Senantiasa diselaputi bumi keabuan
Serta senjata dan tangan menahan napas lepas bebas
O, kota kekasih setelah senja
Kota kediamanku, kota kerinduanku

(1951)

Selengkapnya......

Senin, Juni 16, 2008

Nasib

Tiga titik di tubuhmu, tiga tanda nasib di hidupmu: padanya riwayatmu dipertaruhkan, padanya —mungkin— biografi kita ditentukan.

Saya tidak tahu, tak akan pernah tahu, akan berakhir di mana alur berkelok dari riwayat ini. Tapi, kabar buruk mengejutkan yang ku dengar langsung dari mulutmu semalam membuat fragmen-fragmen ringkas masa silam berkelebat sepanjang hari… sepanjang siang. Pada salah satu retrospeksi itu, muncul begitu saja sebiji simpulan yang mau tak mau mesti kutelan: jika ada banyak berkah yang tidak kusyukuri, salah satunya pasti adalah kau!

Pengakuan, tentu saja, tidak berkurang artinya hanya karena ia datang terlambat. Tapi, saya ragu, masihkah ada artinya mengucapkan syukur saat berkah itu sudah menjauh?

Jangan kau berburuk sangka dulu ihwal kata-kata “berkah itu sudah menjauh”. Itu bukanlah satu doa yang mengharapkan keburukan. Sama sekali tidak. Kata-kata itu lebih berarti sebagai satu pemahaman sederhana tentang bagaimana nasib bergulir dan bergerak. Pada akhirnya, memang, ada sehimpun jarak yang kian melebar dengan kecepatan yang –sebenarnya—lambat, tapi pasti tak bisa kita tolak.

Dalam soal ini, mungkin, kita tak bisa berbagi. Ini bukan soal mau atau tidak, sebab nasib memang tak bisa dibagi, betapa pun ingin kita membaginya. Nasib adalah kesunyian masing masing, kata Chairil Anwar.

Kata-kata Chairil itu saya ambil dari sajaknya yang berjudul “Pemberian Tahu”. Kau mungkin tak pernah membacanya dan memang tak harus membacanya. Aku sudah amat tahu kau tak terlalu berminat dengan segala tetek bengek tentang sajak. Tapi, jika boleh, ingin benar aku mengenalkan sajak Chairil itu padamu, setidaknya di sini.

Bukan karena sajak itu teramat indah, bukan, sama sekali bukan. Indah atau tidak, dalam urusan sajak yang subyektif sekali pun, tetap butuh argumen. Dan aku tak sedang dan memang tak ingin berargumen. Sebab waktu, mungkin, sudah terlampau mepet, sementara usia – O, usia…. – siapa yang tahu kedalaman rahasianya?

Aku ingin membagi sajak Chairil itu padamu semata karena aku merasa tak ada sajak lain yang paling mampu membabar seperti apa riwayat perkisahan yang pernah kau anyam, juga yang pernah ku gurat. Cobalah kau menyimaknya dan nikmati saja apa yang kau temukan di sana:

Pemberian Tahu

bukan maksudku mau berbagi nasib
nasib adalah kesunyian masing masing
ku pilih kau dari yang banyak,tapi
sebentar kita sudah dalam sepi lagi terjaring
aku pernah ingin benar padamu
di malam raya,menjadi kanak kanak kembali

kita berpeluk ciuman tak jemu
rasa tak sanggup kau ku lepaskan
jangan satukan hidupmu dengan hidupku
aku memang tidak bisa lama bersama
ini juga ku tulis di kapal dilaut tak bernama!

1946


Post-script: Tetaplah kuat, seperti yang sudah kau tunjukkan padaku bertahun-tahun lamanya. Kaulah empu dalam hal ketabahan. Andai aku bisa membantu, apa pun, ya apa pun….

Selengkapnya......

Senin, Juni 09, 2008

Zidane

[ini esai lama yang ditulis dan dimuat setelah prancis mengalahkan brazil pada perempatfinal piala dunia 2006. prancis akhirnya kalah dari italia di final dan zidane --kita tahu-- dikartu merah karena insidennya dengan materazzi]

Usai menyaksikan si tua bangka Zinedine Zidane sendirian mengobrak-abrik kesebelasan Brazil di perempat final Piala Dunia 2006, orang-orang Prancis seperti dipaksa untuk merumuskan kembali apa artinya menjadi tua.

