Senin, Januari 07, 2008

Fabregas Tahu Tapi Menunggu

[Ini esai bola yang pertama saya tulis. Dibuat beberapa jam setelah leg pertama perempatfinal liga champions 2005/2006 antara Arsenal-Juventus pada 29 Maret 2006. Ini juga menjadi saat pertama di mana Viera, eks kapten Arsenal, kembali ke kandang Arsenal dalam status sebagai lawan. Esai ini menjadi penting artinya buat saya karena menjadi persiapan/latihan yang baik ketika beberapa bulan kemudian saya menjadi kolomnis bola di Jawa Pos selama Piala Dunia 2006 berlangsung]

Arsenal kini mengenang Patrick Viera tak lebih sebagai sebentuk nostalgia yang menghibur. Jika pun kerinduan terhadapnya kemarin-kemarin masih sering hadir tiap kali anak-anak London ini melewati sebuah pertandingan dengan buruk, pekan ini mereka paham bahwa kerinduan itu tak lebih sebuah déjà vu.

Sehari menjelang leg pertama partai perempatfinal Liga Champions yang memertemukan Viera dengan klub yang membesarkan namanya itu, Viera sempat berujar bahwa ia pindah ke klub yang tepat. Kelebihan Juventus dari Arsenal, kata Viera, terletak pada kenyataan bahwa segenap pemain, pengurus dan pendukung Juventus adalah orang-orang yang lapar akan kemenangan dan gelar juara. Arsenal, kata Viera, “adalah klub yang tak punya rasa lapar.”

Fabregas, anak ingusan yang mendadak diserahi tanggungjawab besar di Arsenal sepeninggal Viera, tahu betul kalau Viera keliru. Dan ia menunggu-nunggu hari pembuktian itu.

Omong-omong soal lapar, Sophocles, penulis naskah Antigone yang terkenal, pernah melahirkan sebuah kalimat bersayap yang kurang lebih berbunyi: “Anak-anak muda adalah mahluk dengan rasa lapar yang selalu mengendap di ujung kerongkongannya.”

Malam itu Sophocles terbukti benar. Fabregas, pemuda ingusan berusia 18 tahun, yang selisih usianya nyaris 10 tahun dengan Viera, bertinggi badan hanya 176 cm, badan yang tak terlalu kekar, kulitnya yang bersih menopang raut wajahnya yang lebih mirip anak mama ketimbang seorang jagal. Tetapi karena seperti anak itulah maka ia begitu lapar dan rakus. Seperti anak kecil yang selalu ingin tahu, tiba-tiba ia begitu saja ada di dalam kotak penalti lawan yang tak menduga kehadirannya. Ia beroleh bola. Dan ia tendang dengan dingin. Seperti itulah proses gol pertama Arsenal yang dicetak Fabregas tercipta.

Viera jelas keliru. Ternyata bukan dirinya dan Juventus yang kelaparan. Seperti kata Sophocles, yang lapar biasanya adalah anak-anak muda. Dan malam itu, Juventus adalah kumpulan orang-orang tua yang dipaksa berlari-lari mengikuti kemauan dan minat ingin tahu serombongan anak muda asuhan Arsene Wenger. Kelihatan betul Juventus bukan lagi menjadi seorang Nyonya Besar, La Vecchia Signora, melainkan menjadi seoran Nyonya Tua yang kepayahan dan dibayang-bayangi ilusi kehebatan masa mudanya dulu.

Dan mereka tumbang, 2-0, lewat sebuah gol dan sebuah asist dari seorang anak ingusan yang menggantikan peran Viera, pemain liat yang malam itu berada di pihak Juventus.

Yang menyedihkan, Viera harus menerima kartu kuning akibat menendang paha Reyes, kartu kuning yang membuat Viera kehilangan kesempatan membalas kekalahan memalukkan di leg kedua nanti. Kekalahan makin komplit karena Camoranesi lebih suka menendang kaki van Persie ketimbang menndang bola, hal yang membuatnya diusir oleh wasit dan juga absen di leg kedua. Zebina, palang pintu yang terlihat begitu renta malam itu, juga melakukan aksi yang tak kalah konyol dengan Camoranesi, dan akhirnya sama-sama dikartumerah.

Dan Fabregas keluar dari lapangan di akhir pertandingan dengan seringai kemenangan. Ia berjalan tegak. Para kompatriot seniornya memeluknya. Sementara Viera berjalan gontai. Ia sempat menerbitkan senyum tipis ketika bersalaman dengan Wenger. Selebihnya, Viera pulang dengan rasa getir yang membuatnya tak bisa tidur semalaman: Ya…. dirinya bukan lagi raja di Highbury.

