Jumat, Februari 22, 2008

Philautia

Cinta dan altruisme bukan hanya ekspresi kelemahan dan penolakan diri, tapi bahkan menjadi tanda dari degenerasi.

Cinta orang di luar Anda, tulis Nietzsche dengan telengas, “Adalah cinta yang buruk buat Anda. Anda menyelamatkan diri ke orang luar lain dan akan merasa senang ketika membuat sebuah kebajikan (bagi orang lain).”

Atau dalam kata-kata Erich Fromm: “Mencintai orang lain hanya akan menjadi sebuah kebajikan ketika keluar dari batin ini, tetapi ia menjadi sangat menjijikkan jika ia ungkapan dari ketidakmampuan untuk menjadi diri sendiri!”

Individuasi, individualisme dan --mungkin- egoisme, per definisi, diberi tempat yang cukup lapang di sini. Sikap mencintai diri sendiri dan mengarahkan kebaikan pada diri sendiri ini oleh Immanuel Kant disebut sebagai “philautia”.

Selengkapnya......

Selasa, Februari 19, 2008

Saya Memang Individualis

“Suatu perasaan yang luas dan dalam, tidak pernah eksklusif.
…Sebab itu kukira kebahagian-pribadi yang setinggi-tingginya yang bisa kita raih, mestilah berbarengan dengan kebahagiaan umat manusia.” (Soetan Sjahrir)


Sjahrir mengatakan itu dalam surat yang ditulisnya pada 22 Juli 1934. Agak mengharukan, barangkali, karena pasase yang sarat visi humanistik itu ditulis sewaktu ia berada dalam pengasingan yang rudin di Tanah Merah, Boven Digoel, Papua.

Lima tahun kemudian, Erich Fromm yang sama sekali tak pernah disebut dan dikenal Sjahrir, melansir paper “Selfishness and Self Love” dalam jurnal Psychiatri yang terbit di Washington.

Sikap mencintai diri, tulis Fromm dalam salah satu baris papernya, “Hanya ditemukan dalam diri orang-0rang yang sanggup mencintai orang lain.”

Paper itu sebenarnya menguraikan distingsi antara “cinta diri” dan “cinta orang lain” (cinta umat manusia, dalam kata-kata Sjahrir), termasuk meletakkan distingsi itu dalam pelbagai konteks, dari masyarakat yang demokratis hingga yang totalitarian ala Jerman pada masa Hitler.

Fromm memberi peringatan bahwa doktrin “cinta orang lain” bisa jadi –dan seringkali-- mereduksi kekuatan dan otonomi individu. Semangat komunitarian ini bisa menjadi sado-masokis jika dikelola rezim totalitarian, ambil misal NAZI di Jerman. Atas nama bangsa atau ras, warga negara diminta menganulir kemerdekaan individualnya.

Selengkapnya......

Senin, Februari 18, 2008

Mangkel Tuenannnnn.....

Dino iki aku mangkel tenan. Mangkele rak umum. Juengkel puollllll. Kampret tenan.

Mergane pelem The Sun Also Rise karyane sutradare Jiang Wen. Pelem sik judule podho plek ambek judul novele Hemingway iki isine ono papat fragmen. Tiap fragmen kejadiane ning musim sik bedho-bedho: summer (kesumuk’en), spring (mecothot), autum (tepar), winter (kademen). Settingane pas jaman Revolusi Kebudayaan nang tlatah Cino.

Sinematografine uapik. Omong-omongane mbulet. Plot-e (bahasa Jawa-ne plot opo yo?) mbolak-mbalik. Ceritane rodho misterius lan wingit. Nontone kudu tenanan. Gak entuk meleng. Aku wae sok-sok mundurke meneh ben rodo dong karepe opo.

Sik marakke juengkel kuwi pas fragmen sik keri. Opo sebabe? Sebabe mung siji: fragmen kepapat kuwi blas gak ono terjemahane. Ojo maneh terjemahan bahasa Indonesia, terjemahan bahasa Inggris wae gak ono. Anane mung bahasa Thailand ambek bahasa Cino. Lha aku kan ora reti bahasa Cino, opo maneh bahasa Thailand. Padahal aku wes mbelan-mbelani niteni ben adegan lan omong-omongane. Lha pas wayahe fragmen terakhir (kiro-kiro 30 menit engkas) sik arep njelaske misteri lan rahasia-rahasia liyane, wealah.... terjemahan Indonesia lan Inggris-e malah bablas. Padahal pelem iki kebak mbek omong-omongan.

