Senin, April 09, 2007

Guru yang Membuka Tirai Tuhan (V)

Penerobosan ke Dalam

Di awal penulisan seri esai sufi ini, saya sempat bertanya pada simbok: "Mbok, ada nggak saudara atau leluhur kita dari garis ibu yang dikenal atau pernah mengakrabi jalan sufi atau tarekat atau apalah yang macam itu?”

Simbok mulanya hanya diam. Dia yang memang lahir dari keluarga yang dikenal kuat tradisi Islam-nya, mahasiswi IAIN yang drop out dan akhirnya menjadi guru agama Islam di SD, akhirnya kurang lebih menjawab begini:

“Jika pertanyaan itu berarti sebuah pernyataan bahwa kamu tertarik dengan jalan sufi, maka pertanyaan itu menjadi awal yang baik. Karena jelas, sebaiknya kamu punya guru yang bisa membimbingmu.”

Mbok, jelas anakmu tak sedang ingin menjadi seorang sufi. Jalannya terlalu terjal, mbok. Lagipula, saya, anakmu ini, masih suka pacaran, merokok dan nongkrong-nongkrong. Tetapi setidaknya, paparan ringkas Simbok saya itu menjadi titik awal dari penulisan bagian ini.

Dan memang sejauh saya mengetahui, termasuk dari ibu saya, dalam tradisi sufi, peran guru memang mutlak diperlukan. Tidak hanya karena jalan mistik ini demikian terjalnya, tetapi karena menempuhi tetapak jalan penyatuan dengan Sang Maha Kekasih itu sendiri membutuhkan ketekunan, tekad baja, dan keikhlasan untuk melakoni satu demi satu jenjang spiritualitas dan pengalaman mistikal, termasuk untuk tekun dan ikhlas melewati satu demi satu latihan dan penggemblengan.

Michaela Ozelsel, penulis buku Spootlight dan Forty Days: The Diary of a Traditional Solitary Sufi Retreat, menyebut bahwa di atas semua latihan dan gemblengan spiritual, guru tetap menjadi sebuah sentral yang penting. Guru, kata Ozelsel, mewujudkan pengajaran sebagai representasi tradisi sebagai sesuatu yang hidup.

Guru saya, kata Ozelsel, “mengambarkan peran guru dengan analogi: Anda bisa memberi pertolongan pertama pada diri anda, dengan memasang perban pada luka. Tetapi Anda tidak bisa mengoperasi diri sendiri.”

Guru adalah orang yang bisa melakukan dan membawa muridnya pada momen, dalam istilahnya Ozelsel, “penerobosan”, atau dalam kata-kata gurunya Ozelsel, “mengoperasi”. Dua frase itu, “penerobosan” dan “mengoperasi”, membawa kita pada imaji akan sebuah gerak atau laku yang menerabas kulit, luaran, sesuatu yang kasat mata; untuk kemudian menemui dan menemukan sesuatu yang tak kasat mata dari luar tetapi begitu indahnya jika sudah berada di dalam.

Tanpa guru, “penerobosan” itu menjadi kerja yang yaris musykil, sebab orang memang tak bisa “mengoperasi” dirinya, kecuali jika ingin gunting operasi menyayat bagain-bagian penting yang bisa membikin sekarat. Itulah sebabnya, Rumi, pernah menulis salah satu parafrasenya yang termayhur: “Siapa yang bepergian tanpa pemandu, niscaya memerlukan dua ratus tahun untuk perjalan sehari dua hari.”

Seorang guru sufi tak akan pernah mengajak muridnya langsung pada momen-momen krusial penyatuan, selain karena itu tidaklah mungkin, hal itu juga bisa berakibat fatal pada keselamatan fisik dan spiritual muridnya.

