Selasa, April 17, 2007

Requiem Tanpa Partitur

Pagi ini saya terbangun dan langsung menyadari bahwa umur saya sudah mencapai seperempat abad. Saya tak tahu apakah saya sudah pantas untuk disebut tua.

Saya merayakan kelahiran dengan mendengarkan komposisi yang menyayat dari Mozart. Komposisi yang dibuat Mozart beberapa saat menjelang kematiannya itu sengaja saya pasang sebagai backsound blog ini. Simaklah satu dari sedikit komposisi yang diakui sebagai salah satu puncak kreativitas anak manusia di dunia musik. Dengarkanlah komposisi yang masyhur dengan sebutan "Introitus: Requiem" ini.

Seharian ini saya menyimaknya dengan takzim. Tak ada lilin yang aku tiup. Tak ada tart yang dipotong. Tak ada tumpeng yang dipangkas pucuknya. Tak ada siapa-siapa. Tanpa pesta. Tanpa keriuhan. Tulisan ini pun disusun tanpa rencana. Ibarat komposisi, ini adalah komposisi tanpa partitur. Hanya ada saya dan notebook yang terus menerus mengumandangkan panggilan ajal dari Requiem-nya Mozart.

Komposisi Requiem dibuat Mozart tanpa alat tulis. Ia hanya menggumam dan bersenandung lamat-lamat. Seorang lelaki paruh baya yang setia menemaninya di tepi ranjang mencatat semua gumaman dan senandung Mozart. Lelaki itu tahu kalau Mozart sedang memersiapkan kematiannya sendiri. Mozart sedang menyiapkan sebuah kado perpisahan yang agung dan khidmat. Kado itu bahkan baru tuntas separoh karena el-maut keburu dini menjemput ajal Mozart.

Sudah tiga minggu ini Requiem yang baru separoh dituntaskan Mozart itu menjadi backsound blog sederhana ini. Berkali-kali sudah saya mendengarnya. Dan tak bosan-bosan saya mendengarnya. Tapi, khusus hari-hari belakangan ini, komposisi agung Mozart ini menyuarkan aura yang lebih kelam dari biasanya. Tiap kali memasuki refrain, suara para penyanyi yang melengking tipis itu seperti jeritan orang-orang yang sedang menikmati kesenyapan dunia baka. Kadang saya seperti mendengar jeritan orang yang terpanggang di neraka.

Di hari kelahiran ini, Requiem Mozart justru lebih menguarkan aroma kematian ketimbang hari-hari sebelumnya.

Tentu saja ini ganjil. Perayaan hari kelahiran biasa dibanjiri doa-doa panjang umur. Tapi, jujur saja, akal sehat saya sedang tidak bisa menerima bagaimana perayaan hari kelahiran yang jelas-jelas menandai berkurangnya ruas kehidupan justru dikhidmati dengan upacara dan doa panjang umur. Jelas-jelas usia berkurang.

Alih-alih mencoba membayangkan hidup yang panjang apalagi kekal, bagi saya, jauh lebih masuk akal perayaan hari kelahiran dihayati dengan cara memikirkan kematian. Bisa jadi itu lebih produktif. Bisa jadi itu justru membuat manusia sedikit menjadi lebih waras.

Saya tidak tahu apakah saya benar atau tidak.

Yang saya tahu, tahun-tahun berlalu dengan begitu cepat. Sejumlah peristiwa dan kenangan tertinggal di belakang. Ada ribuan janji yang terlaksana dan terabaikan. Ada ratusan kisah kesetiaan dan pengkhianatan. Rangkaian perkisahan yang kadang diselimuti kesenyapan tapi kerap pula diselubungi keriuhan yang memekakkan.

Jika rerata harapan hidup manusia Indonesia hanya 67 warsa, ini artinya, sudah sepertiga lebih waktu hidup yang kureguk. Sepertiga pertama ini setengahnya kuhabiskan dengan mencicipi manisnya menjadi anak-anak, seperempatnya kutandaskan sebagai remaja bangor yang mencobai sejumlah pengalaman baru yang terlarang untuk anak-anak, dan seperempat terakhir kuhabiskan dengan menjajal seperti apa rasanya menjadi lelaki dewasa. Dan sebagai manusia yang baru menikmati menjadi lelaki dewasa, sungguh saya tidak tahu, masih berapa dosa lagi yang belum dicicipi.

