Minggu, Mei 04, 2008

Musa

Tiba-tiba hari ini saya banyak memikirkan Nabi Musa. Sejumlah imajinasi nakal saya berkecambah ke mana-mana. Semuanya dipicu oleh presentasi hasil penelitian Irwin Braverman, seorang peneliti di Yale University.

Akhenaten, pharaoh dari dinasti mesir ke-18, ternyata mengalami mutasi genetika yang menyebabkan ia memiliki kecenderungan androgyni (semacam tendensi gabungan feminitas-maskulinitas dalam kepribadian). Setidaknya, begitulah hasil penelitian Irwin Braverman.

Jika itu benar, berarti Nabi Musa itu, ya... seorang androgyni, setidaknya kata Freud. Saya pernah membaca buku Freud berjudul "Moses and Monoteism". Nah, Freud mencatat Akhenaton ini (Freud sendiri menggunakan nama Akhnaton) tak lain dan tak bukan adalah Moses a.k.a Nabi Musa.

Irwin Braverman meneliti dan menganalisis gambar-gambar Akhenaten a.k.a Musa yang semuanya berkecenderungan feminin. Menurut Braveman, bentuk tubuh feminin Akhenaten itu terjadi akibat mutasi genetik. "Karena mutasi genetik ini, tubuh Akhenaten mengubah hormon laki-laki menjadi hormon perempuan jauh lebih banyak daripada yang dibutuhkan," katanya. Braveman juga yakin, bentuk kepala Akhenaten jadi tidak normal karena kondisi tulang tengkorak mulai menyatu pada usia dini.

Saya kira, analisis feminitas wajah Akhenaten itu tidak berlebihan. Pada masa kuliah dulu, terutama pada sesi kuliah Sejarah Afrika, saya pernah diberi tugas menyalin gambar Akhenaten yang memang sangat feminin dan lebih mirip perempuan.

(Kuliah itu diampu seorang master lulusan Chicago, namanya Dodi Soejono. Dia bukan hanya dosen paling eksentrik yang pernah mengajar saya, dia juga mungkin satu-satunya pakar sejarah Afrika di Indonesia. Dia bisa membaca hieroglyph. Sewaktu saya ujian susulan seorang diri, Dodi yang tua dan eksentrik serta mengijinkan saya merokok waktu kuliah dan ujian ini memberi soal ujian yang semuanya ditulis dalam huruf hieroglyph. Piye njawabe, coba?)

Kembali ke bukunya Freud. Buku “Moses and Monotheism” ini menarik perhatian saya karena eksplanasi Freud yang cukup mengejutkan. Perlawanan Musa terhadap ayahnya, yang dalam "historiografi" al-Quran terkenal dengan nama Firaun, ternyata dipicu oleh kecemburuan seorang anak terhadap ayahnya dalam berebut kasih sayang ibunya (dalam versi Qur'an, Musa ini adalah anak angkat Firaun, setelah ditemukan istri Firuan dalam sebuah peti yang dihanyutkan di sungi Nil).

Kata Freud, pengalaman seksual pertama anak laki-laki terjadi pada saat ia meneteki payudara ibunya. Meneteki payudara ibu itu, kata Freud, bukan hanya sebagai praktik konsumtif memamah sejumlah protein dan sejenisnya, tetapi pada saat yang sama juga si bayi mengalami kenikmatan seksual untuk kali pertama. Dari situlah persaingan anak dan bapak dalam berebut kasih sayang dan cinta ibu berlangsung.

Perlawanan Musa melawan Firuan dipicu –salah satunya—oleh perkara ini, dan bukan semata pertempuran antara monoteisme dan politeisme (Belakangan, teori oedipus complex disederhanakan melulu sebagai kecenderungan menyukai perempuan yang lebih tua).

