Sabtu, Desember 01, 2007

Dancing Out....

Di Dago, bersamaan waktunya dengan Kongres Alumni ITB beberapa pekan silam, Taufik Rahzen melansir sebuah joke: “Jika ada Ikatan Mahasiswa Drop Out, tidak ada yang lebih layak menjadi Presidennya selain Gus Dur!”

Lalu saya ingat sebuah percakapan di akhir tahun 2002. Di teras perpustakaan kampus, sembari menunggu hujan reda, saya bilang pada Umar Tajuddin, senior di kampus yang kini mengelola Penerbit Pinus di Jogja: “Ketoke apik nek nang kene, pas aku wisuda, aku nggawe performing art mbakar ijazah sarjanaku….” (Artinya: Sepertinya asyik kalau di sini, sewaktu aku diwisuda, aku bikin performing art dengan membakar ijazahku)

Sewaktu catatan ini sedang ditulis, saya tahu kata-kata di atas tak akan pernah bisa terealisasi. Bukan karena terlalu sayang dengan ijazah. Sama sekali bukan. Kata-kata itu tak mungkin terwujud karena malam ini, satu jam usai menggelar percakapan panjang dan berat dengan simbok, saya memutuskan untuk tak menyelesaikan sekolah.

Itu artinya saya tak akan punya ijazah sarjana dan tak ada pula yang bisa dibakar.

Untuk sejumlah alasan saya merasa lega bukan main. Langkah terasa sedikit lebih ringan. Separuh beban yang menindih sepanjang bulan-bulan terakhir ini lepas dengan cara yang ringan.

Kelegaan itu datang setelah saya menceritakan pilihan saya ini pada simbok. Ya, pada simbok. Dialah yang membuatku berpikir keras, merasa menanggung beban. Saya terlalu tak tega mengecewakan dia. Tak terbayangkan melihat wajahnya sedih.

Dia pula yang selama ini membuatku mencoba bertahan untuk menyelesaikan studi. Ketakutan melihat simbok sedih itulah yang memaksaku sekuatnya untuk tetap membayar SPP, mengurus KRS, mendatangi ruang jurusan, duduk di dalam kelas…. Tapi rasa muak, bosan, letih dan perasaan sia-sia yang selalu datang tiap kali memaksakan diri duduk di dalam kelas makin tak tertahankan.

Saya akhirnya memilih untuk out. Dancing out, kata seorang teman.

Beruntung simbok bisa memahami pilihan ini. Menerima dengan berat, tentu saja. Saya bilang padanya: “Mbok, saya ini jarang meminta. Tapi kali ini, mbok, saya minta ikhlaskan saya untuk tak jadi sarjana.”

Saya tidak drop out. Masa studi saya masih 2 semester lagi. Skripsi sudah kelar, hanya tinggal persetujuan dosen pembimbing saja. Kebetulan pembimbing skripsi saya orang yang hebat, dosen yang moderat, pembimbing yang tak rewel, penulis yang rajin, penceramah yang bersemangat dan dikenal sebagai pemimpin yang bersih dan bersahaja: Prof. Syafi’i Ma’arif, M.A., Ph.D.

Problem saya hanya menyelesaikan teori. Ada sekira 20 sks lagi. Separuhnya nilai belum keluar dan tinggal diurus pada dosen yang bersangkutan. Separuhnya mesti diambil lagi.

Banyak teman yang menyarankan untuk bertahan. Seorang adik kelasku menawarkan diri membantu menguruskan nilai mata kuliah yang belum keluar. “Apa susahnya berangkat, duduk dan diam di kelas,” kata sejumlah teman lain menyarankan.

Tapi di situlah problemnya. Siapa yang tahan dengan profesor yang jika hendak meminta tanda tangannya mesti diperiksa kukunya lebih dulu? Siapa yang tahan jika terlambat sepuluh menit saja sudah diceramahi dengan empat bahasa sekaligus (Indonesia, Inggris, Belanda dan Arab)? Siapa yang tahan jika ketahuan menguap sekali sudah disuruh berdiri di depan kelas barang lima menit sebelum kemudian diminta keluar untuk cuci muka? Siapa yang tahan jika rambut menyentuh sudah menutupi mata harus dicukur jika tidak tak boleh ikut kuliah? Padahal dia mengampu setidaknya 6 mata kuliah. Dan selama 6 semester saya kudu menghadapi profesor model beginian berikut aturan main yang ia buat sendiri tanpa bisa negosiasi?

