Selasa, November 27, 2007

"Ngobrol" dengan Mas Tirto dan Pramoedya

:: tanggapan terakhir untuk andreas harsono dari yayasan pantau


Tadi malam saya menggelar ritus jelangkung. Saya merapal mantra dalam sebuah genisa al-kitabiah: “Jelangkung jalangse... datang tak dijemput pulang tak diantar. Hwarkadalah Hoooo.....”

Dengan kemurahan hati, mereka kini mau keluar dari pendiangan mereka masing-masing. Ada tiga yang segera meloncat di meja bulat-tidak persegi-juga-tidak setelah namanya saya sebut tiga kali: “Mas Tirto” (Tirtoadisoerjo), Bung Pram (Pramoedya Ananta Toer) dan Gus Durrahman (Abdurrachman Surjomihardjo).

Saya pun langsung keluarkan secarik surat terakhir dari Andreas Harsono (selanjutnya ditulis "Kritikus Kita"): “Pers, Sejarah dan Rasialisme by Andreas Harsono”.

“Mas Tirto, Bung Pram, Gus Durrahman kenal penulisnya?” tanya saya. Mas Tirto melihat kertas itu dan menggeleng. Bung Pram hanya merogoh kantong dan menyalakan sebatang kretek. Adapun Gus Durrahman malah mendongakkan kepala.

“Kalau saya, apakah Anda semua kenal juga?” Ketiganya serempak tertawa dan bilang berbareng: “Tidakkkkkkkkk!” (Sambil mengucapkan itu, Mas Tirto menempelkan jari-jarinya di bibir bawah, Bung Pram menempelkan dua telapak tangannya di pipi dan Gus Durrahman cengir-cengir sambil garuk-garuk kepala)

Selengkapnya......

Minggu, November 25, 2007

Biarkan Buku Membukakan Dirinya

Jorge Luis Borges, orang Argentina yang meraih Nobel Sastra pada 1986, pernah membayangkan surga itu seperti sebuah perpustakaan yang agung.

Tentu saja saya tahu itu metafora. Tapi bagi orang yang justru tak pernah bisa membaca secara maksimal di perpustakaan, macam saya ini, metafora Borges itu pastilah berlebihan.

Kemarin saya nonton film Everything is Illuminate. Ada seorang kakek yang tak buta tapi selalu ingin dianggap buta, namanya Baruch, yang sewaktu muda terkenal punya kelakuan aneh. Tiap hari dia berkunjung ke perpustakaan di desanya. Tapi dia tak pernah membaca. Dia hanya sibuk menenteng-nenteng buku. Ia hanya menaruh buku itu di atas meja dan diam mematung seraya memandangi tumpukan buku di hadapannya.

Saya kadang merasa seperti tokoh Baruch jika berkunjung ke perpustakaan.

Selengkapnya......

Kamis, November 22, 2007

Agar Indonesia Tak Lekas Keriput

-- untuk bersihar lubis

"Kalau kamu mencurahkan tenaga untuk menulis,
seluruh dunia akan mendukungmu...." (Pramoedya Ananta Toer, 1986)

Siapa yang masih percaya bahwa penjara bisa membungkam pengarang dan kata-kata sebaiknya menyimak sumpah Tan Malaka.

Dari dalam kubur, kata Tan Malaka sewaktu diinterogasi polisi Hongkong pada 1927, “Suaraku akan terdengar lebih keras!”

Pengarang boleh mati atau dipenjara. Tapi kata-kata tak pernah bisa dikerangkeng. Sekali tertulis, kata-kata akan tumbuh sendiri, seperti organisme yang hidup, menembusi ruang dan waktu, menempuhi riwayatnya sendiri.

Umur kata-kata seringkali jauh lebih panjang ketimbang usia pengarangnya. Seperti wabah sampar, kata-kata yang ditulis dari kamar yang pengap atau kaki gunung yang sunyi bisa menyebar hingga tempat-tempat yang jauh di seberang benua. Ya, sampai jauh, seperti kata Nyi Ontosoroh kepada Minke: “Tahu kau mengapa aku sayang kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.”

Selengkapnya......

Minggu, November 18, 2007

"Oral Sex" Raja Jawa

Saya masih ingat, belasan orang yang ada satu ruangan dengan saya terkejut bukan main sewaktu saya bilang: “Oral seks di Kraton Jawa, dan itu dilakukan oleh sesama laki-laki bangsawan, bahkan diabadikan dalam Babad Tanah Jawi!”

Ketika itu saya berhadapan dengan dua kelompok orang yang sedang bersitegang. Kelompok pertama adalah anak-anak UKM Seni dan Tradisi di bekas kampus yang sudah saya tinggalkan. Mereka baru saja kena “musibah” ditegur keras dan bahkan dibekukan kepengurusannya karena mementaskan satu lakon yang –bagi jajaran rektorat—dianggap melanggar batas-batas kesopanan. Kelompok satunya adalah anak-anak BEM, baik universitas maupun fakultas, yang mengecam pertunjukan itu dan mereka pula yang “menekan” pihak rektorat untuk “menegur keras” UKM Seni dan Tradisi.