Seorang yang baru mulai berlatih diri di jalan sufisme ibarat orang yang sepanjang hayatnya hidup dalam sebuah ruangan yang gelap, pengap dan tanpa cahaya. Membiarkan atau mendadak mengajak seorang murid hanya dalam hitungan detik ke luar ruangan yang gelap itu, menuju tempat di mana matahari sedang terang benderang memanggang bumi, tidak hanya akan membuat sang murid kaget, tetapi bisa membuat mata murid itu menjadi buta seketika.

Karenanya dibutuhkan sejumlah penggemblengan. Dan itu dilakukan bertahap, pelan tapi pasti. Selain untuk melatih kesabaran, keikhlasan, dan tekad kuat, penggemblengan itu juga diperlukan untuk secara bertahap menanggalkan kedirian dan egoisme sang murid. Jika kedirian dan ego itu masih kuat melekat, itu berarti kehidupan dunia dengan segala jebakan hasrat masih belum sepenuhnya enyah dari hati dan dari kesadaran sang murid.

Guru adalah orang yang pelahan-lahan mengelupaskan ego dan kedirian itu. Dalam kata-kata seorang guru Naqsyabandiah, “Seorang guru sufi bertugas membuka kulit kebodohan yang menutupi diri sang murid. Sang guru hanya membersihkan karat-karat yang telah menutupi sumber cahaya yang terdapat dalam hati sang murid. Guru sufi tak memberi apa pun; ia hanya melepaskan sesuatu."

Dalam jalan sufi, jangan berpikir bahwa tujuan bisa dicapai tanpa seorang guru. Menempuh jalan sendirian sangalag beresiko karena sekali kehilangan jejak, ancamannya adalah tersesat. Karena jalan sufi adalah tetap jalan yang bercabang-cabang, penuh kelok dan jebakan, seorang guru menjadi perlu karena ia bisa menjadi pemandu yang mengetahui jalan mana yang mesti ditempuh, karena sang guru adalah orang yang pernah melalui jalan itu sebelumnya.

4 komentar:

turabul-aqdam mengatakan...

ZEN, sepertinya ada loncatan logika antara mengoperasi diri sendiri, dan belajar. apalagi belajar sufi.

jika sufiisme adalah usaha untuk lepas dari penjara diri, sebuah laku sentrifugal, maka mengoperasi diri sendiri adalah laku sentripetal bukan?

jika aku,.. aku memilih lepas dari diriku sendiri menjemput-Nya tanpa bantuan guru. Mengutip kata Allah, "Aku seperti yang dipersangkakan umatku," maka aku ingin persangkaan versiku sendiri, bukan guruku.

tapi aku tak percaya sufi, karena aku hanya manusia. bagiku, penyatuan dengan-Nya hanya bisa dilalui lewat gerbang kematian, bukan sufi. soalnya, ruhku masih terkungkung di zat daging ini, belum bisa bersatu dengan Zat-Nya. Mungkin ini bisa mengimbangi wacana sufi.

jika sufi adalah bagian tradisi Islam, yang turun melalui Muhammad. maka otomatis si Mamad ini layak menjadi acuan sufi sejati, yang paling "menyatu" dengan Allah.

dan ternyata dia: masih berdoa, memeluk istrinya (para janda itu), menjahit sandalnya, memimpin perang, dan bersedekah meski bukan kaya raya. dia ga pernah muter-muter sambil berpuisi.

karena sulit bagiku menyerupai si Ahmad ini, maka aku ingin menjadi Abu Dzar saja, yang mati sendirian demi prinsip hidup yang dipegang. :)

Duh.. panjang kali lebar.. mending komentar ini aku tulis untuk blog-ku, daripada di sini. Asu!

ABE BARRETO SOARES mengatakan...

Bung Zenrs,

Salam Sastra dari Timor-Leste!
Saya tertarik membaca karya-karya esei anda.

Selamat berkarya!

Abe Barreto Soares

human wannabe mengatakan...

mumet. lebih mumet dari baca bukunya eyang mrazek.

hrhendrawan mengatakan...

Salam cinta salam kenal. Uraian yg bagus bro. Jadi inget yang dulu2..