Jumat, Januari 25, 2008

Sampah!

Coba sampeyan lihat gambar di bawah ini. Sampeyan pasti sering atau pernah melihatnya.

Coba perhatikan sosok di ujung paling kiri dan paling kanan. Keduanya, sama-sama ada dalam posisi dengan tinggi yang palind rendah. Bedanya, yang di ujung kiri tampak rendah karena masih berbentuk kera sementara yang ujung kanan tampak rendah karena ia dalam posisi duduk. Selain itu, keduanya juga sama-sama tak mengenakan pakaian. Telanjang. Bedanya, gambar di ujung kanan, manusia macam kita, duduk telanjang sambil memelototi komputer.

Ini satire yang bagus saya kira. Charles Darwin pasti tak pernah berpikir bahwa evolusi (kecerdasan) manusia, yang mampu menciptakan mesin hebat bernama komputer, ternyata bisa berakhir sama: ketelanjangan manusia.

Di hadapan kecanggihan komputer dan internet, manusia sangat senang tampil telanjang, membicarakan ketelanjangan, atau menyaksikan mahluk yang satu spesies dengannya sedang berpose dan berakting telanjang juga, akan lebih semangat nontonnya kalau yang berpose dan berakting telanjang itu lebih dari satu orang, bisa berdua, bertiga, bahkan ada yang massal. Albert Camus mungkin benar, sekarang lebih banyak lagi orang macam Kaisar Calligula.

Coba simak gambar yang tengah, di situ tampak sosok telanjang yang sedang membawa tombak. Berapa jiwa mahluk yang satu spesies dengan dia yang mesti tewas oleh tombak macam itu, atau oleh anak panah, dalam peperangan antar suku? Anehnya, evolusi kecerdasan manusia tetap saja tak membuat manusia berkurang naluri membunuhnya. Jika dulu tombak, sekarang dengan Kalashnikov 47 atau bahkan bom atom. Jangan salahkan jika ada yang beranggapan bahwa manusia sebenarnya tak banyak berubah.

Bertrand Russel, filsuf hebat abad-20 yang jenius dalam banyak hal ini, menyebut fenomena seperti itu sebagai “omong kosong intelektual” atau “intellectual rubbish”. Istilah itu dipakai Russel untuk menjelaskan betapa banyak hal dari konsep-konsep yang sering kita anggap intelektual ternyata memiliki bolong-bolong yang tak terduga, aib-aib yang memalukan, sekaligus dusta-dusta yang tak termaafkan, termasuk keyakinan-keyakinan kita tentang betapa mulianya manusia modern dibanding orang-orang Badui yang bar-bar.

Russel membicarakan “intellectual rubbish” itu dalam bukunya berjudul “Unpopular Essays”, tepatnya di halaman 71-111. Dua hari lalu saya membacanya (dari terjemahan Mochtar Pabottingi) dengan rileks, sambil diselingi nonton film klasik buatan tahun 1955 yang memesona, “East of Eden”, yang dibintangi James Dean, yang juga membintangi film yang lebih terkenal, lebih legendaris dan masih sering dibicarakan, “Rebel without A Cause”.

Di esainya yang cukup panjang ini, Russel menulis dengan rileks. Berbeda dengan esai-esainya di buku yang sama, di bagian ini Russel bahkan sama sekali tak merumuskan apa itu “intellectual rubbish”. Ia banyak menyajikan contoh-contoh dari konsep, teori, doktrin atau kepercayaan yang baginya omong kosong dan tak ada artinya. Dia mengolok-olok beberapa pemikiran Paus, para pemimpin sekte agama, teori-teori pemikir dan teolog berkaliber macam Lao Tze, Thomas Aquinas, Mahatma Gandhi, Spinoza bahkan hingga Plato dan Aristoteles.

Russel, misalnya, mengolok Plato karena (1) dia tidak menyenangi drama dengan alasan yang sangat sepele: karena dalam drama lelaki memerankan tokoh perempuan (dulu perempuan nggak boleh main drama atau theater, itulah sebabnya tokoh Viola dalam film “Shakespeare in Love”, yang dimainkan Gwyneth Paltrow, harus menyamar jadi lelaki untuk bisa bermain drama yang disutradarai Shakespeare) dan karena (2) Plato secara konyol pernah menulis bahwa manusia yang sepanjang hidupnya tak mencari kebijaksanaan akan lahir kembali sebagai seorang perempuan.

