Rabu, September 26, 2007

Tidak Setiap....

Jika air dipanaskan, ia memuai. Jika air didinginkan, ia menjadi es. Tetapi, tidak setiap dusta jadi dosa. Dan, tidak setiap tangis jadi derita. Ada sekian banyak keniscayaan. Tapi, tidak kalah banyak pula ketidakpastian.

Sajak Sutardji pernah menjadi kawan yang khidmat menemani saya memahami ini.

Hidup adalah serentetan gelombang kejut yang kadang kala tak sepenuhnya bisa kita mengerti tapi pasti tak bisa kita elakkan. Kita tak akan mampu memprediksi secara presisi apa yang akan terjadi esok hari.

Jika hidup seumpama buku, kita hanya tahu persis isi halaman yang sudah kita baca dan tak akan pernah mampu menebak secara presisi halaman berikutnya sampai kita sendiri usai membacanya.

Selengkapnya......

Kamis, September 13, 2007

Menjadi Pejalan Jauh Lagi (7)

: Martapura... Martapura....

Senin, 3 September 2007 (14.30-18.00)

Hujan telah benar-benar reda. Aku memberi isyarat pada ojek yang ku sewa untuk bersiap berangkat. (Aku naik ojek. Lagi banyak duit kah? Siang tadi, Kompas menghubungiku dan memberitahu esai panjangku muncul sendirian di halaman 14 hari Sabtu kemarin. Ku pikir, sesekali menyenangkan hati tak apalah. Sudah bisa dikira-kira pundi rekeningku bertambah lumayan. Hehehe….)

Martapura masih sekitar 22 pal lagi.

Aku masih sempat melihat kayu rapuh yang menopang rumah kayu di sebelah kanan mesjid. Adakah Martapura, kota yang tua itu, juga sudah mengelupas seperti kayu tadi?

Beberapa tempo lagi, aku bisa mencari jawabannya, langsung di jantung kota Martapura.

Selengkapnya......

Sabtu, September 08, 2007

Menjadi Pejalan Jauh Lagi (6)

: Filsafat di Pal 19

Senin, 3 September 2007 (14.00-14.45 WITA)

Perjalananku menuju Martapura terhenti di pal 19. Kira-kira di daerah kecamatan Gambut. Ini sudah di luar Banjarmasin dan termasuk ke dalam wilayah kabupaten Banjar Baru.

Hujan deras. Sangat deras. Di kejauhan, aku melihat ada minibus yang terperosok ke ladang di tepi jalan.

Aku berteduh di sebuah mesjid yang tak terlampau besar. Di sebelah kanan, ada tempat berteduh yang sudah dipenuhi para pengojek. Tempat itu, sepertinya, memang pangkalan ojek.

Di sebelah kiri mesjid, dalam rentang jarak 15 meter, berdiri sebuah rumah yang terbuat dari kayu. Lantai rumah itu tak menempel di tanah melainkan ditopang oleh kayu-kayu besar yang sudah mulai rapuh. Di setiap sisinya, ada sekira 5 kayu besar yang ditanam. Kayu yang berada di tengah tampak sudah mulai goyah. Dari kejauhan, aku melihat kulitnya sudah mulai mengelupas. Ya, kayu itu memang tak dikupas kulitnya.

Selengkapnya......

Menjadi Pejalan Jauh Lagi (5)

: Van Der Wijk di Banjarmasin

Senin, 3 September 2007 (12.15-13.30 WITA)


Aku menemukan kembali Tenggelamnya Kapal van Der Wijk di Banjarmasin. Serta merta aku ingat kembali masa kanakku.

Di jalan Niaga, ada tiga buah toko buku. Jangan bayangkan toko buku itu macam Social Agency, kios-kios di Shopping Center, kios-kios di Palasari Bandung yang kini terbakar, kios-kios di Pasar Johar Semarang atau seperti lapak-lapak di Kwitang dan Bulungan Jakarta atau toko buku di jalan Semarang, Surabaya. Apalagi dengan toko bukunya Jose Rizal di TIM atau kios Pak Ucup di Jogja.

Salah satu di antaranya berukuran sekira 3 X 5 meter. Di sana banyak sekali buku-buku pelajaran sekolah. Di kanan kiri tembok kayu ada kotak-kotak tempat bertumpuk-tumpuk poster berjejalan. Aku perhatikan, banyak sekali poster-poster itu bergambar para ulama besar di Banjar, banyak juga poster para pemain bola luar negeri, dan sama banyaknya juga dengan poster-poster berisi pelajaran matematika hingga biologi.

