Selasa, November 27, 2007

"Ngobrol" dengan Mas Tirto dan Pramoedya

:: tanggapan terakhir untuk andreas harsono dari yayasan pantau


Tadi malam saya menggelar ritus jelangkung. Saya merapal mantra dalam sebuah genisa al-kitabiah: “Jelangkung jalangse... datang tak dijemput pulang tak diantar. Hwarkadalah Hoooo.....”

Dengan kemurahan hati, mereka kini mau keluar dari pendiangan mereka masing-masing. Ada tiga yang segera meloncat di meja bulat-tidak persegi-juga-tidak setelah namanya saya sebut tiga kali: “Mas Tirto” (Tirtoadisoerjo), Bung Pram (Pramoedya Ananta Toer) dan Gus Durrahman (Abdurrachman Surjomihardjo).

Saya pun langsung keluarkan secarik surat terakhir dari Andreas Harsono (selanjutnya ditulis "Kritikus Kita"): “Pers, Sejarah dan Rasialisme by Andreas Harsono”.

“Mas Tirto, Bung Pram, Gus Durrahman kenal penulisnya?” tanya saya. Mas Tirto melihat kertas itu dan menggeleng. Bung Pram hanya merogoh kantong dan menyalakan sebatang kretek. Adapun Gus Durrahman malah mendongakkan kepala.

“Kalau saya, apakah Anda semua kenal juga?” Ketiganya serempak tertawa dan bilang berbareng: “Tidakkkkkkkkk!” (Sambil mengucapkan itu, Mas Tirto menempelkan jari-jarinya di bibir bawah, Bung Pram menempelkan dua telapak tangannya di pipi dan Gus Durrahman cengir-cengir sambil garuk-garuk kepala)

Tapi lupakan kenal-mengenal sepihak itu. Mari kita bahas tuduhan yang penting-penting saja. Saya mulai saja dari Gus Durrahman yang namanya dikutip di pragraf ketiga oleh Kritikus Kita itu.

Bagaimana pendapat Gus Durrahman dengan kalimat ini: “Kalau mau mencari data siapa yang terbit lebih awal, Abdurrachman Surjomihardjo dalam Beberapa Segi Perkembangan Sejarah Pers di Indonesia menyebut suratkabar Bataviasche Nouvelles, yang terbit 1744-1746, atau sekitar 150 tahun sebelum Medan Prijaji, sebagai penerbitan pertama di Batavia/ Mengapa patokannya Taufik Rahzen bukan 1744?”

”Ada apa memang kutipan itu? Emang bener gitu kok. Masalahnya apa?” tanya Gus Durrahman.

”Masalahnya, Kritikus Kita itu mengutip sampeyan justru untuk menolak sosok Mas Tirto dijadikan Sang Pemula atau pelopor pers nasional!”

”Lho, gimana sih Kritikus Kita itu? Dia baca buku saya gak sih? Kan di buku yang sama itu juga saya ada bilang bahwa Mas Tirto ini memang pelopor pers nasional. Cobalah kau tengok halaman 77 buku itu!”

Segera saya buka halaman yang dikutip Kritikus Kita dengan sepotong-potong itu. Ternyata benar. Di situ tertulis begini: “Pelopor pers nasional yalah Medan Prijaji (waktu itu terbit sebagai mingguan), yang sesuai dengan namanya merupakan suara golongan priyayi, lingkungan yang ingin dicapai yalah ‘Anak Hindia’... Mungkin sekali Raden Mas Tirtoadisuryo adalah pengusaha pertama Indonesia yang bergerak dibidang penerbitan dan percetakan. Ia juga dianggap sebagai wartawan Indonesia yang pertama-tama menggunakan suratkabar sebagai alat untuk membentuk pendapat umum. Rupa dan andam (opmaak) suratkabar yang diterbitkan memberi kesan menyegarkan pada jama itu, karena pemuatan karangan, warta berita, pengumuman, iklan, dan sebagainya disusun secara baru.”

