Selasa, Februari 12, 2008

Buku dan Kenangan yang Dipanjangkan

Selain setumpuk kenangan yang kadang manis tapi mungkin pula pahit, hal terbanyak yang bisa saya “wariskan” pada sejumlah nama yang (pernah) mesra dengan saya adalah berbiji-biji buku.

Jumlah buku yang saya “hibahkan” selalu lebih banyak ketimbang kartu pos, film apalagi pas foto. Saya bisa menghibahkannya begitu saja, tanpa alasan. Sesekali sebagai hadiah ulang tahun, sesekali sebagai referensi kuliah, sesekali sebagai bahan tulisan (jika ia berminat menulis), sesekali untuk meredakan pertengkaran. Oleh-oleh yang selalu saya bawa dari perjalanan pun pastilah berbentuk buku, biasanya buku-buku bekas, yang saya dapatkan dari toko buku loak yang saya jumpai di kota yang sedang saya singgahi. Bukan sekali dua mereka membawa buku tiap kali habis mampir di kontrakanku dan saya tak pernah dan memang enggan memintanya lagi. Biarlah, mungkin buku itu bisa lebih berguna.

Lalu saya ingat salah satu sajak Joko Pinurbo yang terdapat dalam antologi “Pacar Senja” (2005; h. 145). Sajak berjudul “Ibuku” itu bercerita ihwal sosok yang begitu penting dalam kehidupan “Aku-lirik” bisa ber-reinkarnasi menjadi sebiji buku. Saya kutipkan bait terakhirnya:

Ketika suatu saat aku pulang ke rumah, ibu sudah
menjadi buku yang tersimpan manis dalam rak buku


Sajak di atas, terutama bait terakhir yang saya kutipkan, terasa sederhana dan karena itulah –seperti juga sajak Joko Pinurbo yang lain—justru terasa segar, manis dan rasanya begitu tulus.

Di situ ada suasana “kefanaan” (tentang ibu yang sudah menghilang, mungkin sudah mendiang), ada suasana “kerinduan” (setelah lama tak pulang), tapi pada saat yang sama semuanya sudah “raib”, bukan hilang tak berjejak, melainkan “raib” karena semuanya –terutama sosok “ibu”-- sudah bersalin rupa atau bermetamorfosa atau ber-reinkarnasi atau mungkin sudah mengalami lompatan kualitatif menjadi “buku yang tersimpan manis dalam rak buku”.

Tentu saja “ibu” tak pernah benar-benar menjelma menjadi buku laiknya Malin Kundang yang menjadi batu. “Buku yang tersimpan manis dalam rak buku” tak lebih sebagai sederet tanda-tanda (“trace”, dalam kosa kata Derrida) yang menghubungkan sosok “Aku-lirik” dengan “ibu” yang (mungkin) telah mendiang.

Di situ buku tak sekadar menjadi berhelai-helai kertas yang dibasahi tinta, tapi juga telah menjelma menjadi “kenangan”.

Kadang saya berpikir, buku-buku yang dulu saya hibahkan begitu saja menjadi salah satu (barangkali satu-satunya) medium yang bisa mengekalkan jejak saya dalam kehidupan dan ingatan mereka.

Hanya buku. Dan saya sama sekali tak menyesal. Pertama, saya tak pandai memilih barang untuk dijadikan kado. Saya tak tahu menahu soal parfum, baju, sweater, dan barang-barang sejenisnya. Pernah sekali saya keluar masuk toko dan mall untuk mencari kado buat pacar. Hasilnya nihil. Saya tak cukup cermat dan –mungkin—tak cukup berbakat mencari barang-barang macam itu.

Kedua, saya tak cukup memiliki banyak uang, terlebih selama periode 2000-2006. Jika ada uang, lebih sering saya belikan buku. Boro-boro buat beli kado, untuk makan saja kadang mesti kelayaban dari satu kos ke kos teman yang lain, terutama teman kuliah berjenis kelamin perempuan yang senang memasak. Mereka dengan senang hati memberi saya makan karena mereka tahu saya selalu siap meminjamkan buku apa saja yang saya punya untuk keperluan kuliah mereka. Kadang mereka memberi tahu lewat sms dan memintaku datang jika mereka kebetulan memasak.

Setelah memiliki penghasilan tetap, saya sebenarnya bisa saja membelikan benda lain selain buku. Sesekali saya menjanjikan sesuatu yang bukan buku. Tapi, entah kenapa, saya tak pernah memenuhi janji itu. Pada akhirnya, lagi-lagi, selalu buku dan buku yang bisa dan terus saya berikan.

Bahkan, terkadang, perpisahan pun saya rayakan dengan menyerahkan beberapa buah buku, bukan kecupan. Paling banter hanya tepukan ringan di bahu. Lalu semuanya berlalu; persis seperti salah satu paragraf dalam cerita Seno berjudul "Senja di Balik Jendela":

"Terus terang aku tidak pernah tahu ke mana dia pergi. Hidup mempertemukan kita dengan seseorang, lantas memisahkannya lagi. Tidak selalu kita bisa berpisah dengan lambaian tangan. Tidak selalu kita bisa berdiri di tepi dermaga, melambaikan tangan kepada seseorang di atas kapal yang juga melambaikan tangan kepada kita sambil berseru, “Jangan lupakan aku!”. Tidak selalu. Kadang-kadang kita bertemu begitu saja dengan orang yang tidak pernah kita kenal, menjadi begitu lengket seperti ketan, lantas mendadak berpisah begitu saja tanpa penjelasan apa-apa."