Saya masih ingat, pada hari pertama kuliah saya sudah bertengkar hebat dengannya. Gara-gara saya lebih memilih untuk membaca buku Prof. Wertheim, “Gelombang Pasang Emansipasi”, ketimbang mendengarkan ceramahnya tentang betapa hebatnya dia sebagai mahasiswa dulu. Saya bertengkar karena saya tak terima disuruh keluar saat itu juga. Ada sekitar 15 menit kami berdebat. Dia mengancam jika saya tak keluar maka dia yang akan keluar. Saya bersikeras duduk di kelas.

Sejak itulah kami menjadi musuh diam-diam. Dia selalu mencari momen untuk memerpermalukanku. Salah satunya dengan menceramahiku dengan empat bahasa sewaktu Saya menolak potong rambut dan menyuruhku berdiri di kelas selama lima menit karena kedapatan menguap.

Jujur saja saya dendam. Dan saya cari momen untuk membalasnya.

Sewaktu Kongres Ikatan Mahasiswa Sejarah di IKIP Semarang pada awal 2002, dia diundang ceramah pada salah satu sesi. Saya sengaja datang ke sana untuk membalas perlakuannya. Dan itulah yang terjadi. Saya mendebat dia habis-habisan sewaktu bicara tentang Soekarno. Ini memalukan baginya. Dia didebat di muka utusan mahasiswa sejarah dari seluruh Indonesia oleh mahasiswanya sendiri. Mukanya memerah.

Tapi tak ada yang lebih telak selain momen yang satu ini:

Dia biasa membagikan copy dari tulisan-tulisannya yang baru saja dimuat di koran. Dan, sumpah, tulisannya yang dia copy dan bagikan sendiri itu “hanya” dimuat di koran-koran lokal macam Bernas atau Kedaulatan Rakyat. Dia biasa membagikan tulisannya jika baru saja dimuat. Kadang jika di hari kuliahnya ada artikel dia yang dimuat, hari itu juga dia copy dan bagi-bagikan. Tentu saja sembari membangga-banggakan dirinya seakan-akan tulisan itu baru saja dimuat New Yorker atau Prisma.

Satu waktu, pada saat saya akan mengikuti kuliahnya, saya tahu bahwa tulisan dia mengenai bukunya Dr. Hembing baru saja dimuat di Kedaulatan Rakyat. Inilah momen terbaik untuk membalas perlakuannya. Saya copy tiga esai saya yang pernah dimuat di Kompas, Koran Tempo dan Media Indonesia. Saya bagikan satu-satu pada teman-teman yang masuk hari itu. Satu eksemplar saya letakkan di meja dosen.

Persis seperti yang saya duga, dia masuk kelas dan langsung membagikan copy tulisannya. Tanpa duduk di meja lebih dulu, dia cas cis cus bicara tentang tulisannya itu, kapan dimuatnya, berapa honornya, berapa lama membuatnya, dll. 5 menit kemudian dia baru menuju meja. Dia periksa kertas yang ada di mejanya. Dia baca barang beberapa kerjap. Dia mendehem beberapa kali. Lalu mulai mengajar tanpa sedikit pun menyinggung-nyinggung soal tulisannya lagi. Saya merasa impas.

Dan pada profesor inilah, yang anaknya kini menjadi wartawan Bisnis Indonesia, saya punya piutang–setidaknya—2 mata kuliah lagi. Dan saya terlalu tinggi hati untuk kembali duduk di kelasnya dan bertahan untuk terus disindir selama perkuliahan berlangsung.

Profesor ini memang salah satu problem saya di kampus. Tapi, tentu saja, bukan satu-satunya.

Saya terlalu susah bangun pagi untuk kuliah jam 7 (sebagian besar teori yang harus kutempuh lagi adalah mata kuliah semester 1 dan 2 yang jam belajarnya selalu pagi), terlalu pemalas untuk berhadapan dengan birokrasi kampus yang ribet untuk ngurus nilai yang tertahan, terlalu jengah untuk mendengarkan ceramah beberapa dosen tua yang sama keras kepalanya dengan saya, terlalu risih untuk dipandangi seisi ruang jurusan tiap kali masuk untuk mengurus sesuatu, dan paling gak tahan jika harus berpapasan dengan profesor tua itu yang sejak semester pertama sudah menjadi musuh bebuyutanku. “Musuh alamiah,” kata seorang teman satu angkatanku.

