Jumat, Februari 22, 2008

Philautia

Cinta dan altruisme bukan hanya ekspresi kelemahan dan penolakan diri, tapi bahkan menjadi tanda dari degenerasi.

Cinta orang di luar Anda, tulis Nietzsche dengan telengas, “Adalah cinta yang buruk buat Anda. Anda menyelamatkan diri ke orang luar lain dan akan merasa senang ketika membuat sebuah kebajikan (bagi orang lain).”

Atau dalam kata-kata Erich Fromm: “Mencintai orang lain hanya akan menjadi sebuah kebajikan ketika keluar dari batin ini, tetapi ia menjadi sangat menjijikkan jika ia ungkapan dari ketidakmampuan untuk menjadi diri sendiri!”

Individuasi, individualisme dan --mungkin- egoisme, per definisi, diberi tempat yang cukup lapang di sini. Sikap mencintai diri sendiri dan mengarahkan kebaikan pada diri sendiri ini oleh Immanuel Kant disebut sebagai “philautia”.

Ada baiknya saya nukilkan sedikit teori narsis-me Freudian. Bagi Freud, semakin banyak cinta yang diarahkan ke luar diri sendiri, maka pada saat yang sama makin sedikit cinta bagi diri sendiri. Jatuh cinta, bagi Freud, adalah sebuah pemiskinan diri dari cinta untuk diri sendiri menjadi seluruhnya dihibahkan pada orang di luar dirinya.

Pandangan macam itu menjadi antinomi dari doktrin altruisme (mencintai orang lain atau kemanusiaan) yang sepintas lalu terkesan menjadi dominan dalam nyaris seluruh ajaran teologi dan filsafat. Dalam pandangan dominan, mementingkan diri sendiri adalah anak panah yang diluncurkan iblis sehingga harus dihindari.

Doktrin “jangan mementingkan diri sendiri” sering direproduksi di mana-mana dalam pelbagai bentuk dan modelnya. Doktrin “jangan mementingkan diri sendiri” ini, terkadang, ditafsirkan sebagai “jangan menjadi egois, kurang hormat atau tidak memedulikan orang lain”. Dalam banyak kasus, bukan sekali dua doktrin “jangan mementingkan diri sendiri” ini berakhir dengan tragis: individu diminta mengurangi otonominya di hadapan banyak otoritas, entah itu agama, masyarakat, norma, dll.

Belakangan, saya makin percaya, bahwa doktrin “jangan mementingkan diri sendiri” bisa menjadi senjata ideologis paling kuat yang bisa menekan pertumbuhan dan perkembangan kepribadian, individuasi dan otonomi diri.

Kemerdekaan dan kebebasan memang menggoda tapi pada saat yang sama juga bisa begitu menggetarkan sekaligus menggentarkan.

Bayangan sebuah kehidupan tanpa bantuan orang lain, tanpa perlindungan dari masyarakat, tanpa kehangatan dari komunitas, tanpa jaminan sedikit pun dari keluarga, tanpa asupan finansial yang pasti dari tempat bekerja, membuat kebebasan dan kemerdekaan individual menjadi begitu menggetarkan sekaligus menggentarkan.

Bayangan muram terhadap kehidupan yang soliter macam itu membuat banyak individu bersedia berkompromi dengan banyak hal: menaati aturan komunitas, menghormati norma masyarakat, menandatangani sekian pasal beleid perjanjian kerja, dll.

Erich Fromm, jika ingatan saya tak berkhianat, menyebutnya sebagai “lari dari kebebasan”!

10 komentar:

Ian mengatakan...

Saya pernah berinteraksi dengan manusia2 yang disebut Bereklauw di Leuven, mereka adalah komunitas yang menolak segala bentuk kemapanan individualis modern ala Barat, di Belgia.

Dan saya tahu, mereka berbuat itu, DoItYouself versi mereka, ketika jenuh dengan yang dinamakan kemandirian personal. Mereka hidup dengan semangat kolegial yang saling membantu.

