Selasa, Desember 25, 2007

Asmaradana



"Anjasmara, adikku, tinggallah seperti dulu.

Bulanpun lamban dalam angin, abai dalam waktu

Lewat remang dan kunang-kunang,
kaulupakan wajahku,
Kulupakan wajahmu."



Seorang Ibu melepas anak lelakinya yang hendak membalaskan kesumat keluarga. Ibu itu tahu anaknya akan gagal. Ia juga tahu tak akan pernah melihat anaknya lagi. Mereka bertemu terakhir kali di beranda. Anak lelaki tadi mencium lutut ibunya. Sang Ibu hanya mengelus-elus rambut anaknya yang bersimpuh sembari menahan sedu yang ditahan.

Perjumpaan sepasang ibu dan anak itu digelar tanpa kata-kata. Semuanya dirayakan dalam diam; melalui gerak yang intens dan begitu lambat –dan karenanya terasa menyiksa.

Saya menyaksikan adegan yang menakjubkan itu pada dini hari menjelang subuh yang sepi melalui sebuah layar TV raksasa. Di luar angin begitu berisik dan hujan masih belum bosan membasahi tanah Jakarta yang belakangan serasa makin gembur.

Saya lalu berpindah ke ruangan depan. Di hadapan saya terbentang kaca yang lebar juga bening. Dari sana saya bisa melihat jalanan di bawah yang becek, pohon-pohon yang basah, rel kereta api dan pucuk Istiqlal yang sedang bersiap mengalunkan adzan. Rumput-rumput di tepi Ciliwung yang berjarak sepelemparan tombak terlihat membasah. Saya tak melihat ada satu pun jejak kaki di sana.

Saya duduk sendiri pagi itu. Tanpa sepeser pun uang di saku, apa boleh buat, saya mesti menikmati momen yang begini intim tanpa kretek dan kopi. Tapi, barangkali, karena itulah justru saya bisa menikmati fantasi yang ditularkan adegan yang baru saya saksikan. Adakah yang lebih "menyenangkan" selain menyadari betapa kita begitu melarat justru di pengujung Desember, sewaktu orang-orang sedang sibuk menyiapkan pesta dan perjalanan?

[Aha, saya jadi ingat sajak Sapardi yang berjudul "Sajak Desember": kutanggalkan mantel serta topiku yang tua/ketika daun penanggalan gugur/lewat tengah malam. kemudian kuhitung/hutang-hutangku pada-Mu/mendadak terasa: betapa miskinnya diriku;/di luar hujan pun masih kudengar/dari celah-celah jendela. ada yang terbaring/di kursi letih sekali/masih patutkah kuhitung segala milikku/selembar celana dan selembar baju/ketika kusebut berulang nama-Mu; taram/temaram bayang, bianglala itu]

Lalu saya bertanya pada diri sendiri: Apa yang akan saya lakukan jika berhadapan untuk terakhir kalinya dengan orang yang saya tahu ia akan menemui kematiannya? Atau, jika diperbolehkan, saya bertanya pada Anda: Apa yang akan Anda lakukan jika mesti menghadapi momen yang menggiriskan macam demikian?

Sejujurnya saya tak bisa menjawab, mungkin lebih tepat tak sanggup. Bagaimana bisa kita menghadapi momen macam itu? Jika pun bisa, lebih karena kita tak punya pilihan lain, momen itu pastilah akan dihadapi dengan cara yang minim kata-kata.

Saya pernah membaca prosa menggetarkan yang becerita tentang pertemuan terakhir sepasang kekasih: Buah Delima karya Yasunari Kawabata!

Pemuda benama Keikichi datang ke rumah kekasihnya, Kimiko, sebelum pergi ke medan perang. Keduanya seperti paham bahwa ada kemungkinan pertemuan itu akan menjadi pertemuan yang terakhir. Pertemuan ini digelar pada pukul 10 pagi.