Bisa saja sebenarnya saya potong kompas dengan meminta bantuan beberapa petinggi kampus, termasuk mantan Rektor yang sekarang menjadi Dirjen di sebuah departemen yang budget-nya lebih besar ketimbang budget untuk TNI. Dia pernah bilang untuk menghubungunginya kapan saja jika butuh pertolongan soal kuliah.

Tapi saya tak memilih opsi itu. Malu meminta bantuan dia. Sebab, sewaktu dia masih menjabat rektor, saya bersama 4 kawan lain pernah membuat heboh dengan melakukan unjuk rasa yang memakai tehnik yang tak pernah digunakan sepanjang sejarah kampus tempatku kuliah. Masak saya minta bantuan pada orang yang pernah saya demo habis-habisan selama sepekan lebih?

Malas, risih, muak, enggan, malu dan jengkel berpadu baur sedemikian rupa dan mengantarkanku untuk ambil keputusan dancing out sya la la la….

Bukan berarti saya tak gentar dengan pilihan ini. Saya tahu, negeri ini lebih menghargai orang-orang yang punya ijazah. Sejumlah tawaran sudah masuk ke inbox imel maupun hp yang menanayakan kabar kuliahku seraya memintaku menghubungi mereka jika kuliahku kelar sudah. Tawaran menggiurkan yang jelas tak akan pernah bisa saya penuhi, entah jika mereka tak memersoalkan perkara ijazah macam begituan.

Tanpa ijazah sarjana, pilihan tentu lebih sedikit. Tapi bukan berarti pilihan yang bisa kuambil jadi berkurang. Jika pun harus hidup tanpa pekerjaan tetap, setidaknya saya masih bisa menulis. Entah artikel, esai, cerpen, puisi. Toh sejak 4 tahun terakhir saya bisa bertahan hidup hanya dengan menulis. Dengan menulis pula aku berhasil menyekolahkan adikku sampai jadi sarjana.

Tapi, ya sudah…. Toh, pilihan sudah dijatuhkan. Hadapi saja apa yang membentang di depan dengan dada lebar dan mata dipicingkan. Muka lawan muka. Jika pun kelak mesti tersungkur dalam salah satu sesi pertarungan hidup yang gagal kumenangkan, saya berharap untuk tidak tersungkur terlalu lama.

Pastinya, saya kudu bisa meyakinkan orang tua yang kupilih jadi mertuaku kelak bahwa anak perempuannya akan baik-baik saja walau kawin dengan seorang lulusan SMA.Hahaha….

[saya banyak diberkahi teman yang juga memilih dancing out. di antaranya: M Bakkar Wibowo (seniman cover buku), Anas Syahrul Alimi (pendiri penerbit Jendela dan Pustaka Sufi), M Faiz Ahsoul (editor), M Bunyamin (Pemilik toko besi di Madiun), Tri Prasetyo (sekarang bikin EO), Yossy Suparyo (bikin penerbit juga), Muhidin M Dahlan (novelis katrok sekaligus editor-penulis kata pengantar buku-buku Pramoedya), Ikram Putra (kini jadi wartawan bahasa linggis), Maulida (yang satu ini murtad karena akhirnya sekolah lagi. hahaha...), Fahri Salam (wartawan lepas), Bambang Wijoyono (pemiliki usaha travel wisata), AN Ismanto (penyair), Galam Zulkifli (pelukis) sampai Taufik Rahzen dan banyak lagi. Ada yang mau menyusul? Hihihihi....]

44 komentar:

lida mengatakan...

Dancing out sya la la...
Lalalala...

[susah mau ngomong apa]

Carolle mengatakan...

hal yg sama juga aku rasakan kok mas...

doain saja semoga ga segitunya deh kejadian sm aku.

sutrisno mahardika mengatakan...

hidup ini ya kayak gini mas, cuma buat ngurus surat... capek-capek kuliah toh cuma dapet surat kelulusan.. mau naek motor urus surat, bahkan mati juga urus surat kan? :p

ikram mengatakan...

