Senin, Juli 02, 2007

Nama Saya: Tirtoadhisoerjo!

:: Tanggapan buat Andreas Harsono dari Yayasan Pantau (Jilid I)

"Quid Rides, Tirtoadhisoerjo?
Mutato nomine, de te fabulla narratur!"

Saya senang bukan main Anda memberi sejumlah komentar pada project “Seabad Pers Kebangsaan” yang sedang digarap oleh lembaga tempat saya bekerja. Komentar-komentar Anda dengan sangat senang hati saya cermati sebagai masukan, terutama, bagi diri saya sendiri.

Sebagai sebentuk kritik, komentar-komentar Anda tentu saja adalah berkah. Menjadi berkah karena mereka yang menggarap project ini tak perlu repot-repot meminta Anda membaca dan memberi komentar, seperti juga mereka tidak perlu repot-repot mengalokasikan “budget” untuk kritik-kritik yang Anda berikan –seperti yang sering Anda bilang: “Kritik adalah konsultasi gratis”.

Lagipula, komentar-komentar Anda menunjukkan satu hal penting: hasil project ini ternyata tak hanya dibaca, tetapi bahkan juga diapresiasi dengan serius, sampai-sampai Anda merasa perlu berkonsultasi dengan sejumlah rekan Anda sebelum menanggapi jawaban rekan saya, Agung Dwi Hartanto.

Tidak ada yang lebih membahagiakan seorang penulis selain tulisan-tulisannya ada yang membaca dan mengapresiasi. Rasanya elok juga menyadari salah satu yang “mengapresiasi dan memberi perhatian memadai” pada project yang digarap anak-anak muda yang tiga perempatnya masih berusia di bawah 25 tahun adalah orang sekaliber Anda.

Terus terang, saya tak ikut menggarap project tersebut, baik dalam tahapan kuratorial, riset, penulisan, dan penyuntingan. Tetapi, tentu saja, saya “satu atap” dengan orang-orang yang menggarap project itu.

Sebagai “orang dalam”, yang tak terlibat langsung tapi intens mengikuti perjalanan project ini, saya punya sejumlah umpan balik yang ingin saya ajukan pada Anda, terutama berkait dengan jawaban yang anda berikan pada rekan saya, Agung Dwi Hartanto.

Tentu saja ini bukan sebuah “jawaban resmi”, melainkan sekadar sebentuk diskusi pribadi antara saya dengan Anda. Dan saya pun tak merepotkan diri dengan berkonsultasi lebih dulu dengan rekan-rekan saya.

Soal pribumi dan non-pri yang anda khawatirkan.

Saya membaca cukup banyak literatur ihwal nasionalisme, dari yang sifatnya teroritik hingga historik. Soal “pribumi” (native) dan “non-pri” selalu menjadi pokok penting yang selalu dibahas, dan dalam level tertentu, pernah menjadi salah satu kriteria perumusan “bangsa”, terutama di awal-awal prosesi perumusan dan kelahiran sebuah bangsa. Ini berlaku di banyak sekali tempat, baik di Indonesia, Filipina, Vietnam, hingga nasionalisme di Amerika Latin yang sudah muncul sejak akhir abad 18.

Kriteria “pribumi” dan “non-pri” ini niscaya akan kembali ke permukaan dalam setiap embrio kemunculan gerakan perlawanan atas sebuah negara, khususnya dalam apa yang kita sebut sebagai “etno-nasionalisme”, dalam segala artikulasinya, termasuk soal “rambut lurus” dan “rambut kriting” seperti yang Anda singgung.

“Pribumi” dan “non-pri” adalah satu subyek penting dalam perumusan “nasion”, baik dalam konteks nasionalisme maupun etno-nasionalisme. Tetapi cukup jelas juga, subyek “pribumi-non pri” bukanlah satu-satunya subyek.

Rekan saya Agung DH, dalam jawabannya kepada Anda, saya kira baru menyinggung satu pokok itu saja, dan belum yang lain. Tentu saja itu tidak memuaskan. Pemilihan Medan Prijaji dan Tirtoadhisoerjo sebagai tonggak jauh lebih kompleks dari sekadar debat soal “pribumi dan non-pri” – sesuatu yang belum secara memadai diungkapkan oleh Agung dalam jawabannya. Tanggapan ini, anggap saja, sebagai suplemen dari apa-apa yang belum secara memadai diungkapkan Agung (kendati saya tidak sedang mewakili Agung)

Tirto dengan Medan Prijaji dipilih setelah dilakukan penelusuran yang langsung menyambangi sumber-sumber primer, dan tak bergantung pada teks-teks sekunder yang diproduksi orang lain, entah itu Ben Anderson, Takashi Shirasishi, Ahmat Adam, Daniel Dhakidae, Claude Salmon hingga Pramoedya.

