Rabu, April 30, 2008

Menjelang Berakhirnya Pasar Malam

-- Mengenangmu, Pram....

[re-post, karena saya pernah bejanji untuk memajang catatan detik-detik kematian pramoedya di front-page blog ini tiap 30 april, tanggal kematian maestro yang saya dapuk sebagai guru ini. catatan ini pernah diterbitkan panitia fky 2007 dalam buku berjudul "tongue in your ear"]

Semalaman, dari jam setengah 10 malam sampai Minggu pagi, saya berada di kediaman Pram di Utan Kayu. Bersama sejumlah teman, saya mengalami langsung, menyaksikan dengan mata kepala sendiri, bagaimana Pramoedya meregang nyawa, melawan maut, dan kemudian menyerah.

Mengingat kembali proses-proses itu, saya seperti sedang membaca kembali Bukan Pasar Malam.

Saya datang ke rumah Pramoedya sekitar pukul 22.30, Sabtu malam, bersama Ella Devianti, gadis cantik yang baru saja menelurkan novel pertamanya, Paradoks Maggy. Sesampainya di sana, saya langsung disuruh masuk ke halaman rumah Pram. Saya lihat masih banyak orang di sana. Ada beberapa reporter televisi sedang menenteng kamera. Yang saya lihat secara jelas hanya reporter SCTV.

Rumah Pram 2 meter di atas jalan, dan memasuki halamannya berarti kita mesti menaiki jalan masuk yang menanjak. Di sana saya belum melihat satu pun orang yang ku kenal. Saya duduk sesaat di tanjakan halaman rumah, persis di sebelah seorang lelaki paruh baya yang duduk tercenung.

Saya beranikan diri bertanya: “Bagaimana kabar si Bung?”

“Saya tak tahu persis. Katanya malah sudah meninggal,” jawabnya pendek. Ia langsung menunduk begitu usai menjawab

Jakarta-Jogja, 5-6 Mei 2006

Selengkapnya......

Minggu, April 27, 2008

Kereta

--Mengenangmu, Ril….

Saya merasa sajak ini begitu imajinatif menggambarkan rasa pedih dan perih. Rasa pedih dan perih itu serasa diuraikan satu per satu, perlahan-lahan, dengan penuh kesabaran, mungkin seperti mengupas kulit ari selapis demi selapis. Fakta bahwa uraian imajinatif ihwal rasa pedih dan perih itu digambarkan melalui metafora “kereta”, moda transportasi yang begitu saya sukai, makin membuat sajak itu punya tempat tersendiri dalam hati.

Saya sedang (akan) membicarakan sajak Chairil Anwar yang berjudul “Dalam Kereta”, salah satu sajak Chairil yang mungkin amat jarang dikenal orang, kalah jauh terkenal dari sajak “Aku”, “Krawang-Bekasi”, atau “Senja di Pelabuhan Kecil”.

Sajak ini termuat dalam antologi sajak Chairil yang berjudul “Kereta Api Penghabisan”. Anda mungkin baru mendengar antologi itu. Jangan khawatir, bukan hanya Anda saja yang baru mendengar. Entah siapa orang yang masih punya cetakan antologi itu. Kabarnya, antologi itu hilang di rimba yang entah.

Nah, sajak “Dalam Kereta” adalah satu-satunya sajak yang “terselamatkan” dari antologi “Kereta Api Penghabisan” – yang kehilangannya oleh Saut Situmorang disebut sebagai “moksa puitis”.

Selengkapnya......

Minggu, April 20, 2008

Jendela

-- surat buat Ann

Ann, sore ini tiba-tiba aku memikirkan banyak hal tentang jendela seraya pada saat yang sama aku juga lupa pernahkah kita duduk berdua di gigir jendela dalam waktu yang lama. Saya lupa, Ann. Sungguh. Dan untuk itu, maafkanlah aku.

Aku tak tahu kapan kau membaca catatan ini, sepucuk surat yang ditulis di sebuah kampung kecil di tubir pantai Cihara (Bayah) yang sepi, merayakan hari jadi, sembari menggumamkan beberapa metrum sekar megatruh dalam kepungan resau ombak yang bergemuruh.

Mungkin kau merasa heran, kenapa senja yang sempurna dirayakan dengan menyimak sekar megatruh. Apa boleh buat, Ann, sekar asmaradana sedang tak kena. Aku merasa, sekar asmaradana lebih berpeluang membuatku leka. Aku sedang tak ingin leka, Ann. Sedang tak sudi diguyah lupa.

Selengkapnya......

Mengambang

Sesekali, kau mungkin bisa menjajal pengalaman yang baru saja ku alami. Jika kau ingin kembali ke Jogja atau bepergian ke mana pun, meninggalkan tanah asal, puakmu, pergilah dengan mengendarai kereta api. Selanjutnya, berdirilah di bordes paling belakang. Majulah sedekat mungkin dengan ujung kereta itu. Kau mungkin bisa berdiri persis di tubir kereta.

