Sabtu, Juni 16, 2007

"Bu, Sekarang Jam Berapa?"

Rumah sakit adalah tempat terbaik untuk mengerti betapa tipisnya jarak antara harapan dan kecemasan.

Pada malam keempat menjaga adik kecilku yang diterjang demam berdarah, saya menyempatkan diri untuk menghabiskan beberapa batang rokok di halaman parkir Rumah Sakit Panti Rapih.

Saya lupa persisnya jam berapa. Tapi saat batang rokok kedua baru terhisap separuh, dua mobil memasuki halaman Panti Rapih. Dalam gerak yang ringkas, dari pintu belakang mobil terdepan, seorang lelaki tua turun. Seorang perempuan muda, berumur sekitar 20 tahunan, muncul dengan muka yang pasi. Ia sempat terhuyung sebelum dua orang petugas rumah sakit dengan sigap membopong dan menaikkannya ke ranjang beroda yang sudah disiapkan.

Selang beberapa menit, dua orang keluarga pasien perempuan muda itu berjalan cepat ke arah parkir. Salah seorang dari mereka menyebut-nyebut nama UGM, kampus yang hanya dipisahkan oleh jalan raya dengan rumah sakit ini. Saya, yang sedang menghisap rokok seraya menyandar di salah satu mobil yang diparkir, masih sempat mendengar bunyi lengkap kalimatnya: “Di dekat Kopma UGM ada ATM kok!”

Tentu saja rumah sakit bukan teller bank. Tapi siapa yang bisa menyangsikan kalau rumah sakit sekarang tak butuh ATM, persisnya kartu ATM?

Grauco Marx, seorang aktor komedi berkebangsaan Italia, pernah dengan satir menyebut ranjang rumah sakit sebagai “taksi dengan mesin penghitung tarif yang berlari”.

Itulah sebabnya, saya kira, kecemasan dan harapan bertumbukan dengan hebatnya di rumah sakit. Orang berharap bisa sembuh dari sakit. Tapi orang juga cemas: cukupkah uang yang saya punya untuk membiayai perawatan selama di rumah sakit?

Tapi kecemasan soal biaya adalah jenis kecemasan yang masih kalah merisaukan ketimbang kecemasan lain yang lebih menakutkan: Bisakah saya mengalahkan penyakit? Masih bisakah saya menikmati hidup lebih panjang?

Rumah sakit yang dilengkapi sederet dokter yang cakap, suster yang telaten dan alat medis yang komplit barangkali adalah tempat terbaik merawat orang sakit. Siapa pun layak untuk berharap kesembuhan di tempat ini melebihi tempat-tempat yang lain.

Tapi, semua orang juga tahu, rumah sakit adalah tempat di mana orang-orang sakit yang masuk stadium gawat dirawat. Orang seperti saya, yang tak punya asuransi dan tak cukup kaya, tidak akan sembarang masuk rumah sakit. Jika sakit sudah betul-betul tak tertanggungkan, rumah sakit barulah didatangi.

Di sinilah ironi itu tergelar. Rumah sakit bukan hanya tak bisa sepenuhnya meyakinkan para pasien dan keluarganya, tetapi justru membuat kecemasan itu menjadi lebih berlipatganda.

Rumah sakit adalah tempat di mana sekumpulan orang-orang yang cemas berdiam sekaligus berdo’a. Dan karenanya rumah sakit adalah tempat di mana kita bisa menyaksikan parade rasa cemas kapan pun kita mau.

Kadang kita tak bisa menyaksikan wajah pasien yang cemas karena ketidaksadarannya membuat ia tak sempat lagi merasa cemas. Dalam situasi demikian, kecemasan yang kita lihat hanya milik para pembesuk, keluarga si pasien, mungkin juga kekasih si pasien.

Sayang, saya justru menyaksikan bagaimana seorang pasien, adik saya sendiri yang diterjang DB, masih cukup sadar untuk merasakan cemas dan ketakutan. Malam itu, setelah meminum obat yang terakhir dengan setengah dipaksa, ketika suhu badannya berdiam di angka 40 derajat celcius, saat trombosit hanya tersisa belasan ribu saja, adik saya berdo’a dengan terbata-bata.

Do’anya sederhana. Dia meminta (1) agar lidahnya tidak pahit, (2) meminta agar cepat sembuh dan (3) agar bisa secepatnya minum es.

Matanya berkaca-kaca ketika ia menutup do’anya dengan bertanya: “Sekarang jam berapa?”

Saya tersedak mendengarnya. Ibu saya menjerit kecil. Saya tahu persis kenapa ia menjerit. Empat jam sebelum anak ketiganya meninggal oleh demam berdarah, 17 tahun silam, ia sempat melontarkan kalimat yang ternyata menjadi ucapannya yang terakhir: “Bu, sekarang jam berapa?”

Saya menyaksikan kecemasan di mana-mana. Di wajah ibu saya, di wajah adik saya, dan (tidak bisa tidak) di wajah saya sendiri.

Saya ingat penyair Prancis Charles Baudelaire. Dalam puisinya berjudul Les Fleurs du Mal, kurang lebih ia bersyair: “Hidup adalah rumah sakit dengan pasien-pasien terbaring yang berhasrat mengubah ranjangnya!”

Adik saya tentu saja tak tahu puisi itu. Saya pun tak akan memberitahunya. Sebab, dia sendiri sedang mengalami apa yang disebut Baudelaire sebagai “hasrat mengubah ranjang tidurnya”.

