Kamis, November 15, 2007

Goenawan dan Harapan yang Tak Selesai

Siapa yang berharap ia harus siap kecewa.

Saya mencari, membeli dan lantas mulai membaca buku “Tuhan dan Hal-hal yang Tak Selesai” karya Goenawan Mohamad dengan sejumlah harapan. Tapi sayangnya saya menangguk kecewa karenanya.

Pada 23 September 2007, saya membaca sajak-sajak Goen di Kompas; sajak-sajak yang menafsir-ulang roman klasik Cervantes dan menatahnya kembali menjadi rentetan bunyi, kata, baris dan bait yang mengesankan, juga memesona. Seorang teman yang sedang jatuh cinta, amat sering membaca dua baris sajak Goen –dua baris sajak yang kata temanku itu bisa menggambarkan suasana hatinya: “Aku Don Quixote de La Mancha, majenun yang mencarimu.”

Dan di bawah sajak-sajak itu, tercetak beberapa baris atribusi Goen yang salah satunya berbunyi: “Dalam waktu dekat akan terbit buku kumpulan aforismenya, Tentang Tuhan dan Hal-hal yang Tak Selesai”.

Saya tidak tahu atribusi itu dibuat Goen sendiri atau dibuat oleh Hasif Amini, editor (tamu) rubrik puisi Kompas yang juga sahabat Goen. Dan, terus terang saja, atribusi itu membuatku menunggu terbitnya buku Goen yang satu ini.

Saya berharap akan “menemukan Goen yang lain”, bukan Goen yang menulis Catatan Pinggir (Caping), bukan Goen yang menulis dengan serakan kutipan dan nama-nama besar yang frase-frasenya dicuplik dengan pas dan seringkali cantik.

Goen yang macam itulah, juga Goen yang penyair, yang saya kenal pertama kali di semester pertama kuliah. Via Caping dan puisi-puisinya tentu saja. Saya membacanya, kadang saya ikut-ikutan gayanya menulis (terutama gaya dia menyusun lead) dan bukan sekali dua saya mengutipnya.

Saya seringkali tergoda untuk mencari dan membaca buku-buku yang dicuplik/diulas Goen di esainya. Ulil Abshar Abdalla, dalam esai obituari Edward Said di Kompas, pernah menyebut Goen sebagai “makelar budaya” yang pintar mengenalkan dan memprovokasi orang untuk juga membaca buku-buku yang dikutipnya.

Nirwan Arsuka, dalam salah satu sesi workshop penulisan esai di Yogyakarta beberapa bulan silam, menyebut hampir tak ada penulis esai (berusia muda) di Indonesia yang tak membaca Caping dan banyak di antaranya kepincut dengan Caping. Nirwan, saya kira, tak berlebihan, setidaknya bagi saya pribadi.

Tapi, jujur saja, belakangan saya jarang bisa menikmati Caping seperti beberapa tahun silam. Seringkali saya menangkap kesan Goen mengulang kembali apa yang sudah ditulis sebelumnya; sesuatu yang cukup wajar karena Caping ditulis terus menerus per pekan. Terutama ketika berbicara tentang Tuhan, agama dan sikap keberagamaan, spiritualitas, sekulerisme, Goen –saya kira—selalu berbicara dengan sudut pandang dan pokok pikiran yang sama.

Di satu sisi ini sebentuk konsistensi Goen dalam tema-tema itu, tapi –jujur saja—saya tak banyak menemukan hal yang baru di situ. Saya tidak menyebut repetisi, apalagi copy-paste, karena Goen –seperti biasa—tetap menghadirkan kutipan-kutipan segar dan baru, mengenalkan pemikir dan nama-nama baru, dan terkadang diksi-diksi yang tak saya kenal yang membuat saya penasaran dan terpaksa membuka KBBI yang bercover merah itu.

