Kamis, April 03, 2008

Janda-janda yang Membakar Diri

-- scriptopedia kematian (5)

Pada 20 Desember 1847, Raja Gianyar meninggal dunia. Jenazah Raja Gianyar lantas dikremasi melalui serangkaian upacara ngaben yang mewah sekaligus sakral, dengan ditemani tiga janda selirnya yang membakar diri hidup-hidup lewat upacara mestia.

Tiga selir itu diusung dengan tiga buah badi, semacam tandu. Di sepanjang perjalanan menuju upacara pembakaran diri, tiga selir yang masih berusia muda itu tak menampakkan raut muka yang muram apalagi gentar. Mereka tampak asyik merias dirinya melalui cermin di tangan kiri dan sisir di tangan kanan.

Mereka tidak seperti sedang menghadapi maut, tetapi seperti hendak menjemput (ke)hidup(an).

Di ketinggian yang sudah ditentukan, dengan jilatan api yang melata-lata di bawahnya, tiga selir itu berdiri dengan tenang. Ribuan pasang mata menyaksikan klimaks upacara ini dengan tatapan hening dan jelas tanpa rasa sedih. Lalu, satu per satu, tiga selir tersebut melangkah meniti papan yang dijulurkan ke tengah lidah api.

Tiga kali mereka menangkupkan tangan di atas kepala dengan masing-masing memegang seekor burung dara. Mereka meloncat ke bawah, menuju jilatan api yang berkobar-kobar, sementara burung-burung dara melesat ke udara, menyimbolkan ruh-ruh yang beterbangan.

Dalam salah satu komentarnya, Helms mencatat: “Keberanian meraka dalam posisi yang mengerikan seperti ini memang luar biasa, tetapi ini ditimbulkan oleh harapan akan kebahagiaan di dunia yang akan datang. Karena… mereka percaya mereka akan menjadi istri-istri favorit dan ratu-ratu untuk mendiang junjungan mereka di dunia yang akan datang itu, dengan kegembiraan dan di tengah kemeriahan dan keagungan, akan menggembirakan kekuatan-kekuatan yang tidak tampak dan menyebabkan Dewa Agung Syiwa menerima mereka tanpa ditunda lagi ke Swarga Surya, surganya (Batara) Indra.”

Sebagai ujung dari laporannya, Helms menulis selarik kalimat “tinggal sedikit lagi hal-hal menarik yang bisa saya ceritakan tentang Bali….”; seakan-akan Helms percaya bahwa hanya tinggal sedikit lagi saja hal menarik di Bali yang bisa ia ceritakan usai upacara kematian yang baginya mengerikan itu ia “santap” dengan mata kepalanya sendiri.

Saya membaca petikan laporanHelms ihwal upacara mestia yang berjudul "Pionering in the Far East and Journeys to California in 1849 and to White Sea in 1848" [yang dimuat dalam buku "Negara Teater"-nya Geertz] dengan rasa takjub sekaligus ngeri. Saya sering menyaksikan upacara-upacara adat dan pernah pula menjadi bagian inheren dari sebuah upacara, tapi tak pernah saya menyaksikan yang sedahsyat ini.

Helms “lebih beruntung” daripada kita karena ia masih sempat menyaksikan upacara kematian yang dahsyat itu. Sejak awal abad 20, upacara pembakaran janda atau mestia sudah tak pernah lagi dilakukan menyusul intervensi pemerintah kolonial Belanda yang menganggapnya sebagai pertunjukkan bar-bar, walaupun upacara ngaben sendiri masih tetap dilakukan bahkan hingga hari ini. Kendati begitu, Clifford Geertz, berdasar informan yang ia kumpulkan, menyebutkan bahwa upacara mestia masih tetap dilakukan secara diam-diam dan rahasia hingga tahun 1920-an.

Tapi, saya tidak yakin pemerintah Belanda melarang upacara mestia semata karena menganggapnya bar-bar alias uncivilized. Ini bukan semata karena klaim bar-bar itu sine qua non sudah bermasalah dalam dirinya karena berangkat dari ukuran-ukuran “Barat” yang coba diterapkan di luar teritori kebudayaan “Barat” itu sendiri, melainkan juga karena upacara mestia, juga upacara-upacara lain di Bali, diam-diam memendam kekuatan subversif.