Wah, patut dipelajari tuh gimana caranya meyakinkan calon mertua :)

arya mengatakan...

zen, kenapa persoalan seperti ini terlihat (begitu) enteng di ujung kibormu ya? hehehe.
yah, pilihan sudah dijatuhkan, whatever you take, simbok toh sudah merestui (meski mungkin dengan berat hati). itu salah satu yang penting menurutku.
dan semoga kelak keputusanmu itu terbukti bukan jadi blunder (kayak mcclaren milih carson :D)...
sukses selalu

Munir mengatakan...

mas zen ni minke kairo..he..he..he
minke salut mas....mas berani ngambil keputusan kayak gitu..

memang ijazah itu kayak benda keramat ya...yang selalu diagung2kan..padahal gus dur aja sukses ya mas meski tanpa ijazah..malahan yang pake ijazah tu pada nganggur di jalanan..he..he..

Anonim mengatakan...

It's ok, Zen. Mungkin itu bukan pilihan yang menggembirakan, ditengah kehidupan yang selalu mempersoalkan ijazah. Tapi, dunia luar adalah kampus terbaik untuk para penulis, Zen. Jangan lupa itu. Berkaryalah terus, karena tulisanmu akan selalu lebih tajam meski tanpa gelar sarjana, jika kamu mau menoleh pada dunia. Lagipula, kita tak selalu bisa memnuhi impian semua orang. Kamu hanya harus menulis dengan hati dan pikiranmu, bukan dengan gelar sarjana yang telah kau tinggalkan.

Muhidin M Dahlan mengatakan...

Kepada yang semua sudah memberi komentar dan akan memberi komentar. Saya, gus pengasap, sebut kabag regitrasi, Drop Out Instituuuuuuuuut (DO'I gitu loch), memberi penilaian:

1. Ikram, masuk! Berani dancing out. Sangat pas masuk DOI karena keberaniannya mengambil risiko. Kecuali PR-nya satu: menaklukkan camer. Problemmu ini, Kram, sama dengan yang posting ini tulisan. Masih alot.

2. Maulida. Kayaknya agak susah deh ke DOI. Sebetulnya dia sudah sakaratul maut dan nyaris terjerumus ke DOI, eh idup lagi hasrat lamanya dan masuk UNPAR. Karena salah satu pekerjaannya adalah ya kuliah. Aneh sih. Tapi tetap tak menutup kemungkinan.

3. Arya "Sim Card" Perdana. Tak jelas. Antara surga dan neraka. Bisa masuk. Bisa juga tidak. Kalau kian lama dia mutung, alamat akan segera terperosok ke DOI. Berdoalah, loket registrasi ini selalu terbuka untukmu, Arya. Sy murah hati kok. Insya Allah.

4. Trisno Mahar. Agak-agak mapan nih pikirannya. Sampai-sampai menyetarakan ijazah dengan sim. Beda mas. Satunya mahalnya minta ampun. Satunya lagi biasa-biasa aja tuh. Lagi pula kalo nggak pake sim nggak apa2. Cukup kasih 20 ribu. Dan toh tak tiap hari polisi sibuk bergerombol di pinggir jalan. Sekadar promosi, ini DOI lucu-lucu lho. Kecuali kalau Gus Dur itu sudah terlihat tak lucu lagi.

5. Minke Kairo. Ah, ringan lidah saja bilang nggak penting ijazah, tapi kuliah jalan terus. Jika ijazah tak penting, nah bisa ikuti tuh jejak Gus Dur yang juga dancing out--bukan saja di kairo, tapi juga baghdad.

5. Sulhanuddin. Lama makhluk ini tak nongol. Saya memiliki kekhawatiran besar bahwa "masa hilang"nya itu disebabkan sibuk salat istikhorah. Gus Udin Besar, kami mendukung dan mendorong dengan sangat keras doa istikharahmu agar bergabung dalam DOI ini. Ini sudah komitmen saya yang rangkap jabatan kabag promosi DOI.

Kagak usah malulah. Jangan takut. Terlalu takut itu gak terlalu baik. Ada juga Goenawan Mohamad yang nggak lulus UI dan Belgia. Atau yang lebih parah Pramoedya Ananta Toer. Cuma lulus SD. Itupun tiga kali nggak naik kelas. Dasar anak bodoh! Tapi kandidat nobel je! Masih banyak nama-nama besar yang jadi pengajar di kelas-kelas DOI ini. Ada juga Taufik Rahzen yang drop out dua kali di UGM (Teknik Kimia) dan IAIN (Akidah Filsafat) Jogja. Saya, yang memangku kabag registrasi ini, juga jebol di dua dinding kampus: UNY (Teknik Bangunan) dan UIN Kalijaga (Sejarah Peradaban Islam).

Loket dibuka 24 jam. Silakan datang. Ayo-ayo. Drop Out Istituuuuuuut (DOI): Kuliah di Kampus Penting, Tak Kuliah Masih Lebih Penting.