Tapi, itu permukaan. Di jantungnya yang terdalam, Goen tetap berbicara dengan sudut pandang dan pokok pikiran yang sama dalam tema-tema itu: merayakan pluralisme, spiritualitas yang melintasi sekat-sekat primordialisme dan agama, dll.

Itulah sebabnya, sekitar dua tahun terakhir, tiap kali Goen menulis tema-tema itu, saya kadang membacanya sepintas lalu saja dan –tentu saja— tanpa greget seperti saya membacanya empat atau lima tahun silam.

Ketika mendengar akan terbit buku Goen yang baru, saya berharap akan menemukan Goen yang –seperti “dijanjikan” oleh atribusi Goen di bawah sajak-sajaknya di Kompas- menulis aforisma: kalimat-kalimat yang ringkas, padat, tidak bertele-tele dan tidak “menghambur-hamburkan” kutipan. Mungkin seperti Kalender Kearifan-nya Leo Tolstoy atau kalau pun tulisannya agak panjang ya… seperti Sang Nabi-nya Kahlil Gibran atau tulisan-tulisannya Inayat Khan (untuk menyebut yang pernah saya baca).

Saya tidak berharap Goen akan berbicara dengan sudut pandang atau pokok pikiran yang baru dan mengejutkan, karena Goen –saya menebak ketika itu—akan tetap berbicara dari semangat dan pokok pikiran yang sama. Jadi, harapan saya pada buku Goen yang baru ini, adalah harapan yang –katakanlah—harapan yang sifatnya “teknis”: soal cara Goen menulis. Itu saja harapan saya.

Dan, itulah yang terjadi: siapa yang berharap ia mesti bersiap kecewa. Kali ini saya yang berharap dan akhirnya kecewa.

“Tuhan dan Hal-hal yang Tak Selesai” adalah buku yang tak banyak bedanya dengan Caping. Tak hanya itu, para pembaca setia Caping niscaya dengan mudah menemukan tema-tema yang juga pernah diuraikan Goen di Caping dan dengan sudut pandang yang juga sama.

Hal itu bahkan sudah terlihat dalam tulisan I (ada 99 tulisan Goen di sini, dan masing-masing tulisan oleh Goen disebut sebagai “tatal”: serpihan-serpihan kayu yang dipadatkan, tiang-tiang mesjid Demak terbuat dari bahan tatal macam itu). Di situ, Goen menulis tentang tatal yang menopang mesjid Demak. Goen, di situ, membayangkan agama yang tersusun oleh hal-hal yang terbuang, seperti remeh serpih kayu yang disusun jadi tatal, bukan oleh pokok yang lurus dan kukuh.

Tulisan pertama ini bukan hanya berbicara dengan pikiran yang sama dengan esai-esai Goen yang lain jika berbicara tentang Tuhan, agama dan keberagamaan atau spiritualitas, tetapi tema tentang mesjid Demak dan tatal juga sudah diuraikan Goen di Caping berjudul “Jenar” yang tayang di Tempo edisi 12 Januari 2003.

Tema-tema yang digarap ulang kembali dengan mudah akan ditemukan oleh para pembaca yang akrab mengikuti Caping. Sekadar menyebutkan contoh: tulisan ke-24 tentang film the Passion of Christ, tulisan ke-28 (lead tulisan ini bahkan hampir sama dengan Caping berjudul “Pagoda”), tulisan 32 yang mengutip puisi Chairil, tulisan 35 yang menyinggung soal momen sederhana seperti melihat burung kecil yang mengejutkan, tulisan 60 tentang menara Babel (pernah digarap sewaktu Goen mereview film Inarritu, Babel).

Itu adalah contoh yang saya pilih secara acak. Seandainya saya menulis ini di ruang perpustakaan saya sendiri, dengan koleksi Caping yang lengkap, saya niscaya bisa menemukan lebih banyak. Sebab, banyak sekali bagian yang rasanya saya akrab dan pernah membacanya, tapi saya lupa persisnya di Caping edisi berapa itu pernah muncul.