“Di situ juga saya tulis,” kata Gus Durrahman, “Pengakuan Ki Hadjar Dewantara tentang Mas Tirto sebagai pelopor pers nasional juga saya sertakan. Coba kau tengok halaman 83!

Saya ikuti saja intruksi Gus Durrahman ini. Dan, lagi-lagi, memang benar. Di situ ada kata-kata Ki Hadjar: “Kira-kira pada tahun berdirinya Boedi Oetomo ada seorang wartawan modern, yang menarik perhatian karena lancarnya dan tajamnya pena yang ia pegang. Yaitu almarhum R.M. Djokomono, kemudian bernama Tirtoahdisuryo, bekas murid Stovia yang waktu itu bekerja sebagai radaktur harian Bintang Betawi (yang kemudian bernama Berita Betawi) lalu memimpin Medan Prijaji dan Soeloeh Pengadilan. Beliau boleh disebut pelopor dalam lapangan journalistik.” (Ki Hadjar, sebelum bergelut di dunia pendidikan, pernah bergabung dengan Douwes Dekker di Indsiche Partij dan ikut mengelola koran De Express dan pendiri koran Persatoean Hindia (1919))

Saya cek lagi buku itu yang saya baca dari cetakan penerbit Kompas, 2002. Saya ngeri juga melihat nama-nama yang dipampang sebagai tim peneliti. Isinya sejarawan tulen bin beneran. Selain Gus Durrachman sendiri sebagai ketua tim, ada AB Lapian, Eerkelens (KITLV), Taufik Abdullah, Soebagijo IN, P Swantoro sampai Leo Suryadinata.

Oya, ngomong-ngomong Leo Suryadinata, saya terkejut karena bagian yang ada menyebut kepeloporan Tirto itu pada bab II ditulis oleh Gus Durrahman dan Leo Suryadinata, seorang Tionghoa yang diakui punya reputasi dan kredibiltas dalam historiografi orang Tionghoa di Indonesia.

Dari rak buku sebelah timur tiba-tiba meloncat arwah Sudarjo Tjokrosisworo dengan menenteng Sekilas Perdjuangan Sebangsa (1958: 145). Ia menyerahkan sebait komentar Parada Harahap atas kiprah Tirto: “Beliaulah jang boleh dikatakan wakil dan pendukung batas perpisahan ,,lama dan baru’’. Setelah mengatakan itu, arwah Sudarjo melesat lagi ke rak buku secepat ia datang. Datang tak diundang, pergi juga tak diantar.

Gus Durrhaman lalu bertanya pada saya: “Apakah Kritikus Kita itu juga mengutipkan kata-kata di bab II yang saya tulis dengan Koh Leo Suryadinata gak?!”

“Kan saya udah bilang kagak, Gus!” jawab saya. (Emang kagak!)

“Lho, kok bisa?”

“Waduh mana saya tahu, Gus. Saya juga heran. Sengaja nggak ya? Apa untuk menutup-nutupi kenyataan bahwa Gus Durrahman dan Koh Leo menulis bab yang mengakui kepeloporan Mas Tirto ya?” jawab saya sembari bertanya.

Dia nggak baca buku itu kali....” sambung Gus Durrahman acuh. Gus Durrahman tiba-tiba menoleh kepada Mas Tirto seraya berkata: “Mas Tirto, beneran deh, di buku itu saya ada bilang kalau Anda ini pelopor pers nasional. Malah saya kutipkan kata-kata Ki Hadjar juga. Jadi kalau ada orang yang pake-pake buku saya untuk menyangkan kepeloporan Mas Tirto, itu bukan tanggung jawab saya lagi tuh. Beneran loh ini, mas. Swear!”

“Itu politik kutipan kayaknya deh,” sergah saya.

“Lho, istilah politik kutipan itu kan istilahnya GM waktu nulis tentang pidato Paus Benediktus beberapa waktu lalu,” lanjut Gus Durrahman.