Yang sama kah yang terjadi pada Zen, walau dalam kondisi yang berkebalikan?

Sah2 saja... :D

kw mengatakan...

sampai sekarang saya juga belum berani menjadi orang bebas. lagi bersiap-siap, meski tak akan sebebas yang di maksud fromm. :)

makasih bukunya ya...

dewi mengatakan...

saya menyetujui frase yang mengatakan, jika kamu merasa sedang memiliki dunia, sebaliknya justru dunia yang memiliki kamu.

memang susah untuk membuat benteng antara "hidup saya" dan "hidup orang2 di sekitar saya", karena terkadang mereka adalah saya, atau saya adalah mereka. karena dari awal memang rancu, manusia sebagai makhluk individualis, dan makhluk sosial.

btw, buku *lirik komen diatas*? hah. kalian sudah berbagi buku yah? membuatku iri. :P

Chic mengatakan...

ah kalo lari mlulu capek Mas...

mencintai diri sendiri itu juga penting Mas, karena dari situ maka bisa mencintai orang lain.. IMHO looh..

dengan catatan: asal wajar... :P

*eh apa-apa juga harus dalam batas kewajaran bukan?*

pemain-pemain kartu mengatakan...

tapi gini, jen:
teori etika levinas mengatakan bahwa setiap individu memiliki watak alteritas, keliyanan yang sangat fundamental dalam dirinya. dan teori ini mengaburkan batas antara individu dan kolektivitas, dan dengan sendirinya membuat pengertian kebebasan jadi relatif (ah, bukan, tapi absurd).
tapi omong kosong lah semua teori itu.
benar, hanya yang percaya pada kekuatan individualnya yang akan meraih kebebasan.

haris mengatakan...

tapi, mas, apakah seseorang bs sepenuhnya jadi bebas? bukankah ada struktur yang jg membentuk kesadaran?

Lia mengatakan...

Ah, memangnya kebabasan itu benar - benar pernah ada melampaui tempat di mana dogma dan konsep, sebagaimana persatuan dan persamaan berada?

cewektulen mengatakan...

tulisan bagus, lama nggak baca yang beginian di blog. btw, saat merasa bebas, sejujurnya kita tidak sedang bebas??? *mikir*..salam kenal

sahat mengatakan...

zen, assalamualaikum.

kayanya tidak perlu menunggu 30 tahun lagi deh, untuk membantu seseorang yang membutuhkan bantuanmu.

pada meninggalnya suharto, hampir semua media memasukkannya sebagai isu utama. tapi, dalam satu minggu {kalau ga salah) media2 besar memainkan isu soal pangan. nah, (kamu sangat ahli dalam hal ini)...jikalau sempat, bisakah dirimu dengan sekian tumpukkan bacaan membandingkan isu (ketahanan, kedaulatan dan keamanan) pangan yang diulas oleh media. soale aku tidak punya koleksi. bahkan, buku-buku aku tak lagi punya. satu hal yang sangat pantang untuk pecinta pram sepertimu.

btw, aku sudah selesai kuliah. tapi, seperti dirimu, kita tidak berbeda dengan yang lain. kuliah ataupun tidak. kita hanya berusaha untuk memperbaiki hidup. individu dalam sosialitas.

satu lagi: aku kan minta ditrain untuk menambah konten dalam blog-ku. kok ga direspon sih...

komang jegeg mengatakan...

jangan-jangan jen, apa yang aku lakukan bukan membuat "dia" tak bisa berkembang. tapi justru aku yang tak bisa mengembangkan diri. karena terlalu banyak waktu tersita untuk orang lain.

tapi kenapa ya jen, aku sulit mencintai diriku sendiri? doktrin untuk "tidak mementingkan diri sendiri" itu sangat merasuk dalam diriku, sejak kecil.