Belum lagi soal “hobi” Goen yang lain yaitu mengutip frase-frase atau bait-bait sajak hasil karya orang lain. Ini juga masih sangat sering muncul di buku Goen yang ini. Kutipan-kutipan itu, tidak hanya dikutip lengkap, semisal satu baris, satu frase atau satu bait, tapi sering juga satu kata.

Kadang, jujur saja, saya terganggu dengan cara Goen menyelipkan kutipan satu kata untuk menjelaskan apa yang ingin disampaikannya.

Misalnya pada tulisan 51: “Di baliknya ada masyarakat, kekuasaan, juga hukum: sebungkah mereka (l’autre, kata Lacan) yang memberi diriku stabilitas sebuah nama, sebuah identitas, melalui bahasa.”

Atau pada tulisan 52: “Dan di tatapan subyek seperti itulah dunia tersaji bagaikan gambar –sebagai weltbild, untuk memakai kata-kata Heideger, dunia yang diringkas jadi obyek…”

Karena saya berharap tidak melihat Goen yang menulis Caping, seperti yang sudah saya ceritakan di awal, saya kecewa menemukan hal-hal semacam itu di buku Goen yang ini. Kutipan l’autre dari Lacan atau Weitbeld dari Heideger itu terasa seperti menggambarkan Goen yang kurang yakin bahwa pembaca juga belum mengerti apa yang hendak ia sampaikan. Menurut hemat saya, penulis esai pemula, seandainya Goen tak mencantumkan l’autre dan weitbeld sekali pun, pembaca tetap bisa menangkap apa yang hendak ia utarakan. (Atau mungkin Goen kurang percaya diri? Mudah-mudahan bukan.)

Tulisan-tulisan dalam “Tuhan dan Hal-hal yang Tak Selesai”, apa boleh buat, memang tak banyak berbeda dengan Caping. Kita juga masih akan sering menjumpai tulisan-tulisan yang panjang, tulisan-tulisan yang –bagi saya—jauh dari ringkas. Lebih pendek dari Caping, memang, tapi masih bergaya Caping. “Caping banget”, pinjam istilah anak-anak sekarang. Kata-kata masih “berhamburan”, masih muncul beberapa kutipan yang –bagi saya—tidak perlu.

Dan karenanya, kalau bolehlah saya menilai: Goen terasa bertele-tele dan seakan tak yakin bahwa pembaca bisa mencerna apa yang ingin ia katakan bisa ditangkap hanya lewat tulisan pendek atau paragraf yang ringkas atau pasase yang padat.

Padahal, Goen bisa menyusun tulisan pendek yang ringkas dan padat, dengan paragraf berjumlah satu atau dua biji saja, dan hasilnya bagus juga.

Misalnya, saya contohkan beberapa, tulisan 37: “Dilihat dari langit dan keabadian, sejarah tak berbunyi, tak berwarna; tak merisaukan hati: kisah kegagalan yang tak menimbulkan jera, kegairahan dan trauma yang tak dijumlah karena tiap kali terasa berbeda. Ini menjelaskan kenapa dewa-dewa dalam Mahabharata dan Illiad berbuat heboh dan tanpa sesal.”

Sayangnya, yang seperti itu tak banyak jumlahnya. Kebanyakan, kalau boleh saya bilang, seperti Caping yang (di)pendek(kan). Ada beberapa paragraf yang kuat dan mengesankan, tapi karena Goen tak mampu menahan hasratnya untuk terus berkata-kata, paragraf yang kuat tersebut jadi berkurang kemandiriannya (dan kekuatannya), karena diimbuhi oleh paragraf lain lengkap dengan kutipan dari pemikir lain.

Buku ini, karenanya, masih menampakkan Goen yang menulis Caping, sebagai esais yang masih merasa perlu “mendesakkan” banyak kata-kata.

