Selasa, April 08, 2008

Danse Macabre

--scriptopedia kematian (6)

Saya punya kesan bahwa upacara-upacara pemakaman atau kematian yang penuh dengan kemewahan dan aura pesta yang riuh biasanya lahir dari ajaran-ajaran agama non-Ibrahimiah atau samawi (langit). Dalam hal upacara Rambu Solo berasal dari ajaran Aluk Todolo yang bercorak pagan atau dari agama Hindu dalam kasus upacara ngaben atau mestia di Bali.

Kesan itu pula yang saya temukan dalam beberapa monograf tentang upacara pemakaman atau kematian di dalam kebudayaan-kebudayaan yang dipengaruhi ajaran agama pagan, termasuk di Eropa sekali pun. Ada negosiasi yang sengit, untuk tidak menyebutnya sebagai “pertarungan”, antara gereja yang ingin membasmi laku bid’ah dalam upacara kematian yang dipengaruhi ajaran-ajaran pagan.

Orang Barat mengenal frase "danse macabre" a.k.a "tarian kematian" yang mencitrakan el-maut dalam sosoknya yang menari-nari. Jangan heran jika di masa abad pertengahan upacara kematian seringkali dirayakan dengan pesta pora yang ditingkahi oleh tarian-tarian yang seringkali membuat orang-orang yang ikut menari terbawa dalam suasana trance.

Berdansa dengan orang mati di kuburannya, dengan mengutip Thomas Ohm, adalah suatu kejadian untuk memperkuat rasa suka cita karena masih hidup dan merupakan suatu sumber lagu-lagu dan (bahkan) puisi-puisi yang erotis. Kematian menjadi sama akrabnya dan sama sensualnya dengan rasa senang dan sakit. Kematian seseorang, dengan demikian, justru dipahami sebagai awalan kehidupan bagi orang-orang yang masih hidup.

Pada 1424, lukisan tentang tarian kematian dilukis untuk pertama kali di sebuah dinding kuburan di Paris. Lukisan berjudul Cimetiere des Innocents itu menggambarkan: raja, petani, penulis, anak-anak dan bahkan Paus menari-nari dengan sesosok mayat. Melalui aksi tari-tarian bersama nenek moyangnya yang sudah mati di kuburan mereka, setiap orang berubah mewakili suatu dunia di mana setiap orang berdansa melalui kehidupan dan memeluk kematiannya sendiri.

Pada 1538, terbit buku bergambar pertama yang mendeskripsikan tentang kematian. Buku yang langsung menjadi best-seller itu disusun oleh Hans Holbein the Younger dan dijuduli The Dance of Death. Buku tersebut berisi ilustrasi yang diambil dari potongan-potongan kayu tentang apa yang disebut sebagai danse macabre: suatu tarian simbolis tentang kematian, di mana digambarkan sesosok tengkorak memimpin sekumpulan orang atau tengkorak ke kuburan masing-masing.

Di sana digambarkan bahwa setiap pasangan dansa menanggalkan daging-daging busuknya dan berubah dengan memerlihatkan hiruk pikuk mereka yang kehabisan tenaga dalam genggaman kematian yang dilukiskan sebagai sesuatu yang alami.

Ivan Illich, dalam bab lima di buku Limits to Medicine, mengomentari hal itu sebagai bentuk pemahaman bahwa kematian tidak dipahami sebagai ancaman yang mesti dihadapi orang-orang yang hidup melainkan dimengerti sebagai suatu kejadian pada satu masa tertentu.

Yasmin Ghatta, perempuan berdarah Turki yang menjadi warga negara Prancis, pernah menggambarkan kematian neneknya –seorang seniman kaligrafi—dalam sebuah paragraf yang indah, ringan, sederhana, dan menjelaskan betapa kematian adalah sebuah peristiwa pada satu masa tertentu, bukan akhir segalanya.

Yasmin Ghatta, dalam novel mengharukan berjudul “La Nuit les Caligraphes”, menulis begini: “Kepergianku tanpa banyak basa-basi, sama seperti hidupku. Tak sedikit pun kematian membuatku takut. Kematian hanya kejam pada mereka yang takut kepadanya. …Kematianku selembut pucuk pandan air yang dicelupkan ke dalam tinta, lebih cepat dari tinta yang diserap kertas.”

