Kamis, Juni 28, 2007

Selamat Jalan, Nugie....

"De te fabula narratur! Tentang Engkaulah hikayat ini dituturkan."
-- Horatius


Nugie, kematianmu yang tiba-tiba membuatku sadar satu hal penting: Maut ternyata bisa membuat kenangan yang biasa menjadi lebih berarti.

Saya banyak mencatat kematian orang-orang penting, nama-nama tenar, atau tokoh-tokoh besar. Saya mencatat kematian mereka karena saya anggap orang-orang itu sudah meninggalkan sesuatu yang penting, mewariskan sesuatu yang berharga dan pantas untuk diabadikan. Mereka pernah berkarya, menghasilkan satu peninggalan yang berharga buat umat manusia, setidaknya sejumlah umat manusia, mungkin juga untuk bangsa ini.

Kamu tidak, Nug. Kamu anak muda biasa, yang belum menghasilkan sebuah karya yang “wah”, tak meninggalkan sebuah milestone yang layak dikenang oleh banyak orang dan tidak pula menelurkan satu portofolio yang layak dimuat di koran-koran.

Kamu hanya seorang anak muda dari metropolitan yang datang ke Jogja untuk kuliah di jurusan yang sama sekali bukan favorit, yang saking nggak lakunya… sampai-sampai teman sekelasmu hanya 15 orang. Dan kamu pun ssempat meragukan masa depanmu, seperti kawan-kawanmu yang lain, seperti kawan-kawan seangkatanku juga, mungkin seperti aku juga. Apalah arti ijazah sebuah jurusan tak laku dari sebuah kampus negeri kelas medioker?

Kita juga bukan kawan karib, kendati kita lumayan sering bercakap-cakap, terutama di pekan-pekan terakhir kehidupanmu. Kamu mungkin hanya akan mengingatku sebagai “seniormu”, “simbahmu” di jurusan, julukan yang melekat di jidatku karena akulah mahasiswa angkatan pertama di jurusan kita yang setelah tujuh tahun kuliah ternyata masih juga berstatus mahasiswa.

Jika kamu tak mati kemarin, kamu baik-baik saja, bisa terus kuliah, diwisuda, jadi sarjana, lantas bekerja di kota lain dan kita pun tak bertemu kembali, mungkin ingatanku tentang mu pun akan lewat begitu saja tanpa sesuatu yang berarti.

Aku pun sebelumnya hanya mengingatmu tak lebih sebagai “adik angkatanku” satu-satunya yang berasal dari Batavia, mungkin satu-satunya mahasiswa di jurusan kita yang bicara dengan dialek Batavia yang kental. Tak lebih dan tak kurang. Hanya itu ingatanku entangmu, barangkali.

Seandainya kamu tidak mati semendadak ini, Nug, aku pun mungkin tak akan pernah mencatatkan namamu di sini. Tapi karena kamu mati dengan cara yang begitu tiba-tiba, maka epitaf ini saya pahat pelan-pelan. Begitu pelan, bahkan.

Tadi malam, Nug, aku dengar kabar kematianmu. Terlambat tiga hari kabar itu sampai. Kabar itu sampai saat aku sedang duduk di sebuah kursi warung kopi, dekat jendela yang terbuka, yang membuatku bisa leluasa memandangi Pasar Ngasem yang senyap pada dini hari yang dinginnya begitu mencucuk.

Tks, kawan sekantorku, yang juga kawanmu, mengabariku ihwal kematianmu.

Dia menyesalkan satu hal, Nug. Sewaktu si Tks sedang mengusahakan donor darah buatmu, dia mengalami sejumlah kesulitan. Setelah menahan jengkel pada birokrasi yang berbelit di rumah sakit tempatmu di rawat, dia bersama tiga kawanmu pergi ke sebuah tempat yang biasa didatangi orang yang mencari donor darah.

Di sana perkara ternyata tak kalah ribet. Dia baru ngeh bahwa bahkan ketika dia sendiri hendak mendonorkan darah buatmu, dia masih juga dimintai biaya. Dia, dengan demikian, membeli darahnya sendiri.

Setelah “uang administrasi” itu beres, urusan ternyata belum kelar, karena sejumlah keruwetan lain membuat urusan donor itu tak selekasnya kelar.

Dengan nada masygul, dia, si Tks itu, sempat mendamprat petugas di sana dengan kata-kata yang kurang lebih berbunyi: “Ngenteni opo meneh toh? Ngenteni wong-e selak modar poh piye?” (“Nunggu apa lagi, sih? Nunggu sampai orangnya matu dulu?”)

