Kamis, Juni 28, 2007

Selamat Jalan, Nugie....

"De te fabula narratur! Tentang Engkaulah hikayat ini dituturkan."
-- Horatius


Nugie, kematianmu yang tiba-tiba membuatku sadar satu hal penting: Maut ternyata bisa membuat kenangan yang biasa menjadi lebih berarti.

Saya banyak mencatat kematian orang-orang penting, nama-nama tenar, atau tokoh-tokoh besar. Saya mencatat kematian mereka karena saya anggap orang-orang itu sudah meninggalkan sesuatu yang penting, mewariskan sesuatu yang berharga dan pantas untuk diabadikan. Mereka pernah berkarya, menghasilkan satu peninggalan yang berharga buat umat manusia, setidaknya sejumlah umat manusia, mungkin juga untuk bangsa ini.

Kamu tidak, Nug. Kamu anak muda biasa, yang belum menghasilkan sebuah karya yang “wah”, tak meninggalkan sebuah milestone yang layak dikenang oleh banyak orang dan tidak pula menelurkan satu portofolio yang layak dimuat di koran-koran.

Selengkapnya......

Jumat, Juni 22, 2007

Musyawarah Buku

Sepanjang hidupnya, hanya dua malam dia tidak membaca buku: malam ketika ayahnya wafat dan malam pernikahannya.

Ibnu ‘Arabi mengucapkan kalimat tersebut sewaktu mengomentari kehidupan “seniornya”, Ibnu Rushd. Saya menemukan kutipan itu di buku Mencari Belerang Merah yang ditulis Claude de Addas.

Mencari Belerang Merah adalah istilah yang diperkenalkan oleh Imam al-Ghazali untuk menyebut ikhtiar seorang sufi dalam mencari seorang mahaguru sufi. Al-Ghazali memerkenalkannya dalam buku Tahafut al-Falasifa (Kerancuan Filsafat) yang merupakan serangan atas filsafat yang dianggap bisa merusak basis teologi Islam. Ibn Rushd membalas serangan al-Ghazali dengan menulis kitab Tahafut at-Tahafut (Kerancuan atas Kerancuan). Pendeknya: Kitab dibantah dengan kitab.

Selengkapnya......

Senin, Juni 18, 2007

Senja di Taman Sari

Siapa yang sebenarnya membutuhkan sejarah?

Di kompleks Taman Sari yang nyaris runtuh, pertanyaan itu menggema di mana-mana.

Sore itu saya berada di pucuk bangunan tertinggi di kompleks Taman Sari yang sudah terpapras separuh. Bangunan tinggi ini dulu dinamai Pulau Cemeti. Dengan menaiki anak tangga setengah melingkar, yang tak ada apa-apanya dibanding tangga spiral yang kemilau di film The Lord of the Ring, saya tiba di sana.

Ketika itu matahari Jogja sudah hampir surup.

"Burung gereja yang bertengger di tembok Taman Sari, Upik,
Seperti memanjangkan kenangan pada kota tua, bangunan tua
Yang rapuh dan runtuh sampai memori kita terjatuh
Di atas buku sejarah, catatan harian, dan cerita kepedihan
Yang tak sempat dibaca zaman

Bukan sebab air mata, huru-hara, atau pelopor peluru
Jikalau kepak sayap itu menggigil. Barangkali sebagaimana
Kisah yang kita kita bangun sendiri tentang bata-bata yang remuk
Berhamburan lalu kita termangu:
Adakah setiap kerusakan dimulai dengan dendam dan peperangan?
Hmmm, kita terdiam
Juga mengigil mencipta ilusi
….
Nampak lamat abjad-abjad terbaca. Dan aku
Memburu berita dari lipatan-lipatan wajah renta dan kau
Sayu menatap atas mesjid yang berlubang, seperti ingin menulis
Puisi yang di atasnya bertengger burung gereja, sorak kumandang
Dan sepi bata-bata di atas reruntuhan

Upik, masih ingat puisi yang sekejap kita baca?
Mungkin aku dan kamu keliru membaca huruf-huruf Tuhan,
tapi kita begitu yakin menulisnya dalam catatan."

