Senin, Mei 26, 2008

Malam

Saya sering bergelut senda dengan malam. Kadang, dengan amat sadar, saya lebih memilih memicingkan mata tinimbang memejamkannya. Memilih terjaga daripada terlelap. Tapi, belakangan, rasa-rasanya bukan saya yang memilih. Sekarang malam yang sepertinya lebih sering memilih saya.

Maka terjagalah saya. Sepanjang malam, sepanjang kelam. Juga malam ini. Susah benar membenamkan mata pada kelopaknya. Padahal lampu sudah dipadamkan, buku-buku sudah dirapikan, tempat tidur sudah dihamparkan dan badan sudah dibaringkan.

Butuh kesabaran untuk terus menahan diri tetap telentang di pembaringan, melawan naluri tubuh yang menjompak-jompak selalu ingin bangkit dan terjaga. Saya jadi mengerti kenapa Chairil memberi salah satu sajaknya judul: “Kesabaran”.

Aku tak bisa tidur
Orang ngomong, anjing nggonggong
Dunia jauh mengabur

Selengkapnya......

Jumat, Mei 23, 2008

Indonesia (2)

Jika hari ini masih ada yang percaya bahwa Indonesia adalah “pusaka abadi yang jaya”, mungkin tak ada salahnya jika saya menuliskan kembali syair Rene de Clerque yang pernah dikutip Hatta dalam pledoi berjudul “Indonesie Vriij” yang dibacakannya di muka pengadilan Belanda di Den Haag:

“Hanya satu negeri yang menjadi negeriku.
Ia tumbuh dari perbuatan,
dan perbuatan itu adalah usahaku.”

Kutipan syair de Clerque itu sudah cukup jelas menunjukkan kehendak kuat seorang Hatta untuk melibatkan diri dalam proses sejarah –sebuah proklamasi pelibatan diri untuk merealisasikan apa yang disebut sebagai “tanah air yang merdeka”.

Tetapi bukan itu yang pokok. Hal terpenting yang patut dicatat dari kutipan syair de Clerque itu adalah keyakinan Hatta yang begitu penuh ihwal arti penting “perbuatan dan usaha”. Dengan itu Hatta ingin mengatakan bahwa Indonesia bukanlah satu takdir, bukanlah satu wahyu dari langit dengan kepastian yang presisi, bukan pula sesuatu yang lahir secara alamiah dan karenanya cukup hanya dengan menengadahkan tangan. Ia hanya mungkin jika diusahakan.

Selengkapnya......

Rabu, Mei 21, 2008


Tak ada lagi yang perlu dibuktikan. Juara ya Juara. Titik!

GLORY GLORY MAN UNITED!

post-script:
fans Chelsea atau MU haters, semua dalih dan alasan silakan dikirim ke John Terry yang mewek-mewek itu.

Selasa, Mei 20, 2008

Indonesia


"Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia.
Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan dengan
tjara seksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja."

Bisakah kita menyebut ironi jika negara sebesar dan seluas Indonesia, negara dengan garis pantai terpanjang di dunia*, dengan 17 ribu lebih pulau, ribuan suku, bahasa dan peradatan, dinyatakan kemerdekaanya lewat sebuah teks yang panjangnya hanya 23 kata atau 196 karakter?

Sebagai ilustrasi, kemerdekaan Amerika Serikat dinyatakan lewat teks sepanjang 1322 kata atau 7981 karakter. Kita mengenalnya sebagai Declaration of Independence.

Di luar panjang-pendeknya dua naskah itu, kita dengan amat mudah menemukan sejumlah perbedaan di antara keduanya.

Proklamasi ditandatangani oleh hanya dua orang saja, yaitu Soekarno-Hatta, yang mengatasnamakan bangsa Indonesia. Sementara Declaration of Independence ditandatangani oleh 57 orang yang mewakili 13 daerah.

Apakah Soekarno-Hatta ingin tampil hanya berdua saja?

Selengkapnya......