Aristoteles diolok-oloknya juga karena secara absurd pernah mengajukan teori bahwa (1) jika kawin terlalu muda maka anaknya akan perempuan semua, (2) darah wanita lebih hitam dari darah lelaki, (3) gajah yang menderita insomnia harus digosok punggungnya dengan garam dan (4) jumlah gigi wanita lebih sedikit dan lebih jelak dari gigi lelaki (Maulida, silakan kau marah-marah pada dua Almukarrom dari Athena ini: Gus Plato dan Gus Aristoteles. Aing mah teu pipiluan, euy. Hahaha….)

Russel juga menceritakan kepercayaan bangsa Cina tentang kesucian mayat dengan nada yang sinis. Dia bercerita tentang seorang tabib Prancis yang diminta mengajar tentang kedokteran modern bagi orang Cina. Permintaan tabib itu untuk membedah mayat disambut dengan penuh ketakutan. Anehnya, tabib itu diberi keleluasaan untuk membedah hidup-hidup tubuh penjahat berapa pun yang dikehendakinya. Majikan Cina-nya heran dengan penolakan tabib Prancis tersebut, sama herannya dengan tabib Prancis itu terhadap usulan majikannya.

Thomas Aquinas, teolog gereja terpenting selama abad pertengahan, juga tak luput dari olok-oloknya. Aquinas pernah membayangkan masyarakat kanibal yang tak pernah makan daging selain daging manusia. Kata Aquinas, semua orang dari masyarakat kanibal itu penuh dosa (juga pasti masuk neraka) karena tubuhnya tak lagi asli karena setiap sel tubuhnya adalah kepunyaan orang lain yang sudah dimakannya.

Dengan semangat mengolok-olok yang kental, Russel menggojlok pandangan Aquinas itu. Masalahnya, kata Russel, jika semua pendosa akan dibakar di neraka (termasuk dari masyarakat kanibal itu), lantas daging siapa yang mau dibakar? Karena daging-daging manusia berkut sel-selnya sudah tercampur baur. Tubuh si A, misalnya, yang semua selnya diambil dari korban yang dimakannya harus dibakar, sementara pada saat yang sama korban-korban yang dimakan itu yang juga kanibal dagingnya juga harus dibakar, maka tak akan lagi jelas siapa yang mesti menanggung dosa dan siapa yang mesti menanggung sakit kepanasan. (bebaqaran wae, ya? Hehehehe….)

Dia juga mengejek suster-suster gereja yang jika mandi pun masih harus mengenakan pakaiannya. Jika ditanya untuk apa mandi masih mengenakan pakaian, suster-suster itu biasa menjawab: “Apa kau lupa Tuhan maha tahu dan melihat?”

Dengan nada yang rasanya setengah gusar, Russel balik mengejek: “Jika Tuhan maha tahu dan melihat, apa kau kira Tuhan tak bisa menembus pakaian yang kau pakai waktu mandi?” Lucu sekali, kata Russel, bagaimana bisa seorang yang saleh punya imajinasi tentang Tuhan yang senang mengintip hambanya yang sangat saleh, hobi yang tak ada bedanya dengan penyakit voyeurism macam di film-film bokep.

Pemerintahan Inggris, tanah kelahiran Russel, juga tak luput dari olok-oloknya. Sewaktu Inggris terlibat Perang Dunia I, Inggris mencoba menanam bahan pangan sebanyak-banyaknya, termasuk menanam kentang di hari Sabat atau Sabtu (salah satu dari 10 larangan Tuhan seperti diajarkan Musa). Sewaktu Inggris tak kunjung menang perang, masyarakat menganggap bahwa ini akibat pemerintah melanggar larangan menanam kentang di hari Sabat. Tapi, sewaktu akhirnya Jerman berhasil dikalahkan, masyarakat Inggris punya alasan yang –bagi Russel—begitu konyol: “Sebab orang Jerman melangar seluruh dari sepuluh perintah Tuhan, sementara Inggris hanya melanggar satu perintah saja.”

Para pemimpin sekte keagamaan juga diolok-oloknya dengan pedas. Salah satu yang paling lucu adalah peristiwa yang terjadi pada 1820 di New York. Ketika itu, kata Russel, seorang perempuan yang jadi pemimpin sebuah sekte, mengatakan bahwa ia bisa berjalan di atas air dan ia juga mengumumkan bahwa dirinya akan memertontonkan kehebatannya itu pada jam 11.00 besok harinya.