Jika saya editor buku ini, mungkin saya akan mencantumkan sub-judul berbunyi: “Versi Lain Catatan Pinggir” atau mungkin “Catatan Pinggir Volume 7 “.

7 komentar:

pitik mengatakan...

saya juga generasi caping banget...dan merasakan apa yang sampeyan rasakan..tapi yang memang begitulah GM gayanya, dia mungkin sudah menetapkan gaya penulisannya, dan susah untuk berubah (ini perkiraan saja), dan kita ,yang membaca, mengharapkan hal lain, hal yang baru sama sekali..ah..bukankah terlalu tinggi pengharapan itu?resistensi memang sebagian kadang tidak disadari...hehehe..tapi semua ini hanya perkiraan saja..

arya mengatakan...

semua orang yang sedang gandrung2nya menulis memang bakal dengan mudah terhanyut arus caping-isme. itu pula yang (mungkin pernah) terjadi sama saya. hehehe
iyah, saya jg ngrasa sudah kurang greget. tiap selasa buka tempo, yang dibaca pertama pasti caping. tapi baca 5-6 paragraf aja udah bosen.
sudah gak ada twist gunawan sperti periode2 awal penulisan esei2nya (setidaknya yang saya baca dari buku kata-waktu)

lida mengatakan...

Ya, aku juga bola-balik Gramedia nanya apa buku Goen ini sudah sampai. Gara-gara atribusinya di esai Bentara... Tapi, mungkin Goen memang hanya pencatat, pencatat fragmen.

fian mengatakan...

Sitok: Ini buku produksinya mahal loh... padahal GM udah dapet subsidi, kalo nggak, bisa kujual 75ribu. Isinya ada yang dia ambil dari caping.

Saya: trus kalo model tulisan GM sekarang itu apa namanya, Mas?

Sitok: Aforisma.

Saya: oooooo....

dewi mengatakan...

saya dengar buku ini launching di ubud writer's fertival. mungkin memang berlebihan jika mengharapkan goenawan mohamad tampil beda, karena bukankah para penulis hadir dengan ciri yang berbeda?

dan hm, saya tak paham.. apa yang dimaksud dengan dendam di blog?

fayyadl mengatakan...

"Disappointment is the result of self-pity", kata seorang guru Buddhisme...

Kecewa itu wajar, Zen, tapi tak perlu ditularkan.

Memang kl kita bandingkan esai2 GM yang sekarang dengan yang dulu, mungkin ada perbedaan jauh. Tapi bacalah GM sebagai pemula; seolah2 pertama kali kita membacanya, pasti kau dapat sensasi lain. Lupakan sejarah dan riwayat kepengarangan dia kala membacanya.

GM itu penulis yang berfilosofi creatio ex nihilo, mencipta dari kekosongan. Setiap esainya seolah dimulai dari titik nol. Kalau kita berharap ada perjalanan linear (semacam 'perkembangan ide' dari satu titik ke titik lain), menurutku harapan itu hanya akan berbuah kecewa. GM bukan tipe penulis linear yang ide2nya berevolusi. Dia pengarang yang takjub pada kehampaan, dan menulis seolah dari satu titik kekosongan. Makanya bisa dipahami, esai-esainya fragmenter. Itu kekuatan positifnya.

zen mengatakan...

akhirnya bro fayyadl nongol juga. gini, gus... aku sudah mencoba membaca GM dari kekosongan. tapi susahnya minta ampun, bro. bukan apa-apa, soalnya beda antara buku yang ini dg caping2 GM cuma satu: yang ini lebih pendek-pendek. itu saja. kalo buat orang kaya saya sih buku itu baguslah, entah kapan saya bisa nulis macam begituan. tapi untuk sekelas GM sendiri, hmmm.... di situ point yang ingin saya utarakan. legacy GM memang caping. dan di hadapan caping, buku yg ini gak banyak bersuara.