Saya pribadi memiliki dan membaca teks-teks itu dengan kadar keseriusan seperti bagaimana Anda membacanya. Teks-teks sekunder itu dibaca sebagai petunjuk awal, sumber untuk mengkonfirmasi, dan terutama untuk memahami konteks historis.

Hampir semua koran-koran dan teks-teks yang digarap oleh Tirtoadhisoerjo yang bisa diperoleh dipelajari secermat yang saya mampu. Hasilnya lumayan melimpah dan teks-teks yang dihasilkan Tirto itu dikumpulkan dan sedang digarap untuk diterbitkan dalam satu buku utuh yang tebalnya, saya prediksi, akan menyamai setidaknya tebalnya novel “Jejak Langkah”.

Dalam penelusuran yang bergantung langsung pada sumber-sumber primer itulah, apa boleh buat, hipotesis Pramoedya ihwal Tirto dan Medan Prijaji sebagai “Sang Pemula” “belum” bisa saya bantah.

Tentu saja saya tahu soal Bataviase Nouvelles dan Soerat Chabar Betawi, seperti juga saya tahu dan pernah membaca tulisan sebagian besar nama yang anda comot dari Ben Anderson itu, baik F. Wiggers, H. Kommer, Tio Ie Soei, Marah Sutan, G. Franscis, Soewardi Soerjadingrat, ter Haar, Mas Marco, Kwee Kek Beng, dan J.H. end F.D.J Pangemanann pakai dua 'n'. Saya juga tahu dengan persis kalau Medan Prijaji bukan surat kabar tertua di Hindia Belanda.

Tetapi saya cukup awas untuk menyadari satu hal pokok: Tirtoadhisoerjo dengan Medan Prijaji-nya adalah “satu organisme” yang mendahului yang lain dalam perkara menyadari, merumuskan, mengartikulasikan dan mengusahakan konsep “bangsa”, yang dalam bentuknya yang lebih lanjut menjadi apa yang kita kenal sebagai Indonesia.

Inilah yang menjadi pokok alasan pemilihan Medan Prijaji dan Tirto, dan bukan karena Tirto adalah pribumi sementara yang lain adalah non-pri. Sama sekali tidak.

Seandainya Sin Po (koran yang dikelola Tionghoa peranakan) ternyata adalah koran pertama yang melakukannya, saya dengan senang hati menunjuk Sin Po. Seandainya De Express (yang dikelola untuk menyuarakan suara kaum peranakan Belanda) adalah koran pertama yang melakukannya, saya dengan hati riang akan menunjuk De Express. Pengandaian yang sama berlaku pada Tjahaja Sijang, Pembrita Betawi, Slompret Melajoe, Wiggers, Pangemann, Kommers, ter Haar, atau yang lain.

Saya tahu persis bahwa Medan Prijaji bukanlah koran pertama berbahasa Melayu. Tetapi, sejauh saya membaca koran-koran yang hidup pada dekade terakhir abad 19 dan dekade pertama abad 20 yang bisa saya jangkau dan saya cermati sedetail yang saya mampu, Medan Prijaji adalah “Sang Pemula” dalam menggunakan “bahasa Melayu” sebagai alat ampuh merumuskan, mengartikulasikan dan mengusahakan konsep “bangsa”, yang dalam bentuknya yang lebih lanjut nyaris presisi dengan apa yang kita kenal sebagai Indonesia.

Untuk memersingkat, salah satu (bukan satu-satunya loh) kunci untuk memahami perbedaan bahasa Melayu yang digunakan Tirto dalam Medan Prijaji dengan koran-koran lain terletak pada jargonnya. Di situ tercetak kriteria mereka “yang terprentah”. Terprentah oleh siapa? Terprentah oleh pemerintah yang kolonialis dan rasis.

Tirto sudah membayangkan seperti apa “kebangsaan” dalam bentuknya yang nyaris presisi dan hanya meleset karena Indonesia “mencaplok” Timor yang tak terprentah oleh Belanda. Saya harus bilang, debat di sidang I BPUPKI soal wilayah Indonesia hanya mengulang dari apa yang nyaris setengah abad sebelumnya sudah dirumuskan oleh Tirto.

