Senin, Desember 31, 2007

Lalu Waktu Bukanlah Giliranku

Kasihmu sunyi
Menunggu seorang diri
Lalu waktu - bukan giliranku
Matahari - bukan kawanku
-- Amir Hamzah, "Padamu Jua"


Selama tiga hari saya menikmati hidup yang hening dan kadang terasa begitu meditatif sebelum sepucuk imel berisi tuduhan yang nyelonong tanpa melakukan klarifikasi lebih dulu berhasil membuat pertahananku jebol dan dadaku kembali meledak.

Saya menjawab imel itu tanpa basa-basi, juga tanpa metafora. Jika ada yang sedikit perlu disesali, barangkali, karena saya menjawab imel itu pada saat kepala masih terasa beruap dan otak saya masih dalam keadaan murka. Tentu saja tak ada kata-kata kasar apalagi makian. Tapi, jawaban saya yang keras, sudah cukup menjelaskan betapa saya tak cukup tenang merespons keadaan.

Betapa tipisnya selisih antara keheningan dan kemarahan.

Tahun 2007 memang menjadi tahun yang hebat, penuh gejolak personal, naik turun emosi yang begitu cepat, semangat yang menggelegak, kenakalan yang liar, dan kadang sentimentalitas yang mendadak muncul dengan lembutnya.

Selengkapnya......

Selasa, Desember 25, 2007

Asmaradana



"Anjasmara, adikku, tinggallah seperti dulu.

Bulanpun lamban dalam angin, abai dalam waktu

Lewat remang dan kunang-kunang,
kaulupakan wajahku,
Kulupakan wajahmu."



Seorang Ibu melepas anak lelakinya yang hendak membalaskan kesumat keluarga. Ibu itu tahu anaknya akan gagal. Ia juga tahu tak akan pernah melihat anaknya lagi. Mereka bertemu terakhir kali di beranda. Anak lelaki tadi mencium lutut ibunya. Sang Ibu hanya mengelus-elus rambut anaknya yang bersimpuh sembari menahan sedu yang ditahan.

Perjumpaan sepasang ibu dan anak itu digelar tanpa kata-kata. Semuanya dirayakan dalam diam; melalui gerak yang intens dan begitu lambat –dan karenanya terasa menyiksa.

Saya menyaksikan adegan yang menakjubkan itu pada dini hari menjelang subuh yang sepi melalui sebuah layar TV raksasa. Di luar angin begitu berisik dan hujan masih belum bosan membasahi tanah Jakarta yang belakangan serasa makin gembur.

Saya lalu berpindah ke ruangan depan. Di hadapan saya terbentang kaca yang lebar juga bening. Dari sana saya bisa melihat jalanan di bawah yang becek, pohon-pohon yang basah, rel kereta api dan pucuk Istiqlal yang sedang bersiap mengalunkan adzan. Rumput-rumput di tepi Ciliwung yang berjarak sepelemparan tombak terlihat membasah. Saya tak melihat ada satu pun jejak kaki di sana.

Selengkapnya......

Sabtu, Desember 22, 2007

Pulang Pisau

“Begini saja, aku akan membuatkan
sebuah peta menuju hatiku. Setuju?” katamu


Di sini hanya ada jeda
sungai yang coklat
dan sebungkus tusuk gigi
yang kau kirim lewat truk-truk pengangkut batubara

Apa yang ingin kau cungkil dariku, adikku?

Tak ada lagi sisa
bahkan sebutir slilit di gerahamku yang rompal
oleh gigil yang menahun

Tapi kau tak habisnya mengulitiku
kali ini dengan sepucuk pisau tanpa gagang
yang kau kirim, juga, lewat truk pengangkut batubara

Apa lagi yang ingin kau sayat dariku, adikku?

Bahkan kangen yang tawar ini
ingin kau renggut juga?

[pulangpisau, kal-teng, 9/7/07]

Selasa, Desember 18, 2007

Maaf, Aku Lupa Kematianmu

Maaf, saya melupakanmu. Saya bahkan lupa kemarin adalah hari kematianmu.

Pagi ini aku terbangun dengan hati yang tak begitu baik. Masih tersisa sejumput rasa enek di dada sebelah kiri. Bengong selama setengah jam setelah terbangun menjadi makanan biasa dalam situasi macam begini.

Lalu aku melihat kalender. 18 Desember. Dan… astaga, tanggal 17 Desember. Ya, 17 Desember. Masya Allah, aku baru ingat. Maafkan. Maafkan saya. Segera aku duduk. Menyandar di tembok. Aku baca 3 kali berturut-turut surat al-Fatihah. Aku kirimkan bacaan suci itu ke alamatmu di swargaloka.

Selengkapnya......

Sabtu, Desember 15, 2007

Fiksi Para Pejalan

Seorang pejalan – sepintas lalu sepertinya -- sering “meninggalkan”: rumah, keluarga, pekerjaan, masa lalu atau kekasih. Tapi, semua pejalan tahu bahwa pada momen-momen yang krusial, para pejalan yang justru sering “ditinggalkan”.