Di kanan kiri di lantai, bertebaran buku-buku pelajaran. Di lajur tengah, ada papan tempat menaruh buku-buku dari jenis stensilan. Freddy S, Wiro Sableng, Abdullah Harahap, Pendekar Rajawali Sakti, dan novel-novel stensilan lainnya.

Selengkapnya......

Selasa, September 04, 2007

Menjadi Pejalan Jauh Lagi (4)

: "Keperkasaan" di Banjarmasin

Minggu, 3 September 2007 (18.00-23.00)

Pernahkah melihat satu jalan dipenuhi oleh deretan lapak-lapak penjual jamu yang semuanya menawarkan “keperkasaan pria”?

Di jalan menuju arah Glodok di Jakarta, di malam hari, kita memang akan menjumpai gerobak-gerobak yang menawarkan “jamu-jamu” keperkasaan pria. Bedanya, di sana “jamu-jamu” itu sudah berbentuk pil-pil modern, macam Viagra (entah asli atau tidak) dan berjenis-jenis kondom.

Banjarmasin berbeda. 200 meter dari Losmen Niaga yang aku singgahi beberapa jam lalu, di sebelah timur gedung BNI 1946, di sebelah utara Pasar Baru, berderet lapak-lapak penjual jamu “keperkasaan pria”. Betul-betul jamu. Diracik di situ dan di minum di gelas.

Selengkapnya......

Senin, September 03, 2007

Menjadi Pejalan Jauh Lagi (3)

: Menyusuri Biografi Bapak

(Minggu, 2 September 2007, antara pukul 07.00 WIB-13.00 WIB)

Aku tiba di Borneo pada pukul 07.00 WITA. Jam di hp ku tentu saja masih pukul 06.00 WIB. Aku segera menyesuaikannya dengan waktu di Borneo. Jam kupercepat satu jam. Ini upaya adaptasi saya yang pertama dengan Borneo.

Saya melangkah tanpa satu pun pemahaman yang jelas ke mana langkah pertama di Borneo diayunkan. Akhirnya aku memilih menuju wartel yang berada di sebelah utara gerbang pelabuhan Trisakti. Jaraknya sekitar 30 m.

Beberapa orang ku hubungi. Salah satunya rumahku sendiri. Ada alamat yang harus aku tanyakan pada bapak. Aku mendapatkannya: Soewaldjio d/a Basarang km. 9 Kuala Kapuas (belakang pasar).

Lengkapkah alamat itu? Sepertinya tidak karena itu alamat yang dicatat dan diingat bapak di luar kepala sejak tahun 1975 dan tak pernah lagi di-up date. Dan biarlah kali ini saya mengisahkan sebentar salah satu urusan yang akhirnya (mesti) ku urus dengan orang bernama Soewaldjio ini.

Selengkapnya......

Minggu, September 02, 2007

Menjadi Pejalan Jauh Lagi (2)

: Bagaskara di Laut Jawa

(Sabtu, 1 September 2007, antara pukul 13.00 WIB-18.00 WIB)

Nduk, pernahkah kau melihat pelangi kecil yang timbul-tenggelam dengan cepat? Pernahkah kau melihat langit seperti diselubungi kipas raksasa berwarna merah membara?

Aku melihatnya di atas KM Kumala dan biarlah kali ini aku mengisahkannya sedikit.

Siang itu, sekira pukul 13.00, aku melihat air laut yang dibelah oleh kapal. Kebetulan ombak mulai membesar. Kadang kapal oleng ke kiri dengan agak kuat. Agak menakutkan juga untuk orang yang baru menaiki kapal laut (feri penyeberangan tak kuhitung).

Tapi di situlah aku melihat simfoni alam yang remeh tapi menakjubkan.

Selengkapnya......

Menjadi Pejalan Jauh Lagi (1)

: Pada sebuah Kapal yang Mengingatkan pada Maut

(Sabtu, 1 September 2007, antara 08.00 WIB-13.00 WIB)

“Nduk, aku berangkat. Aku naik KM Kumala.”

Aku kirim pesan singkat itu hanya beberapa saat setelah KM Kumala bergerak meninggalkan Tanjung Perak, Surabaya.

Tak sampai lima menit, balasan pun datang. Isinya sedikit membuat tawar: “Kumala itu nama temen kecilku di Belitung. Tapi dia sudah gak ada. Meninggal waktu melahirkan L Duh. Ati2, mas. Tenan lho. Ati2.”

Selengkapnya......