“Terprentah” dalam kosa kata “Medan Prijaji” tidak dimengerti sebagai kata benda, melainkan kata kerja: sebuah konsepsi yang dalam kesadaran Tirto dimengerti sebagai sebuah “project”, sesuatu yang mesti diolah, dikerjakan, dan diberi-bentuk. Belum pernah ada kesadaran ihwal “orang jang terprentah” semacam itu yang lantas diartikulasikan dengan begitu terus terang di masa sebelum-sebelumnya, sampai-sampai dipajang sebagai jargon Medan Prijaji.

Dan Tirto tidak hanya mengambil sikap untuk memihak “mereka yang terprentah”, tetapi bahkan mengerahkan segala yang ia miliki dalam project yang rumusannya sudah ia rumuskan semampunya itu.

Artikulasi dari suara Tirto berbeda sekali dengan artikulasi Kartini, F. Wiggers, H. Kommer, Tio Ie Soei, Marah Sutan, G. Franscis, ter Haar, Kwee Kek Beng, apalagi Pangemann (bandingkan, Pangemann pernah bilang kalau pers baru bisa urus politik setelah warga Hindia Belanda sejahtera, sementara Tirto bersuara: politik dulu, baru bisa sejahtera. Konservatif sekali bukan si Pangemann dengan itu?).

Saya membuka diri pada kemungkinan bahwa nama-nama yang anda comot dari Ben Anderson itu juga bekerja demi “kebenaran”.

Tetapi jika dan hanya jika Anda membaca dengan cermat teks-teks yang dihasilkan Tirto dan bukan memasrahkan argumen Anda pada teks-teks sekunder (entah itu Ben, Salmon atau Dhakidae), Anda baru punya peluang untuk menyadari betapa berbedanya bahasa Melayu yang digunakan Tirto dengan yang digunakan oleh nama-nama yang Anda comot dari Ben Anderson, apalagi dari (apa boleh buat) bahasa Melayu yang digunakan oleh Kwee Kek Beng.

Sayangnya Anda memamah begitu saja Ben Anderson, sama seperti ketika Anda dengan “cukup naif” memamah begitu saja paparan Rahman Tolleng ketika Anda menulis tentang struktur federasi Republik Indonesia Serikat di blog Anda(sudahkah Anda membaca komentar saya atas tulisan Anda itu?)

Dari nama-nama yang Anda comot itu, perkecualian harus saya berikan pada Ki Hadjar (dan Marco tentu saja), terutama lewat teksnya Andai Saya Orang Belanda (itu pun awalnya ditulis dalam bahasa Belanda).

Tapi Anda pasti tahu kapan Ki Hadjar dan Marco menulis, seperti juga saya yakin Anda amat tahu kapan Kwee Kek Beng berkiprah dan mengampanyekan “nasionalisme negeri Tiongkok ala Sun Yat Sen” lewat Sin Po (dalam kasus gagasan nasionalisme-nya Kwee Kek Beng dan Sin Po, saya cukup heran, Anda tidak menyadari perbedaan mendasar yang amat sangat telanjang dan begitu sepele ini).

Tirto-lah Sang Pemula yang paham dan secara sadar menggunakan bahasa Melayu sebagai “alat politis” untuk mengampanyekan sesuatu yang politis. Bahasa Melayu Tirto bukan sekadar lingua franca, tetapi sesadarnya dipilih sebagai alat yang ia yakini paling ampuh untuk mengartikulasikan gagasan “bangsa yang terdiri atas orang-orang yang terprentah”.

Ketika Yamin mengampanyekan bahasa Melayu sebagai bahasa pemersatu di Kongres Jong Sumatranen Bond pada 1923, Yamin hanya tinggal meneruskan dalam cara yang lebih modern hal-hal yang sudah dilakukan Tirto sebelumnya dengan penuh keinsyafan.

Pendeknya, ada selisih “framming” antara bahasa Melayu Tirto dengan bahasa Melayu yang digunakan yang lain. Ini soal selisih “paradigma”, jika Thomas Kuhn bisa disebut di sini.

Anda benar ketika menulis “Mereka (Kommers, Pangemann, dkk) bekerja keras menyampaikan kebenaran”. Tetapi project ini tidak sedang mencari-cari sejarah “para penyampai kebenaran”. Project ini sedang menapaktilasi jejak-jejak gagasan kebangsaan (nasionalisme) dalam surat kabar.

