Selasa, April 17, 2007

Requiem Tanpa Partitur

Pagi ini saya terbangun dan langsung menyadari bahwa umur saya sudah mencapai seperempat abad. Saya tak tahu apakah saya sudah pantas untuk disebut tua.

Saya merayakan kelahiran dengan mendengarkan komposisi yang menyayat dari Mozart. Komposisi yang dibuat Mozart beberapa saat menjelang kematiannya itu sengaja saya pasang sebagai backsound blog ini. Simaklah satu dari sedikit komposisi yang diakui sebagai salah satu puncak kreativitas anak manusia di dunia musik. Dengarkanlah komposisi yang masyhur dengan sebutan "Introitus: Requiem" ini.

Seharian ini saya menyimaknya dengan takzim. Tak ada lilin yang aku tiup. Tak ada tart yang dipotong. Tak ada tumpeng yang dipangkas pucuknya. Tak ada siapa-siapa. Tanpa pesta. Tanpa keriuhan. Tulisan ini pun disusun tanpa rencana. Ibarat komposisi, ini adalah komposisi tanpa partitur. Hanya ada saya dan notebook yang terus menerus mengumandangkan panggilan ajal dari Requiem-nya Mozart.

Komposisi Requiem dibuat Mozart tanpa alat tulis. Ia hanya menggumam dan bersenandung lamat-lamat. Seorang lelaki paruh baya yang setia menemaninya di tepi ranjang mencatat semua gumaman dan senandung Mozart. Lelaki itu tahu kalau Mozart sedang memersiapkan kematiannya sendiri. Mozart sedang menyiapkan sebuah kado perpisahan yang agung dan khidmat. Kado itu bahkan baru tuntas separoh karena el-maut keburu dini menjemput ajal Mozart.

Selengkapnya......

Kamis, April 12, 2007

Guru yang Membuka Tirai Tuhan (VI)

Pungkasan

Saya ingin katakan sejujurnya bahwa dengan mencoba tahu hubungan guru-murid, saya menjadi “maklum” kenapa, misalnya, dalam tradisi pesantren seorang kyai bisa begitu dihormati dan ditaati. Titahnya didengarkan sepenuh hati. Apa pun yang disentuh atau pernah disentuh sang kyai bisa menjadi barang keramat.

Orang-orang yang lahir dan hidup dari tradisi yang 180 derajat selisihnya dengan model jalan sufi, seperti saya ini contohnya, akan sukar mengerti hal ini. Ada kesenjangan kebudayaan dengan selisih jarak yang tak sedikit yang membuat hubungan guru-murid dalam tradisi pesantren akan susah mengerti. Dari selisih jarak kebudayaan inilah dakwaan ihwal feodalisme dan otoritarianisme hubungan guru-murid di pensatren bertebaran di mana-mana.

Selengkapnya......

Senin, April 09, 2007

Guru yang Membuka Tirai Tuhan (V)

Penerobosan ke Dalam

Di awal penulisan seri esai sufi ini, saya sempat bertanya pada simbok: "Mbok, ada nggak saudara atau leluhur kita dari garis ibu yang dikenal atau pernah mengakrabi jalan sufi atau tarekat atau apalah yang macam itu?”

Simbok mulanya hanya diam. Dia yang memang lahir dari keluarga yang dikenal kuat tradisi Islam-nya, mahasiswi IAIN yang drop out dan akhirnya menjadi guru agama Islam di SD, akhirnya kurang lebih menjawab begini:

“Jika pertanyaan itu berarti sebuah pernyataan bahwa kamu tertarik dengan jalan sufi, maka pertanyaan itu menjadi awal yang baik. Karena jelas, sebaiknya kamu punya guru yang bisa membimbingmu.”

Mbok, jelas anakmu tak sedang ingin menjadi seorang sufi. Jalannya terlalu terjal, mbok. Lagipula, saya, anakmu ini, masih suka pacaran, merokok dan nongkrong-nongkrong. Tetapi setidaknya, paparan ringkas Simbok saya itu menjadi titik awal dari penulisan bagian ini.

Selengkapnya......

Sabtu, April 07, 2007

Guru yang Membuka Tirai Tuhan (IV)

Kekuatan Silsilah

Fokus sepenuhnya pada sosok sang guru tetap menjadi mutlak betapa pun sang guru tak ada di hadapan mata secara fisik.

Johan Ter Haar, sewaktu meneliti hubungan guru-murid dalam tarekat Naqsyabandiah, menemukan istilah rabitah dalam vokabulari tarekat itu. Istilah itu merujuk pada laku seorang murid yang secara terus menerus bertatap muka dengan sang guru dalam pikirannya. Itu dilakukan tidak hanya agar dia bisa mencapai derajat kepatuhan yang total pada sang guru tetapi yang jauh lebih penting adalah agar sang murid tetap merasa kalau dirinya sedang merasa bersama gurunya.

Jika murid bisa terus memelihara laku itu secara konstan dan khidmat, ia akan sampai pada tahap di mana ia akan selau merasa dekat secara batin dengan gurunya yang secara fisik tak ada di samping atau di hadapannya dengan cara menyebut terus menerus, dengan berulang- ulang, penaka sedang berzikir, nama sang guru.

Selengkapnya......