Yang nyahut tiba-tiba Bung Pram: “GM? Perasaan kenal deh!”

“Lha iya, Bung. Dia dulu ikut tandatangan Manifesto Kebudayaan itu loh. Dia juga bikin obituari waktu Bung mati kemarin,” jawab saya.

“Ooh, begitu ya. Wah, setahun lebih di akhirat bikin ingatanku lumer ternyata. Maklum udah pikun. Hahahahaha,” jawab Bung Pram sambil terbahak.

Saya kembali menoleh ke Gus Durrahman seraya bertanya: “Apakah Kritikus Kita sudah tak adil sejak dari kutipan?”

Gus Durrahman tak menjawab dan dipersilakannya saja kepada pembaca menilai.

Tapi Bung Pram langsung menimpal: “Eh, kutipan Anda tadi... apa itu ‘tak adil sejak...’ bukankah itu mirip dengan apa yang saya tuliskan di Tetralogi Bumi Manusia halaman 52 itu?”

“Betul, Bung. ‘Adil sejak dalam pikiran’. Tapi karena konteksnya kutipan, jadi saya plesetkan saja. Tapi kebetulan sekali, giliran Anda sekarang, Bung. Kritikus Kita itu bilang, coba Bung lihat di paragraf dua belas tulisannya, menyebut Bung menulis soal ’Tirto dengan kedekatan emosional. Tirto dan Pramoedya sama-sama kelahiran Blora’. Apa komentar, Bung?”

”Waduh, saya gak ngerti maksudnya kalimat ’menulis dengan kedekatan emosional’. Kalau kalimatnya ’menulis Tirto karena kedekatan emosional’ mungkin saya masih bisa mengerti maksudnya apa.”

”Mungkin maksudnya Bung menulis Tirto ’karena’ ada kedekatan emosional. Jadi, kata ’dengan’ itu mungkin seharusnya ’karena’,” ujar saya mencoba mengira-ngira.

”Oke lah kalo gitu. Tapi yang mana dulu tulisannya? Yang Tetralogi Buru atau Sang Pemula? Gak disebutkan juga?”

”Nggak disebutin persisnya yang mana sama Kritikus Kita itu,” jawab saya cepat.

”Gini... kalau yang Kritikus Kita maksudkan adalah Tetralogi Buru, emangnya kenapa menulis dengan kedekatan emosional? So what gitchu loch.... Lha saya kan nulis fiksi. Mana bisa menulis fiksi tanpa kedekatan emosional dengan karakter tokoh yang mau saya tulis. Bisa garing, dong. Kaya makan kerupuk terasi. Gimana, sih?”

”Kalo yang dimaksudkan Kritikus Kita saya menulis Tirto itu yang buku Sang Pemula, ya sama aja: emangnya kenapa kalo menulis buku karena kedekatan emosional? So what gitchu loch.... Dalam skripsi yang ilmiah aja ada bagian tentang alasan subyektif dan obyektif kenapa memilih satu topik. Artinya, kedekatan emosional yang sifatnya personal juga kagak haram-haram amat. Wajar dong orang meneliti topik yang disukainya. Tapi kan saya juga punya alasan obyektif kenapa memilih nulis Tirto.”

”Betul, bung. Di kampus saya juga semua skripsi ada alasan subyektif kenapa seseorang memilih satu topik. Biasanya itu ada di bab I skripsi,” sambar saya.

”Lho, Bung mahasiswa sejarah juga?” tanya Pram.

”Udah bukan lagi. Mantan mahasiswa sejarah, bung!”

”Keluar baik-baik atau dilempar keluar?”

”Nggak usahlah ngomong yang itu Bung. Nggak baik didengar orang banyak,” jawab saya mempertegas agar Bung Pram menghentikan interogasinya soal kuliah.