Dan bagi Viera, malam itu seperti sengaja diciptakan Tuhan sebagai malam di mana seorang raja, dirinya, secara resmi dimakzulkan.

****

Jika dua tahun lalu jagat sepakbola disibukkan oleh aksi liat anak muda bernama Wayne Rooney, musim ini dunia membicarakan dua anak muda secara bersamaan: Lionel Messi dan Cesc Fabregas.

Dua pemain muda ini pernah berlatih bareng semasa Fabregas masih berkostum Barcelona yunior. Keduanya menghabiskan waktu latihan bersama dan seringkali menghabiskan waktu luang dengan bermain playstation bersama pula. Siapa yang menyangka jika kini keduanya juga bersama-sama menjadi perhatian pemerhati bola?

Sekali waktu, dua pemuda belia ini sempat bersua. Ketika itu, Messi bercerita bahwa dirinya diperlakukan dengan begitu baik oleh klub dan para seniornya. Jika aku melakukan kesalahan, kata Messi bercerita, “semua orang akan bilang, ‘tidak apa-apa karena kamu masih sangat muda’.”

Fabregas tersenyum mendengarnya. Di Highbury, ia tak pernah mendapatkan perlakukan emas itu. Di bawah telunjuk Arsene Wenger, semua pemain diperlakukan sama. Tak ada istilah pemain senior atau yunior. Yang melakukan kesalahan pasti akan ditegur.

Tak terbayangkan rasanya apa jadinya Fabregas jika diperlakukan selembut Messi di Barcelona dan di saat yang bersamaan ia mendadak diserahi tugas menggantikan peran Viera yang di awal musim hijrah ke Juventus. Fabregas memang pernah sekali waktu bermain bersama Viera atau menggantikan perannya tiap kali Viera absen. Tetapi menggantikan secara penuh peran Viera tak terbayangkan akan datang begitu cepatnya.

Dan Fabregas memang sempat kelimpungan kepayahan menanggung bebas. Hingga pertengahan musim, Arsenal goyah. Jangankan bersaing dengan Chelsea dan Menchester United, berebut peringkat keempat pun mereka harus kepayahan bersaing dengan Tottenham Hostspurs, Bolton dan Blackburn.

Publik Highbury menyesali kepergian Viera dan menganggap keputusan membiarkannya pergi sebagai blunder fatal. Gulberto Silva, punggawa lini tengah Arsenal dari Brasil, bahkan meragukan Fabregas. Ia merasa dibebani tugas yang demikian berat, selain haru mengamankan lini vital itu, ia juga mesti membimbin Fabregas. Terlalu riskan menyerahkan tampuk kepemimpinan lini tengah pada sorangg yang masih minim pengalaman, kata Gilberto.

Dan Fabregas tahu Gilberto keliru. Dan ia menunggu. Tentu saja sambil terus bekerja keras. Berkali-kali di partai-partai Liga Inggris kita lihat Fabregas mencoba tampil seberingas Viera di lini tengah. Ia mencoba keampuhan tackle-nya. Ia sering menangguk kartu karenanya. Berkali-kali ia juga mencoba sesangar Viera tiap kali berseteru dengan pemain lawan. Sering kali Fabregas kedapatan mencoba mengganggu dan memprovokasi lawannya.

Alih-alih berhasil, Fabregas justru kelihatan lucu. Dengan tampangnya yang imut, sungguh pemandangan yang mengharukan melihatnya mencoba tampil galak segalak Viera, mencoba tampil beringas seberingas Viera.

Lambat laun tampaknya Fabregas sadar bahwa untuk menggantikan peran Viera tak perlu harus bermain seperti Viera. Ia harus menemukan permainannya sendiri, atau dalam kata-kata tokoh caddy dalam film The Legend of Bagger Vance, setiap orang diberkahi pukulan otentiknya masing-masing, dan tiap orang mesti menemukan pukulan otentiknya dan menggunakannya untuk memenangkan pertandingan.

Dan pertandingan melawan Juventus pekan kemarin adalah tilas yang menunjukkan betapa Fabregas telah menemukan permainan otentiknya. Ia tak lagi berada di bawah bayang-bayang Viera dengan mencoba bermain laiknya Viera. Ia telah menjadi dirinya sendiri dan bermain dengan permainan otentiknya sendiri.