Guru yang Membuka Tirai Tuhan (III)

Yang Berjalan di Atas Air

Lewat kisah hidup Rumi itulah saya pelan-pelan mulai mengerti kenapa ksatria yang belajar memanah itu dengan sengaja membuat dan mendirikan patung Durna di tempat di mana ia sehari-hari berlatih memanah. Kata kuncinya adalah “kehadiran” (presence).

Seperti yang sudah sepintas saya paparkan, bagi seorang murid, setidaknya dalam kasus Rumi dan si ksatria itu, kehadiran seorang guru adalah syarat mutlak dalam sebuah prosesi pembelajaran; pembelajaran untuk mencapai tingkat keahlian tinggi dalam hal penah-memanah bagi si ksatria dan proses pencapaian tingkat spiritualitas yang makin meninggi dan penghayatan atas mistisisme yang kian mendalam dalam kasus Rumi.

Selengkapnya......

Guru yang Membuka Tirai Tuhan (II)

Metanoia seorang Rumi

Dulu sekali, bahkan hingga waktu-waktu belakangan, saya masih tak mengerti apa maksud yang hendak disasar fragmen ksatria belajar memanah itu. Dan saya, jujur saja, mengabaikannya (kendati masih separuh mengingatnya), menganggap fragmen itu sebagai kisah biasa yang tak menyimpan pesan apa pun, dan tentu saja jauh tak merangsang fantasi tinimbang fragmen-fragmen hebat yang bejibun jumlahnya dalam rangkaian kisah epik Mahabharata itu.

Tetapi lewat riwayat Jalauddin Rumi yang menapaki tetapak jalan sufistik, saya akhirnya menemukan abstraksi tentang fragmen ksatria belajar memanah itu. Abstraksi versi saya sendiri tentu saja. Tapi abstraksi itu akan saya simpan dulu dan mencoba untuk sepintas lalu membicarakan Rumi.

Selengkapnya......

Guru yang Membuka Tirai Tuhan (I)

Ketidakhadiran yang "Hadir"

Sebelum mengenal Rumi atau Plato, saya lebih dulu akrab dengan Pandawa dan Kurawa. Sebelum saya tahu Syams at-Tabrizi dan Socrates sebagai guru dari Rumi dan Plato, saya lebih dulu akrab dengan Resi Durna yang jadi guru Pandawa dan Kurawa.

Hingga kini, ketika esai ini disusun, saya masih cukup ingat sebuah fragmen yang mengisahkan ketokohan Resi Durna sebagai seorang guru. Satu saat, persis ketika Durna sedang mengajari lima ksatria Pandawa keahlian memanah, seorang ksatria yang dari mana entah asal-usulnya, tiba-tiba datang dan memohon agar Durna bersedia mengangkatnya sebagai murid. Ksatria itu mengutarakan isi hatinya kalau dirinya begitu ingin mengunduh kemahiran memanah Durna.

Selengkapnya......

Selasa, April 03, 2007

Puisi, Maut, dan Hidup yang Ditodongi Deadline

Banyak cara menjemput el-maut. Seorang penyair mungkin akan menghadapi regu tembak dengan cara bertanya sekaligus berpuisi.

Dalam hal Federico Garcia Lorca, puisi terakhirnya justru lahir sewaktu moncong pistol telah menempel di tengkuknya: “where my moon?”

Sebagaimana tergambar dalam film The Disappearence of Garcia Lorca, wajah Lorca yang halus nan klimis itu tengadah ke hening malam yang diseraki gemintang. Tenang. Secual pun tak ada tanda was-was. Karena itulah sang algojo tak sanggup tarik pelatuk. Algojo itu jengkel, sebab ia ingin sekali, bahkan terobsesi, melihat penyair Andalusia yang necis itu meratap ketakutan, dan memohon-mohon untuk diampuni.

Penonton akhirnya tahu, obsesi algojo itu ternyata tak terkabul.

Selengkapnya......

Senin, April 02, 2007

Monolog Kehilangan

::buat ikram

Entah kenapa belakangan aku selalu ingat adikku. Padahal, bahkan di hari kematiannya dulu, aku tak terlampau berat melepasnya. Seingatku, aku bahkan tak meneteskan satu pun bulir air mata.

Ada saat di mana aku seperti di datanginya kembali. Bagi saya, ketika momen seperti itu datang, pertama-tama itu bukanlah perisiwa metafisika, semacam takhayul, atau klenik. Tiap kali aku merasa disambangi adikku, aku selalu memahaminya sebagai gejala psikologis: aku merindukannya.

Seperti saat ini. Seperti ketika aku menuliskan catatan ini.

  • zen


  • Pada pasase itu, Kundera bilang: “Bukanlah masa depan yang hilang dari kematian tapi masa silamlah yang hangus bagi orang-orang yang masih hidup di lingkaran si mendiang.”

    Kematian bukanlah pisau guillotine yang memutus rentetan “waktu silam” dan “waktu kini” si mendiang dengan “waktu menjelang”. Kematian justru meleburkan tiga dimensi waktu itu bagi sang mendiang. Tak ada lagi "waktu silam", "waktu kini" dan "waktu yang menjelang" bagi orang yang sudah pergi ke niskala.

    Selengkapnya......