Selasa, Mei 22, 2007

Drama di Athena

Sebentar lagi, sepakbola Eropa akan menggelar hajat terbesarnya tahun ini: final Liga Champions 2007 antara AC Milan dan Liverpool. Kita tidak tahu drama macam apa lagi yang akan mereka suguhkan. Adakah seseru dan sedramatis perjumpaan mereka di final 2005 di Istanbul?

Jika mereka ingin mengetengahkan drama yang memesona, tak ada tempat sebaik Athena untuk mementaskan drama itu.

Di kota inilah buhul Sophocles menuliskan naskah-naskah drama yang hingga kini masih dipentaskan di mana-mana. Dan di sini pulalah, 2406 tahun sebelum Steven Gerard dan Paolo Maldini memimpin anak buahnya mengelar pertarungan yang mungkin akan sedramatis final 2005, Socrates sudah lebih dulu mementaskan sekaligus mengakhiri hidupnya yang unik dengan dramatis.

Ya, satu hari di tahun 399 SM, Socrates maju ke depan pengadilan Athena untuk menghadapi dakwaan telah merusak pikiran kaum muda Athena dan memertanyakan dewa-dewa sesembahan orang Athena.

Socrates tahu dia akan (di)kalah(kan). Tapi harga diri dan terutama prinsip filsafat yang dipeluknya hanya memberinya satu pilihan: maju ke depan pengadilan berhadapan muka dengan para penuntutnya.

Socrates mesti berhadapan dengan Meletos, Anythos serta Lycon. Tiga orang ini bukan siapa-siapa dibandingkan Socrates. Tetapi, tiga orang ini mustahil dikalahkan karena ketiganya mewakili tiga kelompok sosial yang paling berpengaruh di Athena pada saat itu. Meletos mewakili para penyair, Anythos mewakili para seniman dan negarawan dan Lycon mewakili musuh besar Socrates: kaum sofis.

Pada hari pengadilan, Socrates menyampaikan tiga buah pidato. Pada pagi hari, Socrates membacakan pledoi. Siang harinya, usai pemungutan suara yang memutuskan hukuman mati (280 suara meghukum Socrates dan 220 suara membebaskan) Socrates diijinkan membacakan pidato dan diberi kesempatan meminta pengampunan atau alternatif hukuman. Dan sore harinya, setelah pemungutan suara yang kedua menolak alternatif hukuman yang diajukan Socrates, dia kembali maju menyampaikan pidato perpisahan.

Tiga buah pidato Socrates, yang ditulis ulang oleh Plato menjadi buku Apologia itu, bagi saya, adalah salah satu rujukan intelektual paling tua dan sempurna atas apa yang disebut John Dewey sebagai konsepsi the art of principle (Bung Hatta menyebutnya sebagai “etik Socratik”). Etik Socratik merupakan anti-tesis dari rumusan Otto van Bismarck yang mengartikan politik sebagai “seni mencapai tujuan”.

Saya menyebut Apologia sebagai rujukan atas konsepsi the art of principle karena tiga buah pidato di hari terakhir Socrates itu sebagai contoh teoritis sekaligus praksis dari laku memertahankan prinsip-prinsip secara lugas, benderang, tanpa tedeng aling-aling dan nyaris keras kepala.

Berbeda dengan beberapa kaum sofis yang diadili, yang menyampaikan pledoi seperti anak SD sedang berdeklamasi, penuh dengan kalimat yang mengharu-biru, kadang dengan rengekan, dengan gerak tangan dan mimik yang mengharukan, terkadang dengan tetesan air mata, Socrates menyampaikan pembelaannya dengan kalimat yang terus terang, menyebut nama lawannya tanpa inisial, menghantam lawannya (terutama Meletos) dengan lugas, dengan tanpa rasa takut sekaligus tanpa kehilangan sedikitpun cira rasa kerendah-hatian dirinya yang sudah dikenal di delapan penjuru Athena.

