Jumat, Juni 06, 2008

Vienna

[versi asli posting ini bisa diliat di sini. esai bola berikutnya ditunggu aja, ya....]

Begitu pluit pertama Piala Eropa 2008 ditiup di Basel, saat itulah perjalanan panjang menuju Wina (Vienna) dimulai. Di Wina itulah kampiun sepakbola Eropa kelak akan ditentukan pada 29 Juni 2008.

Jauh sebelum 16 negara sepakbola terbaik di Eropa bertarung satu sama lain memburu kejayaan di Wina, sudah banyak jenderal yang ingin menaklukkan Wina. Para jenderal dari Kekaisaran Roma atau dari Kekhalifahan Utsmaniyah pernah mencobanya. Tapi, barangkali, tak ada yang lebih terkenal selain Napoleon Bonaparte.

Jendral Kancil dari Prancis itu, yang menggelar serangkaian peperangan besar yang dalam sejarah Eropa dikenal sebagai Napoleonic War, bahkan sempat melansir sebuah parafrase yang kelak menjadi begitu terkenal: “If you start to take Vienna, take Vienna!”

Pada 1905, beberapa saat setelah merebut kota Ulm tanpa meletuskan satu pelor pun, pasukan Napoleon terus bergerak menghancurkan pasukan Aliansi (Austria dan Russia) yang mengundurkan diri hingga ke Olmutz yang terletak di timur laut Wina. Bergabungnya tiga kekuatan itu membalikkan situasi dengan seketika dan menempatkan pasukan Napoleon dalam situasi tertekan.

Kecerdikan Napoleon yang sudah termasyhur yang akhirnya menentukan akhir peperangan. Dengan memasang strategi yang sepintas terlihat ketakutan, termasuk dengan memasang wajah penuh kecemasan sewaktu menemui utusan Raja Austria, Napoleon berhasil memancing pasukan Aliansi untuk keluar dari pertahanannya.

Tanpa pernah diduga Jenderal Kutuzov, panglima pasukan Aliansi dari Rusia, pasukan Napoleon tiba-tiba muncul dan dalam gerak yang begitu cepat dan ringkas (yang memang menjadi ciri khas sekaligus kekuatan utama pasukan Napoleon), pasukan Aliansi bisa dicerai-beraikan.

Peperangan yang berakhir pada Desember 1905 yang dingin itu diakui para sejarawan sebagai kemenangan Napoleon yang paling monumental. Parafrase “If you start to take Vienna, take Vienna” menjadi bagian dari mitologi kehebatan Napoleon sebagai jendral perang brilian yang berhasil menaklukkan Wina.

Sampai-sampai, Beethoven menggubah Symphony No. 3 in Eb ‘Eroica’ untuk dipersembahkan kepada Napoleon yang dianggapnya sebagai “pribadi agung” (de un grand’ uomo).

*****
Peperangan-peperangan besar yang melibatkan Wina seperti menegaskan genesis kota Wina yang mulanya memang dibangun sebagai kamp militer Kekaisaran Roma di Eropa Daratan. Tapi, cerita Wina tak hanya melulu soal peperangan. Sejarah Wina juga dihiasi sejumlah perjanjian-perjanjian penting.

“Kongres Wina”, yang berlangsung antara September 1814 hingga 9 Juni 1815, dianggap sebagai momen terpenting dalam sejarah Eropa setelah Revolusi Prancis yang menginspirasi gerakan anti-monarki di segenap penjuru Eropa. Diarsiteki oleh Kanselir Austria, Matternich, Kongres Wina mencoba menegakkan kembali sistem monarki di Eropa yang sempat tercerai-berai.

Perang Dingin antara Amerika dan Sovyet juga mulai mencair setelah Presiden Amerika, JFK Kennedy, bertemu dengan pemimpin Sovyet, Nikita Kruschev, di Wina pada Juni 1961. Dari situlah gagasan “hidup berdampingan secara damai” antara dua adidaya mulai dianyam sebelum Ronald Reagen kembali mengambil kebijakan ofensif pada 1980-an.

Di atas semua itu, Vienna Convention on the Law of Treatise (yang masyhur dengan sebutan Konvensi Wina), yang dibuat di Wina pada 1969, bahkan menjadi acuan dasar bagi 108 negara yang akan membuat perjanjian. Konvensi Wina adalah cetak biru yang menjadi aturan dasar bagi semua perjanjian internasional antar-negara.

Diktum “war is nothing more than the continuation of politics by other means”-nya Carl von Clausewitz seperti coba dipatahkan oleh Konvensi Wina. Alih-alih perang, diplomasi dan perundingan sebagai cara terbaik menyelesaikan semua perkara internasional menjadi semangat utama Konvensi Wina.