Itu semboyan instituuuuuuuut ini. Ntar diganti kalau ada ide yang lebih segar.

kw mengatakan...

salut. top. kelaut aja tuh orang-orang konvensional, kuno, primitip itu.

aku temennya pram, yang juga bukan anak sekolahan. dan saya ingin seperti dia, jadi "orang besar"!

lida mengatakan...

"...tetap tak menutup kemungkinan"? Dasar Gus Muh. :)

DenaDena mengatakan...

1. sadissssss hahahaha tapi dosen koyo ngunu pancen kudu dihajarrrrrr!!!

2. dosen pembimbingmu itu lho mas...hiks (dia pasti kecewe mendengar mu dancing out)

3. pantes dadi koncone kw hehehe

4. mengko nek wes punya buku best seller, jangan lupa undang pak dosenmu itu

5. sebisa mungkin singkirkan energi negatip dari dalam hatimu (halah)

arya mengatakan...

@gus muhidin
tidaaaaaaaaaaaakkkkk
hahahaha

http://aryaperdhana.wordpress.com

ipungmbuh SH mengatakan...

hmm...hidup memang pilihan,
tapi masalah bukan untuk dihindari..
jadi.. memilih untuk menghindari masalahkah ???!! ^_^


maaf..tapi siapalah sahaya...
hanya memberikan pendapat sahaja
ampun kangs...

www.lembaranpung.wordpress.com

deKing mengatakan...

I take my hat off to you.
Salut dengan keberanian tsb.
Semoga sukses selalu ...

deKing,
*dari fakultas sebelah*

m aan mansyur mengatakan...

saya usul, biar lengkap bikinlah sebuah syukuran. masa yang sarjana aja bisa bikin syukuran?

Anonim mengatakan...

Ijazah cuma pelengkap lemari bro! Cuma candu! Ude.. Nge-flow aje.. Di Kemayoran 700 rebu tembus ijazah kuliah. Mau nilai kaya pegimane juga dijabanin! Kalo mau kontak ane aje, ada kawan punya job begonoan.

ndaru mengatakan...

hahaha, saya DO di uajy & akindo (ga tau deh bakal seperti apa nasib saya di tempat yang sekarang, jangan - jangan bakal DO lagi :)) )

jadi bolehlah saya diberi formulir pendaftaran DOI

btw, dendam memang bahan bakar yang cukup baik. tetap semangat!


http://ndaru.curang.com

die Sonne mengatakan...

keputusan yang "aneh", misalnya suatu saat nanti aku D-0 wah, bokap bisa mati serangan jantung...(semoga jangan)
ok,... selamat ber-Dancing out...

rama prabu mengatakan...

Zen, inilah plediomu yang menggetarkan. tapi memang hidup adalah derita yang harus terus diupayakan keluar. hidup adalah sekumpulan nilai yang harus dipertanggungjawabkan. dan aku percaya jalanmu memulih DO adalah bukan final, ada banyak institut kehidupan lain yang bisa jadi sumur ilmu.
Zen, perkara meyakinkan CAMER itu mah hal sepele atuh.....! masa penulis kelas nasional tak bisa taklukan srigala rumah. anjing diberi tulang, burung diberi pur, monyet dikasih pisang, ada jalan menaklukan coy, dan kalau mentok ngomong samaku ta tunjukan jalan ke dukun ....haaaaaaaa...........!!!!
Zen, saranku secepatnya kau terbitkan bukumu aja. biar dunia tahu. kan, karena menulislah manusia itu ada. heee

ramaprabu

mPitzky mengatakan...

namaku ga disebut! padahal aku yg bikin istilah dancing out. huh! udah DO, pikun pulak kaw!

bukunyaaaaaa!!! bukunyaaaaaa!!! kirim yax ke pabrik. biar buat gaya2an ama temen2 sepemburuhan. 'INI LHOOO... AKU DIKIRIMIN BUKU AMA PENULIS NGETOP!'