Imajinasi saya lantas nggladrah ke mana-mana. Saya berpikir, jika tengara Bravemen benar, jangan-jangan itulah sebabnya Musa dikenal sebagai satu-satunya Nabi yang selalu runtang-runtung dengan Nabi yang lain yaitu Harun. Ini unik dalam kisah para Nabi. Imjinasi liar dan nakal membawa saya pada joke: ada hubungan khusus apa ya di antara dua Nabi ini? Secara, Musa itu Androgyni, gitu loch. Hihihihi….

Joke-joke macam itu pernah pula dialamatkan pada Rumi yang selalu bergantung pada sosok-sosok lelaki, dari Syams at-Tabrizi sampai Shalahuddin dan Hishamuddin (baca catatan saya tentang hubungan Rumi dan nama-nama itu di sini). Joke yang sama juga sering dialamatkan pada Socrates yang sering runtang-runtung dengan murid lelakinya, terutama antara Socrates dan Plato.

Ojo ditanggapi serius postingan iki, Dab!

11 komentar:

Lida mengatakan...

"Secara, Musa itu Androgyni, gitu loch. Hihihihi…."

Cik atuh euy, bahasa teh...

daus mengatakan...

runtang runtung iku opo tokh?

ipungmbuh sh mengatakan...

hmmm..eh ini sindiran??!!
*sambil gandeng tangan bq dan arya menjauh*
jiakakakk

sandalian mengatakan...

Nabi Khidir juga disebut-sebut sering bareng dengan Musa, kira-kira Khidir juga Androgyni ga ya?

Kalau iya biar kuhapus saja keinginan untuk ketemu dengan Khidir :D :D

Hedi mengatakan...

di deket rumahku, pak musa punya toko kelontong, tapi orang jantan tulen...istrinya 2 hahaha

Anusapati mengatakan...

Maksudmu, kalo gak jadi nabi, Musa buka salon, Zen?

sayurs mengatakan...

msok to, ah..

Munir mengatakan...

angin gurun lagi kebakar tungku cleopatra mas, jadi tahu sendiri kan jadinya gmn..heheheh..

mas setahu saya nabi musa tidak mau disusui istri fir'aun, yang menyusui beliau adalah ibu kandungnya..:D

harun adalah saudara nabi musa, alasan dia selalu bersama harun terus-menerus sudah tercantum di qur'an.

peace mas...ga maksud opo2 loo..cuma asal koment mas..

glory manchester united..jangan lupa 21 mei ya..:D

bj_saja mengatakan...

bisa aja mas zen........
eh kemarin pas saya masih di Indeks ide nakal tulisan ini masih u bicarakan ke aku dan ridwan Anggur....

ternyata sudah lahir menjadi Tulisan yang bagus dan meringis

bje

evy mengatakan...

salam

numpang komentar mas zen, tulisannya sangat menarik, tapi ada sejumlah hal yang bisa ditelisik lebih jauh, pertama adalah data. buku itu hanya mendasarkan data moses dan akhnaton pada gambar, bukan artefak tulang dari musa (emang ada? kayanya ga ada yah) dan akhnaton,

kedua, dalam arkeologi (temannya ilmu sejarah) data tak hanya bisa diverifikasi lewat gambar, tapi juga harus lewat data artefak asli, seperti apakah data tulang kedua orang itu, kalaupun tidak ada, tentu hasilnya hanya bersifat sangat relatif

ketiga, data gambar sangat..sangat..sangat.. dipengaruhi pada proses kebudayaan yang berlaku saat itu, proses kebudayaan di mesir, berjalan tidak linear karena banyak dipengaruhi kebudayaan lain,

sehingga data gambar maupun mumi dan peti akhnaton bisa sangat berubah, dibuat (katakanlah) pada 1000 S.M maka budaya gambar itu akan berubah katakanlah 900 S.M, begitu seterusnya

tabik, xtvy

Anonim mengatakan...

Senangnya, mendengar sedikit cerita tentang sosok unik alm Bapak Saya.
Terimakasih :)