Di sekujur sajak itu, sejarah (di)hadir(kan) sebagai “mahluk yang mengecoh”, betapa pun pasangan “Aku” dan “Upik” bersikeras menangkap untuk kemudian mengabadikannya dalam “buku sejarah, catatan harian dan cerita kepedihan”.

Sayangnya, “Aku” dan “Upik” adalah bagian dari satu zaman yang tak sempat lagi membaca itu semua. Betapa sia-sianya usaha mereka mengabadikan kenangan, sejarah dan masa silam. Karena itulah, sang “Aku” pun dengan letih mencatat: “Hmm, kita terdiam!”

Dan dalam diam yang nyaris pasrah itu, mereka hanya menemukan “abjad-abdjad yang terbaca lamat-lamat”.

Apa artinya semua itu?

Sejarah hanya bisa dicatat jika sumber-sumber sejarah bisa memberi penjelasan faktual. Dari sumber-sumber itulah interpretasi dibangun dan hipotesis kemudian dihamparkan. Tetapi, ingat Hasta, masa silam tak pernah jelas penampakannya sebab kita tak mengalaminya sendiri. Sebanyak apa pun sumber-sumber sejarah, itu tak lebih dari “abjad-abjad yang terbaca lamat-lamat”.

Karena itulah, menulis sejarah sebenarnya adalah laku “mengira-ngira”. Mungkin juga membayangkan. Sebab tak ada yang persis dari narasi sejarah. “Rekonstruksi”, kata Louis Gottschalk, tak akan pernah sama persis dengan “konstruksi”. “Peristiwa Proklamasi 1945” tidak akan pernah sama dengan “cerita tentang Proklamasi 1945”.

Di sinilah Hasta tampil sebagai penyair. Alih-alih bersikeras menyusun rekonstruksi masa lalu ala sejarawan, Hasta justru menawarkan cara lain yaitu “menulis puisi yang di atasnya bertengger burung gereja”.

Menghadirkan masa silam dalam bentuk sajak adalah sebentuk kerendah-hatian penyair akan kemustahilan menghadirkan masa silam secara presisi. Menulis sejarah adalah laku mengira-ngira dan membayangkan.

Dan sajak, barangkali, memang bentuk yang paling pas untuk merawikan sejarah. Sebab sajak adalah kreativitas manusia yang mencoba “menyusun pengertian”, “memilah perbedaan-perbedaan”, “menyusun kategori” tetapi dibarengi sikap konsisten untuk (dengan meminjam rumusan Derrida) “menundanya”, “menangguhkannya”. Mencoba “menangkap pengertian” tapi tetap dibarengi kesadaran bahwa hasil tangkapan itu masih terbuka pada banyak sekali kemungkinan.

Saya memang menemukan ceceran sejarah di sini, di Taman Sari yang nyaris runtuh ini.

Masa silam yang meninggalkan jejak sedikit banyak bisa saya endus bau apaknya dengan berbagai cara dengan banyak cara, dari mulai membaca sumber-sumber sejarah, dokumen, catatan, babad dan buku-buku. Kadang saya menyakininya. Kadang lebih parah lagi: saya menyusun keyakinan lewat argumen-argumen sejarah seakan-akan argumen itu sudah sahih dengan sendirinya hanya karena sudah dikonfirmasi dengan sumber-sumber yang primer.

Serpertinya saya terlalu serius membaca, memahami dan merumuskan sejarah. Tentu saja itu tak selalu salah. Itu baru menjadi bermasalah ketika keseriusan itu mengilangkan rasa awas, waspada dan juga humor. Dan karena terlalu serius, ilmiah dan tanpa humor itu, sejarah justru hadir sebagai “mahluk asing” dan bukan bagian integral dari hidup kita sendiri.

Barangkali seperti penduduk kampung Taman Sari yang menggoreng tempe di seberang Sumur Gumuling dan menjemur pakaian dalam yang tali jemurannya terikat pada salah satu tembok Taman Sari. Di situ, sejarah hadir secara konkrit, terhubung menjadi satu persenyawaan.