Prancis dikenal sebagai negeri yang selalu terbuka terhadap pembaruan. Di Prancis-lah, persisnya pada 14 Juli 1789, terjadi revolusi dahsyat yang sukses menjebol kekukuhan tembok penjara Bastille yang selama 400 tahun lebih menjadi bui para maharaja Prancis menjebloskan musuh-musuh politiknya. Orang Prancis merayakan hari itu sebagai hari nasional; titimangsa yang dikenang sebagai simbol dari robohnya ancient regime (rezim lama) yang korup dan despotik.

Revolusi Prancis itu terbukti membangkitkan inspirasi dan membangunkan fantasi banyak orang di negeri-negeri yang jauh akan indahnya kemerdekaan dan kebebasan. Bukan cuma menginspirasi Revolusi Oktober 1917 di Rusia, tetapi juga sedikit banyak menjalar ke nadi para pentolan nasionalisme di Indonesia. Pram, lewat tokoh Minke, berkali-kali menyebut-nyebut Revolusi Prancis sebagai salah satu yang menginjeksi semangat perlawanannya yang berkobar terhadap kolonialisme.

Tetapi, yang juga pasti, revolusi 1789 itu seperti menjadi darah dan daging bangsa Prancis, menjadi serum yang terus-terusan menginjeksi bangsa Prancis untuk selalu terbuka pada perubahan, mengakomodasi gejolak dan fantasi heroik kaum revolusioner, memantik terus-terusan kaum muda Prancis untuk tidak mau stagnan, dan menginspirasi para filsuf Prancis untuk terus-menerus menggali sampai ke kemungkinan yang terjauh dari batas-batas kemampuan berpikir manusia.

Mestikah diherankan jika gerakan kebudayaan dan pemikiran berlabel post-strukturalisme dan post-modernisme mulai lahir dari para filsuf Prancis? Mestikah pula diherankan jika seorang Derrida dan Barthez yang mengacaukan peta filsafat dunia dengan ide-idenya yang menerabas konvensi filsafat itu lahir di Prancis? Mestikah diherankan jika hanya di Prancis-lah kaum buruh di sebuah negara maju Eropa bisa seenaknya mengobrak-abrik ibu kota jika tuntutannya dilecehkan? Dan, mestikah pula diherankan jika para pelarian revolusioner macam Milan Kundera dari Ceko hingga Hasan al-Banna dan Ayatollah Khomeini yang sukses mengobarkan spirit Islam radikal memilih hengkang ke Paris ketika dikejar-kejar rezim di dalam negeri dan diterima dengan lapang oleh bangsa Prancis?

Pendek kata, Prancis adalah surga bagi semua ide dan orang yang mencintai perubahan. Kaum muda karananya punya tempat istimewa di sana. Mereka diberi kesempatan untuk mencoba apa yang mungkin bisa dicoba.

Jadi, wajar jika publik Prancis sebetulnya tidak terlalu yakin tim nasional mereka bisa digdaya di Piala Dunia kali ini. Itu terjadi karena Raymond Domenech, juru racik taktik tim Prancis, terlalu memercayai serombongan tua bangka yang dianggap sudah habis kemampuannya.

Publik Prancis ingat, persis ketika timnya berantakan di Piala Dunia 2002, Korea Selatan yang menjadi tuan rumah sukses melaju hingga semifinal. Ketika itu, Korsel dipenuhi anak-anak muda yang bersemangat. Dan, entah kebetulan entah tidak, di waktu yang nyaris bersamaan, di Korsel sedang berlangsung perang hebat antara generasi tua versus muda.

Dan, hebatnya, di Korsel "perang" itu dimenangkan kaum muda. Presiden Roh Mo Hyun adalah bukti menangnya kaum muda dalam "perang" melawan orang-orang tua. Roh, yang tak memiliki riwayat politik kemilau, tiba-tiba menyalip di tikungan terakhir. Dia memenangi pemilihan umum berkat dukungan kaum muda.

Kaum muda yang menjadi kunci kemenangan Roh disebut sebagai "angkatan 386". 386 adalah sebutan untuk orang-orang berusia 30-an, yang pada dekade 1980-an getol melakukan perlawanan terhadap pemerintahan militer Korea Selatan. Mereka juga rata-rata kelahiran 1960-an.