Kamis, Mei 15, 2008

Wani

-- buat dipa

Pada hari pertama Ramadhan tahun kemarin, saat sedang kelayaban di pertambangan intan di Martapura, seorang pedagang soto Banjar yang saya temui menyebut kata “wani”.

Saya bertanya padanya dan untuk pertama kalinya saya tahu bahwa dalam bahasa Banjar, “wani” artinya “berani”. Dalam hal kata “wani”, bahasa Banjar ternyata bersepakat dengan bahasa Jawa dan Sunda.

Wiji Thukul, penyair-demonstran yang hilang dan karenanya kadang saya menganggapnya telah mengalami “moksa”, dengan begitu ciamik menggunakan kata “wani” untuk menamai anak bungsu perempuannya. Nama lengkap anak bungsu Wiji Thukul itu ialah “Fitri Nganti Wani”.

Saya tidak tahu apakah saya bisa membuat nama sebagus itu. Entah dari mana Wiji Thukul mendapat ide untuk nama anaknya. Tapi, jika boleh berandai-andai, nama sebagus itu pastilah datang dari satu pengalaman hidup yang sudah mengurat-akar. Dalam kata-kata yang lebih padat, rasanya bolehlah saya bilang: nama itu adalah perasan –katakanlah: sari pati—dari sejarah hidup pembuatnya, ya… sejarah hidup Wiji Thukul.

Selengkapnya......

Minggu, Mei 11, 2008

Tua

At 60 you have six flaws, at 70 you have seven, and so on. Kata-kata itu diucapkan Johan, salah satu karakter utama dalam film “Saraband”, karya terakhir sineas Swedia, Ingmar Bergman.

Kata-kata di atas, bagi saya, seperti menjadi retrospeksi yang begitu padat tentang apa artinya menjadi tua, menjadi renta. Cacat di situ [“flaws”] bisa berarti sesuatu yang sepenuhnya fisikal. Tetapi, cacat [“flaws”] dalam kata-kata Johan juga bisa merujuk pada gugusan mental, struktur kepribadian, senarai ingatan dan kenangan atau berbuntal-buntal persoalan dan dendam berkarat yang belum dan tak akan pernah bisa diselesaikan.

Cacat-cacat itu [“flaws”] perlahan-lahan menjadi panggung di mana masa tua digelar dengan cara yang aneh, penuh kesepian, penyesalan, persaingan dan permusuhan tanpa ujung – sederet kondisi yang menjelaskan bagaimana masa tua bukan lagi menjadi momentum merayakan kehangatan dan kebahagiaan, melainkan menjadi drama yang penuh dengan ketegangan yang berbahaya bagi orang-orang yang sudah renta.

“Saraband” dipenuhi gambar-gambar statis, setting yang melulu di dalam ruangan yang remang-remang [lanskap pemandangan alam hanya muncul di menit-menit pertama], serta percakapan-percakapan berat dan nyaris tanpa humor membuat saya lebih mengerti kenapa Gie sering menyatakan kalau sesial-sialnya orang adalah yang hidup hingga tua.

Selengkapnya......

Minggu, Mei 04, 2008

Musa

Tiba-tiba hari ini saya banyak memikirkan Nabi Musa. Sejumlah imajinasi nakal saya berkecambah ke mana-mana. Semuanya dipicu oleh presentasi hasil penelitian Irwin Braverman, seorang peneliti di Yale University.

Akhenaten, pharaoh dari dinasti mesir ke-18, ternyata mengalami mutasi genetika yang menyebabkan ia memiliki kecenderungan androgyni (semacam tendensi gabungan feminitas-maskulinitas dalam kepribadian). Setidaknya, begitulah hasil penelitian Irwin Braverman.

Jika itu benar, berarti Nabi Musa itu, ya... seorang androgyni, setidaknya kata Freud. Saya pernah membaca buku Freud berjudul "Moses and Monoteism". Nah, Freud mencatat Akhenaton ini (Freud sendiri menggunakan nama Akhnaton) tak lain dan tak bukan adalah Moses a.k.a Nabi Musa.

Selengkapnya......