Bagi ibu yang ku sapa itu, bau tempe yang digoreng itulah yang baginya adalah sejarah. Dan dirinya ada di tengah-tengahnya. Apa yang saya anggap sebagai sejarah, bagi ibu itu dan bagi segenap penduduk kampung Taman Sari, adalah diri mereka sendiri, lengkap dengan segala kuali penyok, dapur yang rudin, tangisan bayi, jemuran pakaian dalam, dan tentu saja: tempe goreng.

Saya sedikit merasa dicemooh. Perkataan ibu itu seperti berubah bunyinya menjadi: “Jauh-jauh cuma mau lihat tempe digoreng ya?”

Di pucuk pulau Cemeti yang nyaris runtuh, bait-bait sajak Hasta berdentang lebih kencang dan ucapan ibu itu seperti membuatku terpojok.

Waktu tepat menunjuk angka 17.55 wib. Dari arah utara, persisnya dari Mesjid Agung Kauman, berkumandang adzan maghrib. Tak sampai setengah menit, delapan penjuru mata angin mengumandangkan suara yang sama. Semua mesjid di sekeliling kompleks Kraton Jogjakarta memanggil para jemaah shalat Maghrib. Suara adzan berdenging dari mana-mana. Bersahut-sahutan. Telinga sedikit terasa pekak.

Mata saya nanar menatap ke utara. Lampu-lampu mulai menyala. Malam mulai menyelimuti Jogja. Saya berdiri dengan perasaan yang datar. Mungkin juga hampa.

Selengkapnya......

Sabtu, Juni 16, 2007

"Bu, Sekarang Jam Berapa?"

Rumah sakit adalah tempat terbaik untuk mengerti betapa tipisnya jarak antara harapan dan kecemasan.

Pada malam keempat menjaga adik kecilku yang diterjang demam berdarah, saya menyempatkan diri untuk menghabiskan beberapa batang rokok di halaman parkir Rumah Sakit Panti Rapih.

Saya lupa persisnya jam berapa. Tapi saat batang rokok kedua baru terhisap separuh, dua mobil memasuki halaman Panti Rapih. Dalam gerak yang ringkas, dari pintu belakang mobil terdepan, seorang lelaki tua turun. Seorang perempuan muda, berumur sekitar 20 tahunan, muncul dengan muka yang pasi. Ia sempat terhuyung sebelum dua orang petugas rumah sakit dengan sigap membopong dan menaikkannya ke ranjang beroda yang sudah disiapkan.

Selang beberapa menit, dua orang keluarga pasien perempuan muda itu berjalan cepat ke arah parkir. Salah seorang dari mereka menyebut-nyebut nama UGM, kampus yang hanya dipisahkan oleh jalan raya dengan rumah sakit ini. Saya, yang sedang menghisap rokok seraya menyandar di salah satu mobil yang diparkir, masih sempat mendengar bunyi lengkap kalimatnya: “Di dekat Kopma UGM ada ATM kok!”

Selengkapnya......

Minggu, Juni 03, 2007

Di Bawah Naungan "Buddha"

Persis ketika jam menunjuk pukul 21.15, saya sudah berada di puncak Borobudur. Upacara Waisyak baru saja selesai digelar.

Saya duduk di satu sudut stupa terbesar dan tertinggi di sana. Stupa ini polos dan tanpa lubang, tidak seperti stupa-stupa lebih kecil di bawahnya yang berlubang. Dulu, di dalam stupa tertinggi itu, “tertanam” sebuah patung Buddha yang bentuknya tak lazim. Orang menyebutnya “the unfinished Buddha”.

Di sinilah bersamayam poros dari tingkatan tertinggi Borobudhur: Aruphadatu. Secara sederhana bisa diartikan sebagai semesta yang tak berwajah. Kosmik yang tanpa raut. Alam yang tak berparas. Di sinilah spiritualitas yang tertinggi bisa diunduh manusia yang tercerahkan. The supreme of spirtuality.

Ya, di area tanpa wajah tanpa raut muka inilah saya berdiri dalam senyap yang nyaris gelap.

Selengkapnya......