Sabtu, September 08, 2007

Menjadi Pejalan Jauh Lagi (6)

: Filsafat di Pal 19

Senin, 3 September 2007 (14.00-14.45 WITA)

Perjalananku menuju Martapura terhenti di pal 19. Kira-kira di daerah kecamatan Gambut. Ini sudah di luar Banjarmasin dan termasuk ke dalam wilayah kabupaten Banjar Baru.

Hujan deras. Sangat deras. Di kejauhan, aku melihat ada minibus yang terperosok ke ladang di tepi jalan.

Aku berteduh di sebuah mesjid yang tak terlampau besar. Di sebelah kanan, ada tempat berteduh yang sudah dipenuhi para pengojek. Tempat itu, sepertinya, memang pangkalan ojek.

Di sebelah kiri mesjid, dalam rentang jarak 15 meter, berdiri sebuah rumah yang terbuat dari kayu. Lantai rumah itu tak menempel di tanah melainkan ditopang oleh kayu-kayu besar yang sudah mulai rapuh. Di setiap sisinya, ada sekira 5 kayu besar yang ditanam. Kayu yang berada di tengah tampak sudah mulai goyah. Dari kejauhan, aku melihat kulitnya sudah mulai mengelupas. Ya, kayu itu memang tak dikupas kulitnya. Di depan rumah kayu itu, ada ruang kecil, juga terbuat dari kayu, yang digunakan sebagai kios berjualan voucher pulsa.

Aku melihat jalanan yang basah. Hujan begitu rapat. Hujan itu pula yang mengirimiku berbonggol-bonggol udara dingin yang membuatku makin undur ke belakang, selangkah demi selangkah, dan berhenti setelah punggungku membentur tembok mesjid. Aku silangkan kedua tanganku di dadaku.

Aku menoleh ke kanan. Dan, aha…. Hujan juga mengirimiku seorang perempuan cantik. Hujan pula yang sepertinya memerintahkan perempuan itu mengirimiku sepucuk senyum.

Kalau sudah begini, seperti biasa, aku nyalakan batang A-Mild ku yang pertama.

Dan percakapan itu pun dimulai. Namanya Iza, setidaknya begitulah ia mengaku. Seperti biasa juga, aku tak pernah menyebutkan nama asliku. Kali ini kupakai nama: Basiyo (karena waktu itu yang aku ingat hanya nama pelawak di Jogja).

“Saya kuliah, bang. Di Universitas Lambung Mangkurat.” (butuh 35 menit lagi dari tempat kami berteduh untuk tiba di kampus Lambung Mangkurat). “Mau kemana?”

“Ke Martapura!”

“Ada saudara di sana?”

“Nggak. Cuma main aja.”

“Dari mana memang?”

“Bandung.” (Maaf, Bandung, kau kupakai! Hehehe….)

Iza berkisah tentang kuliahnya di fakultas hukum, tentang kesulitannya mencari buku-buku kuliah, tentang dosen-dosen yang membosankan dan dua pembimbing skripsi yang kerap berseberangan. Dia mengeluhkan studinya seakan-akan tak ada yang menyenangkan dari studinya (Andai dia tahu urusan brengsekku dengan kuliah….)

“Abang dulu kuliah di mana?” (Hahahaha…. Aku tergelak dalam hati!)

“Filsafat!” Aku menjawab sekenanya. Pada seorang guru yang kutemui di warung makan di Pal 6 setengah jam lalu, aku mengaku sebagai bekas (bukan alumni, lho!) mahasiswa akuntansi.

Respons Iza sungguh mengejutkan: “Wah, kalau begitu bisa meramal, dong? Bisa menebak karakter orang, dong?”

Kali ini aku tidak tergelak. Bukan karena tidak lucu. Sungguh, respons Iza begitu lucu sebenarnya. Tapi kelucuan itu kalah oleh rasa heranku yang tak kepalang. Aku tatap matanya lekat-lekat dengan kening berkerut.

“Ada apa, bang?”

“Gak. Gak kenapa-napa.” Aku menjawab sambil nyengir kuda.
Selera bercakap-cakapku langsung memuai ke udara.

Sewaktu Iza pamit hendak pergi duluan menyusul hujan yang reda, aku masih berpikir keras: Siapa sih filsuf yang jago meramal? Oh ya, dalam sejumlah segi, Karl Marx atau Toynbee hingga Croce juga “peramal” masa depan.

Iza, akhirnya, tak senaif yang kukira. Entah dia sadar itu atau tidak.

2 komentar:

fian mengatakan...

halah, zen, zen, pandai berakting pula kau rupanya selain merayu...hihihi

kena rayuanmu tidak si Iza itu?

Sarah Utami mengatakan...

Ah boongnya nanggung. Coba kalo bilang kuliah di filsafat UI, dan Dian Sastro adalah mantan lo...Pasti seru *kabur*