Sekali lagi, jika menggunakan rerata harapan hidup manusia Indonesia, masih ada sisa 37 tahun lagi saya bisa menjilati remah-remah hidup sekaligus mengendusi segala madu dan racun dunia. Tapi bagaimana jika ternyata umur saya tak sepanjang itu? Bagaimana jika, misalnya, umur saya hanya sampai umur 27?

Soe Hok Gie wafat pada usia 27 kurang sehari. Chairil Anwar juga mati pada usia 27. Begitu juga Kurt Cobain dan Jim Morisson. Dan ribuan anonim lain yang juga tumpas pada kisaran usia serupa.

Saya bukan siapa-siapa. Bukan aktivis, bukan penulis, apalagi musisi. Tapi karena kematian bisa datang kapan saja, tanpa pandang bulu, waktu dan pekerjaan, tak bisa tidak saya masih memendam kekhawatiran soal maut yang terlalu cepat datang menjemput.

Saya khwatir, terus terang saja. Karena masih banyak janji yang belum ku tunaikan. Masih ada sejumlah rencana yang belum ku lunaskan. Sederet hasrat masih antri di daftar tunggu. Senarai keinginan masih mangkrak di buku agenda.

Tentu saja nyali ini mengkeret juga memikirkan sederet dosa yang melintang di dahi dan bayangan bau gosong belulang yang terpanggang di neraka. Sungguh, pendosa ini juga punya rasa gentar. Dan hari ini saya tak ingin tampak perkasa, apalagi sok-sokan menutupi gemetarnya saya tiap kali ingat dan memikirkan keabadian.

Saya orang yang percaya pada kehidupan ba’da kematian, setidaknya kehidupan dalam bentuknya yang paling murni: kehidupan rohani, ruh, jiwa, soul, atau apa pun namanya. Saya percaya bukan semata karena hingga detik ini saya masih merasa sebagai umat dari salah satu agama samawi, tapi saya percaya benar bahwa energi memang tak bisa dimusnahkan, seperti yang pernah saya dengar dari guru ilmu alam di masa SMP dulu. Ya, energi tak bisa diciptakan dan tak bisa dimusnahkahkan. Itulah satu-satunya hukum fisika yang masih nyangkut di kepalaku yang penat ini.

Manusia, berikut seonggok wadag dan sebentuk ruhaninya, adalah energi. Dia tak bisa musnah. Sebagai energi, manusia hanya akan bersalin rupa ke dalam bentuknya yang lain. Dan manusia dalam bentuknya yang lain akan hidup dalam medan energi yang juga berbeda dengan sekarang.

Saya tidak tahu apakah medan energi tempat “manusia-energi” kelak yang sudah bersalin rupa itulah yang dikenal sebagai akhirat. Tapi yang pasti, “medan energi” yang baru itu, akhirat atau apa pun namanya, pasti juga memiliki hukum-hukum kehidupannya sendiri, yang jelas berbeda dengan “hukum kehidupan” dalam medan-energi masa kini yang disebut dunia. Saya sungguh tidak tahu seperti apa hukum yang mengatur pergerakan “manusia-energi” yang sudah bersalin rupa itu.

Pada terra incognita inilah, pada lubang hitam yang belum terjelaskan inilah, jejak-jejak pelajaran agama yang dulu mengisi helai demi helai kesadaranku mengambil alih penjelasan. Dan karena itulah maut masih membuatku gemetar. Juga gentar.

Maka, jika memang bertumpuk dosa yang menempel di jidat ini terlalu menumpuk untuk dihapus dalam sisa waktu hidupku, baiklah, saat ini juga saya tancapkan satu sumpah: akan saya hadapi sisa hidup yang singkat ini dengan tidak merugikan orang lain!

Jika tidak taat pada ritus peribadatan artinya sama saja dengan merugikan Tuhan, biar Tuhan saja yang saya rugikan. Dengan itu, setidaknya, urusan saya menjadi sedikit lebih sederhana: cukup saya meminta ampun pada Tuhan. Soal ampunan itu turun atau tidak, itu bukan hak prerogratif saya lagi.