Bar kuwi, laptop bosok-ku yo melu-melu mutung. Lha laptop-ku gak iso diuripke maneh. Adaptor lan charger-e isih iso urip. Tapi setrum-e kuwi gak iso mlebu nang baterei. Opo rak soyo mangkeli?

Aku yo dadine muangkel tenan. Juengkel pol-polan. Iki dino opo toh? Senin, ya? Ketoke aku kudu puoso Senin-Kemis meneh. Pancen, Dog!

Sabtu, Februari 16, 2008

A Whiter Shade of Pale

[Ini catatan lama. Entah kenapa saya ingin memajangnya lagi di front page.]



Seseorang yang pernah menyaksikan klip lagu ini di youtube meninggalkan sepucuk testimoni. Dia bilang, A Whiter Shade of Pale-nya Procool Harum telah membuatnya sembuh dari penyakit doyan mabuk.

Lagu ini syairnya begitu puitis juga misterius. Judul lagunya pun aneh. Menurut pengakuan Keith Reid, ia memberikan judul lagu setelah secara tak sengaja mendengar percakapan orang lain di sebuah pesta. "Ada seorang lelaki menatap pacarnya sembari mengatakan, ’you’ve gone a whiter shade of pale’. Kalimat itu terngiang-ngiang terus di kepala saya," kata Reid

Tapi bagi saya, lagu ini justru seperti panggilan untuk mabuk. Saya pernah mengalami momen yang pas, waktu yang tepat dan tempat yang sempurna untuk mendengarkan lagu ini sambil menghabiskan sejumlah gelas vodka yang sudah cukup membuat kepala pening orang yang bukan pemabuk sepertiku.

Waktu itu dentang pukul menunjuk angka jam 8 malam. Kaliurang di lereng Merapi diseraki gerimis tipis yang sudah lebih dari cukup untuk membuat gigil.

Selengkapnya......

Kamis, Februari 14, 2008

Di Atas Gajayana

Lelaki itu tak sadar kalau ponselnya bergetar. Novel Marquez, "The General in His Labyrinth", terlalu kuat mencocok mata dan pikirannya. Setengah jam kemudian, ia baru menyadari ada panggilan yang tak dijawabnya. Aha... seseorang yang lama tak ia dengar kabarnya ternyata muncul, orang yang pernah dia hadiahi kumpulan puisi "Romansa Kaum Gitana"-nya Federico Garcia Lorca.

Lelaki itu segera mengirim pesan pendek yang benar-bernar pendek, tanpa pernah bisa menyadari bahwa pesan pendek yang dikirimnya akan membuka satu kotak pandora yang sudah lama tak ia pikirkan.

"Piye?" (08529*******)

"Gak piye2. Cm pgn tau disana ujan gak. Kalo ujan kluarlah, rasakan bnyknya air hujan yg menimpamu, sebnyak itulah rasa syukurku saat tau kalo km baik2 aja :)..." (08158******)

"Kalo aku keluar,brarti aku mesti loncat keluar dr kereta. Waduh, repot, euy! Hehehe... Ya, aku baik2 saja." (08529*******)

Selengkapnya......

Selasa, Februari 12, 2008

Buku dan Kenangan yang Dipanjangkan

Selain setumpuk kenangan yang kadang manis tapi mungkin pula pahit, hal terbanyak yang bisa saya “wariskan” pada sejumlah nama yang (pernah) mesra dengan saya adalah berbiji-biji buku.

Jumlah buku yang saya “hibahkan” selalu lebih banyak ketimbang kartu pos, film apalagi pas foto. Saya bisa menghibahkannya begitu saja, tanpa alasan. Sesekali sebagai hadiah ulang tahun, sesekali sebagai referensi kuliah, sesekali sebagai bahan tulisan (jika ia berminat menulis), sesekali untuk meredakan pertengkaran. Oleh-oleh yang selalu saya bawa dari perjalanan pun pastilah berbentuk buku, biasanya buku-buku bekas, yang saya dapatkan dari toko buku loak yang saya jumpai di kota yang sedang saya singgahi. Bukan sekali dua mereka membawa buku tiap kali habis mampir di kontrakanku dan saya tak pernah dan memang enggan memintanya lagi. Biarlah, mungkin buku itu bisa lebih berguna.