”Tapi tega amat sih aku nulis Sang Pemula dan Tetralogi Buru dengan riset dan sokongan bahan-bahan primer yang melimpah dan memertaruhkan keselamatan tapi cuma diberi predikat ’karena kedekatan emosional’ saja. Hiks... hiks.... Apes lagi deh, gue.”

Tiba-tiba Mas Tirto menyela dan berujar: ”Pram, udahlah jangan sedih gitu. Cup... cup.... Mau orang nyebut karena kedekatan emosional atau karena kedekatan apa kek, toh karya ente tentang ane itu top marketop. Apalagi nyang judulnya Bumi Manusia itu. Seisi dunia udah tau kok. Kagak ngaruh lah....”

Aku langsung nimbrung lagi dan bertanya pada Mas Tirto.

”Mas, tau nggak, Kritikus Kita ini juga menduga ente pernah berbuat rasis.”

”Masya Allah. Yang benar?”

“Beneran. Di paragraf 11 tulisannya, Kritikus Kita menyebut kalau mas bertingkah rada-rada rasis gitu dech sewaktu menolak Douwes Dekker. Gimana ini? Bener gak toh?”

“Coba kau pegang jidatmu,” kata Mas Tirto. Aku peganglah jidatku. Ealah... Mas Tirto malah cekikan sambil bilang: “Cuaffeee dechhh.....”

“Lho, Mas Tirto nonton sinetron juga? Hahahaha.... Tapi gimana itu mas soal tuduhan rasis itu?”

“Sebelum ane jawab, kau bacalah ini.”

Aku menerima beberapa gepok koran tua yang sudah menguning. Satu per satu aku baca. Aku baca tulisan berjudul “Tolonglah Orang Cina Miskin” di Pembrita Betawi edisi 2 Mei 1902:

“Atas permintaannya orang banyak, maka kitapun di persilahkan akan membuka suara dalam Pembrita Betawi, yaitu ingatan yang boleh menolong kepada orang-orang Cina miskin dan belum cukup kemampuannya akan menggunakan seorang dokter.

Perhimpunan Tiong Hoa Hwe Koan, sudah membuka rumah di mana orang-orang Cina boleh dapat pertolongannya seorang dokter dengan tiada bayaran, tetapi obat tidak bisa di kasih percuma.

Sekolahan dokter Jawa tiap-tiap hari membuka tempat di mana orang miskin baik Cina, baik Pribumi, baik bangsa Eropa, boleh dapat pertolongan dokter dengan obat tiada dengan bayaran....”


Aku juga baca tulisan panjang berjudul “Pacar Cina” (Pembrita Betawi 10 April 1902) juga “Bangsa Cina di Priangan” (Soenda Berita 26 Juli 1904). Di sana tergambar betapa penulisnya membela, membantu dan bersimpati pada orang-orang Tionghoa di Hindia Belanda.

“Itu semua tulisan Mas Tirto?” tanya saya.

“Ya iya lahhhh. Saya bela-belain itu orang-orang Tionghoa,” jawabnya dengan lagak kaya artis sinetron.

”Mas Tirto, terus ihwal van Heustz itu gimana? Tepatnya tulisan Mas itu seperti apa sih sehingga Kritikus Kita ini sampe bilang: Saya tak bisa membayangkan bagaimana seorang politikus macam Tirto, yang dekat dengan van Heutsz, yang tangannya berlumuran darah orang Aceh, bisa diterima oleh wartawan di Aceh sebagai “pahlawan”?”

”Apa karena saya dekat dengan Heutzs yang berlumuran darah terus saya juga ikut amis darah gitu? Apa terus saya njilat-njilat sama Heutzs gitu? Memangnya dia sebutkan seberapa dekat dan seperti apa dekatnya? Nggak kan? Nggak kan?!? Memangnya kenapa kalau saya dekat? Paragraf itu tendensius sekali karena tanpa menjelaskan alasan dan detail kedekatan saya dengan Heutzs, dia seperti mencoba membangun opini kalau saya ikut-ikutan bertanggung jawab terhadap Aceh Oorlog. Terlaluuuuu..... (baca dengan lagak Rhoma Irama).... Kalau di dunia jurnalistik itu harus cover both side. Caranya jelasin dong seperti apa juga kiprah saya menghajar-hajar aparat pemerintahan Heutzs lewat tulisan saya. Itu baru adil. Pram, coba kau jelasin deh yang beginian, kalo ane yang cerita ntar dikira riya dan pamer. Lagian kan si Pram udah jadi jubir ane,” jawab Mas Tirto.

