Jumat, Maret 23, 2007

Karena Melarat Aku Belajar Mengenal Kematian

Sekira 18 tahun silam, sewaktu saya masih duduk di bangku kelas empat SD, adik bungsu saya pergi ke niskala. Masih sangat kecil ia. Umurnya belum lagi genap empat tahun. Namanya Irwan Kurniawan. Dia pergi setelah diterjang Demam Berdarah. Penyakitnya telat ditangani karena ia telat di bawa ke rumah sakit (kemiskinan memang kerap melahirkan cerita sedih).

Saya masih ingat kalimat yang dilontarkan simbok sewaktu saya bertanya seperti apa rasanya ditinggal pergi oleh anak sendiri. Simbok menjawab begini: “Rasanya, setiap melangkahkan kaki, kaki simbok selalu terasa amblas ke bumi. Seperti berjalan di atas lumpur. Selama setahun perasaan itu mengeram.”

Selengkapnya......

Rabu, Maret 21, 2007

Requiem seorang Gus

Seorang kyai yang juga penyair wafat minggu kemarin. Zainal Arifin Thoha, namanya. Orang-orang menyebutnya Gus Zainal.

Dia seorang kyai yang unik. Dia buat pondok pesantren yang khusus menampung mahasiswa yang kesulitan ekonomi. Siapa pun boleh tinggal di pondoknya dengan syarat yang bersangkutan tak menerima kiriman dari orang tua. Santri-santrinya kemudian ia ajari membaca buku, diajarinya menulis, dan tentu saja berzikir.

Dari sanalah sejumlah santrinya, yang menggunakan identitas anggota KUTUB, mulai “menggempur” halaman-halaman koran, dari mulai rubrik resensi, esai sastra, cerpen, hingga artikel. Dari sebagian honor-honor tulisan itulah (saya tak tahu berapa persennya), beras dan sejumlah kebutuhan pesantren mahasiswa Hasyim Asy’ari coba dicukup-cukupkan.

Selengkapnya......

Jumat, Maret 16, 2007

Sartika Anak Durhaka?

Pada 16 Januari 1904, di Paseban Barat Pendopo Kabupaten Bandung, berdiri Sakola Istri. Dalam bahasa Sunda, “istri” artinya “perempuan”. Jadi, Sakola Istri berarti Sekolah Perempuan. Sekolah itu berdiri atas inisiatif Dewi Sartika yang disokong oleh Bupati Bandung, Martanegara, dan C. Den Hammer, pejabat Inspektur Pengajaran Hindia Belanda.

Sepertinya cukup mudah bagi Sartika mendirikan Sakola Istri. Padahal, di balik pendirian Sakola Istri yang bernilai historis tinggi itu, kita bisa menyaksikan bagaimana cita-cita, visi, ambisi, pembatasan oleh peradatan dan kekangan keluarga bertaut dan bertumbukan dengan kerasnya.

Sartika, bersama Kartini, adalah simbol dari sejenis pertautan dan tumbukan yang menguras mental itu. Tetapi kedunya berbeda mengambil sikap.

Selengkapnya......

Selasa, Maret 06, 2007

Nama sebagai Museum

Pada 23 Februari 1928, Raden Mas Soewardi Soerjaningrat secara resmi menanggalkan nama kecilnya. Sepucuk nama yang menerakan dengan eksplisit status kebangsawanan itu digantinya menjadi Ki Hajar Dewantara.

Nama itu ditemukan dalam rangkaian-rangkaian diskusi dengan para tokoh lainya. Soewardi diakui peserta diskusi sebagai yang paling mahir dalam tema berkaitan dengan pendidikan, keguruan dan pengajaran. Suatu hari, R.M. Soetatmo Soeryakoesoemo (anggota Volksraad dari Boedi Oetomo) yang memimpin diskusi dengan spontan memanggil Soewardi dengan sebutan Ki Ajar.Dari situlah nama Ki Hajar ditemukan.

Tapi, beberapa waktu setelah nama itu resmi digunakan, Ki Hajar justru seperti kehilangan radikalismenya yang menghentak. Nama Ki Hajar tak ubahnya seperti museum bagi radikalisme Soewardi Soerjaningrat.