Dia menyesal, Nug, telah mengeluarkan kata-kata itu. Dia mengucapkan penyesalannya dengan wajah yang merunduk dan dengan suara yang tertahan. Dia sadar bahwa ajalmu tak ada urusannya dengan kata-kata “ngenteni wong-e selak modar poh piye?” yang ia semburkan pada petugas yang mengurusi donor dengan bertele-tele itu. Tapi tetap saja dia menyesal.

Dari dia lah saya tahu bahwa kematianmu ternyata tak mampu meneteskan satu butir pun air mata dari kawan-kawan yang membawamu dan menungguimu di rumah sakit. Ibu mu pun tak menangis. Juga kakak mu. Semua diam. Terlongo.

Tks berkomentar begini: “Dia (maksudnya kamu, Nug) hanya teman biasa, yang tak begitu akrab, tak begitu ku kenal. Nggak ada yang spesial banget-lah.”

Dalam hati saya pun berpikir hal yang sama dengan Tks. Tapi, saya masih ingat, saat Tks mengungkapkan itu, saya langsung berkomentar spontan dan cepat:

“Kematiannya itulah yang membuat dia (maksudnya kamu, Nug) punya sesuatu yang akan dikenang secara khusus.”

Tks mengangguk. Mengiyakan kata-kataku barusan. Ya, kematianmu dan caramu direnggut maut itu yang membuat ada sesuatu dari dirimu yang akan kami kenang.

Sekarang saya jadi ingat lebih banyak tentangmu. Saya ingat gigi kelinci mu. Juga wajahmu yang putih dan tirus. Saya jadi begitu ingat senyummu yang seperti orang menyeringai.

Ah, saya ingat satu lagi: kita sama-sama belum membereskan nilai Bahasa Belanda I yang belum keluar. Ya, saya ingat itu.

Saya mengulang mata kuliah itu untuk ketiga kalinya di kelasmu, setahun silam. Dan, sewaktu ujian, jadwal ujian dimajukan dan kita tak tahu perubahan jadwal itu. Jadilah kita dua orang yang tak ikut ujian dan tertahan nilainya.

Ah, saya belum sempat mengurus nilai mata kuliah sialan itu, padahal kalau tidak salah ingat, saya pernah berjanji untuk menguruskan nilaimu. Fuih! Kini kau tak perlu berurusan dengan tetek bengek macam itu lagi.

Kematianmu juga memaksaku menyaksikan sebuah kepergian yang tak biasa.

Aku terbiasa menyaksikan satu per satu teman seangkatanku lulus dan diwisuda. Aku juga menyaksikan satu per satu adik-adik angkatanku pergi meninggalkan kampus dengan toga. Kini, aku diberi pengalaman “menyaksikan” adik angkatanku, kamu, Nug, juga pergi meninggalkan kampus, tetapi kali ini kepergian tanpa toga.

Sebuah kepergian yang dari sana kau tak akan pernah kembali.

6 komentar:

firman firdaus mengatakan...

mmm, ikut berempati buat Nugie. Dan berduka cita pada birokrasi.

erra mengatakan...

Disini (di Jakarta maksudnya) juga sedang dan masih terjadi birokrasi semacam ceritamu, Zen. Seorang karyawan, teman kita, yg kecelakaan motor, hampir saja tidak tertolong hanya karena urusan ASURANSI atau DIBAYAR PERUSAHAAN. Untung mereka ditanggung perusahaan, jadi tak perlu melihat suster yang menusuk-nusukkan jarum suntik di segala sisi lengan hanya untuk "menunggu waktu".

Sekarang pun sambil menunggu operasi kedua, istri dan anak dan mertuanya terpaksa tidur di emperan depan kantor agar tak terlambat pagi2 datang ke rumah sakit. Hanya karena kerabat tak diperbolehkan menginap meski di kursi tunggu. Oh..

Turut berduka buat temanmu, juga buat pelayanan kesehatan di negeri ini.

tukrabul-aqdam mengatakan...

Dan birokrasi kesehatan serupa itulah yang "mempercepat kematian" ibuku.

Jika kita jadi mereka, akan sempatkah kita berpikir seperti ini?

Atau jangan-jangan malah sedang memainkan peran sama, saat ini juga, di posisi (yang rasanya) berbeda.. :)

nazat mengatakan...

Aku turut berduka cita atas "kepergian" temanku Nugie...
Semoga Arwahmu Tenang Disana

Gaspar mengatakan...

hi..salam kenal, saya musafir. turut berduka cita atas "Nugie". Semoga Arwahnya di limpahkan rahkmat.

kirana mengatakan...

selamat jalam Nug...