Jika peperangan dianggap sudah tak lagi pantas dijadikan medium mencari negara mana yang paling digdaya, sepakbola menjadi salah satu cara terbaik untuk menggelorakan hasrat nasionalisme dengan cara yang lebih beradab. Piala Eropa menyediakan panggung untuk perayaan itu.

Kata-kata Napoleon, “If you start to take Vienna, take Vienna!”, bergema kembali di dada setiap 368 pemain dari 16 kesebelasan peserta Piala Eropa 2008 dalam cara yang begitu berbeda. Kata-kata “to take Vienna” menjadi metafora dari pertarungan panjang memperebutkan gelar Kampiun Eropa.

Semua bermimpi bisa bermain di Wina dan merengkuh gelar sebagai kampiun di sana. Semua merindukan Wina, semuanya menginginkan Wina. Wina adalah simbol dari kejayaan dan kemasyhuran. Siapa yang bisa berpesta di sana, ia akan dicatat oleh sejarah.

Kerinduan akan Wina ini seperti menggemakan kembali kerinduan yang aneh seorang Federico Garcia Lorca, penyair flamboyan Andalusia yang terkenal karena sajak-sajak balada yang ditulisnya. Pada bait terakhir sajaknya yang berjudul Pequeño vals Vienés (Little Viennese Waltz), Lorca menulis: “En Viena bailaré contigo” (Di Wina aku akan menari denganmu).

Sebelum saatnya benar-benar telah tiba, tidak akan ada yang tahu siapa yang akan berpesta dan menari di Wina bersama Lorca. Satu-satunya cara agar hasrat dan mimpi tentang Wina terus terjaga adalah dengan melakoni pertandingan satu demi satu dengan sebaik-baiknya, mengerahkan kemampuan yang dimiliki dengan sehebat-hebatnya.

Selebihnya, biar nasib mencari jalannya sendiri-sendiri, karena hanya akan ada satu kesebelasan yang bisa merengkuh mimpinya tentang Wina dan menari dalam pesta di sana, sementara 15 kesebelasan lainnya akan merasakan sungsangnya menyaksikan mimpi dan hasrat yang menguap ke udara.

Karena sehebat-hebatnya Napoleon, toh akhirnya ia mesti melepaskan Wina usai kekalahan di Waterloo. Begitu juga dengan sajak Lorca yang diam-diam menyimpan dengan rapi kemuraman dan kesunyian yang tak mengenakan di ujungnya: “Dejaré mi boca entre tus piernas,/ mi alma en fotografías y azucenas,/ y en las ondas oscuras de tu andar” (Aku akan meninggalkan suaraku di antara derap kakimu, meninggalkan jiwaku pada gambar-gambar dan bunga-bunga lili, serta pada kemuraman langkah kakimu).

Perjalanan menuju Wina adalah pertarungan menuju kejayaan dan kemasyhuran. Tapi, jangan lupa, di sisinya juga menguar tragedi dan kesedihan dari kesebelasan yang tersisih dan terjungkal. Itulah dua sisi antagonisme yang tak terpisahkan dari drama sepakbola, persis seperti imaji yang coba dihamparkan sajak Lorca tadi: tentang kemenangan dan kekalahan, kejayaan dan kehancuran, serta epik dan tragedi yang bersisian dalam satu harmoni yang ganjil.

Semuanya dimulai di Basel dan akan menemukan klimaksnya di Wina: kota di mana sejumlah peperangan besar dan kesepakatan perdamaian penting pernah diguratkan.

7 komentar:

leksa mengatakan...

Wina,..sebuah nama yang indah,..
seingat saya seorang wanita dimasa saya SMP juga cantik menjadi rebutan lelaki lho Kang,..
dan juga sekedar gengsi damai diantara teman-teman cewe SMP saya .. hahaha

Postingan pembuka Euro yang luar biasa !

*blom di iedit po? masih ada salah ketik.

leksa mengatakan...

btw,.. lupa,..
nama wanita masa SMP saya itu juga Wina..
*sayang sudah beranak satu sekarang..

Hedi mengatakan...

aku nunggu tulisanmu soal swiss (nation, not city only), tapi aku juga pingin tahu sudut pandangmu soal warga austria yg gandrung musik klasik, opera dan olahraga musim dingin itu.

tema2 di atas patut dijual di surat kabar alias news in depth.

btw, yo opo kabar ebes?

ramaprabu mengatakan...

sory kawan, saya ga suka bola jadi ya....ga bisa jadi komentator. salam

dania mengatakan...

bagus, mas. kutipan lorca-nya keren. "menari denganmu di wina". mas zen bisa aja deh hubung2in bola sama sejarah dan puisi. ajarin dong....

astri mengatakan...

ah, Eroica...jadi ingat masa lalu :)

cewektulen mengatakan...

tulisanmu kuwi cuma bisa dibaca edisi indopos..bagi gw yang di semarang, tetep aja edisinya beda..jadi...untuk membaca sepakbola kultural..gw musti pindah ke jakarta????? untung ada internet...