Ya, Bali adalah sebuah “panggung raksasa” di mana setiap kerajaan di sana dikenal begitu peduli dan sangat memerhatikan upacara-upacara. Dunia politik kerajaan-kerajaan di Bali ketika itu menjadi “dunia pentas” atau “dunia panggung”, di mana kebesaran kekuasaan dipertaruhkan lewat kecanggihan dan kemegahan upacara-upacara yang digelar. Kurang lebih, itulah yang membuat Geertz memberi judul bukunya tentang kerajaan dengan parafrase The Theatre State in Ninetenth Century Bali.

Lewat serangkaian upacara-upacara agung nan megah yang rutin digelar, sebuah kekuasaan sebenarnya sedang memaksimalkan kekuatan “bahasa”, “simbol” dan “makna” itu. Dalam tingkat keberhasilannya yang tinggi, upacara yang seperti itu tak hanya berhenti semata sebagai upacara keagaamaan saja, melainkan bisa menjadi mantra yang akan melahirkan medan energi (semacam hegemoni) yang membuat semua peserta upacara seperti dijadikan saksi dari keagungan dan keabsahan sebuah kekuasaan. Mobilisasi, akhirnya, dengan mudah dikerahkan.

Tidak mengherankan jika perlawanan-perlawanan atas penetrasi kolonial pun dilakukan tak ubahnya seperti sebuah pentas upacara, seperti yang bisa kita simak dari aksi puputan (bertempur sampai titik darah penghabisan) di Badung pada 20 September 1906 maupun di Klungkung pada 28 April 1908. Ratusan orang prajurit berikut raja dan keluarganya, dari yang sepuh hingga anak-anak, menghadang pasukan Belanda dengan pakaian serba putih dan dengan memasang ekspresi muka yang seperti tak kenal jirih.

Puputan adalah sebuah pertempuran sampai akhir, fight to the end. Puputan merupakan jalan ujung, semacam jurus pamungkas, ketika semua pilihan untuk memertahankan tanah air sudah tak lagi bisa diambil. Pertempuran hingga akhir ini, bagi para ksatria di Badung, Klungkung dan terakhir Ngurah Rai, dimengerti tidak cuma sebagai dharma terhadap negara saja, melainkan juga menjadi implementasi dari dharma terhadap agama.

Wajar jika pemerintah Belanda melarang upacara-upacara yang selalu berhasil menyedot perhatian massa yang berlimpah, salah satunya mestia. Dalam reportasenya, Helms menyebut kisaran angka 40 ribu hingga 50 ribu massa yang menyaksikan upacara mestia istana Gianyar. “Kebetulan” upacara mestia, dalam cita rasa “Barat” pasca pencerahan, memang tampak mengerikan dan dianggap tak beradab. Diperolehlah satu alasan “yang tidak kalah sucinya” untuk melarang upacara mestia.

Membaca kembali catatan Helms tentang upacara mestia membuat kita berpikir: kematian ternyata bisa dan pernah disikapi dengan batin yang lapang dan kadang dengan suka cita.

Ekspresi yang begitu tenang yang terpancar dari tiga selir yang hendak membakar dirinya serta sikap ribuan pasang mata yang menyaksikan upacara mestia dengan khidmat memberi terang pada kita bahwa bagi mereka kematian tidak mesti disikapi dengan perasaan duka yang meratap-ratap. Mereka menyikapi kematian dengan sikap yang optimis.

Sementara ribuan pasang mata yang hadir menyaksikan upacara ngaben maupun mestia bukanlah para penonton, mereka adalah bagian inheren dari upacara. Mereka terlibat dan mereka pula yang secara bersamaan memintal makna yang bisa mereka transendir ke dalam kesadaran masing-masing ihwal apa arti kematian orang lain, mungkin raja mungkin bukan, bagi mereka yang ditinggalkan, termasuk diri mereka sendiri yang menyaksikan upacara kematian yang sedang digelar.