Kemenangan "angkatan 386" itu berefek berantai. Yang pasti, kemenangan itu pemicu "perang" antargenerasi. Perlahan, tapi meyakinkan, angkatan muda Korsel menduduki pos-pos penting, menggantikan orang-orang tua yang mulai "pikun", lamban, dan loyo gairahnya. Itu terjadi di mana-mana, nyaris di segenap sektor kehidupan di Korea Selatan.

****

Publik Prancis dan dunia seperti belum teryakinkan kekukuhan Zidane untuk turun gelanggang di Jerman. Apa pun dalihnya, tuah Zidane dipercaya sudah redup. Kegagalan Zidane memberikan gelar untuk Real Madrid selama dua tahun terakhir seperti menjadi penambalan atas keroposnya magis Zidane tua.

Kekukuhan Zidane untuk tetap turun gelanggang awalnya seperti menunjukkan dia sebagai orang yang sedang mengidap virus gerontokrasi (untuk memelesetkan istilah kedokteran, gerontologi, yang merujuk fase ketika individu memasuki masa uzur): virus yang menggambarkan kekerashatian seorang tua yang memaksakan diri merasa muda dan mampu.

Tetapi, begitu menyaksikan bagaimana Prancis menjungkalkan Brazil, lewat Zidane yang bermain penaka seorang konduktor berpengalaman memimpin orkestra yang sedang memainkan sebuah nomor indah kepunyaan Tchaikovsky, publik Prancis seperti diajak untuk merenung: betapa tua terkadang tidak identik dengan kelambanan dan nihilnya gairah.

Jika orang-orang Prancis ditanya komentarnya mengenai Zidane beberapa saat setelah kemenangan atas Brazil itu, salah satu di antara mereka yang ditanyai mungkin akan menjawab sembari mengutip kata-kata Shakespeare dalam bagian ke-3 adegan 5 naskah berjudul “Much Ado about Nothing”: A good old man, Sir!

Itulah yang dengan sebaik-baiknya dibuktikan Zidane, bahwa ia adalah seorang tua yang baik dan hebat, terutama setelah dia memimpin Prancis sukses menekuk Spanyol yang meraih hasil sempurna di penyisihan grup dengan skor meyakinkan 3-1 dan memulangkan Brazil yang difavoritkan lewat sebuah permainan memukau yang dipuji tidak hanya oleh Kaka dan Alberto Pereira, tetapi juga oleh Beckenbauer, Platini, dan Pele.

Yang juga menarik, Spanyol dan Brazil adalah rival yang sejumlah pemainnya sudah sesumbar untuk menjadikan pertandingan melawan Prancis sebagai partai terakhir Zidane bermain bola. Dua pentolan utama Spanyol dan Madrid sekaligus kompatriot Zidane di Madrid, Raul dan Ronaldo, yang mengucapkan hal itu.

Dan, mereka kena batunya. Mereka kena tulah akibat ucapannya. Keduanya seperti tak ingat bahwa Roberto Carlos, karib Ronaldo dan Raul sekaligus sahabat Zidane di Madrid, pernah menyebut: "Orang yang menganggap Zidane terlalu tua bermain bola adalah mereka yang tak mengerti sepak bola."

Kita tahu, Zidane sudah mengumumkan pengunduran diri dari dunia sepak bola usai Piala Dunia 2006 ini tuntas digelar. Dan, di situlah justru kuncinya. Bagi Zidane yang akan tutup buku dengan bola, detik-detik terakhir kehidupannya di lapangan hijau berarti sebuah pertaruhan bahwa hidup (baca: karir) mesti ditutup dengan baik dan kematian (baca: akhir karir) mesti dijemput dengan indah, seindah-indahnya.

"Teologi kematian" macam itulah yang, tampaknya, mendorong pemain bangkotan macam Zidane, yang dari sononya diberkati bakat alam yang cemerlang, untuk bermain sekuatnya, sebisanya, hingga batas terjauh yang mungkin bisa dia jangkau. Dia tak ingin kematiannya berakhir dengan tragis. Yang penting berusaha sebaiknya. Soal hasil, entahlah… dan sebaiknya tak usah dipikirkan karena memikirkan hasil sama saja membicarakan takdir; sama-sama tak jelas juntrungnya.

