Sabtu, Februari 16, 2008

A Whiter Shade of Pale

[Ini catatan lama. Entah kenapa saya ingin memajangnya lagi di front page.]



Seseorang yang pernah menyaksikan klip lagu ini di youtube meninggalkan sepucuk testimoni. Dia bilang, A Whiter Shade of Pale-nya Procool Harum telah membuatnya sembuh dari penyakit doyan mabuk.

Lagu ini syairnya begitu puitis juga misterius. Judul lagunya pun aneh. Menurut pengakuan Keith Reid, ia memberikan judul lagu setelah secara tak sengaja mendengar percakapan orang lain di sebuah pesta. "Ada seorang lelaki menatap pacarnya sembari mengatakan, ’you’ve gone a whiter shade of pale’. Kalimat itu terngiang-ngiang terus di kepala saya," kata Reid

Tapi bagi saya, lagu ini justru seperti panggilan untuk mabuk. Saya pernah mengalami momen yang pas, waktu yang tepat dan tempat yang sempurna untuk mendengarkan lagu ini sambil menghabiskan sejumlah gelas vodka yang sudah cukup membuat kepala pening orang yang bukan pemabuk sepertiku.

Waktu itu dentang pukul menunjuk angka jam 8 malam. Kaliurang di lereng Merapi diseraki gerimis tipis yang sudah lebih dari cukup untuk membuat gigil.

Saya duduk sendiri di sebuah ruangan bekas mini-bar. Meja bartender masih berdiri kokoh di sudut ruangan. Juga gelas-gelas yang masih tertata cukup rapi. Di sana ada beberapa meja dan kursi yang letaknya tak beraturan.

Tempat ini terletak di bagian belakang sebuah penginapan yang sepi. Penginapan ini tak begitu jauh dari villa tempat menginap anggota Komisi Tiga Negara pada tahun 1948. Bung Hatta sedang berada di sini ketika Belanda pada pagi 19 Desember 1948 menggelar operasi militer yang dikenal sebagai Agresi Militer II. Setelah ditelfon, Bung Hatta langsung turun ke Jogja menuju Istana Negara di ujung Malioboro.

Tak banyak orang yang tahu ada ruang kecil seisitimewa ini di kawasan Kaliurang. Ruangan ini begitu tersembunyi. Saya beruntung menemukan tempat ini lewat sebuah koinsidensi yang tak perlu saya ceritakan. Biarlah tempat ini tetap tersembunyi.

Saya duduk di sebuah kursi yang menghadap ke arah selatan. Di hadapanku bentangan kaca bening membuat pandanganku yang nanar bisa dengan leluasa menikmati kerlap-kerlip lampu malam kota Jogja yang berjarak 30-an km.

Hujan makin deras. Perjumpaan rinai hujan dengan daun-daun bambu yang berada di depan ruangan ini melahirkan simfoni bebunyian yang menyenangkan didengar oleh orang yang sedang letih.

Acer butut kepunyaanku mulai ikut ambil peran. A Whiter Shade of Pale mengalun dengan pasti. Lagu itu sengaja diputar terus menerus. Tanpa jeda.

We skipped the light fandango
And turned cartwheels across the floor
I was feeling kind of seasick….


Saya bukan peminum yang tangguh. Hanya sesekali saja saya minum. Tak heran jika baru beberapa tenggak kepala sudah mulai berat.

Tentu saja di sini tak ada yang menari fandango, tarian dansa yang pernah begitu populer di Spanyol pada abad 17. Kadang saya ingin menjajal seperti apa rasanya berdansa dengan seorang perempuan cantik yang bermata indah. Ingin tahu apa sebenarnya yang membuat para pasangan yang berdansa bisa demikian masyuk merapatkan badannya dengan pandangan mata yang mencoba menggeledah isi hati pasangannya.