Mungkin ini sebentuk kutukan karena -–kadang— saya “diberkahi” perempuan manis dan baik dan tulus juga karena buku. Jadi wajar pula jika pertemuan terakhir pun dirayakan dengan mengikutsertakan buku. Tapi ini jenis kutukan yang manis dan sedikit lucu.

Ya, dari debu kembali ke debu, dari buku kembali ke buku.

Anehnya, sejak bertahun-tahun dulu, saya amat jarang sekali (mungkin tak pernah) menerima hadiah buku dari pacar. Entah kenapa. Memang ada beberapa biji buku, tapi itu tak diniatkan untuk dihibahkan, melainkan tertinggal dan belum sempat diambil si empunya sewaktu terakhir bersua. Kapan hari pasti saya akan mengembalikannya.

Jadi, jika saya barangkali dikenang oleh mereka melalui –pinjam kalimat Joko Pinurbo-- “buku yang tersimpan manis dalam rak buku”, saya pastilah akan mengenang mereka dengan cara yang tak sama dengan cara mereka mengenang saya. Ini soal bagaimana dan dengan cara apa berbuntal-buntal kenangan itu dirajut untuk kemudian dibuat lantak sembari tersenyum dengan ringan, mungkin sambil bersiul sya la la la la.... [duhai buku-bukuku, layanilah "tuan dan puanmu" yang baru dengan sebaik-baiknya]

Selamat merayakan “fucklentine day”! hehehehe.... :p

---------------------

12 komentar:

Munir mengatakan...

mas zen pesanya kok mengandung kesedihan...

wah bisa di tiru nih...tapi kadang aku bingung mas mo kasih buku yang gmn..hahaha

wah udah .com nih..

kw mengatakan...

melankoli, tumben. berbahagiala zen punya kenangan (manis) tentang buku dan perempuan.
aku kok pengennya malah menghapus abis semua kenangan. gimana ya caranya selain menjadi lupa ingatan? :)

dewi mengatakan...

mungkin saya ada di posisi perempuan-perempuan itu. yang seirngkali perpisahan ditandai oleh sebuah buku. bukan karena lelaki-lelaki itu gemar jg membaca buku, melainkan karena mereka mencintai perempuan yang mencintai buku. sedihnya, ada satu buku paling bagus diantara semuanya, yang hilang, dan mustahil untuk mencari gantinya. begitulah kenangan tercatatkan dalam catatan.

haris mengatakan...

buku, kesedihan, valentine, cinta, ternyata punya relasi yg beda bagi tiap2 orang. ha2

Hedi mengatakan...

Buku bisa jadi kenangan dan sekaligus pencerahan yang panjang tiada batas. Saya jadi inget ada janda (Indonesia) petinggi militer Belanda yang mewariskan koleksi buku suaminya (sebanyak satu rumah bahkan lebih) kepada seseorang di Malang.

astrid savitri mengatakan...

I love to read – but always forget what I’ve read….and I do judge book from its cover.

Chic mengatakan...

sepertiga buku-buku yang memenuhi dinding lemari buku saya dirumah juga hasil pemberian beberapa orang yang pernah mampir di kehidupan saya. dan semua punya kenangan tersendiri (yang tiap kali coba dilupakan, adalah sebenarnya saat kita mengenang.. gitu ya Mas? =P)

susah dipisahkan memang... *sigh*

MANUSIA PNEUMOTOFOS mengatakan...

Ogut juga pernah ngasih buku ke betina nyang ane demenin. Bukunye unik. Dan ane yakin ente belon pernah kasih ini buku ke betina2 nyang pernah mesra ma ente.

Tau ga buku ape?

Buku Gambar..

He..

Kan sekalian buat belajar gambar..

Garingggg..!!!!!!!!!!!

Duile,.. Ending-nye kenes bener!!!

aryaperdhana mengatakan...

wah, buku...
kekayaan yang melebihi emas permata *halah*

astri mengatakan...

Zen, ternyata ini alasan kenapa kau suka satu paragraf seno itu..:)

zen mengatakan...

@munir: mengandung kesedihan? masa sih. gak juga, ah. mau kasih buku apa? pastikan perempuanmu menyukai apa lebih dulu!

@kw: ya, saya berbahagia, mas kw. jangan dihapus, mas. sayang. lagian emang gak bisa dihapus kok. lewati saja....

@dewi: buku apa tuh yg hilang? kali aja aku pny. hihihi....

@haris: beda kepala beda isinya, kan?

@hedi: beruntungnya orang yg dikasih buku serumah itu ya, mas?

@astrid: gak mungkin dong, mbak, semua yg udah dibaca sama sekali lupa. buktinya mbak astrid msh bs nulis blog, bgs2 lagi tulisannya.

@chic: benar, chic, pada saat kita mencoba melupakan, pada saat yang sama kt sebenarnya sedang mengenang.

@panjoel: hahaha... oke juga ide lo. itu bisa lbh puitis krn buku gambar bs dibaca sbg tawaran untuk: "dek, ayo kita lukis bersama semua fragmen di antara kita!"

@astri: salah satu penyebabnya memang itu, astri!

astri mengatakan...

aha, begitu ya...:)
pantas waktu itu kamu begitu terkesan dengan satu paragraf itu :)