Lalu saya meminta Bung Pram untuk berbicara tentang soal Tirto dan Aceh juga soal Heutzs. Bung Pram menjawab:

”Dari 225 orang yang mendapatkan bantuan hukum Medan Prijaji di antara penjual ikan pindang dan ikan kering di pasar, bupati, dan beberapa sultan di luar Jawa-Madura, terdapat seorang bekas pejuang Aceh, yang dibuang ke Bandung tanpa prosedur hukum yang wajar. Pada suatu kali ia dipanggil Kontrolir Kutaraja, dinaikkan ke kapal yang berlayar ke Jawa tanpa sempat membritahukan pada familinya. Sampai di Bandung dilepas seperti ikan di lubuk payau. Siapa coba yang ngurus dan membela orang Aceh itu?”

”Siapa dong yang nolongin itu orang Aceh?”

”Ya elah, masih bertanya juga. Coba deh baca-baca lagi Medan Prijaji-nya Th IV 1910. Makanya, kalau mau ngomongin Tirto baca Medan Prijaji dan tulisan-tulisan Mas Tirto langsung, jangan cuma ngutip-ngutip buku yang sekunder doang. Kutipan-kutipan yang penting juga jangan disembunyiin.”

Aku diam saja. Malu euy digertak Pram gitu. Tapi dalam hati aku berpikir, rupanya Kritikus Kita tak melihat kenapa Tirto dekat dengan Heutsz tanpa mau tahu apa latar dan tujuan apa sebenarnya yang disemaikan Tirto. Kritikus Kita juga mengabaikan bagaimana mesti berpikir historis dengan melihat konteks semasa untuk menilai tokoh sejarah dan bukannya langsung pada kesimpulan: ”Bagaimana seorang politikus macam Tirto bisa diterima oleh wartawan di Aceh sebagai “pahlawan”?

Faktanya, Tirto memang dekat dengan van Heustz, kata Pram, “Tapi bukan berarti Mas Tirto terus bungkam sama pemerintahan Heutzs dan antek-anteknya. Coba kau baca Sang Pemula, di situ saya sebutkan bagaimana pegawai kolonial sepenting Rinkes aja pada 19 Februari 1912 sampe bilang: “Dalam mingguan yang kemudian jadi harian itu, diserang dengan keras Pemerintah dan para pegawai Pemerintah, peraturan-peraturan Pemerintah “dihajar” dan dalam pada itu mempengaruhi lingkungan-lingkungan setengah-terpelajar dengan bujukan, dengan mendesakkan perbaikan nasib dan lain-lain semacamnya....”

“Waduh... Rinkes aja bilang gitu ya?”

“Bukan bilang gitu, tapi nulis begitu.....”

Namun, sungguh kaget saya, karena kalimat itu juga menjadi akhir sesi jelangkung. Mas Tirto, Bung Pram dan Gus Durrahman tiba-tiba menghilang dan kembali ke rak buku di pojok kamarku. Tinggallah saya yang terbengong-bengong dan lesu darah.

Padahal masih ada hal yang perlu diluruskan: ”Tirto pun memakai pendekatan rasial ketika menyerang E.F.E. Douwes Dekker....”

Untuk soal yang pertama, saya menyeret kaki membukai sendiri Medan Prijaji Th III, 1909, hlm 609-627 tanpa konfirmasi lagi dengan Mas Tirto.