Saya jadi ingat sekuplet syair penyair Horatius yang begitu gemar dikutip oleh Soe Hok Gie. Katanya: "Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan. Yang kedua, dilahirkan tapi mati muda. Dan, yang tersial adalah umur tua. Bahagialah mereka yang mati muda."

Zidane, rupanya, tak sepakat dengan puisi itu. Baginya, jika mati tua bisa dihayati dengan kegemilangan dan kebahagiaan, untuk apa mati (baca: pensiun) lekas-lekas?

Selengkapnya......

Jumat, Juni 06, 2008

Vienna

[versi asli posting ini bisa diliat di sini. esai bola berikutnya ditunggu aja, ya....]

Begitu pluit pertama Piala Eropa 2008 ditiup di Basel, saat itulah perjalanan panjang menuju Wina (Vienna) dimulai. Di Wina itulah kampiun sepakbola Eropa kelak akan ditentukan pada 29 Juni 2008.

Jauh sebelum 16 negara sepakbola terbaik di Eropa bertarung satu sama lain memburu kejayaan di Wina, sudah banyak jenderal yang ingin menaklukkan Wina. Para jenderal dari Kekaisaran Roma atau dari Kekhalifahan Utsmaniyah pernah mencobanya. Tapi, barangkali, tak ada yang lebih terkenal selain Napoleon Bonaparte.

Jendral Kancil dari Prancis itu, yang menggelar serangkaian peperangan besar yang dalam sejarah Eropa dikenal sebagai Napoleonic War, bahkan sempat melansir sebuah parafrase yang kelak menjadi begitu terkenal: “If you start to take Vienna, take Vienna!”

Pada 1905, beberapa saat setelah merebut kota Ulm tanpa meletuskan satu pelor pun, pasukan Napoleon terus bergerak menghancurkan pasukan Aliansi (Austria dan Russia) yang mengundurkan diri hingga ke Olmutz yang terletak di timur laut Wina. Bergabungnya tiga kekuatan itu membalikkan situasi dengan seketika dan menempatkan pasukan Napoleon dalam situasi tertekan.

Kecerdikan Napoleon yang sudah termasyhur yang akhirnya menentukan akhir peperangan. Dengan memasang strategi yang sepintas terlihat ketakutan, termasuk dengan memasang wajah penuh kecemasan sewaktu menemui utusan Raja Austria, Napoleon berhasil memancing pasukan Aliansi untuk keluar dari pertahanannya.

Tanpa pernah diduga Jenderal Kutuzov, panglima pasukan Aliansi dari Rusia, pasukan Napoleon tiba-tiba muncul dan dalam gerak yang begitu cepat dan ringkas (yang memang menjadi ciri khas sekaligus kekuatan utama pasukan Napoleon), pasukan Aliansi bisa dicerai-beraikan.

Peperangan yang berakhir pada Desember 1905 yang dingin itu diakui para sejarawan sebagai kemenangan Napoleon yang paling monumental. Parafrase “If you start to take Vienna, take Vienna” menjadi bagian dari mitologi kehebatan Napoleon sebagai jendral perang brilian yang berhasil menaklukkan Wina.

Sampai-sampai, Beethoven menggubah Symphony No. 3 in Eb ‘Eroica’ untuk dipersembahkan kepada Napoleon yang dianggapnya sebagai “pribadi agung” (de un grand’ uomo).

*****
Peperangan-peperangan besar yang melibatkan Wina seperti menegaskan genesis kota Wina yang mulanya memang dibangun sebagai kamp militer Kekaisaran Roma di Eropa Daratan. Tapi, cerita Wina tak hanya melulu soal peperangan. Sejarah Wina juga dihiasi sejumlah perjanjian-perjanjian penting.

“Kongres Wina”, yang berlangsung antara September 1814 hingga 9 Juni 1815, dianggap sebagai momen terpenting dalam sejarah Eropa setelah Revolusi Prancis yang menginspirasi gerakan anti-monarki di segenap penjuru Eropa. Diarsiteki oleh Kanselir Austria, Matternich, Kongres Wina mencoba menegakkan kembali sistem monarki di Eropa yang sempat tercerai-berai.

Perang Dingin antara Amerika dan Sovyet juga mulai mencair setelah Presiden Amerika, JFK Kennedy, bertemu dengan pemimpin Sovyet, Nikita Kruschev, di Wina pada Juni 1961. Dari situlah gagasan “hidup berdampingan secara damai” antara dua adidaya mulai dianyam sebelum Ronald Reagen kembali mengambil kebijakan ofensif pada 1980-an.