Apa yang dilakukan Kimiko? Dia menyerahkan sebiji buah delima pada kekasihnya. Apakah Kekichi memakannya? Saya kutipkan langsung dari hasil terjemahan Sapard Djoko Damono:

“Jelas bahwa pemuda itu (Kekichi) menjatuhkannya ketika sesuatu yang terasa hangat menyusup di matanya dan waktu itu ia sudah mulai membelahnya. Ia belum sampai membelahnya menjadi dua. Delima itu tergeletak dengan biji-bijinya di atas.

Ibunya membawanya ke dapur dan mencucinya, dan memberikannya kepada Kimiko. Kimiko merengut tidak mau menerimanya, dan kemudian, sekali lagi wajahnya memerah, menerima buah itu dengan pikiran yang agak kalut.

Keikichi seolah telah mengambil beberapa biji di bagian pinggir buah itu.

Dengan kehadiran ibunya di depannya, terasa aneh bagi Kimiko untuk tidak memakannya. Ia menggigit buah itu dengan acuh tak acuh. Mulutnya terasa pahit. Ia mencecap semacam kebahagiaan yang memilukan, seolah-olah merasuk jauh ke dalam dirinya.

Sendirian dengan kebahagiaan tersembunyi, Kimiko merasa malu di hadapan ibunya. Ia berpikir bahwa peristiwa tadi merupakan salam pisah yang lebih baik dari yang bisa dibayangkan Keikichi, dan bahwa ia bisa menanti pemuda itu sampai kapan pun ia kembali.

Ia memandang ke arah ibunya. Matahari mencapai pintu kertas yang agak jauh dari tempatnya duduk di depan kaca. Gadis itu agak takut-takut menggigit delima yang ada di pangkuannya.”


Saya sudah membaca prosa itu berkali-kali dan selalu saja saya merasa ada yang mengharukan di sana; sebentuk keharuan yang rasanya begitu murni, kendati –tentu saja-- saya terlalu sombong untuk bahkan sekadar berkaca-kaca. Hingga saat ini, saya selalu merasa, tak ada prosa yang mampu menandingi karya Kawabata itu dalam hal memerikan situasi pertemuan pamungkas yang tak akan mungkin tergelar lagi.

Saya pernah begitu naifnya membacakan prosa itu ketika bertemu untuk terakhir kalinya dengan seorang perempuan, di ujung Desember 2002. Tentu saja dia menangis. Dia pernah mengirim kartu pos dan bilang bahwa ia tak bisa memaafkan saya karena ia menganggap saya telah mengeksploitasi perpisahan yang tak diharapkan itu.

Saya melakukan itu lebih karena saya tak tahu hendak berkata apa. Saya ingin membelikannya syal. Tapi karena saya begitu melarat ketika itu, saya hanya bisa membacakan prosa tersebut dan lantas menyerahkan buku yang memuat prosa Kawabata tadi.

[Saya tak tahu ada di mana dan seperti apa kabarnya sekarang dan apakah dia masih mengenang adegan menjengkelkan itu atau tidak.]

Ada juga kisah cinta Damarwulan dan Anjasmara. Damarwulan mendapatkan Anjasmara dengan susah payah. Saya pernah menyaksikan film lama tentang kisah ini. Tetapi film itu, tentu saja, berakhir bahagia. Padahal, dalam versi yang lain, seperti dalam salah satu pupuh Asmaradana, kisah keduanya juga berakhir dengan dramatis. Dikisahkan, Damarwulan menggelar pertemuan dengan Anjasmara beberapa saat sebelum Damarwulan pergi ke medan peperangan. Keduanya tahu bahwa pertempuran itu tak akan pernah dimenangkan. Apa yang dilakukan keduanya di pertemuan terakhir?

Sayang sekali saya belum pernah membaca langsung pupuh Asmaradana yang mengisahkan pertemuan terakhir keduanya. Tapi saya pernah membaca sajak Goenawan Mohamad yang mengisahkan kembali pertemuan terakhir dua orang itu. Saya sangat suka sajak ini dan itulah satu-satunya sajak Goenawan Mohamad yang saya hapal di luar kepala dari awal hingga akhir.