Ya… Fabregas tidak bermain dengan semangat sok dewasa dan sok sangar demi menjadi seorang the New Viera melainkan bermain dengan semangat anak-anak yang selalu ingin tahu apa yang terjadi di setiap inci lapangan hijau.

Mestikah diherankan jika malam itu Fabregas seperti ada di mana-mana? Dan mestikah mengherankan jika sebuah statistik menunjukkan bahwa ia memberi kontribusi 61% untuk pertandingan itu, berbanding 21% untuku Henry, 2% untuk Trezeguet dan Gilberto dan 16% sisanya pemain lain?

Malam itu, Arsene Wenger, Gilberto dan segenap pendukungnya sadar bahwa mencari pengganti Viera tidak harus dengan pemain yang bermain seperti Viera; sesuatu yang tampaknya masih belum dimengerti benar oleh Sir Alex Ferguson yang masih kebingungan mencari pemain pengganti Roy Keane, seorang kapten inspiratif dengan terjangan tak kenal ampun.

Fabregas memang bukan Viera dalam arti yang sesungguhnya. Dia tak setinggi dan sekekar Viera. Ia juga bukan tukang jagal dengan kekokohan sekuat Viera. Raut mukanya juga kalah sangar dari Viera. Fabregas lebih mengandalkan gerakannya. Dan setiap gerakan Fabregas ternyata memang penuh kejutan.

Ia memang tak punya dribling sebaik Gilberto, tapi ada hal yang tak dimiliki Gilberto: Fabregas bermain seperti didampingi malaikat yang selalu memberinya informasi ke mana ia mesti bergerak. Malaikat itu bernama, pinjam istilahnya Luis Cesar Menotti, adalah “insting gerakan”. Dan permainan otentik Fabregas dibimbing oleh insting gerakan itu.

Gerakan-gerakan penuh kejutan. Itulah permainan otentik Fabregas. Dan ia sendiri sudah membuang jauh-jauh mimpi menjadi seorang Viera yang beringas.


5 komentar:

arya mengatakan...

fabregas, mutiara muda yang diasah oleh wenger. kapan pemain MU ditulis?

Iman Brotoseno mengatakan...

Wenger memang piawai dalam hal menemukan talenta talenta seperti Fabregas. Cuma kok saya malah cemas dengan kekerasan kepalanya mempertahankan squad mudanya. Ditawari budget 70 juta pounds dalam 'windows transfer' awal January ini, malah ditolak. Mudah mudahan prediksi saya salah.
Btw pernah tahu nggak , Arsenal pernah road show ke Indonesia tahun 80 an, dan kalah sama Niac Mitra Surabaya..( soalnya mainnya siang yang panasnya surabaya pula ) hehe..
Kapan nulis, PSIM Jogja ( glegggk )

MANUSIA PNEUMOTOFOS mengatakan...

Kapan donk ente nulis tentang kemegahan sebuah klub yang memiliki rasa kekeluargaan sangat tinggi, yang selalu mengeramatkan nomor punggung para legendanya sebagai bentuk penghormatan, yang di era 90-an disebut sebagai The Dream Team, yang sekarang ex pemain2 dari klub tersebut (khususnya di era Dream Team tadi) tengah menjadi pelatih2 tersohor di klub2 dan negara di Eropa berlabel kelas 1(boleh ente teliti), yang punya pemain dimana selebrasi perayaan gol pemain tersebut menjadi inspirasi bagi pemain2 sepakbola dunia (khususnya Brazil) ditawar dengan harga sampai 100 juta Poundsterling oleh Real Madrid/Lose Galacticos(ini beritanya baru 2 bulan yang lalu lho!), yang formasinya membuat Italia menjadi juara dunia dan juga menjadi ketergantungan dengan salah seorang sosok pemain dalam klub yang saya bicarakan ini, dan ini yang terpenting: ketika menjadi juara Liga Champions mengalahkan MU dengan agregat 5-2?

Huwahahaha..

Anda benar! AC MILAN!!!!

Weitt.. Jangan keburu ngomongin gimana buruknya kinerja AC MILAN musim ini. Itu siklus bro. Apa menariknya sepakbola bila selalu Milan yang menjadi juara?

Huwahahahaha...

Bakkar Wibowo mengatakan...

Fuckbregas! Kuwi pancen siip Zen, cerdas, punya visi bermain dan fisiknya top markotop. Tapi aku tetep ora seneng karena dia Arsenal!!! :)

Anonim mengatakan...

tidak salah saya mengidolakan fabregas....