Di atas semua itu, Vienna Convention on the Law of Treatise (yang masyhur dengan sebutan Konvensi Wina), yang dibuat di Wina pada 1969, bahkan menjadi acuan dasar bagi 108 negara yang akan membuat perjanjian. Konvensi Wina adalah cetak biru yang menjadi aturan dasar bagi semua perjanjian internasional antar-negara.

Diktum “war is nothing more than the continuation of politics by other means”-nya Carl von Clausewitz seperti coba dipatahkan oleh Konvensi Wina. Alih-alih perang, diplomasi dan perundingan sebagai cara terbaik menyelesaikan semua perkara internasional menjadi semangat utama Konvensi Wina.

Jika peperangan dianggap sudah tak lagi pantas dijadikan medium mencari negara mana yang paling digdaya, sepakbola menjadi salah satu cara terbaik untuk menggelorakan hasrat nasionalisme dengan cara yang lebih beradab. Piala Eropa menyediakan panggung untuk perayaan itu.

Kata-kata Napoleon, “If you start to take Vienna, take Vienna!”, bergema kembali di dada setiap 368 pemain dari 16 kesebelasan peserta Piala Eropa 2008 dalam cara yang begitu berbeda. Kata-kata “to take Vienna” menjadi metafora dari pertarungan panjang memperebutkan gelar Kampiun Eropa.

Semua bermimpi bisa bermain di Wina dan merengkuh gelar sebagai kampiun di sana. Semua merindukan Wina, semuanya menginginkan Wina. Wina adalah simbol dari kejayaan dan kemasyhuran. Siapa yang bisa berpesta di sana, ia akan dicatat oleh sejarah.

Kerinduan akan Wina ini seperti menggemakan kembali kerinduan yang aneh seorang Federico Garcia Lorca, penyair flamboyan Andalusia yang terkenal karena sajak-sajak balada yang ditulisnya. Pada bait terakhir sajaknya yang berjudul Pequeño vals Vienés (Little Viennese Waltz), Lorca menulis: “En Viena bailaré contigo” (Di Wina aku akan menari denganmu).

Sebelum saatnya benar-benar telah tiba, tidak akan ada yang tahu siapa yang akan berpesta dan menari di Wina bersama Lorca. Satu-satunya cara agar hasrat dan mimpi tentang Wina terus terjaga adalah dengan melakoni pertandingan satu demi satu dengan sebaik-baiknya, mengerahkan kemampuan yang dimiliki dengan sehebat-hebatnya.

Selebihnya, biar nasib mencari jalannya sendiri-sendiri, karena hanya akan ada satu kesebelasan yang bisa merengkuh mimpinya tentang Wina dan menari dalam pesta di sana, sementara 15 kesebelasan lainnya akan merasakan sungsangnya menyaksikan mimpi dan hasrat yang menguap ke udara.

Karena sehebat-hebatnya Napoleon, toh akhirnya ia mesti melepaskan Wina usai kekalahan di Waterloo. Begitu juga dengan sajak Lorca yang diam-diam menyimpan dengan rapi kemuraman dan kesunyian yang tak mengenakan di ujungnya: “Dejaré mi boca entre tus piernas,/ mi alma en fotografías y azucenas,/ y en las ondas oscuras de tu andar” (Aku akan meninggalkan suaraku di antara derap kakimu, meninggalkan jiwaku pada gambar-gambar dan bunga-bunga lili, serta pada kemuraman langkah kakimu).

Perjalanan menuju Wina adalah pertarungan menuju kejayaan dan kemasyhuran. Tapi, jangan lupa, di sisinya juga menguar tragedi dan kesedihan dari kesebelasan yang tersisih dan terjungkal. Itulah dua sisi antagonisme yang tak terpisahkan dari drama sepakbola, persis seperti imaji yang coba dihamparkan sajak Lorca tadi: tentang kemenangan dan kekalahan, kejayaan dan kehancuran, serta epik dan tragedi yang bersisian dalam satu harmoni yang ganjil.

Semuanya dimulai di Basel dan akan menemukan klimaksnya di Wina: kota di mana sejumlah peperangan besar dan kesepakatan perdamaian penting pernah diguratkan.

Selengkapnya......