Senin, Juni 09, 2008

Zidane

[ini esai lama yang ditulis dan dimuat setelah prancis mengalahkan brazil pada perempatfinal piala dunia 2006. prancis akhirnya kalah dari italia di final dan zidane --kita tahu-- dikartu merah karena insidennya dengan materazzi]

Usai menyaksikan si tua bangka Zinedine Zidane sendirian mengobrak-abrik kesebelasan Brazil di perempat final Piala Dunia 2006, orang-orang Prancis seperti dipaksa untuk merumuskan kembali apa artinya menjadi tua.

Prancis dikenal sebagai negeri yang selalu terbuka terhadap pembaruan. Di Prancis-lah, persisnya pada 14 Juli 1789, terjadi revolusi dahsyat yang sukses menjebol kekukuhan tembok penjara Bastille yang selama 400 tahun lebih menjadi bui para maharaja Prancis menjebloskan musuh-musuh politiknya. Orang Prancis merayakan hari itu sebagai hari nasional; titimangsa yang dikenang sebagai simbol dari robohnya ancient regime (rezim lama) yang korup dan despotik.

Revolusi Prancis itu terbukti membangkitkan inspirasi dan membangunkan fantasi banyak orang di negeri-negeri yang jauh akan indahnya kemerdekaan dan kebebasan. Bukan cuma menginspirasi Revolusi Oktober 1917 di Rusia, tetapi juga sedikit banyak menjalar ke nadi para pentolan nasionalisme di Indonesia. Pram, lewat tokoh Minke, berkali-kali menyebut-nyebut Revolusi Prancis sebagai salah satu yang menginjeksi semangat perlawanannya yang berkobar terhadap kolonialisme.

Tetapi, yang juga pasti, revolusi 1789 itu seperti menjadi darah dan daging bangsa Prancis, menjadi serum yang terus-terusan menginjeksi bangsa Prancis untuk selalu terbuka pada perubahan, mengakomodasi gejolak dan fantasi heroik kaum revolusioner, memantik terus-terusan kaum muda Prancis untuk tidak mau stagnan, dan menginspirasi para filsuf Prancis untuk terus-menerus menggali sampai ke kemungkinan yang terjauh dari batas-batas kemampuan berpikir manusia.

Mestikah diherankan jika gerakan kebudayaan dan pemikiran berlabel post-strukturalisme dan post-modernisme mulai lahir dari para filsuf Prancis? Mestikah pula diherankan jika seorang Derrida dan Barthez yang mengacaukan peta filsafat dunia dengan ide-idenya yang menerabas konvensi filsafat itu lahir di Prancis? Mestikah diherankan jika hanya di Prancis-lah kaum buruh di sebuah negara maju Eropa bisa seenaknya mengobrak-abrik ibu kota jika tuntutannya dilecehkan? Dan, mestikah pula diherankan jika para pelarian revolusioner macam Milan Kundera dari Ceko hingga Hasan al-Banna dan Ayatollah Khomeini yang sukses mengobarkan spirit Islam radikal memilih hengkang ke Paris ketika dikejar-kejar rezim di dalam negeri dan diterima dengan lapang oleh bangsa Prancis?

Pendek kata, Prancis adalah surga bagi semua ide dan orang yang mencintai perubahan. Kaum muda karananya punya tempat istimewa di sana. Mereka diberi kesempatan untuk mencoba apa yang mungkin bisa dicoba.

Jadi, wajar jika publik Prancis sebetulnya tidak terlalu yakin tim nasional mereka bisa digdaya di Piala Dunia kali ini. Itu terjadi karena Raymond Domenech, juru racik taktik tim Prancis, terlalu memercayai serombongan tua bangka yang dianggap sudah habis kemampuannya.

Publik Prancis ingat, persis ketika timnya berantakan di Piala Dunia 2002, Korea Selatan yang menjadi tuan rumah sukses melaju hingga semifinal. Ketika itu, Korsel dipenuhi anak-anak muda yang bersemangat. Dan, entah kebetulan entah tidak, di waktu yang nyaris bersamaan, di Korsel sedang berlangsung perang hebat antara generasi tua versus muda.

Dan, hebatnya, di Korsel "perang" itu dimenangkan kaum muda. Presiden Roh Mo Hyun adalah bukti menangnya kaum muda dalam "perang" melawan orang-orang tua. Roh, yang tak memiliki riwayat politik kemilau, tiba-tiba menyalip di tikungan terakhir. Dia memenangi pemilihan umum berkat dukungan kaum muda.

Kaum muda yang menjadi kunci kemenangan Roh disebut sebagai "angkatan 386". 386 adalah sebutan untuk orang-orang berusia 30-an, yang pada dekade 1980-an getol melakukan perlawanan terhadap pemerintahan militer Korea Selatan. Mereka juga rata-rata kelahiran 1960-an.

Kemenangan "angkatan 386" itu berefek berantai. Yang pasti, kemenangan itu pemicu "perang" antargenerasi. Perlahan, tapi meyakinkan, angkatan muda Korsel menduduki pos-pos penting, menggantikan orang-orang tua yang mulai "pikun", lamban, dan loyo gairahnya. Itu terjadi di mana-mana, nyaris di segenap sektor kehidupan di Korea Selatan.