Tanpa hasrat itu, sekuat apa pun ikhtiar medis dan sederas apa pun do’a-do’a dipanjatkan, saya khawatir kesembuhan akan terasa makin jauh jaraknya.

Saya sedang cemas. Tak pernah saya menulis dengan begini cemasnya. Sungguh.

Lebih baik saya berdo'a!

15 komentar:

Joned mengatakan...

di rumah sakit, yg sakit badan itu memang si pasien..tp penunggu atau keluarganya seringkali merasakan sakit yg ga kalah drpd pasiennya. ada suster & dokter yg rajin jenguk dan kasih obat...keluarga si pasien cuma bs berharap pasien cepat sembuh biar biaya perawatannya ga menguras kristal keringat yg susah payah dikumpulkan. btw mas jejen, biaya org sakit yg opname d kelas paling bawah d RS selama seminggu hampir sama dgn biaya menginap d hotel bintang 2 selama seminggu...
hanya saja yg jelas perawatannya ga senyaman hotel tentunya

kw mengatakan...

semoga adiknya lekas sembuh. saya pernah mengalami hal yang sama: saat ini. tak di rumah sakit, tapi di tempat kerja. :)

firman firdaus mengatakan...

semoga lekas sembuh adiknya mas. banyak-banyak minum air putih.

erra mengatakan...

Kata "demam berdarah" sempat membuat hati saya bersedih beberapa waktu lalu. Karena itu saya berusaha supaya kata itu tidak membuat kamu dan keluargamu bersedih. Meski yg bisa saya lakukan, hanyalah ikut berdoa.

Anonim mengatakan...

saya cukup terharu mas, mudah-mudahan adiknya cepat sembuh.

megono_sangit mengatakan...

saya juga pernah mengalami kondisi serupa, keep strong bro..

Arya mengatakan...

Skarang gmn Zen? dah baikkan kah adekmu?
semoga cepat sembuh dan tdk ada lagi tragedi gara2 demam berdarah :D

kuli mengatakan...

ahai.. aku tak berani berkata. hanya berdoa...

Okky P. Madasari mengatakan...

Mas Zen, ikut berdoa juga yaa moga adiknya cepet baikan..aku baru pulang dari jogja tadi pagi, sayang baca blog mu telat..siapa tahu bisa ktemu di panti rapih..

tukrabul-aqdam mengatakan...

Alhamdulillah.. situasi ini membuat zen berdoa.

aku yang komunis-oportunis ini ikut berdoa juga buat adekmu. :D

Tn. Moeda Eddward nan gagah mengatakan...

Dulu, waktu ane masih punya umur masih 4 tahun, ane juga ngerasain juga gimana kurang ajarnya takdir dalam bertindak.
Ade ane, Monalisa dia punya nama, rentang kita punya umur 2 tahun. Dia meninggal karena ada kelainan dilambungnya. Ga ada 1 pun makanan yang masuk, air kecuali.
Ane ga punya perasaan sedih waktu itu, bingung mungkin. 4 hari kemudian Monalisa meninggal, dan memang seperti udah dipastikan, kuburan pun udah dipersiapkan berikut komando dari RT setempat dan Karang Taruna.
Ane menyaksikan prosesi penguburan tersebut. Sekali lagi, cuma bingung yang ane rasain. Pertanyaan bau kencur pun keluar dari ane punya mulut buat ibu, "Lisa mau diapain bu?" "Mau pindah tempat tidur" jawab ibu datar. Ane sempat tanya juga kenapa ibu nengis, lagi-lagi beliau cuma jawab datar sambil menyeka air matanya dengan senyuman.
Kalo sekarang Lisa masih hidup, dia pasti udah jadi sarjana. Cita-cita yang selalu didambakan ibu pada anak-anaknya.
Jauh kedepan, terlebih setelah ane baca ente punya tulisan, air mata ane yang gantian keluar. Gaya ibu ane yang gantian ane pake. Menarik nafas panjang, dan menghela datar: "Semoga kamu bahagia disana."

Soru cuma bisa komentar ini..
Doa ane tersulur buat ade ente..
Salam thulus: Panjoel..
Cepet sembuh de'...

mei mengatakan...

tulisannya benar2 menyentuh, semoga sang adek cepat sembuh...doa yang tulus aku panjatkan...

Nufus mengatakan...

nasib kita tak jauh beda. 17 tahun silam mas zen ditinggal pergi sang adik. belum genap satu bulan salah seorang anggota keluargaku pun terpaksa meregang nyawa karena penyakit laknat yang sama. ia istri dari adik bungsu ibuku. belum terlalu lama ia masuk anggota keluargaku. baru sekitar empat atau lima tahun, aku sedikit lupa. sebetulnya aku tidak terlalu mengenal sosok cantik berparas pasi itu, karena memang kami tinggal di kota yang berbeda. kalaupun sesekali bersua, paling-paling idul fitri, itupun kalau nasib membawaku untuk bernostalgia dengan kampung halaman. sedih jelas. tapi entah mengapa tak ada air mata jatuh barang setetespun. terasa kering kelopak ini. hanya saja rasa menyayat begitu dalam.
saya doakan, semoga sang adik lekas sembuh. hingga benar-benar bertanya, Bu, sekarang jam berapa, tanpa tendensi menakutkan.

lida mengatakan...

Aku bersyukur dia sembuh.

Tussie Ayu mengatakan...

Semoga doa adiknya terkabul...meskipun akhir-akhir ini keajaiban sulit sekali datang...