((=

Arkhadi Pustaka mengatakan...

wadhuh .. telat 5 hari bacanya ...

saya baru saja Drop Out dari DOI heheheheh ...

karena saya bukan orang yang cukup hebat, maka saya tetap butuh ijazah ...

tapi buat mas zen kok rasanya memang sudah ndak perlu ijazah.

sukses atau tidak hidup seseorang itu ndak bisa ditentukan sebelum orang itu dancing out dari dunia. bukan seberapa banyak yang melayat .. bukan juga seberapa banyak apa pun yang ia punya ..

personally, saya pikir ini tentang seberapa banyak yang sudah kita berikan untuk orang lain ... .

egoisnya mengatakan...

mas zen......
didunia luar masih ada hal yang bisa dipelajari, out bukan ujung jalan pendidikanm aku aja yang out di XP asih bisa belajar di dunia luar dengan tenang bahkan lebih mengasikan.....
tetap tajaman tulisanmu setajam mata memandang ketidak berdayaan kaum lemah melawan birokrasi, yang semakin hari semakin ribet.....
mertua tidak menayakan lulusan tapi penghasilan OK

Anonim mengatakan...

Yang mau lulus dan yang juga bs nulis!

Ya mas, pilihan lulus itu seperti pilih es jeruk atau teh anget. Yang panas karena berbagai hal, terus kumpul-kumpul minum es untuk mendinginkan hausnya.

Dua semester sisa mas! masih sangat bisa menyelesaikan 20 sks, bahkan satu semester aja bisa kok bagi kau. apa sih yang tidak bisa untuk kamu, sayang sekali keputusanmu. Tanpa meminta aja kamu bisa seperti dalam pledoimu! Banyak cara sih aku kira, "tempo" saja tembus, mungkin navigasi "kompas"nya yang belum pas, prediksi awalmu.

kalau kamu lulus, aku yakin bisa melewati orang-orang seperti GM, Pram, dan orang-oarang DO yang kamu sebutkan. Kita butuh teladan, bukan hanya menasehati orang lain dalam hal akademik ataupun perihal lainnya, Namun juga lulus dari lembaga yang sebenarnya remeh untukmu sebenarnya.

Padahal untuk mengambil jurusan sejarah-mu, kau harus ulang UMPTN. Begitu bersemangat! Sebuah keputusan pribadi yang berani dan tanpa paksaan siapapun untuk mengambil program study yang kamu anggap sesuai dengan minat dan nuranimu.

Namun sayang, kau tidak bisa mempertanggungjawabkan keputusan awalmu untuk menyelesaikan program studi yang kau pilih, dan yang lebih menyedihkan meminta ibu ikhlas akan keputusanmu. Tapi kata ibuku, itu gak iklas, namu terpaksa agar anaknya puas tidak terbebani atau tepatnya merdeka seutuhnya.

Tapi gak apa-apalah, jika palu sudah kau ketuk untuk selama-lamanya. toh yang yang menjalaninya juga kau, bukan aku atau siapapun.

Terakhir, "jika kau tidak mau solat, tidak apa-apa kok. Namun yang lebih penting jangan ngajak-ngajak" begitupun dengan keputusanmu itu.

Anonim mengatakan...

Bener juga yang Islah bilang bro. Kalau gw inget gimana lo dulu cerita tentang perjuangan dan kegembiraan lo dengan jurusan lo itu, gw jadi nyegir sendiri.

Tapi gw ga sepakat juga ma islah soal ajak-mengajak yang doi bilang. Sekolah emang dah kudu diratain ma tanah.

Makanya, lo kan banyak kenal orang pinter, bikin donk "Manifes Deschooling Society" atau tulisan2 yang mempropagandakan itu. Cuek aja! Jangan vulgar2 tapi, step by step.

Ntar kan ada "Prahara budaya jilid 2", tapi kali ini namanya "Prahara Pendidikan". Kiri itu kan seksi. Mau jadi seksi ga?

dewa01api mengatakan...

walah..walah....zen dan gus muh nih sudah mulai buat ijazah DOI. ini sudah menjurus pada perguruan tinggi DANCING OUT. semangat selalu, bung!

ashar erwe mengatakan...

Sebagai informasi mas ikatan DO udah ada tapi baru anak2 UGM aja namanya KADOGAMA, dan sempat press release segala sampe Sofyan Effendi (rektor UGM waktu itu) mencak-mencak, hehehehhe

Btw universitas sebenarnya bukan bangku kuliah, universitas sebenarnya adalah universitas hidup.

Aku lebih setuju dengan ujar-ujarnya Pak Damardjati Supadjar Universitas sesungguhnya adalah UNIVERSITAS JAGAD RAYA Fakultasnya KEHIDUPAN Jurusannya JALAN LURUS.

Aku paham bener apa yang kamu lakukan karena aku juga pernah menempuhnya.