Saya tak yakin Kritikus Kita membaca keseluruhan artikel panjang yang jika diketik ulang menjadi 12 halaman (typer di kantor kami sudah mengetiknya ulang, jadi saya tahu panjangnya dalam MS Word) atau hanya mencomot dari karya Pram, Sang Pemula atau Ahmat Adam, Sejarah Awal Pers, yang dikutip sekilas.

Artikel itu pada dasarnya membahas pentingnya memakai bahasa sendiri, memperkuat pertahanan budaya sendiri agar jangan ter-Belanda-kan: “Heranlah bahwa bangsa kita kebanyakan sudah tidak ambil peduli lagi pada bangsanya yang telah jadi setengah atau jadi Belanda itu. Heranlah bahwa bangsa kita kebanyakan lebih cinta pada bangsa Olanda yang bijaksana dan cinta pada kita dari bangsa kita yang sudah jadi Belanda itu... Ini, posisi, yang sedemikian sia-sia ada diaduk-aduk oleh itu zoogenaamde kaum muda yang di pecat oleh bangsa Eropa yang belaga itu keadaan, pura-pura membela pada bangsa kita, tapi sejatinya akan peras kantong kita, di pecut dengan kepedihan buat kuli, akan dijerumuskan kedalam,, kerbauwengat alias libang kerbau, akan jadi bangsa kapiran....”

Dalam konteks itu, ada yang mengusulkan pemuda Douwes Dekker menjadi redaktur organ yang akan didirikan Boedi Oetomo dengan lingkup: Sunda, Jawa, Madura. Gusarlah Tirto. Karena dari pengalamannya membantu koran orang Eropa, ia merasa bahwa orang-orang Boedi Oetomo itu yang merupakan bangsa nomor tiga dalam Undang-Undang Kewarganegaraan Belanda ini bisalah memimpin dirinya sendiri dalam memajukan kebudayaan dan bahasa sendiri. Apalagi cuma memimpin koran doang, nggak sulit-sulit amat:

“Sejak kita jadi pembantu dengan dapat surat kabar percuma dari s. k. Hindia Olanda, pada tahun 1894 sudah tidak salahlah pemandangan kita bahwa kita pribumi tetap berpribumian kita, tetapi wajib kita berikhtiar sebagai ikhtiarnya bangsa Eropa, menyelidik, memandaikan bahasa dan adat istiadat serta lembaga kita, tetapi bahasa dan istiadat itu tidak digunakan akan mengganti bahasa dan adat istiadat asli, hanya melainkan digunakan jadi harta benda akan menambahi kekayaan kita kekuatan kita
....
Kita cela, karena tuan D. D. belum boleh dan belum bisa jadi pemimpin kita orang Jawa karena pengetahuannya tentang kita kalau tidak sama, ada lebih rendah dari pada pengetahuannya tentang keadaan kita, murid-murid sekolahan dokter yang sedang kanak-kanak dan sangat miskin akan luwang itu, tetapi bergijet-gijet dengan tidak mengukur dirinya akan memimpin berkenaan bangsa kita yang tidak kekurangan bijaksana dan arif.”


Coba perhatikan paragraf kedua itu. Penolakan Tirto pada Douwes Dekker juga diilhami oleh argumen ihwal pemahaman Douwes Dekker mengenai bangsa Jawa yang menjadi konstituen utama Boedi Oetama. Bisa jadi penilaian Tirto keliru soal kadar pengetahuan Dekker mengenai bangsa Jawa. Tapi, cukup jelas, Tirto di situ tak menggunakan argumen yang rasialis.