Saya selalu ingat bagaimana pensiunan Letkol. Franks Slade yang buta dalam film Scent of Woman berdansa dengan begitu sempurna bersama seorang perempuan muda yang tak dikenalnya; sebuah peragaan kemampuan akting kelas wahid yang sepenuhnya digambarkan lewat gerak oleh seseorang yang sebenarnya bukan seorang penari. Adegan ini akan kukenang sebagai fragmen terbaik yang pernah saya lihat dari seorang Al Pacino.

Tapi tentu saja itu cuma khayal karena berjoget dangdut pun saya tak becus. Saya memilih mengangkat kedua kaki saya dan mendaratkannya di jendela kaca. Punggung saya sandarkan ke kursi yang sebenarnya sudah terasa rapuh di makan usia dan rayap.

The crowd called out for more
The room was humming harder
As the ceiling flew away
Whe we called out for another drink
The waiter brought a tray


Tentu saja tidak ada yang memanggilku. Di ruangan ini juga tak ada “kami”, yang ada hanya “saya” yang sendiri. Minuman pun tidak disuguhkan oleh seorang pelayan, karena ruangan ini hanya sebuah mini-bar yang sudah tak lagi dipakai. Saya yang menuangnya, seperti juga saya sendiri yang menenggaknya pelan-pelan.

Tapi cukup jelas, ruangan memang seperti berputar-putar dengan langit-langit yang pelan-pelan seperti bergerak menjauh menuju angkasa. Saya coba menengadahkan kepala, menikmati ruangan yang seakan berputar. Minuman ini jelas mulai merusak kestabilan pandanganku.

Saya mencoba menikmati pertemuan antara sisa-sisa “kesadaran” dan gelombang “ketidaksadaran” yang mulai mengulurkan tangan menjemputku. Saya ada di cakrawala perbatasan. Situasi inikah yang oleh Gadamer pernah sebut sebagai “peleburan cakrawala”?

Pada momen seperti inilah momen puncak mabuk. Ya, pada saat “ketidaksadaran” mencoba merenggut sisa-sisa “kesadaran”. Ketika “ketidaksadaran” sudah sepenuhnya ambil alih, kita tak pernah lagi bisa menikmati seperti apa rasanya mabuk. Sementara ketika “kesadaran” masih cukup kokoh, itu artinya kita belum mabuk.

Garisnya begitu tipis. Barangkali seperti hisapan penghabisan dari kretek terakhir yang dihisap di puncak Ciremai pada dini hari yang begitu dingin. Ah, sudah lama saya tak menyambangi puncak gunung. Sudah 3 tahun. Ciremai adalah puncak terakhir yang kusambangi.

And so it was that later
As the miller told his tale
That her face at first just ghostly
Turned a whiter shade of pale


Saya tak melihat ada bayangan wajah serba putih dan pucat. Di sela-sela mata yang terus memberat, saya memang melihat warna putih yang menyebar rata di kejauhan. Tapi itu bukan wajah seseorang, bukan pula raut muka sesosok hantu. Warna putih yang menyebar itu adalah kabut tebal yang turun dengan meyakinkan dari puncak Merapi.

Kerlap-kerlip lampu kota Jogja pun sayup-sayup saja terlihat. Rasanya seperti berada di pantai sembari melihat kelip-kelip tipis lampu nelayan di lautan yang naik turun dipermainkan ombak.

Lantas, siapa apa yang sebenarnya dimaksudkan oleh Keith Reid, penulis lirik A Whiter Shade of Pale, sebagai seraut wajah putih-pucat itu?

Saya ingat kata-kata di bait sebelumnya tentang lantai yang berputar dan langit-langit yang seperti menjauh ke angkasa. Jangan-jangan seraut wajah putih-pucat itu adalah Dia yang menampakkan diri di hadapan para penari sama’ dari tarekat Mawlani yang didirikan el-Jalaluddin Rumi? Jika benar demikian, berarti lagu ini tak sedang bercerita tentang seorang pemabuk, melainkan mengisahkan bagaimana para penari sama’ sedang mulai memasuki fase trance? Jika dalam lirik A Whiter Shade of Pale disebutkan adanya minuman yang dibawakan para pelayan, bukankah tarekat Mawlani juga terbiasa akrab dengan minuman anggur?

