Senin, Juni 30, 2008

Tubuh

Tubuh/yang mulai akrab/dengan saya ini/
sebenarnya mayat yang saya pinjam ….
(sajak "Tubuh Pinjaman", Joko Pinurbo
)

Spencer Tunick pernah membikin geger New York. Ia berhasil mengumpulkan puluhan orang yang bersedia menjadi model untuknya. Saat sesi pemotretan, Tunick lebih dulu memberi sejumlah instruksi kepada puluhan orang yang hendak dipotretnya. Begitu aba-aba dikeluarkan puluhan model sukarela itu melolosi kain yang mereka kenakan. Telanjang. Mereka lalu merebahkan diri. Ada yang telentang. Beberapa tengkurap. Sejumlah orang nungging. Secepat kilat Tunick menjepretkan kameranya. Klik… klik….

Tunick pun digiring polisi. Ia didakwa mengganggu ketertiban umum. Kita lantas bisa bertanya: Siapa yang sebetulnya berkuasa atas tubuh kita?

Di Indonesia sendiri, soal tubuh menjadi salah satu pokok terpenting yang memicu polemik Rancangan Undang-undang Anti Pornografi dan Pornoaksi (RUU APP). Dalam RUU itu, soal bagaimana cara berpakaian pun diatur. RUU itu secara jelas memosisikan tubuh sebagai sumber dosa dan kejahatan. Karenanya tubuh mesti didisiplinkan. Negara sendiri yang akan mendisiplinkan.

Aksiden yang menimpa Tunick dan lahirnya RUU APP menegaskan satu hal pokok: kita ternyata tak sepenuhnya berkuasa atas tubuh sendiri!

Selengkapnya......

Jumat, Juni 27, 2008

Laron

“Kapan kau terakhir menyesal?” Ia bertanya dengan wajah yang begitu tenang, seakan-akan kematian masih teramat jauh dari lehernya.

“Ada banyak berkah yang tak ku syukuri, banyak kesia-siaan yang kutelan. Mungkin, bisa jadi, salah satunya adalah kau. Tapi tak pernah kubiarkan rasa sesal menggagahiku. Penyesalan hanya membuat usia akan makin terasa pendek. Hidup terlalu pendek untuk dibebani sederet penyesalan!”

Itu jawabku. Dia menghela nafas. Kali ini lebih berat dari sebelumnya-sebelumnya. Aku tak tahu apa yang dipikirkannya. Aku lebih memilih menatap wajahnya yang terasa makin tirus. Ada satu rahasia yang makin tak mampu ku raba. Jalanan makin gelap, juga sepi --mungkin seperti hidupnya.

“Kita ini seperti laron. Satu waktu kau yang menjadi api dan aku yang menjadi laron. Lain kali aku yang menjadi api dan kau yang menjadi laron.”

Selengkapnya......

Sabtu, Juni 21, 2008

Senin

Aku mengirim do’a untuk Senin dalam hidupmu: lekaslah pulih, cepatlah sehat, biar aku bisa melihat wajahmu yang cerah, yang sumringah, seperti yang sering kulihat dulu saat aku berteriak memanggilmu dari luar pagar dan rautmu lantas muncul dari balik balkon.

Beberapa pisau kecil akan menyentuh tubuhmu, menyayat beberapa bagian kulitmu yang langsat. Setelah itu, sejumlah luka akan mengendap di sana, sesuatu yang akan menjadi bagian dari biografimu. Tapi, percayalah, gurat luka –sebanyak apa pun itu—tak akan banyak mengubah: karena keindahanmu tidak dipertaruhkan pada seberapa banyak luka yang membekas.

Menurutku kau sudah menjalani hidup dengan cara yang hebat, melewati waktu dengan cara terbaik yang mampu kau lakukan. Kini, saatnya kau menyempurnakan hidupmu yang hebat itu dengan cara yang tak kalah bagusnya: tersenyum, tenang, mengepalkan tangan disertai sikap sumeleh yang bening.

Jika pun momen ini mesti dikhidmati sebagai sesuatu yang penting, sebaiknya pahamilah ini sebagai satu titik balik: setelah ini, kau yang baru telah lahir kembali, kau yang lebih mampu memahami betapa hidup adalah berkah tak tertandingi, lebih dari apa pun.

Senin bukan menjadi awal keruntuhan atau kejatuhanmu. Senin akan kau rayakan sebagai hari lahirmu yang kedua.

Semoga aku masih bisa menjadi bagian perayaan itu.

Kamis, Juni 19, 2008

Jakarta

Selamat ulang tahun Jakarta, Ibukota Senja.

Buatku, kau tak pernah menjadi Jancukarta.Ini bukan soal penghasilan atau pekerjaan, tapi tentang bagaimana seseorang membuka diri pada semua kemungkinan yang akan diberikan sebuah kota dan menolak untuk menelan begitu saja sejumlah stereotipe yang mengepungnya.