Socrates menolak tawaran alternatif hukuman berimigrasi ke luar kota. Socrates memang mengajukan alternatif hukuman berupa denda sebesar 1 Mina. Tetapi karena denda 1 Mina yang diajukan Socrates murahnya gak ketulungan, maka alternatif hukuman ini lebih mirip satire. Socrates sendiri menolak tawaran bantuan 30 Mina yang ditawarkan para muridnya, antara lain Plato, Crito, Critobolus dan Apollodoros.

Jika drama Antigone karya Sophocles bisa disebut sebagai puncak warisan seni drama kebudayaan Athena, Apologia sebagai epilog kehidupan Socrates adalah versi lain dari semangat dramaturgi kebudayaan Athena dalam kehidupan nyata dan bukan semata di panggung Parthenon yang agung.

Inilah yang membedakan Socrates dengan Aristoteles, yang setelah kematian muridnya, Alexander the Great, juga diadili secara tak adil oleh musuh-musuh politik Alexander. Jika Socrates memilih tetap dihukum mati dan dengan demikian menyempurnakan Apologia sebagai rujukan intelektual sekaligus praksis dari the art of principle, Aristoteles lebih memilih untuk menyingkir ke luar kota.

Hal yang sama dengan Socrates bisa kita temukan pada sosok Thomas Moore, penulis buku klasik Utopia, yang memilih hukuman mati ketimbang mengesahkan pernikahan Raja Edward yang melanggar prinsip gereja Katolik Roma (Sila tonton film Man for All Season yang mengharukan itu).

Etik Socratik, sekali lagi, adalah anti-tesis dari rumusan Bismarck ihwal politik sebagai “seni mencapai tujuan” (baca: kemenangan). Dalam rumusan itu, politik dimengerti tidak hanya sebagai eufemisme (penghalusan) dari peperangan seperti diungkapkan Machiavelli, tetapi sebagai laku di mana tujuan menihilkan segala macam debat ihwal etika. Semua boleh asal tujuan terpenuhi. Segalanya halal sepanjang ada jaminan tujuan bisa direngkuh. Apakah itu dengan lobi-lobi di bawah meja, pertemuan tertutup di hotel-hotel, hingga transfer fulus ke rekening lawan politik.

Hari ini, ketika hidup tak lebih dari berhimpun deadline yang siap mengerkah jika tak ditaati, ketika politik tak lebih dari deklamasi dan tetek bengek pidato menjemukan kaum Sofis di Athena, Socrates kita ingat tak lebih seperti barang antik di museum yang kita kunjungi saat hari libur anak sekolah.

Di tengah hidup yang tak lebih dari berhimpun deadline dan saat politik tak lebih baik dari pidato-deklamasi kaum Sofis yang menjemukan, bisakah kita menemukan Socrates di lapangan hijau Athena? Ataukah Gerard, Peter Crouch, Xabi Alonsi, Kaka, Maldini dan Andrea Pirlo lebih tergoda memerlakukan final tahun ini dengan cara Bismarck?

Sepakbola adalah pengejawantahan dramaturgi dalam panggung yang lain. Tapi dalam sejarah sepakbola, kita mengenal ada drama yang menggairahkan dan ada juga drama yang menjemukan.

Final Piala Champions 2005 antara Liverpool dan AC Milan, final Piala Champions 1999 antara Mancester United dan Bayern Muenchen, adalah dua prototipe drama bola di pentas Piala Champions yang menggairahkan. Sementara final Piala Champions 2006 antara Barcelona versus Arsenal atau final Piala Champions 1995 antara AC Milan dan Ajax Amsterdam prototipe drama sepakbola yang menjemukan.

Sepakbola belakangan lebih mirip dunia politik. Keindahan dikalahkan oleh semangat memeroleh kemenangan. Kegairahan menggiring bola secara atraktif disingkirkan oleh tuntutan direksi klub yang lebih menginginkan trofi, karena jumlah trofi berbanding lurus dengan pemasukan dan laba.