Saya pernah membaca pemeriaan suasana trance para penari dari tarekat Mawlani yang agak mirip seperti dalam bait lagu ini: lantai seperti berputar, langit-langit seperti bergerak menjauh ke angkasa dan setelah itu pandangan laksana dipenuhi oleh lanskap putih lagi bening dan tak berbatas. Dalam situasi itulah samar-samar Dia, Sang Maha Kekasih, menampakkan diri pelan-pelan dalam “ujud yang tak berwujud”. Jika tak salah, Roger Houdson menuliskan pemerian itu dalam buku tipis Chasing Rumi yang sampulnya kuning itu.

Seorang anggota tarekat Mawlani pernah pula memerikan seperti apa rasanya menari sama’ sembari berputar-putar itu. Tangan kanan membuka ke arah atas dan tangan kiri menelungkup ke bawah. Dia bilang: “Kita tak pernah merasa berputar. Yang berputar itu semesta. Makin kencang putaran makin terbuka pula pintu penyatuan.”

She said there is no reason
And the truth is plain to see


Kebenaran terbuka dengan sendirinya. “Bukannya tak ada penjelasan, tapi karena memang tak lagi dibutuhkan penjelasan. Semuanya begitu jelas,” kata dia.

Tentu saja dia benar. Orang yang tak mengalaminya langsung tak akan pernah tahu persis seperti apa rasanya berputar-putar dengan cepat tanpa sedikit pun muncul rasa mabuk. Makin keras putarannya, makin terbuka pula pintu penyatuan itu. Barangkai seperti pusaran air. Makin keras pusaran air, makin cepat pula benda-benda yang melintasinya terhisap… dan kemudian lenyap, lenyap, dan menyatu sepenuhnya dengan Sang Pemusar yang telah menciptakan pusaran.

Tak ada penjelasan, seperti juga tak ada pemerian. Itulah sebabnya prosesi penyatuan dengan-Nya, Sang MahaKekasih, disebut sebagai zawq. Cita rasa. Orang tak akan pernah tahu dengan persis seperti rasanya kecap tanpa sekali pun pernah mencecap kecap.

But I wandered through my playing cards
Would not let her be
One of sixteen vestal virgins
Who were leaving for the coast
At the moment my eyes were open
They might just as well have been closed


Tapi mabuk karena vodka adalah “mabuk” yang tak sama dengan pengalaman para penari sama’ yang meminum anggur.

Saya sangat ingin memainkan kartu-kartu nasib yang dari sanalah barangkali ranting-ranting kehidupan sudah disusun menjadi serangkaian koinsidensi yang kelak akan kusebut sebagai sejarah. Ya, sejarah hidupku.

Saya tak ingin menyerahkan nasibku kepada siapa pun kecuali pada pundakku sendiri. Jika benar kartu-kartu nasib itu memang ada, saya tetap bersikukuh memertaruhkan nasibku sendiri. Tak akan saya serahkan nasib-nasib itu pada siapa pun, apalagi pada Latta dan Uzza.

Jika tempatku memang berada di lautan yang bergemuruh oleh gelombang pasang naik turun yang tanpa henti, saya akan tetap tinggal di sana. Bertarung dengan segala macam ombak pasang yang datang susul-menyusul tanpa henti.

Saya tidak mau menjadi satu dari enambelas dayang-dayang perawan yang nasibnya diserahkan untuk menemani dan menuangkan gelas-gelas anggur Sang Penentu Nasib hanya karena ingin tinggal di pantai yang indah lagi tenang.

Ketenangan dan keindahan hanya sebagian kecil dari mosaik hidup. Selebihnya adalah pertarungan dan pertaruhan. Siapa yang tak kuat bersiaplah untuk terhempas. Siapa yang kuat akan tetap berdiri di buritan, memegang tali-tali layar, dan menunggu untuk menantang hempasan ombak selanjutnya. Begitu dan begitu seterusnya.

