Selasa, September 04, 2007

Menjadi Pejalan Jauh Lagi (4)

: "Keperkasaan" di Banjarmasin

Minggu, 3 September 2007 (18.00-23.00)

Pernahkah melihat satu jalan dipenuhi oleh deretan lapak-lapak penjual jamu yang semuanya menawarkan “keperkasaan pria”?

Di jalan menuju arah Glodok di Jakarta, di malam hari, kita memang akan menjumpai gerobak-gerobak yang menawarkan “jamu-jamu” keperkasaan pria. Bedanya, di sana “jamu-jamu” itu sudah berbentuk pil-pil modern, macam Viagra (entah asli atau tidak) dan berjenis-jenis kondom.

Banjarmasin berbeda. 200 meter dari Losmen Niaga yang aku singgahi beberapa jam lalu, di sebelah timur gedung BNI 1946, di sebelah utara Pasar Baru, berderet lapak-lapak penjual jamu “keperkasaan pria”. Betul-betul jamu. Diracik di situ dan di minum di gelas.

Saya tiba di sana sekira pukul 18.00.

Saya hitung, ada sekira 18 lapak. Sepertinya jumlah itu lebih sedikit karena pada saat yang sama, dari kejauhan, saya masih melihat ada lapa-lapak yang baru menggelar dagangannya. Tiap-tiap lapak diisi oleh sebuah meja dan beberapa kursi. Di meja itu pula jamu-jamu diletakkan. Kadang ada meja-meja kecil untuk menaruh barang-barang yang lain. Lapak-lapak itu berada di trotoar jalan. Saat siang, di situ berjejer toko-toko yang menjual berbagai macam dagangan, dari barang elektronik hingga pakaian.

Saya duduk di lapak paling ujung barat. Beberapa meter sebelum lampu merah.

Mungkin karena saya membawa ransel yang menggembung dan penuh, penjual itu tahu saya seorang pendatang. Itulah sebabnya dia langsung berbicara dengan bahasa Indonesia tapi masih dengan aksen Banjar yang cepat.

“Jamu, bang?”

Tak langsung kujawab dia. Aku memilih mengamati dagangan-dagangannya. Aku tergelak melihat di salah satu kotak kecil terdapat pil-pil terbungkus yang bertuliskan “viagra”.

“Itu asli, bang?” tanya saya.

Dia tertawa. “Murah kok, cuma 30 ribu.”

Saya tahu itu viagra palsu.

“Mau minum jamu? Ampuh ini. Coba lah.”

“Buat apa? Saya gak bisa ngetes ampuh apa nggak kok. Nggak, ah.”

“Sampeyan dari mana?” tanya dia. (Di Banjarmasin, Banjarbaru, Martapura, Kuala Kapuas, Pulang Pisau bahkan hingga Palangkaraya, “kamu” dalam bahasa setempat adalah “sampeyan”. Sama dengan di Jogja atau Jawa Tengah atau Jawa Timur. Kata “iya” pun di sini sama dengan di Jawa yaitu “Nggih”.).

“Dari Jogja.”

Lelaki berusia sekitar 40-an yang sedang bercakap denganku ini seorang keturunan Tionghoa. Dia bilang sudah 3 tahun dia membuka lapak ini.

Di akhir percakapan, setelah menjajal keampuhan jamu yang kata dia bisa menawarkan pegal-pegal di badan, saya angkat ransel. Sebelum pergi saya bertanya:

“Di sini jualan jamu keperkasaan pria semua. Emangnya para penjual di sini “perkasa” semua ya, bang?

Dia nyengir. Tapi akhirnya ia menjawab juga sambil menunjuk penjual lainnya yang berjarak 15 meter: “Orang di sebelah sana itu sudah kawin 13 tahun tapi belum punya anak juga.”

Aku tergelak. Kali ini benar-benar tergelak!

****

Malam itu saya berputar-putar dengan berjalan kaki di wilayah Pasar Baru, melewati BNI 46, Wisma Kalteng, Robert Dept. Store, Wisma Antasari, dll. Saya lupa detail semua gedung-gedung besar yang kulewati. Satu setengah jam saya berputar-putar.

Banjarmasin malam hari tak sepanas siang. Barangkali karena pengaruh hujan yang mengguyur siang tadi. Jalanan masih becek. Saya harus menggulung jeans hitam yang kukenakan. Jalanan cukup padat. Sama seperti siang.

Banjarmasin adalah kota yang cukup sibuk. Jalanan padat. Panas. Asap. Polusi udara. Untung saja transportasi dalam kota di Banjarmasin tak menyediakan metro mini seperti di Jakarta atau Jogja dan hanya kendaraan satu pintu yang kebanyakan berjenis carry. Jika ada metro mini, saya kira, jalanan akan makin riuh.

Jalan-jalan di Banjarmasin relatif lebar. Kondisi jalan di dalam kota relatif baik. Di ruas-ruas jalan tertentu sedang digelar perbaikan jalan dan pengerukan sungai dan got-got. Jangan heran jika jalanan dipenuhi debu yang melilipi mata.

