Tubuh/yang mulai akrab/dengan saya ini/
sebenarnya mayat yang saya pinjam ….
(sajak "Tubuh Pinjaman", Joko Pinurbo)
sebenarnya mayat yang saya pinjam ….
(sajak "Tubuh Pinjaman", Joko Pinurbo)

Tunick pun digiring polisi. Ia didakwa mengganggu ketertiban umum. Kita lantas bisa bertanya: Siapa yang sebetulnya berkuasa atas tubuh kita?
Di Indonesia sendiri, soal tubuh menjadi salah satu pokok terpenting yang memicu polemik Rancangan Undang-undang Anti Pornografi dan Pornoaksi (RUU APP). Dalam RUU itu, soal bagaimana cara berpakaian pun diatur. RUU itu secara jelas memosisikan tubuh sebagai sumber dosa dan kejahatan. Karenanya tubuh mesti didisiplinkan. Negara sendiri yang akan mendisiplinkan.
Aksiden yang menimpa Tunick dan lahirnya RUU APP menegaskan satu hal pokok: kita ternyata tak sepenuhnya berkuasa atas tubuh sendiri!
****
Berabad-abad lamanya tubuh tak pernah menjadi perhatian. Sebelum fajar humanisme menyingsing di ufuk Eropa, para filsuf dan para teolog lebih kerap abai pada tubuh. Jika pun didedah, tubuh biasanya selalu diposisikan secara negatif.
Dalam soal tubuh, ada tiga kubu di Yunani. Kubu pertama, yang digagas Cyrenaic, memaklumatkan kebahagiaan tubuh sebagai kebahagiaan yang terpenting. Epicurus menjadi pendiri kubu kedua yang memroklamirkan keyakinan ihwal arti penting kebahagiaan jiwa. Menurut kubu ini, kebahagiaan tubuh tetap diperlukan, tapi kebahagiaan jiwa jauh lebih penting. Sedangkan kubu ketiga secara esktrim berpihak pada kebahagiaan jiwa. Kutub yang didirikan oleh Orpheus ini menegakkan prinsip kalau tubuh adalah neraka bagi jiwa.
Kendati tak populer, gagasan tentang tubuh sebagai penjara/neraka ini dianut banyak sekali filsuf Yunani, tentu saja dengan pelbagai variannya.
Socrates (469-399 SM) menjadi salah satu pelopornya. Murid terbaik Socrates, Plato, juga dipengaruhi ide ihwal tak berharganya tubuh dan segala hal yang bersifat fisikal. Ia mewariskan pemikiran ihwal arti penting “idea”. Baginya, “idea” adalah sumber segala hal. Aristoteles juga melibatkan diri dalam sejarah “terpuruknya” tubuh dengan menekankaan fakultas sensoris dan inteligensi dalam “know theyself”.
Hal itu terus menubuh dalam tradisi filsafat Barat hingga Rene Descartes. Filsuf ini menyusun dikotomi: res extensa (yang berpikir) dan res cogitans (yang dipikirkan). Lewat diktum terkenalnya, “saya berpikir maka saya ada” (cogito ergo sum), orang Prancis yang berjasa besar dalam terbentuknya tradisi filsafat modern itu secara tegas mementingkan intelegensia dan semua aktifitas yang berkaitan dengan proses berpikir, dan dengan demikian menempatkan gerak-gerik tubuh ke dalam aktivitas kelas dua.
Bukan sebuah koinsidensi jika kebanyakan doktrin dan tradisi agama pun selanggam sehaluan dengan doktrin para filsuf di atas. Agama yang terkadang saling berbunuhan dan menebar dengki satu sama lain justru lumayan kompak dalam satu hal ini: tubuh adalah sumber segala dosa.
Laidlaw, lewat bukunya The Bible Doctrine of Man, menunjukkan beberapa variasi pemakaian kata yang tertera dalam Perjanjian Lama untuk menunjukkan elemen yang lebih rendah dalam diri manusia, seperti "daging", "debu", "tulang", "usus", "ginjal" dan juga pemakaian bentuk metafora "pondok tanah liat", sedangkan "roh", "jiwa", "hati", dan "pikiran", menurut Laidlaw, dipakai untuk menunjuk elemen yang lebih tinggi. Kendati Perjanjian Baru jauh lebih netral, hal itu tak berhasil menolong terbentuknya tradisi Kristen yang lebih optimis memandang tubuh.
Dalam teologi Islam, tubuh lagi-lagi diposisikan sebagai sumber maksiat dan kotor sehingga wajib ditutupi dan disucikan secara khusus lewat sebuah tata cara standar (wudlu) tiap kali sebuah ritus ibadat hendak digelar. Tata cara berpakaian juga diatur secara rigid. Islam bahkan punya kosa kata khusus untuk bagian tubuh yang haram diperlihatkan yaitu kata “aurat”.
Dalam tradisi Buddha, perayaan kebahagiaan tubuh bahkan dikurung sebagai hal yang bisa menghambat pencapaian menuju nirwana. Terlalu mengejar kenikmatan tubuh bisa membikin seseorang akan berreinkarnasi ke dalam ujud yang lebih buruk di kehidupan selanjutnya. Itulah sebabnya sejumlah ritual yang meminimalisir kebahagiaan tubuh menjadi penting dalam tradisi Buddha (puasa dan semedi dengan durasi waktu yang lama, misalnya). Samsara menjadi bagian tak terlewatkan dalam prosesi menuju puncak pencapaian spiritualitas.