Pada halaman yang lain dari buku yang sama, Ivan Illich menghadirkan sebuah kutipan agak panjang ihwal kesaksian seseorang terhadap lepasnya ajal dengan cara yang begitu tenang dan tengadah. Begini kesaksian yang dikutip llich:

“…Saya memberinya setengah gelas anggur yang paling baik dari yang saya punyai. Dia segera menjadi riang dan memutar bola matanya yang cantik ke arah saya, seraya erkata: ‘Terimakasih untuk kebaikanmu yang terakhir ini. Kalau engkau dapat mencapai umur sepertiku (93 tahun), maka engkau akan tahu bahwa kematian itu menjadi satu hal yang sama pentingnya dengan tidur.’Setengah jam kemudian dia tertidur untuk selamanya

Mereka dengan begitu tenang menghadapi ajal, sepertinya tahu bahwa kematian tidak dimengerti sebagai akhir kehidupan, melainkan satu peristiwa biasa dalam rangkaian busur kehidupan setiap manusia. Orang yang mati dengan demikian melanjutkan kehidupannya di “dunia yang baru”, sebuah kehidupan yang tidak sama dengan akhirat dalam pengertian ajaran agama Ibrahimiyah sebagai “periode panjang pembalasan yang tanpa akhir”.

Itulah yang dimengerti oleh tiga selir dalam upacara mestia. Pemahaman yang sama, kurang lebih, dilekatkan pada setiap orang mati yang yang di-ngaben atau diupacarai Rambu Solo di Tana Toraja. Itu pula yang mendasari kenapa para Firaun di Mesir dikubur bersama kapal-kapal, perhiasan, bahan makanan dan bahkan para dayang dan pengawal yang sengaja dikorbankan untuk menemani Firaun yang meninggalkan dunia yang fana ini menuju kehidupan baru.

Ya, sebuah kehidupan baru yang kurang lebih seperti kehidupan di dunia ini, yang membutuhkan makan dan minum juga pelayanan dan pengawalan. Tidak ada pembalasan, seperti juga tidak ada surga dan neraka.

Kematian sebagai pintu masuk menuju akhirat, tempat di mana perhitungan dan pembalasan yang tanpa akhir terhadap semua laku manusia di dunia (yang disemainkan oleh ajaran agama dari klan Ibrahimiyah), sepertinya menjadi salah satu sebab menjalarnya sikap kolekif yang cenderung was-was, cemas, gentar, dan ngeri setiap kali menghadapi kematian atau menyaksikan kematian.

Bayangan siksa yang tak terpermanai di neraka, seperti pernah digambarkan Dante Alighieri dalam bagian Inferno dari buku terkenalnya, Divina Commedia, menjadi imaji yang memungkinkan sikap muram menghadapi dan menyaksikan kematian. Si mendiang dibekali hujan do’a-do’a, bukannya makanan, minuman, kapal apalagi dayang atau selir yang dianggap tak lagi dibutuhkan oleh orang mati.

Upacara kematian atau pemakaman di suatu masyarakat bisa dijadikan sebagai salah satu cara untuk memahami bagaimana imaji mereka tentang kematian. Pada gilirannya, imajinasi kematian dalam satu masyarakat bisa sedikit membantu untuk memahami bagaimana hubungan pribadi dan sosial di antara mereka, dinamika kesadaran mereka ihwal waktu dan siklus hidup serta bagaimana pula mereka memahami hubungan antara dunia yang fana ini dengan “kehidupan” pasca-kematian.

5 komentar:

lamanday mengatakan...

Kematian itu hanya indah pada waktunya, dan dialami orang yang tepat, zen.

Saya pernah menyaksikan kematian adik kandung ayah saya di pedalaman Menjalin, Kab. Landak, Kalbar saat ia melahirkan anaknya yang ke-6.

Bibi saya bukan orang kaya, atau berada.

Karena ia mati mendadak, sebagai orang yang mati dalam kemiskinan, di masyarakat yang juga telah biasa dengan kematian akibat kemiskinan, kematiannya mungkin tidak bermakna apa2.

Maka palang kayu yang dipalangkan di atas pembaringannya, dengan ayam hitam tergantung, sebagai syarat adat, hanya jadi padanan peti mati yang dibuat dari kayu lapuk papan dinding rumah.

Setelah bibi meninggal, maka setiap ada hujan, rumahnya akan basah karena air yang masuk lewat dinding yang berlubang.

mPitzky mengatakan...

i hate you.
you make me reconsiderate my will of die young. still, though not much, i'd make some people mourn when i passed away.


are you included, dhe? i wonder.

gembos mengatakan...

membaca kematian yang dituliskan, aku menjadi merinding. akutidakpernah mengerti, menurutku kematian adalah wilayah atau ruang yang absurd, tetapi kelak aku juga harus melampaui fase ini sebagai manusia umumnya. aneh juga.
hal-hal yang berbau(ke)mati(an), mirip sebuah senja bagiku, tenang dan tajam.

dee mengatakan...

jd inget salah satu adegan sebuah film tentang voodoo. sang dukun membangkitkan orang mati dan menari bersamanya. cukup seram buat saya sampe2 saya susah tidur beberapa hari hehe...

kalasenja mengatakan...

bisa saja kita berkata tentang kematian,atau berimajinasi bagaimana hidup sesudah kematian, tapi tetap saja akal kita taksampai,karena itu memang wilayahnya Tuhan,,