Biarkan angin menyentuhmu dan mengusutkan rambutmu yang tak begitu panjang itu. Kau boleh membayangkan sedang berdiri di atas geladak kapal, tapi jangan kau bayangkan dirimu seperti Jack Dawson yang sedang memeluk Rose di ujung depan Titanic. Kau tancapkan saja pandanganmu lurus ke depan. Ke arah yang berlawanan dengan arah yang ditempuh kereta yang kau tumpangi.

Lalu cobalah kau fokus. Biarkan retina matamu menangkap berlajur-lajur rel yang seperti tergesa-gesa ditinggalkan kereta. Toh, kita tak pernah tahu, betulkah kereta yang sedang bergerak menjauh? Jangan-jangan, itu hanya ilusi saja? Berada di dimensi seperti ini, biarkan imajinasimu, mungkin juga ilusimu, membayangkan bahwa sebenarnya rel-rel itulah yang bergerak menjauh.

Selengkapnya......

Selasa, April 15, 2008

Megatruh Hari Jadi

Saya merayakan kedatangan 16 April ini dengan membeli sebiji kaos berwarna hitam yang di dadanya tertulis kata-kata yang begitu pas menggambarkan warsa-warsa yang akan segera menjelang: “No Risk No Fun: Cause Life Begin at 40 Knots”.

Tak ada perayaan. Tak ada tart yang dibelah atau lilin yang ditiup. Sebab tua itu pasti dan mati juga pasti. Malam ini, tepat pada pergantian hari, aku membacakan tagline blog ini berkali-kali:

“HIDUP YANG TAK DIPERTARUHKAN TAK AKAN PERNAH DIMENANGKAN!”

Selasa, April 08, 2008

Danse Macabre

--scriptopedia kematian (6)

Saya punya kesan bahwa upacara-upacara pemakaman atau kematian yang penuh dengan kemewahan dan aura pesta yang riuh biasanya lahir dari ajaran-ajaran agama non-Ibrahimiah atau samawi (langit). Dalam hal upacara Rambu Solo berasal dari ajaran Aluk Todolo yang bercorak pagan atau dari agama Hindu dalam kasus upacara ngaben atau mestia di Bali.

Kesan itu pula yang saya temukan dalam beberapa monograf tentang upacara pemakaman atau kematian di dalam kebudayaan-kebudayaan yang dipengaruhi ajaran agama pagan, termasuk di Eropa sekali pun. Ada negosiasi yang sengit, untuk tidak menyebutnya sebagai “pertarungan”, antara gereja yang ingin membasmi laku bid’ah dalam upacara kematian yang dipengaruhi ajaran-ajaran pagan.

Orang Barat mengenal frase "danse macabre" a.k.a "tarian kematian" yang mencitrakan el-maut dalam sosoknya yang menari-nari. Jangan heran jika di masa abad pertengahan upacara kematian seringkali dirayakan dengan pesta pora yang ditingkahi oleh tarian-tarian yang seringkali membuat orang-orang yang ikut menari terbawa dalam suasana trance.

Berdansa dengan orang mati di kuburannya, dengan mengutip Thomas Ohm, adalah suatu kejadian untuk memperkuat rasa suka cita karena masih hidup dan merupakan suatu sumber lagu-lagu dan (bahkan) puisi-puisi yang erotis. Kematian menjadi sama akrabnya dan sama sensualnya dengan rasa senang dan sakit. Kematian seseorang, dengan demikian, justru dipahami sebagai awalan kehidupan bagi orang-orang yang masih hidup.

Selengkapnya......

Kamis, April 03, 2008

Janda-janda yang Membakar Diri

-- scriptopedia kematian (5)

Pada 20 Desember 1847, Raja Gianyar meninggal dunia. Jenazah Raja Gianyar lantas dikremasi melalui serangkaian upacara ngaben yang mewah sekaligus sakral, dengan ditemani tiga janda selirnya yang membakar diri hidup-hidup lewat upacara mestia.

Tiga selir itu diusung dengan tiga buah badi, semacam tandu. Di sepanjang perjalanan menuju upacara pembakaran diri, tiga selir yang masih berusia muda itu tak menampakkan raut muka yang muram apalagi gentar. Mereka tampak asyik merias dirinya melalui cermin di tangan kiri dan sisir di tangan kanan.

Mereka tidak seperti sedang menghadapi maut, tetapi seperti hendak menjemput (ke)hidup(an).

Di ketinggian yang sudah ditentukan, dengan jilatan api yang melata-lata di bawahnya, tiga selir itu berdiri dengan tenang. Ribuan pasang mata menyaksikan klimaks upacara ini dengan tatapan hening dan jelas tanpa rasa sedih. Lalu, satu per satu, tiga selir tersebut melangkah meniti papan yang dijulurkan ke tengah lidah api.

Selengkapnya......