*****
Tubuh mulai menjadi perhatian ilmu sosial mulai abad 19. Antropologi menjadi disiplin yang sejak awal kelahirannya sudah meletakkan tubuh sebagai bagian penting. Itu terjadi karena sedari kemunculannya antropologi berada dalam tekanan kolonialisme yang membebaninya tugas mencari unsur-unsur yang jadi persamaan semua kebudayaan untuk mengurangi relativitas sosial dan budaya. Istilah human universal (yang dipersempit menjadi culture universal) lantas menemukan tubuh manusia berikut asal-usul dan gerak-geriknya sebagai common denominator bagi pelbagai kelompok.
Antropologi juga menjadi dispilin yang paling awas terhadap peran tubuh masyarakat pramodern. Tubuh adalah penanda penting bagi status sosial, posisi keluarga, umur, gender, dan hal-hal yang bersifat religius. Gerik tubuh dalam pelbagai ritus hingga tatto menjadi tematik yang penting dalam setiap studi atas kebudayaan-kebudayaan pramodern atau primitifyang dilakukan para antropolog.
Ignas Kleden pernah memberi tengara bahwa perhatian intelektual terhadap ide-ide Nietzsce menjadi humus yang menyuburkan perhatian ilmu sosial atas tubuh. Dalam serangannya terhadap fatsoen kelas menengah Jerman dan gereja, Nietzsche yakin benar bahwa yang disebut sebagai pengalaman estetik lebih akrab dengan ekstasi seksual maupun dalam extravaganza tarian primitif. Pendek kata, dipicu oleh gerak dan kebahagiaan tubuh, ketimbang kontemplasi atau rasionalitas. Terutama dengan mencontohkan tradisi olahraga (olympic), Nietzsche menyatakan bahwa Yunani mencapai puncak kemajuannya bukan karena pemikiran rasional, melainkan karena spirit Dyonisian yang penuh kemabukan dan daya rangsang.
Sejak itulah tubuh tak lagi dipahami semata sebagai anasir fisikal melainkan juga sosial (the physical body is also social).
Banyak teori yang muncul berkaitan “tubuh sosial” ini. Robert Hertz percaya bahwa tubuh merefleksikan pola pikir masyarakat. Marcel Mauss bahkan yakin kalau pengetahuan ihwal bagaimana masyarakat menggunakan tubuhnya adalah cara paling strategis untuk mengetahui sebuah peradaban. Mary Douglas meyakini tubuh sebagai suatu sistem simbol. Dalam buku Purity and Danger (1966), Mary melontarkan tese, "Sebagaimana segala sesuatu melambangkan tubuh, demikian tubuh juga adalah simbol bagi segala sesuatu".
Dari semua nama itu, Michael Foucault adalah yang paling terkenal. Beberapa bukunya bahkan menjadi klasik dalam studi tubuh. Ia seperti menjungkirbalikkan tese filosofis para pendahulunya. Baginya, jiwa dan pikiran adalah efek dari tubuh. Tubuhlah penentunya. Turunan dari tese itu menyebabkan jiwa justru dimengerti sebagai perangkap bagi tubuh.
Dalam The History of Sexuality (1978) ia menjelaskan dua bentuk kekuasaan yang berperan di dalam wacana ketubuhan: (1) kekuasaan atas tubuh yaitu kekuasaan eksternal yang mengatur tindak tanduk, mengadakan pembatasan, pelarangan dan pengendalian terhadap tubuh (hukum, tabu dan undang-undang) dan (2) kekuasaan yang memancar dari dalam tubuh, yaitu berupa hasrat dan potensi libidonya.
Dua modus kekuasaan itu saling bertempur. Filsafat, agama, hingga negara adalah “kekuasaan dari luar” yang merepresi “kekuasaan dari dalam tubuh”. Seraya menentang kekuasaan atas tubuh, Foucault menggarap proyek yang ia sebut sebagai "revolusi tubuh" yang akan menciptakan ruang lapang bagi pembiakkan diskursus seksual yang bebas dari represi. Revolusi tubuh juga akan memungkinkan tiap orang merayakan tubuh lewat pelbagai ekstase dan penyaluran hasrat, baik libido seksual, ekonomi hingga libido atas kepuasan diri sendiri (narsisme).
Istilah “spesies” yang dipakai Foucault dimaksudkan sebagai tubuh yang telah menjadi target kekuasaan. Inilah politik tubuh (bio-politik) untuk memertahankan bio-power lewat pendisiplinan dan kontrol regulatif.
Dalam pendisiplinan tubuh dianggap sebagai mesin yang harus dioptimalkan, dibuat berguna dan patuh. Kontrol regulatif meliputi politik populasi, kelahiran dan kematian, dan tingkat kesehatan. Semuanya ditopang oleh standarisasi “normal-tidak normal”, “sopan-mesum” hingga “sehat-waras” lewat kedokteran, psikiatri, psikologi, dan kriminologi.
Foucault berjasa besar dalam menjlentrehkan betapa cap “sakit-waras” atau “mesum-sopan” adalah bukti bagaimana kekuasaan merejalela, dari mulai kamar mandi rumah kita, di jalanan, hingga dalam mimpi-mimpi.
-----
Post-script: Saya pernah menulis tentang visi seorang tokoh teater terkemuka, Artonin Artaud, mengenai tubuh. Untuk membacanya, sila klik di sini. Selengkapnya......