Minggu, Maret 30, 2008

Kuburan dan Saya

-- scriptopedia kematian (4)

Makam adalah kekancing yang meneguhkan bahwa sebuah keluarga punya masa silam di sebuah kampung. Keluarga tanpa satu pun makam bisa dianggap sebagai keluarga tanpa masa silam, wangsa tanpa puak atau dinasti tanpa catatan sejarah.

Saya bisa mengerti jika pada masa kecil dulu saya pernah mengeluh: “Bu, kenapa sih kita gak punya makam?”

Pertanyaan itu muncul begitu saja pada salah satu hari lebaran. Berbeda dengan para tetangga yang biasa pergi berziarah ke kuburan setelah shalat ied, kami sekeluarga hanya duduk-duduk di ruang tamu. Rasanya tak enak. Saya seringkali merengek-rengek untuk diijinkan ikut salah satu tetangga yang berziarah ke kuburan.

Saya tinggal di kampung kecil di pelosok perbatasan antara Cirebon dan Kuningan. Kami keluarga perantau: bapak dari Jogja dan ibu dari Bandung. Tak ada satu pun sanak saudara di kampung.

Alhasil, jika memang tak mudik ke kampung bapak atau ibu, lebaran di kampung selalu dihabiskan tanpa acara ziarah ke kuburan. Dan itu tak mengenakkan. Rasanya seperti menjadi orang asing. Penaka tak punya sejarah.

Mungkin dari situlah pertama kali saya mulai mengakrabi kuburan. Saya praktis amat jarang merasa jirih bermain-main di kuburan. Bagi saya, bermain-main di kuburan bisa dianggap sebagai kompensasi perasaan asing tinggal di sebuah kampung tanpa saudara, tanpa puak dan tanpa wangsa.

Kebetulan rumah saya tak begitu jauh dari kuburan. Antara rumah dengan kuburan hanya terpisah oleh lapangan sepakbola dan sebuah sungai. Dari beranda rumah, kuburan terlihat dengan cukup jelas. Di belakang kuburan, lanskap Gunung Ciremai yang hijau menjulang memerkaya pemandangan dari beranda.

Dulu, sewaktu kecil, saya amat sering bermain di kuburan. Setiap kali usai bermain bola di lapangan, saya selalu menghabiskan waktu bermain-main di pinggiran kuburan, membasuk muka di sungai yang mengitari kuburan. Jika bermain bola di bawah guyuran hujan, saya selalu mencucui pakaian lebih dulu di sungai itu.

Di tengah kuburan ada sebuah batu besar yang permukaannya datar dan luas. Orang-orang menyebutnya “mungkal samak” alias “batu tikar”. Sebutan itu muncul karena permukaannya yang memang datar dan luas. Saya senang bermain di situ. Rebahan. Sembari menikmati udara kuburan yang sepoi dan sejuk. Pernah saya tertidur di situ selama 4 jam, dari selepas dzuhur hingga lewat waktu ashar. Roman “Tenggelamnya Kapal van der Wijk” karangan Buya Hamka saya habiskan di “mungkal samak” ini.

Di sebelah utara ada kebun tebu yang cukup luas. Jika sedang haus, saya sering mencuri tebu dan kemudian sembunyi dari kejaran mandor tebu di tengah kuburan, di mana lagi jika bukan di “mungkal samak” yang tersembunyi oleh semak dan alang-alang. Saya pernah memakan tebu banyak sekali dan esoknya suara saya sama sekali tak keluar. Padahal sore harinya adalah jadwal saya mengumandangkan adzan maghrib dan isya di “tajug”, sebutan di kampung untuk langgar atau surau tempat kami belajar mengaji.

Saking akrabnya dengan kuburan, saya pernah mengajak teman-teman sepermainan saya untuk kemping di kuburan itu. Tentu saja tak ada satu pun yang mau, kendati saya sudah mengiming-imingi mereka makanan, indomie dan perbekalan seandainya mereka bersedia.

“Mungkal samak” di tengah kuburan itu memang enak untuk dijadikan tempat berteduh, mencari kesejukan dan istirahat. Letaknya persis berada di bawah rindang pohon beringin yang tinggi dan besar sekaligus juga tua. Sewaktu saya sering bermain di sana, beringin itu sudah benar-benar tua dan sebagian besar kayunya sudah mengering. Menjelang saya lulus SD, beringin itu sudah benar-benar kering. Entah kenapa. Untung saja deretan pokok pohon kamboja masih cukup mampu membuat teduh “mungkal samak”.

Ada satu peristiwa yang tak akan pernah saya lupakan mengenai pohon beringin yang sudah kering itu. Satu waktu, bersama beberapa teman, saya mencuri singkong yang ada di “bubulak”, sebutan untuk apa yang dalam bahasa Indonesia disebut “tegalan”. Kami membakar dan memakan singkong di bawah pohon beringin kering itu.