Di mana-mana berderet toko-toko besar. Saya belum sempat mampir di mall atau swalayan dan yang sejenisnya. Tapi yang saya saksikan, di Banjarmasin, banyak sekali toko-toko besar berlantai dua yang hanya menjual satu jenis saja, seperti khusus elektronik, khusus tekstil, dll. Dealer-dealer kendaraan bertebaran di mana-mana, terutama di ruas jalan A Yani yang menghubungkan Banjarmasin dengan kota-kota lain di sebelah barat, seperti Banjar Baru atau Martapura.

Di mana-mana ojek bertebaran. Jika kita berjalan kaki menyusuri ruas-ruas jalan di Banjarmasin, kita akan sering diteriaki dari kejauhan oleh ojek-ojek itu. Sangat banyak. Di pangkalan, di halte, di kios-kios penjual rokok, dan di mana-mana. Lama-lama saya hampir curiga di mana pun ada orang duduk di atas motor, pastilah itu tukang ojek. Tentu saja itu kecurigaan berlebihan yang lahir akibat rasa jengah karena keseringan diteriaki oleh tukang ojek yang menawarkan diri.

Bagaimana dengan warnet? Tak banyak yang bisa saya temukan dalam perjalanan berputar-putar itu. Seingat saya, hanya ada tiga warnet yang saya lihat. Salah satunya berada di satu ruko besar yang lantai duanya dipenuhi counter-counter toko komputer dan aksesoris-aksesorisnya. Letaknya kira-kira 400 meter di sebelah timur lapak-lapak jamu. Di sanalah saya menghabiskan waktu dari jam 20.00 sampai 21.30.

Tempatnya lumayan lebar. Di sana, tak ada meja dan kursi. Hanya lesehan. Semua monitor sudah menggunakan jenis kapsul. Koneksinya lumayan baik. Semua-mua komputer dilengkapi dengan headset dan cam. Ada 30 komputer aku lihat dengan salah satu komputer tak terpakai karena rusak. Setidaknya begitulah yang saya baca dari kertas yang ditempeli di bagian atas CPU komputer tersebut. Satu jam harganya 5000 ribu rupiah. Tapi warnet ini juga menawarkan paket malam seharga 13 ribu untuk pemakaian dari jam 23.00-06.00 pagi.

Beberapa hari kemudian, setelah berputar-putar lebih jauh, saya baru tahu bahwa nyaris semua warnet menggunakan model lesehan dan menawarkan paket-paket macam itu. Di Jogja, seperti yang beberapa saya lihat juga di Surabaya, paket-paket seperti itu jarang sekali ditemukan. Paling banter hanya “happy hours” yang menawarkan kortingan yang kadang hingga 50 persen dari harga normal.

Perjalanan saya berhenti di sebuah warung kopi yang berbentuk gerobak sepanjang dua meter. Saya duduk di sana. Seorang perempuan berusia 60-an tahun melayani saya. Di sana saya menyantap indomie rasa soto banjar. Dalam waktu cepat mangkuk sudah kosong dan isinya pindah ke perutku yang memang keroncongan. Kemudian, seperti biasa, saya memesan kopi pahit hitam.

Saya duduk mencangkung di kursi panjang itu. Juga seperti biasa, berbatang-batang A-Mild kusulap menjadi berbuntal-buntal asap dan berbiji-biji puntung. Enam batang kuhabiskan dalam acara minum kopi sendirian selama satu setengah jam itu.

Udara makin terasa dingin. Jaket hitam yang mulai kumal oleh keringat dan debu jalanan aku resleting. Aku sulut batang A-Mild terakhir. Saya berjalan kembali ke warnet yang tadi saya datangi. Saya tidak ingin ngenet lagi. Saya hanya akan menghabiskan malam di sebuah kursi panjang yang ada di depan warnet itu. Ya, saya akan merebahkan diri di sana hingga sekira jam 6 pagi.

Di sana pasti aman dan bebas dari dingin. Sebab, seperti yang saya bilang sebelumnya, warnet itu terletak di lantai dua sebuah ruko besar. Saya membelikan sebungkus rokok Dji Sam Soe untuk operator warnet yang akan saya mintai tolong mencharge laptop dan hp-ku yang jadul itu.

Tapi sebelum tidur, saya sempatkan memanfaatkan sisa batrei di laptop. Aku menulis catatan perjalananku hari ini. Catatan ini ditulis di bangku panjang itu. 45 menit aku habiskan waktu untuk itu.

Setelah itu, saya mulai lelap dengan udara malam di Banjarmasin yang terasa dingin. Ataukah dingin itu hanya akibat dari rasa sunyi? Sepertinya begitu.

4 komentar:

penunggu fajar mengatakan...

mantap, mas. membaca tulisan sampeyan, aku merasa sedang berada di sampingmu, mengikuti setiap depa langkahmu.. salam.

Irfan Mohamad mengatakan...

Kalau suka jalan-jalan, jangan lupa mampir ke Blitar. Akan kutunjukkan bahwa rasionalisme dan empirisme kadang tak relevan.

Surat Pelangi mengatakan...

suka bgt eh,

thx


_dee_

Surat Pelangi mengatakan...

keren, kpn k bdg?


_dee_