Mestikah diherankan jika, misalnya, West Ham United menghinakan aturan main transfer demi mendatangkan Mascherano dan Carlos Tevez. Jangan heran juga jika Juventus, AC Milan, Lazio, dan Fiorentina lebih suka mendekati dan menyogok wasit ketimbang membiarkan Del Piero, Kaka, Di Canio, atau Luca Toni leluasa mengacak-acak pertahanan lawan. Mestikah diherankan jika Riquelme, yang gemar menguasai bola berlama-lama, ditendang dari skuad Yellow Submarine, Villareal, dan terpaksa mengepak koper dan terbang kembali ke kapung halamannya untuk bermain dengan River Plate.

Dalam praktik bermain bola, deretan fakta di atas seperti menegaskan apa yang dikatakan Sebastio Lazaroni, pelatih Brasil pada Piala Dunia 1990: “Sekarang bukan zamannya berindah-indah dengan bola!”

Ketika sepakbola modern makin pragmatis, taktis dan melulu menghamba pada hasil dan laba, sepakbola seperti kehilangan toleransi bagi para pemain yang hobi berlama-lama menguasai dan menahan bola.

Tetapi penonton punya kerinduannya sendiri, barangkali seperti kerinduan kita pada Socrates. Di tengah dahaga akan kemenangan dan tropi, penonton seperti masih menyimpan kerinduan untuk menyaksikan atraksi-atraksi ajaib para pemain bola.

Bagi sepakbola modern yang makin menghamba kepada bisnis dan hasil, pemain seperti Ronaldinho atau Riquleme yang senang mengolah bola seperti ditakdirkan menjadi antinomi bagi sepakbola modern. Pemain yang atraktif menggocek macam itu tak ubahnya seperti sepucuk puisi dalam masyarakat modern yang makin prosais.

Johan Cruyff, kapten Ajax Amsterdam yang merebut Champions pada 1976 dan kapten tim nasional Belanda yang gagal merebut Piala Dunia 1974, adalah pengejawantahan Socrates di lapangan hijau, yang lebih memilih bermain di garis prinsip sepakbola yang ia yakini, apa pun taruhannya.

Bersama Johan Neeskens dan Ruud Kroll, dan diotaki Rinus Michels (nabi mazhab total football), Cruyff memimpin Belanda melaju hingga final Piala Dunia 1974 di Jerman Barat. Di partai puncak, mereka berhadapan dengan tuan rumah, yang dikenal paling tahu bermain dengan cara sangkil dan mangkus, disiplin, kaku, dan karenanya layak disebut teknokratis.
Curyff dan Rinus Michels tahu bahwa jika ingin menang, mereka mesti berkompromi dengan keindahan mazhab total football dan bermain sedikit aman dengan membiarkan para gelandang bermain lebih ke dalam. Tapi mematok para gelandang pada satu posisi yang sedikit ajeg adalah pelanggaran terhadap prinsip total football yang menggariskan bahwa semua pemain adalah penyerang sekaligus bek. Semua bergerak turun ketika diserang, tak peduli dia adalah penyerang sekalipun. Semua-mua merengsek ke depan, tak peduli dia adalah seorang stopper sekali pun.

Belanda memilih untuk bermain sesuai prinsip sepakbola yang mereka yakini. Dan kita tahu, Belanda akhirnya tumbang oleh permainan sangkil dan mangkus ala panzer tim Jerman Barat. Usai pertandingan final yang memerihkan itu, Cruyff mengeluarkan pernyataan yang lebih mirip sebuah manifesto: “Kami memang kalah. Tapi kalah dalam keindahan.”

Kita berharap, Gerard, Crouch, Alonso, Kaka, Pirlo dan Seedorf mendengar harapan ini. Kita tidak ingin, para pemain Liverpool dan Milan bermain hati-hati dan menyibukkan diri dengan mengoper-oper bola di daerah pertahanan sendiri. Itu sungguh membosankan, sama membosankannya dengan pidato-pidato kaum Sofis di Athena yang penuh basa-basi. Kita berharap, para pemain Liverpool dan Milan melupakan lebih dulu bayangan trofi juara dan fokus bermain sesuai mazhab sepakbola yang mereka yakini.