Setelah itu kami bermain bola. Menjelang maghrib kami bubar kembali ke kediaman masing-masing. Mandi dan berkemas untuk pergi ke “tajug”. Selepas isya, sekitar jam 8 kurang, kami pulang ke rumah.

Sesampainya di jalan, orang-orang banyak yang berdiri di tepi jalan. Ternyata, pohon beringin di tengah kuburan itu terbakar. Dari kejauhan saya melihat lidah api menjilat-jilat dengan perkasa. Pemandangannya indah sekali. Seperti sebuah kembang api raksasa. Warnanya merah membara di tengah malam yang gulita.

Saya tak tahu penyebabnya apa. Tapi, dalam hati, saya mengira pohon itu terbakar gara-gara ulah kami membakar singkong di bawahnya. Kebetulan itu musim kemarau dan angin cukup besar. Kemungkinan bara api yang masih tersisa tertiup angin sehingga jadilah pemandangan malam yang menakjubkan. Hingga hari ini, saya dan teman-teman tak pernah menceritakan kelakuan nakal kami itu.

Seorang teman kecil saya, namanya Supandi, biasa dipanggil Pandi, seorang bek kanan kesebelasan kami yang tangguh dan perkasa, dengan sepasang kaki yang kekar dan ditakuti para penyerang lawan, dibaringkan di kuburan itu. Ia meninggal sekitar tahun 2000 silam karena kecelakaan mobil sewaktu menjadi sales sebuah pabrik roti. Saya tak bisa menyalatkannya, tak pernah mengusung kerandanya, dan tak melihat jenazahnya untuk terakhir kali. Kabar kematiannya telat saya dengar. Jika melihat nisannya, saya langsung ingat salah satu penggal masa kecil yang tak akan pernah mampu saya ulang kembali.

Kuburan itu kini benar-benar menjadi masa silam saya dalam arti yang sebenar-benarnya. Di sana, sebuah penggal kehidupan saya dan sekeluarga dibaringkan untuk selamanya. Adik saya yang nomer tiga, namanya Irwan Kurniawan, dimakamkan di sana setelah tak mampu menanggung lara akibat terjangan aedes aegypti. Dia dimakamkan di sisi utara kuburan, persis berbatasan dengan kebun tebu yang dulu biasa saya curi. [kisah tragedi kematian adik saya bisa dibaca di sini]

Setiap pagi, sewaktu menunggu angkutan untuk mengajar di sekolah, ibu sering menatap kuburan ini dari jauhan. Ibu sering berkaca-kaca jika menggelar ritual penuh kenangan yang memerihkan itu.

Saya sendiri akhirnya sadar bahwa tak enak juga punya makam. Sebab, kehadiran makam bagi sebuah keluarga ternyata mesti ditebus oleh rasa kehilangan yang mendalam, sebuah kehilangan tanpa tiket kepulangan.

Dulu, saya terlalu kecil untuk memahami hal ihwal yang sebenarnya sederhana ini.

8 komentar:

Teguh Budi mengatakan...

Terus apa yang mengubah pandanganmu soal eksistensi kuburan Zen? setidaknya untuk kamu sendiri...?

unclegoop mengatakan...

saat tertidur di kuburan, apakah disunat sama genderuwo?
ada beberapa teman saya di kampung, yang mengalaminya hihi
___________________________________
dan makan, menyanyikan kidung-kidung masa lampau, sebuah kabar kesedihan, duka lara dan juga nyanyian gembira. Bukan apa-apa, tanpa makna, bila sudah di keranda.
argh...

unclegoop mengatakan...

*maaf, ralat, makam dan bukan makan*
-salam-

dewi mengatakan...

kuburan itu seperti jembatan, menghubungkan yang ada dan yanng tidak ada. seperti monumen, pengingat sekaligus penanda, yang pergi tidak pernah benar - benar pergi.

pemain-pemain kartu mengatakan...

hmmmm....akhirnya terkuaklah sebuah hal mendasar atas mengapa dirimu begitu fasih bicara tentang kematian..

salam
Ridwan M

Yessi Pratiwi Surya Budhi mengatakan...

Fasih bicara tentang kematian,apakah membuktikan sesuatu? :)

Salam kenal, Penjelajah Jauh :)

kw mengatakan...

saya tak ingin ke kuburan. buat apa kecuali mengingatkan pada sebuah perpisahan yang dipaksakan?

memang sih, sampai sekarang belum pernah mengalami "kehilangan" yang mendalam. dulu kakek dan nenekku meninggal ketika saya masih kecil dan belum bisa merasakan yang lebih.

saya sadar suatu hari saya pasti mengalami perpisahan itu. namun aku tak pernah merasa siap.

sehingga sampai sekarang saya "tak bisa" melihat adegan orang berpelukan di film, stasiun atau di rumah ketika akan pergi...

:(

haris mengatakan...

kehilangan bisa muncul di mana-mana. tak hanya di kuburan, kan?