Seorang lelaki tua pengayuh perahu dalam cerita Herman Hesse, Sidharta, pernah bicara tentang “melepas”. Makin banyak yang ditinggalkan oleh seorang pejalan, sebanyak itu pula seorang pejalan mesti siap ditinggalkan. Penting, kata lelaki tua itu, untuk “melepas” semua yang dimiliki jika ingin berjalan dengan tanpa beban.

Itulah sebabnya tak semua orang bisa jadi pejalan. Terlalu berat melepas semua yang dimiliki. Ada semacam fiksi – mungkin lebih pas disebut harapan – bahwa satu hari ketika seorang pejalan kembali, ada sejumlah hal yang menunggunya, apakah itu rumah, keluarga, kenangan atau kekasih.

Padahal, apa yang semula dibayangkan sebagai orang atau benda yang akan menyambut kedatangan seorang pejalan, pada saat yang sama berpeluang untuk menyuguhi seorang pejalan pengalaman yang tak mengenakkan.

Selengkapnya......

Rabu, Desember 12, 2007

Di Bali....

Pada temaram senja yang gerimis itu saya duduk di hadapan patung Wisnu yang gigantik. Di hadapan saya, duduk bersila 50-an umat dari 3 “agama” yang sedang bertafakkur dalam diam.

Saya merasakan sensasi dari rasa magis yang menguar dari bau kemenyan yang terbakar, hawa panas dari api yang dinyalakan, bunyi canang yang dipukul, nada indah dari dawai kecapi yang dipetik dan alunan seruling yang ditiup sayup-sayup.

Kota Denpasar yang gemerlap dan laut yang biru serta Airport yang sibuk terlihat dengan jelas. Pesawat-pesawat yang datang dan pergi dalam gelap makin menyempurnakan suasana menjadi lebih menggetarkan.

Dari arah selatan, dari balik punggung patung Wisnu yang gagah itu, tampak bukit-bukit cadas yang dipapras dan ditatah. Di beberapa bagian, tercetak relief-relief gigantik yang –kendati masih baru tapi terasa—demikian tua dan purba.

Selengkapnya......

Sabtu, Desember 08, 2007

Tiga Requiem pada Satu Hari

Pada 7 Desember 1918, Raden Mas Tirtoadisoerjo wafat. Jenazahnya diantar ke pemakaman di Mangga Dua oleh --hanya-- 7 orang saja. Hanya dua surat kabar yang memberitakan kematiannya, itu pun selang 5 hari setelah kematiannya.

Saya (mencoba) mengenalnya dan saya juga coba mengenalkannya pada sebanyak mungkin orang dengan cara yang saya mampu, ikhtiar yang pernah dengan begitu dahsyat dilakukan oleh Pramoedya.

Saya --bersama belasan teman-- menempatkannya sebagai patok sejarah (pers) Indonesia.

Kemarin, pada 7 Desember 2007, kami mengadakan pameran "Seabad Pers Kebangsaan" di Gedung Indonesia Menggugat, Bandung, tempat di mana Soekarno membacakan pledoinya yang terkenal, Indonesia Menggugat, sewaktu diadili oleh pengadilan kolonial pada 1930. Kebetulan kemarin itu persis pada hari Jumat, hari di mana mingguan Medan Prijaji biasa terbit dan menyapa para pembacanya.

Salah seorang cicit Mas Tirto, Dewi Yull, juga hadir mewakili keluarga besar keturunan Mas Tirtoadisoerjo.

Selengkapnya......

Sabtu, Desember 01, 2007

Dancing Out....

Di Dago, bersamaan waktunya dengan Kongres Alumni ITB beberapa pekan silam, Taufik Rahzen melansir sebuah joke: “Jika ada Ikatan Mahasiswa Drop Out, tidak ada yang lebih layak menjadi Presidennya selain Gus Dur!”

Lalu saya ingat sebuah percakapan di akhir tahun 2002. Di teras perpustakaan kampus, sembari menunggu hujan reda, saya bilang pada Umar Tajuddin, senior di kampus yang kini mengelola Penerbit Pinus di Jogja: “Ketoke apik nek nang kene, pas aku wisuda, aku nggawe performing art mbakar ijazah sarjanaku….” (Artinya: Sepertinya asyik kalau di sini, sewaktu aku diwisuda, aku bikin performing art dengan membakar ijazahku)

Sewaktu catatan ini sedang ditulis, saya tahu kata-kata di atas tak akan pernah bisa terealisasi. Bukan karena terlalu sayang dengan ijazah. Sama sekali bukan. Kata-kata itu tak mungkin terwujud karena malam ini, satu jam usai menggelar percakapan panjang dan berat dengan simbok, saya memutuskan untuk tak menyelesaikan sekolah.

Itu artinya saya tak akan punya ijazah sarjana dan tak ada pula yang bisa dibakar.

Selengkapnya......