Tapi dalam pekerjaanku sekarang sebagai Bakoel Boekoe, aku menemukan universitas yang sesungguhnya, ijazahnya bukan selembar kertas, tapi kepuasan yang sesungguhnya.

sayappipit mengatakan...

takut dipukulin saya komentar post ini si blog-ku

Anonim mengatakan...

Sudahlah, memang banyak alasan buat pembenaran orang gagal. Akui aja di satu sisi ini para DO itu gagal, kalah. Kalah sama dirinya sendiri. Mungkin memang sama banyak orang, memang atas para tua dan pandangan umum yang kolot dengan mengagungkan ijazah. Para DO memang tampak gagah, berani mabil risiko. Tapi, tetap saja kalah sama egonya sendiri. Coba renungi, yang dijadikan contoh itu para tokoh masa lalu. Coba kamu lulus, apa tidak malah malah hebat, barangkali bisa jadi master, terus doktor, dengan kemampuan mencari beasiswa, dan kemampuanmu yang bagus. Bermanfaat bagi banyak orang, dengan penelitian atau publikasi dan temuan akademis. Kagum sama sejarawan2 hebat kan, seperti Kuntowijoyo, Sartono? Kebanyakan mereka adalah akademisi kawan, yang bisa rendah hati saat berhadapan dengan ilmu pengetahuan dan teruji secara ilmiah. Cobalah lebih realistis. Agar kamu tidak cuma disaluti para blogger saja dan komunitas yang sempit..:)Sadar deh, mending hilangkan egomu. Mereka yang bilang salut itu sebenarnya cuma senang baca tulisanmu aja, simpati separuh-separuh karena paham pilihanmu, bukan seutuhnya pingin seia sekata denganmu. Coba mereka itu disuruh DO kayak kamu, mesti tidak mau. Sama seperti kamu nanti tidak mau kalau anakmu nanti hanya tamat SD misalnya...Zaman dah beda kawan, revolusi sekarang tidak sama dengan zaman Pram dulu..
Itu aja masukanku, perjalanmu jangan hanya dalam angan dan fisik, tapi juga dalam akademis formal dong..
OK, peace!

mata leo mengatakan...

salam kenal. tulisan yang baguuuus banget. mau tanya, apakah mas aries?

ga ada yang salah dengan memperturutkan ego sendiri, selama ia sebisa mungkin sadar tentang eksistensi ego tersebut.

jadikan bahan bakar aja mas... :D sekejam2nya dunia luar sana kata orang, saya rasa anda masih bisa tangani.

puj mengatakan...

bung zen
pertama, jelas: salut!!
kedua, kata salut saya bukanlah ikut2an sekedar memuji (kayak lagu ajah ya...:))
ketiga, pengorbanan anda menurut saya terlalu "mahal" (kata "mahal" tentu dilihat dari banyak segi). kemapanan konsep para pendahulu yg juga ber-dancing out sya la la (kekeke, malah ikutan), adalah hal yang sama sekali lain. soal pak tua profesor narsis itu, ah...itu lah potret buram akademisi kita. bukan soal anda masih tetap bisa survive, menjinakkan mertua, dll dst dsb. tapi benarkah kerelaan si mbok anda...ah ya sudahlah. maaf menasehati, malah saya bisa ketularan si profesor katro itu hehehe. pendek kata, satu-dua-tiga, sayang semuanya...:)

good luck, bung zen
::puj::

ikram mengatakan...

"Karena bilangan belum genap tanpa huruf" :P

Bakkar Wibowo mengatakan...

Nak DO-ne seko Harvard opo Sorbonne sih rha popo Jen...:) Wis lupakan saja, rha penting kuwi! Sik penting adalah kita tetep bisa liat United bertarung diakhir pekan:) sambil membincangkan tentang Gary Neville yang tak kungjung2 sembuh dari cidera lututnya, permainan Michael Carrick yang elegan, transfer pemain atau Carlitos yang selalu berdiri pada posisi yang tepat... Saya kira, akan jauh lebih rumit dan memusingkan jika kita nggak bisa liat Paul Scholes dkk lagi disetiap akhir pekan (modar aku). Viva United!!!

Hadza mengatakan...

