Sabtu, Desember 15, 2007

Fiksi Para Pejalan

Seorang pejalan – sepintas lalu sepertinya -- sering “meninggalkan”: rumah, keluarga, pekerjaan, masa lalu atau kekasih. Tapi, semua pejalan tahu bahwa pada momen-momen yang krusial, para pejalan yang justru sering “ditinggalkan”.

Seorang lelaki tua pengayuh perahu dalam cerita Herman Hesse, Sidharta, pernah bicara tentang “melepas”. Makin banyak yang ditinggalkan oleh seorang pejalan, sebanyak itu pula seorang pejalan mesti siap ditinggalkan. Penting, kata lelaki tua itu, untuk “melepas” semua yang dimiliki jika ingin berjalan dengan tanpa beban.

Itulah sebabnya tak semua orang bisa jadi pejalan. Terlalu berat melepas semua yang dimiliki. Ada semacam fiksi – mungkin lebih pas disebut harapan – bahwa satu hari ketika seorang pejalan kembali, ada sejumlah hal yang menunggunya, apakah itu rumah, keluarga, kenangan atau kekasih.

Padahal, apa yang semula dibayangkan sebagai orang atau benda yang akan menyambut kedatangan seorang pejalan, pada saat yang sama berpeluang untuk menyuguhi seorang pejalan pengalaman yang tak mengenakkan.

Bukankah tak menyenangkan rumah yang kita anggap akan menunggu kedatangan kita ternyata pintunya sudah tertutup? Bukankah menyesakkan kekasih yang kita anggap akan menunggu kepulangan kita ternyata tak memiliki cukup tenaga merentangkan kedua tangan untuk memeluk badan kita yang bau oleh keringat perjalanan?

Bukan sekali dua saya mengalami yang seperti itu. Dan itulah sebabnya saya bisa bicara seperti ini.

Tidak mudah memang jatuh cinta dan menyerahkan sebagian hati pada seorang pejalan yang bisa pergi dan keluyuran ke mana pun ia mau, seringkali tiba-tiba dan mendadak dan tanpa pamit. Dalam situasi seperti itu, terlalu susah bagi seorang pejalan untuk menyempurnakan janji pada kekasihnya, terlalu sukar bagi seorang pejalan untuk menuntaskan rencana bersama dengan kekasihnya.

Perpisahan hanya tinggal menunggu waktu, kadang perpisahan bahkan tak bisa menunggu sampai seorang pejalan benar-benar sudah kembali pulang.

Dalam situasi seperti ini, saya baru bisa menjawab pertanyaan seorang penyair, Ira Komang. Tiga bulan silam, sewaktu sedang keluyuran di belantara Kalimantan (Banjarmasin, Martapura, Banjar, Barito Utara, Kuala Kapuas, Pulang Pisau, Anjir Separat, Palangkaraya, Tamianglayang, Buntok, Muarateweh terus memotong Kalimantan Tengah hingga di Pangkalan Bun), dia mengirimiku sms: “Zen, kamu lebih suka berjalan pergi atau berjalan pulang?”

Setelah melakukan belasan perjalanan, terakhir menelusuri Bali dan kembali lewat jalan darat untuk singgah di sejumlah kota, dari Jembrana, Negare, Banyuwangi, Situbondo, Malang, Surabaya hingga Solo, saya sekarang dengan mudah bisa menjawab pertanyaan itu: “Ira, saya lebih suka berjalan pergi ketimbang berjalan pulang!”

Saya harus membereskan sejumlah hal lebih dulu sebelum menggelar beberapa perjalanan penting tahun depan.

Februari atau April saya ingin menelusuri Pulau Sumba, menetap beberapa minggu di Waingapu dan Waikabubak, untuk menyaksikan upacara pasolla dan memerhatikan dari dekat ritus-ritus penuh magis “agama” Marapu. Tahun depan juga, jika berkesempatan dalam soal pendanaan, saya ingin pergi ke Lassa, kota tertinggi di Pegunungan Himalaya, tinggal beberapa waktu di sana, memelajari upacara-upacara dan mungkin menikmati sensasi menghisap hasis di tengah dingin yang mencucuk. Beberapa perjalanan kecil ke kota-kota di Jawa yang belum kudatangi juga aku rencanakan. Bangka dan Belitung sepertinya juga menarik untuk didatangi.

Saya harus membereskan sejumlah hal, mencoba melepas sejumlah hal, agar tak terlalu banyak dibayangi oleh fiksi tentang “meninggalkan” dan “ditinggalkan”, baik oleh sesuatu yang konkrit maupun yang abstrak. Saya mesti merumuskan kembali apa yang dinamakan “kepemilikan” untuk bisa menyelesaikan dilema yang pernah diajukan dengan begitu baik oleh Erich Fromm: “memiliki” (to have) atau “menjadi” (to be).

Saya sudah membereskan soal perkuliahan. Sudah membereskan persoalan rumah di Jogja yang tak terurus karena terlalu sering ditinggalkan. Sudah membagi buku-buku kepada beberapa orang, beberapa teman, beberapa bekas dosen, dan sejumlah mantan pacar. Saya hanya tinggal memutuskan kepada siapa saya menitipkan buku-buku terpenting saya di Jogja.

Saya juga memilih jalan vegetarian untuk menstabilkan banyak hal: sikap tergesa, kemrungsung, belajar melepaskan ambisi, serta emosi yang fluktuatif. Karakter-karakter macam itu seringkali menyulitkan saya sewaktu sedang berada di perjalanan.

Dan yang terpenting, tiap kali sebelum pergi berjalan, saya mesti memastikan lebih dulu tak akan ada yang “merengek” bertanya: “Mas, kapan pulang?”

Itu pertanyaan yang paling mengganggu.

7 komentar:

Iman Brotoseno mengatakan...

lebih baik pacarnya diajak jalan juga, biar nggak nanya nanya " kapan pulang.."

Pujangga mengatakan...

pejalan
jauh atau dekat
pejalan jauh lah yg harus banyak berkorban
perasaan
moril
materil
semuanya
sampai-sampai
kadang
kehidupan
juga
selamat jalan, mas zen

Anonim mengatakan...

Tapi tak semengganggu waktu M.U kalah lawan Milan 3-0 toh? Huwahahahaha..

sepengaljejak mengatakan...

Bung, anda akan rindu dengan kopi buatan ibumu.
Tabik.

die sonne mengatakan...

orang yang aneh...

tapi suatu saat pejalan pasti akan pulang kerumah...

lida mengatakan...

Edan,, jadi vegetarian? Hmmh, andai kubisa..

hujan mengatakan...

biarlah jika itu dianggap pertanyaan mengganggu...mungkin semata pertanyaan yang mengingatkanmu pada jalan untuk kembali pulang..

tidakkah egois, pergi tanpa mau mendengar pertanyaan tentang "kapan pulang?", sementara kamu memupuk harapan tentang dia yang membuka pintu rumah, tersenyum manis, lalu menawarkan teh hangat penawar lelah..

tidakkah itu egois, Zen? :)