Ya, bermain dengan prinsip mazhab masing-masing. Inilah the art of principle yang pernah ditunjukkan dengan sempurna oleh Johan Cruyff dan Rinus Michels pada final Piala Dunia 1974.

Kekalahan, asalkan bermain sesuai mazhab yang diyakini, setelah bermain dengan atraktif, menyerang dan indah, barangkali akan lebih dikenang ketimbang kemenangan macam Jerman Barat di final Piala Dunia 1990.

Mestikah diherankan jika orang masih mengenang Cruyff hingga kini, tapi berapa yang masih ingat pada Andreas Brehme yang mengeksekusi tendangan penalti yang memenangakan Jerman Barat atas Argentina pada final Piala Dunia 1990 yang menjemukan?

Federico Garcia Lorca, penyair Spanyol yang perlente nan klimis, dalam satu wawancara di New York pada 1928, pernah berkata: “Spanyol adalah satu-satunya tanah, di mana orang tidak bisa membayangkan hidup tanpa kematian.”

Socrates sudah menunjukkan lebih dulu bahwa Athena adalah salah satu tempat di mana orang bisa mendapatkan rujukan historis ketika membayangkan kematian dengan cara yang indah.
Saya tak tahu apakah Athena bisa mewujudkan mimpi saya atau tidak.

3 komentar:

udin mengatakan...

mana yang lebih penting. bermain indah atau menang, meski dengan menyuguhkan permainan di bawah standar jawara. saya pikir, bukan yang pertama, tapi lebih yang kedua. kemenangan, iya kemenangan apapun bentuk permainan itu. lha mau bermain seindah apapun, kalau kalah, ya kalah, dia akan meninggalkan kekecewan di mata pendukungnya. kalau ada yang bilang, meski MU kalah, tapi mereka sudah bermain indah, la ini kan bentuk menghibur diri, lari dari kesedihan, yeee...

menuju panggung jawara membutuhkan banyak sekali strategi. tak hanya bermodal strategi bermain indah. tapi bagaimana memahami permaianan lawan, memanfaatkan situasi dan pintar mengambil peluang. apakah cara ini picik, terlalu pramgmatis, saya kira ya tidak lah, bung. Belanda kalah meski telah menyuguhkan permainan indahnya, karena memang di beberapa lini mereka masih ada lobang. dan lobang itu yang dimanfaatkan oleh lawan. MU meski lebih banyak peluang, toh akhirnya kalah dengan Chelsea, saya kira memang selain faktor keberuntungan, strategi Chealse lebih unggul.

saya dulu atlit tenis meja andalan di sekolah. beberapa kali saya mewakili ke kejuaraan tingkat daerah. dan hasilnya selalu kalah. pernah masuk perempat final, cuma dapat juara harapan, dan ternyata nggak ada kategori ini. teman2 saya bilang, permaiananku sudah bagus. lebih bagus dari yang juara 1,2, dan 3. Saya pun merasa demikian. Tapi dalam hati kecil, saya tetap kecewa, kalah ya kalah. Saya terlalu banyak melakukan smash. saya tak bisa mengontrol, terlalu emosional, de el el..

begitu menurut saya, bung, pengamat bola kelas sudra ini, mantan atlit tenis meja di sekolah dan beberapa kali jadi juara di kampung, he

untuk pertandingan nanti malam, aku pegang AC Milan.

Anang mengatakan...

http://anangku.blogspot.com/2007/05/milan-champions-league-winner.html

Milan, Champions League Winner !!!!!

Reevan mengatakan...

Setengah jam yang lalu, AC Milan menang atas Liverpool dengan skor 2-1.
Sebuah kemenangan yang indah..
Milan berhasil membalaskan dendamnya dua tahun yang lalu di ajang yang sama. Milan menang karena DENDAM..
Namun haruskah kemenangan itu diraih dengan dendam?
Perlukah dendam itu dipupuk untuk terbebas dari kekalahan?
bukankah dendam itu menghasilkan energi lebih dalam usaha meraih kemenangan?
tapi kenapa kita tidak boleh menjadi orang pendendam?
why????