****

Publik Prancis dan dunia seperti belum teryakinkan kekukuhan Zidane untuk turun gelanggang di Jerman. Apa pun dalihnya, tuah Zidane dipercaya sudah redup. Kegagalan Zidane memberikan gelar untuk Real Madrid selama dua tahun terakhir seperti menjadi penambalan atas keroposnya magis Zidane tua.

Kekukuhan Zidane untuk tetap turun gelanggang awalnya seperti menunjukkan dia sebagai orang yang sedang mengidap virus gerontokrasi (untuk memelesetkan istilah kedokteran, gerontologi, yang merujuk fase ketika individu memasuki masa uzur): virus yang menggambarkan kekerashatian seorang tua yang memaksakan diri merasa muda dan mampu.

Tetapi, begitu menyaksikan bagaimana Prancis menjungkalkan Brazil, lewat Zidane yang bermain penaka seorang konduktor berpengalaman memimpin orkestra yang sedang memainkan sebuah nomor indah kepunyaan Tchaikovsky, publik Prancis seperti diajak untuk merenung: betapa tua terkadang tidak identik dengan kelambanan dan nihilnya gairah.

Jika orang-orang Prancis ditanya komentarnya mengenai Zidane beberapa saat setelah kemenangan atas Brazil itu, salah satu di antara mereka yang ditanyai mungkin akan menjawab sembari mengutip kata-kata Shakespeare dalam bagian ke-3 adegan 5 naskah berjudul “Much Ado about Nothing”: A good old man, Sir!

Itulah yang dengan sebaik-baiknya dibuktikan Zidane, bahwa ia adalah seorang tua yang baik dan hebat, terutama setelah dia memimpin Prancis sukses menekuk Spanyol yang meraih hasil sempurna di penyisihan grup dengan skor meyakinkan 3-1 dan memulangkan Brazil yang difavoritkan lewat sebuah permainan memukau yang dipuji tidak hanya oleh Kaka dan Alberto Pereira, tetapi juga oleh Beckenbauer, Platini, dan Pele.

Yang juga menarik, Spanyol dan Brazil adalah rival yang sejumlah pemainnya sudah sesumbar untuk menjadikan pertandingan melawan Prancis sebagai partai terakhir Zidane bermain bola. Dua pentolan utama Spanyol dan Madrid sekaligus kompatriot Zidane di Madrid, Raul dan Ronaldo, yang mengucapkan hal itu.

Dan, mereka kena batunya. Mereka kena tulah akibat ucapannya. Keduanya seperti tak ingat bahwa Roberto Carlos, karib Ronaldo dan Raul sekaligus sahabat Zidane di Madrid, pernah menyebut: "Orang yang menganggap Zidane terlalu tua bermain bola adalah mereka yang tak mengerti sepak bola."

Kita tahu, Zidane sudah mengumumkan pengunduran diri dari dunia sepak bola usai Piala Dunia 2006 ini tuntas digelar. Dan, di situlah justru kuncinya. Bagi Zidane yang akan tutup buku dengan bola, detik-detik terakhir kehidupannya di lapangan hijau berarti sebuah pertaruhan bahwa hidup (baca: karir) mesti ditutup dengan baik dan kematian (baca: akhir karir) mesti dijemput dengan indah, seindah-indahnya.

"Teologi kematian" macam itulah yang, tampaknya, mendorong pemain bangkotan macam Zidane, yang dari sononya diberkati bakat alam yang cemerlang, untuk bermain sekuatnya, sebisanya, hingga batas terjauh yang mungkin bisa dia jangkau. Dia tak ingin kematiannya berakhir dengan tragis. Yang penting berusaha sebaiknya. Soal hasil, entahlah… dan sebaiknya tak usah dipikirkan karena memikirkan hasil sama saja membicarakan takdir; sama-sama tak jelas juntrungnya.

Saya jadi ingat sekuplet syair penyair Horatius yang begitu gemar dikutip oleh Soe Hok Gie. Katanya: "Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan. Yang kedua, dilahirkan tapi mati muda. Dan, yang tersial adalah umur tua. Bahagialah mereka yang mati muda."

Zidane, rupanya, tak sepakat dengan puisi itu. Baginya, jika mati tua bisa dihayati dengan kegemilangan dan kebahagiaan, untuk apa mati (baca: pensiun) lekas-lekas?

4 komentar:

Bangsari mengatakan...

wah, panjang juga ya? *melu melu anang*

dania mengatakan...

kemarin ngunduh sajaknya lorca, esai bola yg ini pake quote dari naskah dramanya shakespeare. duh, gmn toh caranya biar bacaan yg pernah dibaca tetap bs diingat? aku banyak bc tp srng bgt lupanya.

ajarin dong mas....

Hedi mengatakan...

kan Prancis punya semboyan; persaudaraan, persamaan dan kemerdekaan. berarti harus bisa menerima siapa aja lah :D

ipungmbuh sh mengatakan...

hwuasu...apik!!