Asalkan saya tak melukai orang lain, tak menggores orang lain, tak mencederai orang lain, urusan menjadi lebih sederhana ku pikir. Urusan menjadi lebih sederhana karena mencederai orang lain adalah perkara yang lebih rumit ketimbang muergikan Tuhan. Kita mesti minta ampun pada Sang Pemberi Hidup setelah sebelumnya kita meminta maaf pada mahluk hidup yang kita ccederai. Ampunan dari Sang Pemberi Hidup pun hanya bisa turun jika ampunan dari mahluk hidup yang kita cederai sudah kita terima. Ribet bukan?

Sungguh saya tak sedang menantang-nantang. Kesadaran akan usia yang menyentuh seperempat abad telah membuatku terlau sentimental untuk kembali congkak dan pongah. Setidaknya untuk hari ini ketika coretan abu-abu ini sedang kurampungkan.

Saya sedang tak bisa membuat coretan ini menjadi lebih kaya dengan kutipan puisi atau aporisma dari para filsuf atau kyai atau seorang sufi. Buku-buku yang sudah kubaca dan film-film yang sudah kulahap entah di mana dan seperti apa kabarnya. Mereka tak akan banyak menolong sepertinya.

Ya, saya sedang menikmati kembali menjadi manusia yang sepenuhnya diisi rasa gentar. Saya biarkan rasa gentar itu melimpah ruah memenuhi pikiran dan jiwaku. Ku biarkan rasa gentar itu meluber dan membuat kosmik menjadi berubah 180 derajat dalam pandanganku.

Sayangnya saya tak yakin kalau rasa gentar dan gemetar ini bisa membebaskan. Jadi, kubiarkan saja rasa gentar dan gemetar ini menyelimutiku barang beberapa kerjap waktu sahaja. Mungkin satu jam, mungkin sehari, mungkin seminggu. Yang pasti, jika saya rasa sudah cukup, akan kusingkirkan sehelai demi sehelai rasa gentar dan gemetar ini.

Sebab saya tak ingin dikendalikan rasa gemetar. Sebab saya tak ingin dikuasai rasa gentar. Sebab masih banyak pekerjaan yang mesti saya tuntaskan. Sebab masih banyak hutang yang mesti kulunaskan. Sebab masih banyak agenda yang mesti ku tandaskan. Sebab masih banyak rencana yang mesti kuselesaikan. Sebab masih banyak hal yang belum aku catat.

Dan di atas itu semua, bukan kematian benar yang membuat risau. Tapi bayangan mampus dengan meninggalkan sederet janji, rencana dan kerja yang masih teronggok itu yang pasti membikin roh ku masygul.

Hidup memang tak lebih dari sehimpun deadline yang siap mengerkah jika tak ditaati. Duh, betapa sangsainya hidup pendek yang gagal diisi.

17 komentar:

Arkhadi Pustaka mengatakan...

Great writing .. heheh ... saya malah belum sempet upload cerpen yang baru di blog saya.

Anyway, kalau mas Zen mati esok hari .. saya akan menganggap postingan ini pesan kematian mas. hueheheh bukannya saya mendoakan pendek umur lho. Just a salute from another nobody like me.

human wannabe mengatakan...

pakdhe, kamu jangan modar dulu. masi harus ngedit dan nggampari dakuw ampe pinter dulu baru bole mati.

yah, yah, yah... pyiz?

ikram mengatakan...

ulangtahun zen? selamat!

riesalam@gmail.com mengatakan...

Selamat ya, Zen. Selamat tambah umur!

dewidresanala mengatakan...

Hmmm, met berduka pejalanjauh. Aku setuju, sebaiknya cukup Tuhan saja yang dirugikan atau dilukai. Ketika kita merugikan atau melukai manusia lain, hati kita pun ikut merasakannya. Apalagi bila manusia lain itu sampai menangis didepan kita, atau kita melihat langsung efek 'merugikan' dan 'melukai' itu...sungguh, hanya sesal bukan yang kita peroleh? Dan permohonan maaf tetap saja meninggalkan gores luka. Tetap ada sepotong, mungkin lebih, di ingatan, tentang luka itu.
Semoga, kematian yang nanti (entah kapan nanti itu), tidak merugikan dan melukai siapapun.
Salam.

erra mengatakan...

Wong Jowo kok rungonane Mozart hehehe. Ga ada tembang2 Jawa yang menyentuh perasaanmu kah? Becanda Zen, seperti biasa.