Selengkapnya......

Sjahrir dan Kutukan Dewi Clio

Soetan Sjahrir (lahir 5 Maret 1909) wafat pada 1966 dalam status yang sungguh tak mengenakkan: sebagai tahanan politik!

Kematian Bung Sjahrir sepertinya menjadi tonggak di mana negeri ini seperti mulai dikutuk oleh Dewi Clio, Sang Dewi Sejarah dalam mitologi Yunani, untuk selalu punya persoalan dengan masa silam.

Kutukan ini menyebabkan masa silam seringkali hadir menjelma sebagai bayang-bayang hitam yang mengancam. Semacam tulah yang menyebarkan wabah kutuk: setiap orang yang “pernah bersalah” tidak akan dihukum lewat sebuah proses hukum yang adil yang memungkinkan si tertuduh untuk membela diri, melainkan akan dihukum oleh sebuah proses pengulangan sejarah yang perih dan tak tertolak.

Selengkapnya......

Kamis, Maret 01, 2007

Surat Buat Pak Kunto di Surga

[Surat imajiner ini sebetulnya sudah pernah dimuat di sebuah koran nasional dan pernah pula aku posting setahun silam. Tapi, mengingat posisi Kuntowijoyo di kepalaku dan di rak-rak bukuku, aku pasang lagi surat imajiner ini. Bergandengan dengan esai eksperimental "Stanza untuk Seorang Maha Guru"]

Pak Kunto, sudahkah anda menulis hari ini? Saya berandai-andai, orang seperti sampeyan, yang menghabiskan waktu hidup dengan terus meneliti dan menulis, pastilah juga akan tetap menulis di swargaloka sana.

Saya yakin, sampeyan adalah salah satu dari berderet-deret ilmuwan di swargaloka sana yang tak terkejut begitu menyadari betapa kehidupan setelah kematian ternyata memang ada. Dari berhimpun gagasan yang sampeyan tebarkan, saya menangkap kesan kuatnya keteguhan sikap seorang beragama (muslim) yang saleh dan taat, tetapi juga kemerdekaan berpikir yang tak pernah bisa dikekang. Bagi sebagian orang, iman yang saleh dan kebebasan berpikir yang tanpa batas mungkin dua hal yang tak bisa diperdamaikan. Tapi tidak bagi sampeyan. Itulah sebabnya kenapa saya berpikir, sampeyan pasti tak kaget begitu tahu alam akhirat itu memang ada.

Selengkapnya......

Stanza untuk Seorang Maha Guru

::Dua Tahun Mendiangnya Kuntowijoyo

Saya menjadi saksi mata sebuah peristiwa penting di padepokanku, Padepokan Gading Madyo. Kala itu, di tepian sebuah danau, saya menyaksikan Profesor Joyokunwito meresmikan berdirinya sebuah perkumpulan rahasia: Dead Historian Society.

Di bawah tatapan lima mahasiswa, mahaguru ilmu sejarah itu mengakhiri bicaranya dengan mengucapkan kalimat yang jadi jargon perkumpulan rahasia ini: “Sastra sedikit batasannya, tapi punya kesempatan yang tak terhitung jumlahnya.”

Beberapa bulan kemudian, tepatnya pada 21 Februari 2056, profesor Joyokunwito dibebaskan dari tugas mengajarnya. Ia diberhentikan dengan tidak hormat karena didakwa telah meracuni sejumlah mahasiswa dengan cara mencekoki mereka dengan kesusasteraan dan menanamkan sebuah pengertian baru yang jelas-jelas subversif: seorang sejarawan harus memiliki imajinasi yang dahsyat.

Ini sebuah dakwaan yang tidak main-main. Dalam konsideran SK Pemecatan yang dikeluarkan oleh senat, di sana tertulis “…jika faham yang dikembangkan Prof. Joyokunwito dibiarkan merajalela di kepala mahasiswa-mahasiswa sejarah, lambat laun akan meruntuhkan kesahihan ilmu sejarah --yang berabad silam pernah digelari sebagai induk segala ilmu oleh Giambatista Vico—dan mengembalikannya ke level yang tak lebih baik dari tembang-tembang dan babad-babad.”

Selengkapnya......