Saya masih harus belajar menyukai siangmu yang panas dan rudin, tapi saya sudah bisa menyukai senja dan malammu: sebuah pentas karnaval cahaya di atas cahaya dibalut dingin dan sunyi yang kadang terasa ganjil.

--------------------------------------

[Saya pasang sajak bagus Toto Sudarto Bachtiar ini, anggap saja sebagai kado ulang tahun bagi Jakarta yang ke-481]

Ibukota Senja
-- Toto Sudarto Bachtiar

Penghidupan sehari-hari, kehidupan sehari-hari
Antara kuli-kuli berdaki dan perempuan telanjang mandi
Di sungai kesiangan, o, kota kekasih
Klakson oto dan lonceng trem saling menyaingi
Udara menekan berat di atas jalan panjang berkelokan

Gedung-gedung dan kepala mengabur dalam senja
Mengintai dan layung-layung membara di langit barat daya
O, kota kekasih
Tekankan aku pada pusat hatimu
Di tengah-tengah kesibukanmu dan penderitaanmu

Selengkapnya......

Senin, Juni 16, 2008

Nasib

Tiga titik di tubuhmu, tiga tanda nasib di hidupmu: padanya riwayatmu dipertaruhkan, padanya —mungkin— biografi kita ditentukan.

Saya tidak tahu, tak akan pernah tahu, akan berakhir di mana alur berkelok dari riwayat ini. Tapi, kabar buruk mengejutkan yang ku dengar langsung dari mulutmu semalam membuat fragmen-fragmen ringkas masa silam berkelebat sepanjang hari… sepanjang siang. Pada salah satu retrospeksi itu, muncul begitu saja sebiji simpulan yang mau tak mau mesti kutelan: jika ada banyak berkah yang tidak kusyukuri, salah satunya pasti adalah kau!

Pengakuan, tentu saja, tidak berkurang artinya hanya karena ia datang terlambat. Tapi, saya ragu, masihkah ada artinya mengucapkan syukur saat berkah itu sudah menjauh?

Selengkapnya......

Senin, Juni 09, 2008

Zidane

[ini esai lama yang ditulis dan dimuat setelah prancis mengalahkan brazil pada perempatfinal piala dunia 2006. prancis akhirnya kalah dari italia di final dan zidane --kita tahu-- dikartu merah karena insidennya dengan materazzi]

Usai menyaksikan si tua bangka Zinedine Zidane sendirian mengobrak-abrik kesebelasan Brazil di perempat final Piala Dunia 2006, orang-orang Prancis seperti dipaksa untuk merumuskan kembali apa artinya menjadi tua.

Prancis dikenal sebagai negeri yang selalu terbuka terhadap pembaruan. Di Prancis-lah, persisnya pada 14 Juli 1789, terjadi revolusi dahsyat yang sukses menjebol kekukuhan tembok penjara Bastille yang selama 400 tahun lebih menjadi bui para maharaja Prancis menjebloskan musuh-musuh politiknya. Orang Prancis merayakan hari itu sebagai hari nasional; titimangsa yang dikenang sebagai simbol dari robohnya ancient regime (rezim lama) yang korup dan despotik.

Revolusi Prancis itu terbukti membangkitkan inspirasi dan membangunkan fantasi banyak orang di negeri-negeri yang jauh akan indahnya kemerdekaan dan kebebasan. Bukan cuma menginspirasi Revolusi Oktober 1917 di Rusia, tetapi juga sedikit banyak menjalar ke nadi para pentolan nasionalisme di Indonesia. Pram, lewat tokoh Minke, berkali-kali menyebut-nyebut Revolusi Prancis sebagai salah satu yang menginjeksi semangat perlawanannya yang berkobar terhadap kolonialisme.

Selengkapnya......

Jumat, Juni 06, 2008

Vienna

[versi asli posting ini bisa diliat di sini. esai bola berikutnya ditunggu aja, ya....]

Begitu pluit pertama Piala Eropa 2008 ditiup di Basel, saat itulah perjalanan panjang menuju Wina (Vienna) dimulai. Di Wina itulah kampiun sepakbola Eropa kelak akan ditentukan pada 29 Juni 2008.

Jauh sebelum 16 negara sepakbola terbaik di Eropa bertarung satu sama lain memburu kejayaan di Wina, sudah banyak jenderal yang ingin menaklukkan Wina. Para jenderal dari Kekaisaran Roma atau dari Kekhalifahan Utsmaniyah pernah mencobanya. Tapi, barangkali, tak ada yang lebih terkenal selain Napoleon Bonaparte.

Jendral Kancil dari Prancis itu, yang menggelar serangkaian peperangan besar yang dalam sejarah Eropa dikenal sebagai Napoleonic War, bahkan sempat melansir sebuah parafrase yang kelak menjadi begitu terkenal: “If you start to take Vienna, take Vienna!”

Selengkapnya......