Yah, entah itu tambah umur atau berkurang umur, rasa-rasanya ada yang bertambah darimu: kedewasaan. Selamat ya..

Doanya: Semoga dalam bentuk dan energi apapun, kamu tetep berproses menuju baik.
Haiayayaya..jarang2 ni gw ngomong baek2. Perkecualian di hari ulang tahun seorang teman saja..

Billie D Zarudo mengatakan...

selamat ultah buat mas zen. btw saya juga jarang dirayain kok ultah nya, babe saya (alm) bilang gini "jaman kecil dulu ga pernah dirayain kok" dan juga karena terjadi keterbalikan adat, biasanya yang ultah ditraktir, tapi sekarang yang ultah yang mentraktir. har har. lagian ultah cuma buat ngingetin, bahwa umur makin tua dan kalo ada yang nyelametin, artinya dia sayang ama kita. cie....

WIWID mengatakan...

Bung Jejen..

Selamat Ulang Tahun. Jangan sedih, jangan merasa sendirian, karena kamu memang tak sendiri. Jangan merasa resah, namun teruslah gelisah karena ia menandakan kamu ada.

Happy B'day!!

WID

lida mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
lida mengatakan...

Selamat ulang tahun, Zen.

Gilang Desti Parahita mengatakan...

Ah, Bapak Zen ini. Udah ampe 25 tahun, dan makin 'sulit' ya kalau baca tulisannya ini.
Aku lama enggak nengok2 blog ku dan blog mu, eh,tahu2 ada yang ngerasa tua saat mencapai 25 tahun. Tua badannya bolehlah, asal jangan tua semangatnya ya...

turabul-aqdam mengatakan...

"Jika Dokter bilang hidupku tersisa hanya enam menit, aku tak akan kuatir. Aku akan menulis lebih cepat lagi." Isaac Asimov (penulis sains fiksi terbaik pada 1968)

karena tak ada dokter yang bisa meramal sampai kapan kamu hidup, maka teruslah menulis. jadilah bintang jatuh.

bintang jatuh, meski muncul hanya beberapa detik, cukup untuk membuat angkasa kelam terlihat lebih indah.

tak perlu kuatir.. debu yang menempel di kaki peradaban ini akan mencatat semua itu.

human wannabe mengatakan...

There was a doctor and a patient in an examination room.

Patient: So... what's the result? What is it?
Doctor: (serious, frowning at seeing the test result in his hand) Look, I don't know what it is but it's lethal. You don't have much time left.
Patient: (sigh, trying to be tough) Okay. Say it. How long will I live, then?
Doctor: It's ten.
Patient: (dumbstruck) Ten what? Ten months?! Ten weeks?!
Doctor: No. Ten... nine... eight...

Caranita mengatakan...

wahhh... retrospeksi ultah yang menarik! saya cuma ingin tau, sejak kapan ada tradisi ulang tahun yang dirayakan dengan keriaan ya? apa filosofinya: ucapan syukur bahwa kita diberi kesempatan hidup? tapi bukannya setiap tahun kita memperingati ultah, kita juga diingatkan pada semakin dekatnya akhir kehidupan kita?

*salam kenal*

Nyai mengatakan...

tradisi kita memberi selamat kepada yang berulang tahun, padahal setiap setahun kita melewati hidup adalah menghampiri kubur kita sendiri, walau saya tidak tahu seberapa dekat lagi kuburmu .... selamat jalan

pinufa mengatakan...

aku bingung
harus bilang selamat atau sekarat,

yang ga bikin bingung adalah melihat Zenrs merendah karena saya kenal beliau orang yang rendah hati. semoga pujian ini ga bikin tinggi hati...

ramaprabu mengatakan...

sory kawan baru bisa sampaikan selamat mengulang tanggal kelahiran. di Bandung lg baru beberapa hari ini, kemarin harus ke NTB & Bali jg harus "plong" dari dunia maya.yang jelas disana aku sempat tanyakan ceritamu janda-janda yang bakar diri itu tu! sudah cari informasi itu. kayaknya memang ditutup-tutupi.

kawan, kelahiran dan kematian memang tidak untuk dirayakan. Karena tahukah kita mana kelahiran dan kematian sesungguhnya?