Asmaradana

Ia dengar kepak sayap kelelawar dan guyur sisa hujan dari daun,
karena angin pada kemuning. Ia dengar resah kuda serta langkah
pedati ketika langit bersih kembali menampakkan bimasakti
yang jauh. Tapi di antara mereka berdua, tidak ada yang berkata-kata.

Lalu ia ucapkan perpisahan itu, kematian itu. Ia melihat
peta, nasib, perjalanan dan sebuah peperangan yang tak semuanya disebutkan.

Lalu ia tahu perempuan itu tak akan menangis. Sebab bila
esok pagi pada rumput halaman ada tapak yang menjauh ke
utara, ia tak akan lagi mencatat yang telah lewat dan yang akan tiba
karena ia tak berani lagi.

Anjasmara, adikku, tinggallah seperti dulu.
Bulanpun lamban dalam angin, abai dalam waktu
Lewat remang dan kunang-kunang, kaulupakan wajahku,
Kulupakan wajahmu.


Bagi saya, tak ada sajak dalam bahasa Indonesia yang mampu menandingi sajak Goenawan yang satu ini dalam hal memerikan momen pertemuan terakhir yang akan diakhiri oleh kematian; ini momen yang berat dan menggetarkan, saat di mana kehadiran dan kefanaan begitu tipis selisihnya.

Saya kadang bosan dengan beberapa sajak Goenawan yang selalu kebak dengan pemerian suasana. Tapi memang tak ada kesempatan untuk berpikir seandainya menghadapi momen penuh maut seperti yang dihadapi ibu-anak dalam film yang kusaksikan atau Kekichi-Kimiko atau Damarwulan-Anjasmara. Momen-momen seperti itu memang sudah menjadi jatahnya otak kanan, bukan otak kiri.

Saya pernah membacakan sajak Goenawan ini untuk seseorang ketika sedang keluyuran di tepi Sungai Kapuas di belantara Kalimantan. Dari pulau yang berbeda saya membacakannya dengan bantuan nokia butut yang hingga kini masih saya panggul ke mana-mana. Saya tak tahu ia masih mengingatnya atau tidak.

Ya, dari Desember hingga Desember lagi. Kadang saya merasa, sejarah selalu berulang. Histoire se repete.

Selamat Natal. Damai di hati. Damai di bumi!

--------

Pada hari idul adha kemarin, saya tersenyum dengan lepas, --ya, benar-benar senyum dengan lepas—ketika seorang teman dari Jogja mengirimiku sms yang berbunyi: “Zen, ajari saya menikmati hari raya korban saat saya sendiri adalah korban sejarah!”

Saya menjawab smsnya dg ringkas: "Hahahaha...." (Itu jawaban terbaik yang bisa saya berikan!)

8 komentar:

iman brotoseno mengatakan...

perlahan,
saya bergetar mencoba menahan,
momen yang tak pernah terulang,
dalam bungkus selimut raguku,
(......kau lupakan wajahku
kulupakan wajahmu ' )

Astri mengatakan...

tulisan indah yang membalut pedih..ngelangut Zen..:)

kesepiankah kamu?

mPitzky mengatakan...

sebentar, sebentar...
Nokia? Asmaradana? Kapuas? keknya yg kamu panggul itu nokia butut yg pernah jadi monumen kenangan asmaradana di kapuas kan? NGAKU!

ps: tertarik jadi gigolo lagi gag? *nyengiriblis*

MANUSIA PNEUMOTOFOS mengatakan...

suit..suit..

die hard fans: huekk.. mengatakan...

zen, apa memang sudah menjadi kewajiban seorang pejalan jauh untuk memperlihatkan punggungnya pada semua orang yang pernah dikenalnya?

kalau mau, aku ingin kau menulis tentang arti punggung, rumah, dan waktu.

-ian mengatakan...

Lirih dan indah Zen.

Kesepian dan perpisahan memang selalu lebih menyentuh.

linoid_mc mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
s4va mengatakan...

tulisan yang mengesankan...
salam kenal ^^