------------------------------------------
[Menarik membandingkan “perang puputan” dengan aksi-aksi kamikaze para pilot Jepang pada Perang Dunia ke-II yang nekat menabrakkan diri pada kapal-kapal perang Sekutu.

Bagi balatentara Jepang, pengorbanan jiwa dan raga yang mereka lakukan merupakan manifestasi atas menyatunya konsep kecintaan terhadap tanah air dan Kaisar. Dan karena Kaisar dipercaya sebagai Putra Langit, keturunan langsung dari Amaterasu Omikami, maka kecintaan terhadap tanah air dan Kaisar menyatu sedemikian rupa dengan kepercayaan dan penghayatan mereka terhadap Yang Maha Transendental, Dewa Matahari, Sangkan Paraning Dumadi, Asal dari Segala Muasal.

Maka, pengorbanan jiwa para pilot Kamikaze tak sesederhana kecintaan dan pengorbanan terhadap tanah air. Dalam peta cacah kesadaran macam itu, peperangan untuk membela tanah air yang dipimpin seorang Kaisar yang merupakan Putra Langit, bisa dibaca sebagai sebuah ritual keagamaan.

Kekalahan Jepang adalah aib bagi tanah air, dan karenanya menjadi nila bagi Kaisar. Karena Kaisar adalah Putra Langit, maka kekalahan Jepang bisa menjadi “kekalahan Tuhan yang mereka sembah”.

Bagi seorang Jepang yang dalam struktur kesadarannya mengeram kuat kesadaran transendental macam itu, kekalahan Jepang di medan perang sama sekali tak bisa diterima karena itu sama artinya dengan keruntuhan struktur kepercayaan dan keimanan yang mereka yakini. Dan itu menjadi derita yang tak mungkin tertanggungkan bagi orang yang saleh dalam standar moral Jepang.

Untuk mengetahui sedikit ihwal kamikaze, sila baca catatan kecil saya di sini]

9 komentar:

ambaryani mengatakan...

Sorry Ambar belom komentar tulisanya yang ini, tapi Ambar mau bilang "saya salah satu orang yang sangat setuju dengan filosofis kehidupan yang anda miliki". Wih banyak juga ya pengemar tulisan!!!

Anusapati mengatakan...

Pangkalnya atas nama kepercayaan, dalam konteks ini tentu kepercayaan Hindu. Jadi apa makna agama bagimu Zen? Obat atau candu? hehehe

haris mengatakan...

hiii. membaca reportasenya saja saya ngeri. apalagi melihatnya secara langsung...

leksa mengatakan...

tulisan mencerahkan mumet, seperti menjelaska makna "agama itu candu"

Kepikiran oleh saya, untuk bisa mengontrol massa dan kekuasaan, maka kuasai ranah kepercayaan - agama..

cewektulen mengatakan...

belanda memang selalu berusaha menhilangkan jejak budaya bangsa kita..maka tak heran jika kita ini sekarang jadi seolah-olah justru ke-belanda-belandaan daripada ke-indonesia-siaan...nice article

dewa api mengatakan...

gw pernah baca analisis post-colonial ttg janda2 yg membakar diri..lupa lagi dimana...btw, ke blog ini hanya mau nyanyiin halo2 bandung...preman pasirmuncang

infoGue mengatakan...

Artikel di blog ini menarik & bagus. Untuk lebih mempopulerkan artikel (berita/video/ foto) ini, Anda bisa mempromosikan di infoGue.com yang akan berguna bagi semua pembaca di tanah air. Telah tersedia plugin / widget kirim artikel & vote yang ter-integrasi dengan instalasi mudah & singkat. Salam Blogger!
http://www.infogue.com
http://www.infogue.com/seni_budaya/janda_janda_yang_membakar_diri/

dee mengatakan...

zen, di india kalo ga salah, ada juga peristiwa istri yang membakar diri setelah suaminya dikremasi. apa ya namanya? saya lupa..

ngga. mengatakan...

menyeramkan!!!!!!! but, ituwlah yang namanya kepercayaan... ga akan bs dibahas pake logika...