Emm apa ini yg dinamakan sebuah Idealisme? Kalo boleh tahu, idealisme mas berpijak dari apa?
Kok saya lebih suka jalan ngalah aja ngeladenin hal2 ky gitu. Apa sampean cemburu ma orng2 yg belum dpt kesempatan mencicipi enaknya sekolah dan kuliah? padahal saya yakin, buanyak dari mereka yg ngerasa ngiri untuk bisa sekolah dan kuliah. memang bener juga, kadang kita ngerasa jengah ama perilaku di kampus, dari soal administrasi, birokrasi ampek pribadi2 di kampus, tapi bukan berarti harus kalah donk? Sekarang susah loh merubah sesuatu kalo tidak ikut didalamnya. Kok saya lebih menyayngkan pean, yg punya "energy" berlebih kok lbih memilih DOI. Ahh.. sekali lagi saya bingung tentang Idealisme.

Salam,

putri mengatakan...

Dancing out sya la la la...kedengarannya jadi sesuatu yang lebih menyenangkan dari pada sebuah istilah Drop Out. Pengalaman yang serupa dengan alasan yang berbeda. Tp sy msh dlm proses pencarian bukti, kalau saya ini bukan 'tidak bisa' jadi sarjana tapi 'tidak mau' jadi sarjana...beda kan :)
So gudlak smuanya, kt slng medoakan...

Anonim mengatakan...

http://genericpillshq.com/#cheap-generic-viagra | [url=http://genericpillshq.com/#order-viagra]generic viagra[/url] | cheap viagra

Anonim mengatakan...

[url=http://directlenderloansonlinedirectly.com/#grhxl]direct lender payday loans[/url] - payday loans online , http://directlenderloansonlinedirectly.com/#qxxza payday loans online

Anonim mengatakan...

[url=http://buyaccutaneorderpillsonline.com/#9275]accutane cost[/url] - cheap generic accutane , http://buyaccutaneorderpillsonline.com/#7949 accutane online

Anonim mengatakan...

[url=http://buyaccutaneorderpillsonline.com/#20148]accutane online without prescription[/url] - accutane without prescription , http://buyaccutaneorderpillsonline.com/#3448 order accutane

Anonim mengatakan...

[url=http://buyaccutaneorderpillsonline.com/#14962]generic accutane[/url] - buy accutane online , http://buyaccutaneorderpillsonline.com/#8737 order accutane

Anonim mengatakan...

[url=http://buyonlinelasixone.com/#17335]generic lasix[/url] - buy lasix online , http://buyonlinelasixone.com/#13926 lasix cost

Anonim mengatakan...

[url=http://cialisnowdirect.com/#bptug]cialis without prescription[/url] - cialis 10 mg , http://cialisnowdirect.com/#mrhzr cialis 10 mg

idris wu mengatakan...

saya DO nan UNY jurusan bangunan, rasanya nyesek banget karena gak mengambil cuti sampai batas akhir kena DO.. dan ya hanya bisa legowo. karena kesibukan organisasi dan olahraga(padahal bukan jurusanku) dan semua adalah kegiatan positif namun apa daya... sedih juga mengingat orang tua yg membiayai.. semudah itukah men DO kampusku? :(

OBAT KATARAK mengatakan...

Silahkan kunjungi:
http://obatkatarak.utamakansehat.com/
http://obatparuparubasah.utamakansehat.com/
http://obatkelenjartiroid.utamakansehat.com/
http://obatglaukoma.utamakansehat.com/
http://obathernia.utamakansehat.com/
http://obatleukimia1.utamakansehat.com/
http://qncjellygamat.org/obat-patah-tulang-leher/
http://qncjellygamat.org/cara-mengobati-penyakit-ayan/
http://arkanherbal.com/obat-ulkus-mole/
http://arkanherbal.com/cara-mengobati-eksim-kering/

OBAT KATARAK mengatakan...

Semoga sukses, silahkan kunjungi :
http://obatkatarak.utamakansehat.com/
http://obatparuparubasah.utamakansehat.com/
http://obatkelenjartiroid.utamakansehat.com/
http://obatamandel.utamakansehat.com/
http://obathernia.utamakansehat.com/
http://obatleukimia1.utamakansehat.com/
http://qncjellygamat.org/obat-patah-tulang-leher/
http://qncjellygamat.org/cara-mengobati-penyakit-ayan/
http://arkanherbal.com/obat-ulkus-mole/
http://arkanherbal.com/cara-mengobati-eksim-kering/
http://arkanherbal.com/cara-mengobati-tumor-filodes/
http://arkanherbal.com/obat-herpes-genitalis/
http://qncjellygamat.org/obat-tulang-lutut-bergeser/