Peristiwa itu berlangsung pada tengahan 2005 silam. Sudah lama, memang. Tapi saya masih ingat bahwa argumen pihak rektorat untuk membekukan kepengurusan UKM Seni dan Tradisi karena pertunjukkan itu tidak (1) mengindahkan nilai-nilai ketimuran, (2) tidak edukatif dan (2) tidak memedulikan status kampus sebagai “pabrik” penghasil guru yang mesti bermoral adilihung.

Selengkapnya......

Kamis, November 15, 2007

Goenawan dan Harapan yang Tak Selesai

Siapa yang berharap ia harus siap kecewa.

Saya mencari, membeli dan lantas mulai membaca buku “Tuhan dan Hal-hal yang Tak Selesai” karya Goenawan Mohamad dengan sejumlah harapan. Tapi sayangnya saya menangguk kecewa karenanya.

Pada 23 September 2007, saya membaca sajak-sajak Goen di Kompas; sajak-sajak yang menafsir-ulang roman klasik Cervantes dan menatahnya kembali menjadi rentetan bunyi, kata, baris dan bait yang mengesankan, juga memesona. Seorang teman yang sedang jatuh cinta, amat sering membaca dua baris sajak Goen –dua baris sajak yang kata temanku itu bisa menggambarkan suasana hatinya: “Aku Don Quixote de La Mancha, majenun yang mencarimu.”

Dan di bawah sajak-sajak itu, tercetak beberapa baris atribusi Goen yang salah satunya berbunyi: “Dalam waktu dekat akan terbit buku kumpulan aforismenya, Tentang Tuhan dan Hal-hal yang Tak Selesai”.

Selengkapnya......

Sabtu, November 10, 2007

Yang "Membakar" Surabaya dengan Mulutnya

Pada 17 Agustus 1978, berlangsung sebuah upacara kecil nan khidmat memeringati kemerdekaan RI di sebuah penjara di Jakarta. Persis ketika sang saka merah putih dikerek ke udara dan lagu Indonesia Raya dinyanyikan, salah seorang tahanan yang sudah cukup renta tampak menangis.

Ismail Suny, orang yang kini dikenal sebagai pakar hukum tata negara, yang dibui karena berseberangan pendapat dengan Soeharto, mendekati lelaki tua yang masih tampak gagah itu. Dengan setengah berbisik, Suny berkata: "Mengapa Bung menangis? Biasa sajalah."

Suny tak berhenti sampai di situ. Ia melanjutkan ucapannya dengan mengutip sekuplet kata-kata Ho Chi Min: “Dari penjaralah justru muncul orang-orang besar.”

Selengkapnya......

Senin, November 05, 2007

Biografi Hujan

Hujan --bisa jadi-- adalah isyarat dari langit yang tak mampu lagi menampung awan atau tentang awan yang tak lagi kerasan menggantung kelamaan.

Di kaca depan, aku melihat rinai hujan melukis jelujur garis rapuh yang mudah timbul dan mudah pula tenggelam. Lalu, dengan kecepatan yang perlahan, rinai itu mewariskan kelembaban yang –entah bagaimana caranya—tiba-tiba menyelinap ke kaca bagian dalam dan membentuk titik air yang begitu halus, juga lembut.

Kadang aku iseng menggerakkan ujung telunjukku di kaca bagian dalam yang lembab oleh titis air hujan yang begitu halus itu. Kadang guratan ujung telunjukku tak membentuk apa-apa. Kadang aku menuliskan sebuah kata. Sore ini aku mencatatkan namamu di sana.

Coba kau tengok halaman rumahmu yang basah dan becek itu. Perhatikan bagaimana hujan dan pepohonan bersenggama dengan diam-diam. Bayangkanlah, kira-kira apa yang dikatakan akar pohonan itu pada langit yang mengiriminya kekasih bernama hujan?

Jumat, November 02, 2007

Mau Buku Gratis? Saya Akan Membaginya

Jika saya Paul Warfield Tibbets Jr., barangkali saya akan menyesal, mungkin juga meminta maaf. Tapi saya bukan Tibbets Jr. Dan itulah sebabnya saya hanya bisa berandai-andai.

Hari ini saya mendengar Tibbets Jr. wafat dalam usianyanya yang ke-92 tahun. Dia menghembuskan nafas terakhirnya di satu kawasan di Ohio.

Tibbets Jr. adalah pilot pesawat pembom B-29 yang membawa bom atom yang masyhur dinamai dengan julukan Little Boy. Bom itulah yang dijatuhkan di kota Hiroshima pada 6 Agustus 1945. Sudah jelas, ribuan orang tewas karena pemboman itu, langsung maupun tidak. Cukup jelas pula kerusakan ekologis akibat pemboman itu. Dan, cukup benderang juga, seperti apa akibat pemboman ini terhadap konstelasi politik dan militer dunia yang sedang dicengkau Perang Dunia II itu.

Tibbets pernah mengunjungi Horoshima beberapa hari setelah pemboman yang menjadi peristiwa pembunuhan massal terbesar yang pernah terjadi di muka bumi. Ia memberi testimoni begini: "Beberapa jalan dan daratan yang kami lalui telah melengkung dan tertekuk-tekuk akibat bom. Hal tergila yang pernah dilihat."

Selengkapnya......