Pada waktu yang telah ditentukan itu, ribuan pengikut ketua sekte itu sudah berkumpul di sebuah danau. Ketika tiba saatnya, ketua sekte itu berkhotbah lebih dulu dan mengakhiri khotbahnya dengan pertanyaan: “Percayakah kalian semua bahwa saya sanggup berjalan di atas air?”

Dengan suara yang bulat, ribuan pengikutnya mengangguk seraya berteriak: “Ya, kami percaya!”

Coba, kira-kira apa yang dikatakan ketua sekte itu? Dia ternyata berkata gini: “Kalau begitu, saya tak perlu melakukannya lagi!” Mereka semua lantas pulang ke rumahnya masing-masing dengan perasaan yang puas.

Banyak aneka lelucon intelektual dan doktrin-doktrin teologi yang diacak-acak oleh Russel di esainya yang ringan tapi serius itu. Anda bisa membacanya sendiri jika ingin lebih puas. Tapi, cukup jelas, Russel ingin mengingatkan pembacanya bahwa penting untuk berhati-hati dengan semua teori dan kepercayaan yang sepintas terasa meyakinkan. Russel memberitahu bahwa banyak hal dari itu semua sebenarnya adalah omong kosong yang keropos.

Itulah sebabnya, sewaktu berceramah untuk mengenang Moncure Conway, ia membacakan pidato berjudul “Free Thought and Official Propaganda”. Di situ, ia mengejek dengan serius konsepsi William James tentang “will to believe” atau “kehendak untuk percaya” (bisa dibaca pada buku James yang terkenal, “The Varieties of Religious Experience: A Study in Human Nature”, yang edisi terjemahannya diterbitkan oleh penerbit Jendela).

Russel lantas mengajukan konsep yang ia namai “will to doubt” atau “kehendak untuk meragukan”. Sikap itu penting sebab, kata Russel dalam ceramah yang diadakan pada 1922 itu, “Tak satu pun dari kepercayaan-kepercayaan umat manusia itu benar sepenuhnya. Masing-masing kepercayaan itu mempunyai sudut-sudut yang kabur dan keliru.”

Saya jadi ingat sewaktu pertama kali diajari tentang Bertrand Russel oleh profesor saya yang terkenal, Prof. Syafi’i Ma’arif, di kelas Filsafat Sejarah di awal-awal kuliah dulu. “Russel itu,” kata Profesor yang pernah jadi Ketua PP Muhammadiyah ini, “adalah wakil paling terkemuka dari aliran agnostisisme yang tak mau memikirkan lama-lama soal Tuhan itu ada atau tidak, karena bagi mereka ada atau tidaknya Tuhan itu sama sekali gak penting dan bukan urusan mereka.”

Anda boleh ikut Russel atau tidak. Tapi, ada yang menarik dari kata-kata penutup Russel di esainya tentang “intellectual rubish” itu. Gini bunyinya: “Seorang bijaksana akan menikmati kebaikan yang begitu banyak tersedia, dan sehubungan dengan sampah (rubbish) intelektual: ia akan menemukan secara melimpah, di masa kita dan di tiap masa yang lain.”

Anda berminat untuk menemukan “sampah-sampah” macam itu di mimbar khotbah hari Jumat atau di kapel pada Minggu pagi atau dalam berita di TV atau di koran-koran dan buku-buku? Jika mau, bagaimana kalau kita memulainya dengan memeriksa “sampah” yang mungkin berserakan di blog kita sendiri lebih dulu?

Jangan sampai deh memukul air di dulang terpercik wajah sendiri. Bukan begitu? Yuuuukkkk……

2 komentar:

Lida mengatakan...

Waw, rame euy bukuna! Masih ada di toko ga?

Omong-omong, soal Gus Aris(toteles), urang geus apal yen manehna seksis. Si eta nyebut awewe teh manusa nu can anggeus (can sampurna?). Soal huntu oge teu make observasi. Cik atuh euy ceuk urang mah itung heula huntu pamajikanana saacan ngomong kitu teh. Hahaha..

mPitzky mengatakan...

jadi ini kesimpulan monganmu ttg betapa enaknya jadi orang modern. setelah tahajud onlen sama tuhan abis itu bisa chatting online ama jablay?