Lalu saya ingat salah satu sajak Joko Pinurbo yang terdapat dalam antologi “Pacar Senja” (2005; h. 145). Sajak berjudul “Ibuku” itu bercerita ihwal sosok yang begitu penting dalam kehidupan “Aku-lirik” bisa ber-reinkarnasi menjadi sebiji buku. Saya kutipkan bait terakhirnya:

Ketika suatu saat aku pulang ke rumah, ibu sudah
menjadi buku yang tersimpan manis dalam rak buku

Selengkapnya......

Jumat, Februari 08, 2008

Mulih

Di kota yang berjarak sekira 400 km dari Jakarta, saya menerima pesan pendek yang ringkas: “Gak perlu terburu-buru pulang. Santai sajalah!”

Ini salah satu pesan terbaik yang saya terima di tahun 2008. Kaki ini rasanya makin ringan melangkah. Menyenangkan rasanya. Sebab salah satu hal yang diinginkan orang yang sedang kelayaban adalah tak ada yang memintanya pulang secepat-cepatnya.

Saya jadi ingat kutipan mendiang Gie yang paling terkenal. Saya memelesetkannya sedikit:

“Nasib terbaik adalah menggelar perjalanan tanpa pernah disuruh pulang, yang kedua hanya sesekali ditanya kapan pulang dan yang tersial adalah terus menerus ditanyai kapan pulang.”

Selasa, Februari 05, 2008

Sepatu, Sepatu, Sepatu....

Tiga hari saya kehilangan sandal gunung berwarna hitam yang sudah mengawani sepasang kakiku selama 4 bulan. Saya lalu berpikir untuk membeli sepatu dan ingat kalau sejak 1999 saya tak pernah membeli sepatu. Satu-satunya sepatu yang saya punya hanya sepatu bola “diadora” yang –itu pun—sudah amat lama tak pernah kupakai.

Sepatu. Sepatu. Ya, sepatu. Sepasang sepatu boot yang kuat, tulis Maxim Gorky, “Akan lebih banyak membantu kejayaan sosialisme daripada… mata berwarna hitam.”

Tentu saja parafrase Gorky itu metaforik, tapi bukan berarti Gorky sedang membual. Russia, kita tahu, adalah negeri yang berdekatan dengan kutub utara, situasi yang membuat negeri para Tsar itu jauh lebih akrab dengan salju tinimbang sinar matari. Dalam film “Dokter Zhivago”, saya ingat, salju bertebaran di mana-mana, di mana-mana, di mana-mana. Bisakah kita membayangkan Revolusi Oktober 1917 bisa digelar tanpa sepatu boot yang kokoh?

Selengkapnya......

Sabtu, Februari 02, 2008

Artaud

Artonin Artaud, penulis-penyair-dramawan Prancis yang begitu terpikat dengan para penari Bali, punya fantasi seks yang liar dan menggidikkan. Fantasi-fantasi Artaud yang tak terperi itu bahkan sudah muncul jauh sebelum ia akhirnya dirawat di sebuah asylum atau rumah sakit jiwa di kota Rodez pada awal 1940-an.

Pada Februari 1932, Artaud menulis surat pada seorang dokter yang menjadi kawannya, George Soulie de Morant. Di situ Artaud mengisahkan kondisi kejiwaannya yang penuh kecemasan sekaligus mendedahkan obsesinya yang sangat ingin menyelami sensasi-sensasi yang tak terperi, tak peduli itu mengerikan sekali pun.

Im overwhelmed by an immense and constant anxiety, tulis Artaud, “(and) I am obsessed by a terrible sensation of emptiness, incapable of summouning up any image obsessed.”

Ketika akhirnya Artaud dikirim ke asylum karena simptoma skizofrenia, hampir bersamaan dengan direbutnya Paris oleh tentara NAZI, Artaud akhirnya bisa menyelami sensasi-sensasi yang diinginkannya itu dalam bentuk fantasi-fantasi seksual yang menggigilkan. Dan Artaud seringkali meracau dan berteriak histeris karena merasa fantasi-fantasi itu betul-betul nyata, khas seorang pengidap skizo.

Selengkapnya......