Ada sebuah kebanggaan memang bila bangsa yang disebut Tirto sebagai “bangsa-bangsa terprentah” itu bisa mengatur dan memimpin dirinya sendiri dalam organisasi untuk menumbuhkan kepercayaan diri yang susut oleh pemakzulan martabat berabad lamanya. Seperti kebanggaan ini: “Pers Belanda sudah berteriak, Sarikat itu tidak didalam pimpinan yang baik. Ya, berteriak, tapi tidak berbuat sesuatu apa untuk menolong gerakan itu ... Kita yang memimpin gerakan itu hanya tersenyum dan goyang kepala sesudah bergirang yang kami orang sudah bergerak tidak dengan pimpinan bangsa Eropa.....” (MP, Th IV, No 10, 1910)

Kritikus Kita juga utarakan soal Tirto belajar ke mana-mana: “guru Tirto dalam jurnalisme adalah Karel Wijbrands, warga Prancis, kelahiran Amsterdam dan meninggal di Batavia pada 1929. Tirto patuh dan hormat pada Wijbrands.”

Apa salahnya dan kenapa memang kalau belajar sama Wong Prancis? Apa salah menghormati orang yang banyak membimbing kita? Lha, agama Tirto aja nyuruh orang untuk belajar sampai ke Cina. Kritikus Kita saja belajar ilmu jurnalisme sastrawi sampai ke Amrikiya dan Mpu Kovach. Itu nggak soal, dong. Biasa aja, dech. Tirto bisa belajar kepada siapa saja untuk mendapatkan pencerahan kepada bangsanya agar melek bahwa mereka sedang diperas dan melawan dengan jalan koran.

Dari proses belajar itu kemudian Tirto mendapatkan kredo atau kerangka melihat peta politik Hindia yang sangat baru untuk masanya: “yang terprentah” dan “yang memrentah”. Dan kredo itu diperjuangkan dalam tindakan dengan gerakan pers yang sistematis: diurus oleh orang-orang terprentah dan didanai dari proses mengelola uang masyarakat yang terprentah.

Kritikus Kita
ini mencoba mencari celah-celah untuk membuktikan betapa Tirto punya coreng-moreng, termasuk menggunakan cara berpikir ahistoris dan tak melihat konteks (mempraktikkan politik kutipan lagi) ketika menuduh Tirto berbuat rasis pada Douwes Dekker.

Laku itu sama saja dengan menginginkan Tirto mesti tampil sempurna seperti seorang malaikat yang putih-bersih. Bagiku, ”memaksa” Tirto tampil sempurna dan langsung menghakiminya sebagai rasis tanpa mengindahkan pergolakan semasa di mana seseorang bertarung, tak ubahnya igauan.

Lagi pula, mustahil ada orang yang disukai oleh semua orang. Akan selalu ada orang yang tak menyukainya, termasuk Tirto. Jadi saya sih gak kaget jika di kemudian hari ada orang Aceh atau Papua menyatakan menolak Tirto. Itu sangat wajar sekali. Lha wong Benjamin Franklin aja, yang mengeluarkan traktat pembebasan para budak kulit hitam, masih saja ada orang kulit hitam yang menuduhnya rasis. (Sam Winsberg pernah membahas tuduhan rasis pada Franklin dalam buku Berpikir Historis. Bahasan itu amat membantu kita untuk berpikir historis dan menilai kepribadian tokoh sejarah secara adil dan sesuai konteks zamannya)

Ucapan Pram masih mengiang: ”Tirto secara falsafi tidak tahu arah tujuan yang akan ditempuh. Dan itulah keterbatasan intelektualnya. Sebagaimana halnya dengan setiap pelopor, perintis, tanpa contoh di hadapan, ia pun tidak kalis dari kekurangan dan kelemahan.”

Ya, Tirto juga manusia.

-----------------------------------

Oh ya, di sini saya kutipkan juga petikan wawancara dengan Taufik Rahzen soal tuduhan rasis pada project ini. Versi aslinya bisa dilihat di mesjid sebelah kepunyaan Muhidin.

Apakah Pak Taufik seorang rasis dengan memilih Tirto sebagai patok?