Mabuk adalah hal biasa dalam hidup, seperti muntah dalam sebuah pelayaran panjang yang kita tak pernah tahu di mana ujungnya. Sesekali kita akan menemui peristiwa di mana kita tak sepenuhnya mampu mengendalikan kesadaran kita sendiri. Itulah saat di mana ketakutan dan rasa gentar tiba-tiba datang dan mencoba mengambil alih kekuasaan atas kehidupan kita sendiri.

And so it was that later
As the miller told his tale
That her face at first just ghostly
Turned a whiter shade of pale


Gelombang kabut putih untuk kesekian kalinya datang dengan meyakinkan dari puncak Merapi. Mataku yang makin memberat dan nyaris tertutup kembali menyaksikan hamparan warna putih dan memucat.

Saya paksakan menatap lurus ke arah selatan, menjajal seberapa kuat pandanganku menerobos hamparan warna putih dan memucat. Saya menyaksikan di kejauhan kerlap-kerlip lampu yang menyala dari arah kota Jogja.

Kali ini saya tak merasa sedang berada di pantai dan menyaksikan kerlip lampu yang dibawa para nelayan yang sedang berlayar. Kerlap-kerlip lampu di kejauhan itu sekarang seperti kerlip lampu rumah atau warung-warung yang berjejer di pantai. Sebab saya sudah memutuskan untuk berlayar menantang ombak dan memertaruhkan nasib dan hidup pada kemampuan dan kekuatan sendiri. Sebab sayalah yang kini berlayar itu.

A Whiter Shade of Pale terus mengalun entah untuk keberapa belas kali. Tapi kali ini kudengar makin pelan. Makin pelan.

(post-script:
Fahrie, thanks sudah memerkenalkanku pada lagu hebat ini. “She said there is no reason And the truth is plain to see,” kata Procol Harum

Pito, thanks sudah membantuku memahami lirik lagu yang kata John Lennon sangat misterius dan ia merasa tak akan pernah sanggup menulis lagu dengan lirik seperti lagu ini. “Would not let her be, One of sixteen vestal virgins, Who were leaving for the coast,” kata Procol Harum.

8 komentar:

human wannabe mengatakan...

the honor is always mine, my great dear Pamei *bows* hey, tentang beberapa paragraf berhadiah sesuatu yg mampu mendidihkan darah selama 7 hari itu... tunggu sebulan lagi ya. aku lagi sungguh-sungguh bertaruh mati-matian memenangkan nyawa selembar ini. kumpulkan pendidih darah itu. kutagih ketika September-bulan tersial sepanjang sejarah-muncul di kalender, jam tangan, dan nota pembelian kutang!

dewidresanala mengatakan...

Akhirnya yang kutunggu dah ada... Sayang, yang selalu kunikmati masih dari Sarah B.

hmmmm, jika kau tak merasa menang, tapi juga tak kalah, ketika 'bertaruh'... then what?
Kemarin aku belum menanyakan ini.

Salam :)

lida mengatakan...

Walah, Mabok euy! (???)

syahranny mengatakan...

saya sangat menikmati tulisan ini..

tukrabul-aqdam mengatakan...

orang jawa bilang, ini namanya gothak-gathuk... apalah.. aku lupa..

pito, kok kamu bilangin ke zen rahasia lagu ini, kan kukasih tahu hanya buat kamu.. ;D

ian mengatakan...

Mem-filosofis-kan mabuk, atau me-mabuk-kan filosofi?

Mbok ya, sekali-kali merakyat mabuk pake tuak, ciu, arak, lapen. Jangan ng-elite terus pake vodka...

Rasane makjosslanexotic lho... :)

Anonim mengatakan...

Kayaknya saya kenal tempat itu. Kapan ke sana lagi? Saya ikut, kalau boleh.

lelaki mengatakan...

lagu favorit gue saat kerja neh ...
tapi gue denegrin yang versin baru yang dinyanyikan oleh Syaharani

gue jadi pengin nulis "autumn leaves"