Saya akui bahwa saya kaget sekali dituduh rasialis dan Andreas Harsono mengait-ngaitkannya ke mana-mana. Saya bahkan tak memikirkan apa yang disampaikannya tentang Pribumi yang dipahaminya dan kemudian langsung ditudingkannya kepada saya. Dia nggak tahu saja bahwa saya pernah membuat tafsir sendiri atas apa yang disebut Pribumi, Ibumi, Bumiputra, Prabumi. Apalagi dia kait-kaitkan dengan Toriq Hadad, Fikri Jufri, di mana mereka adalah teman-teman baik saya. Aneh betul, dia yang memikirkan itu, tapi saya sama sekali tak memikirkannya.

Saya ini orang yang kosmopolit. Sejarah hidup saya adalah sejarah perjalanan ke seantero daerah konflik di muka bumi. Dan ingat: Saya itu orang Sumbawa dan Tirto itu orang Jawa. Saya sama sekali tak berpretensi asal-usul seperti itu.

Saya ke Perang Teluk Irak-AS mempertaruhkan nyawa yang selembar ini, ke Burma, ke Indo China, India, Sri Lanka, dan menggagas perdamaian multikultur di Bali, Kalimantan, dan nyaris di seluruh wilayah Indonesia saya gagas festival kebudayaan untuk perdamaian, dan sebagainya sebelum dia pergi ke mana-mana dan belum melakukan apa-apa. Saya melakukan itu untuk menghadang SARA dalam politik.

Karenanya, sungguh tudingan Andreas Harsono sama sekali tak berdasar. Yang justru rasialis itu dia sendiri. Dia yang terus mengutak-atik keluarganya sendiri dan membesar-besarkan isu tentang dirinya dari Tionghoa dan sebagainya di majalah, tanpa disadarinya bahwa pretensi itu saja sudah rasial. Dia justru membangkit-bangkitkan semangat itu di mana justru orang yang ditudingnya tak memikirkannya.

Kalau saya menyebut Pribumi, itu bukan dalam konteks pribumi asal-usul. Itu politik kewarganegaraan. Tiong Hoa yang kewarganegaraannya dan poros politiknya untuk kemajuan Indonesia, mereka itu disebut Pribumi atau dalam bahasa Tirto “bangsa-bangsa yang terprentah”. Soalnya kapan momentum itu terjadi. Perdebatan di internal aktivis pers Tionghoa itu kan terjadi pada 1932 saat PAI ada. Penulis-penulis spesialis (sejarah) Tiong Hoa saya kira tahu betul soal itu.

Jadi, bagaimana untuk menghadang semangat rasialis itu?

Mulai sejak dalam pikiran seperti kata Pram itu. Justru semangat membesar-besarkan Pribumi secara asal-usul itu yang coba dihadang Tirto dan sayangnya itu masih berada dalam kerangka berpikir Andreas. Kredo “bangsa yang terprentah” justru menyatukan bangsa timur asing dan inlander yang dikategorikan oleh Belanda secara rasialis itu. Tirto melihat peta politik bukan dari sudut asal-usul SARA itu, tapi ekonomi-politik. Karena itu, kalau ada Tiong Hoa yang korup, maka itu harus diserang.

3 komentar:

ipungmbuh mengatakan...

dan saya membayangkan, saya hadir di perbincangan mereka, sambil nyruput dan ngeses di pojokan..menyimak dengan takzim..*sruputt*

Munir mengatakan...

kabar baik mas zen..kairo lagi ada es nya hehe.. musim dingin mas.

ya maen-maen kesini lah mas, biar tahu sini..meskipun ga kul heehehhe..ada pramid nih..kayaknya mas seorang sejarawan deh..pastinya tertarik dengan sejarah berdirinya piramid :D

wongndeso mengatakan...

Saya terutama akan dituding sebagai biang dari persoalan ini. Tapi saya toh tak akan (lagi) takut dengan tuduhan macam itu, rasis!!! Dia, sang kritikus kita--seperti katamu adalah bagian dari Semesta Agung yang membesarkan kita. Ia adalah tempaan untuk menjadikan kita sebagai pusaka. Saya bersyukur untuk Semesta Agung. Semoga semua mahkluk berbahagia.