Saya agak kurang ajar jika, misalnya, melupakan jasa Multatuli yang menulis Max Havelaar dalam upaya memahami arus transformasi di Hinda Belanda. Tetapi apa boleh buat, Multatuli tak mungkin masuk sebagai orang yang ikut merumuskan “nasion” Indonesia.

Bukan karena ia menulis dalam bahasa Belanda dan bukan juga karena ia non-pribumi. Tetapi yang terpenting, Multatuli menulis masih dalam framming Belanda sebagai “kepala keluarga” Hindia Belanda, di mana “perbaikan” (bedakan dengan “perubahan”) yang diharapkan masih dalam framming Belanda sebagai penguasa. Framming konservatif ini pula yang mencuat dari semua kritik-kritik yang diberikan Kartini kepada pemerintah kolonial.

Karena Tirto sudah keluar dari framming itulah, mestikah diherankan jika pemerintah kolonial bahkan memerintahkan secara khusus penasihat urusan Pribumi (Rinkes) untuk mengawasi Tirto secara intensif, mengumpulkan semua bahan-bahan tentang Tirto, mencatat semua ucapan dan prilaku Tirto dan mengarsip semua tulisan Tirto.

Tirto diawasi begitu ketatnya, dibayang-bayangi, diganggu secara diam-diam, dihancurkan pelan-pelan. Sampai-sampai Tirto tak sadar kalau dia tak lagi bisa menginap di hotel yang ia miliki karena dengan cara culas hotelnya sudah dikondiskan untuk diakuisisi oleh sahabatnya sendiri (Goenawan).

Tirto tidak hanya dibuang, tetapi juga digerogori mentalnya dengan teknik seperti yang diterangkan Foucoult ketika membahas penjara Panopticon-nya Jeremy Bentham (atau “Rumah Kaca” dalam frase-nya Pramoedya atau “aquarium” dalam frasenya Petrus Blumberger ketika mengkaji awal tumbuhnya gerakan komunis di Hindia Belanda).

Mestikah diherankan jika Tirto menjadi oleng jiwanya alias gila di tahun-tahun terakhir kehidupannya?

Tirto mendapat “kehormatan” sebagai orang pertama di Hindia Belanda yang diperlakukan seistimewa itu, bukan F. Wiggers, H. Kommer, Tio Ie Soei, G. Franscis, Multatuli, ter Haar, J.H. Pangemanann, atau F.D.J Pangemanann, terlebih (apa boleh buat) Kwee Kek Beng yang hingga akhir tahun 1920-an masih juga keukeuh menjadi juru kampanye gagasan nasionalisme negeri Tiongkok-nya Sun Yat Sen melalui surat kabar Sin Po.

Jika pemerintah Hindia Belanda saja sampai memerlakukan secara khusus Tirto dengan cara yang tak pernah mereka lakukan sebelumnya, saya kira, itu menandakan satu hal yang cukup benderang: Tirto bergerak dengan cara yang tak pernah dilakukan oleh orang lain sebelumnya, sesuatu yang tak pernah dihadapi oleh pemerintah kolonial sebelumnya.

Apa itu? Bagi saya, itu adalah rumusan Tirto ihwal “bangsa” dan “kebangsaan” yang sudah melampaui Kartini atau Multatuli, sebuah rumusan yang sudah “murtad” dari framming Belanda sebagai “penguasa sekaligus orang tua”, yang rumusannya 95% sama dengan apa yang muncul pada 1945.

Sebagai “sebuntal konsepsi teoritik, Anda benar ketika menyebut “nasionalisme berasal dari luar”. Tetapi perlawanan terhadap penjajahan, yang dalam bentuknya yang modern kita sebut nasionalisme, adalah sebuah arus zaman yang tak tertolak, ada atau tidak teorinya.

Orang ingin merdeka karena ia tahu rasanya tidak merdeka. Kenapa Saijah dalam cerita Max Havelaar melawan marsose, sang penjaga ketertiban? “Karena kerbau hamba diambil Ki Demang, tuan,” jawab Saijah. Anda akan menemukan jawaban sederhana tapi jelas itu jika membaca Max Havelaar dengan cermat.

(Lain waktu kita bisa berdebat secara khusus ihwal lebih mana dulu: teori atau kenyataan? Sebuah debat panjang yang sudah dimulai sejak Plato dengan konsepnya ihwal "dunia idea" sebagai wakil paling purba dari aliran idealisme dan Bacon atau Hume dengan konsepsi empirisme khas Inggris)

Tirto berbeda dengan Soekarno yang hobi betul mengutip Hans Kuhn atau Ernest Renan atau Otto Bauer. Tirto tak pernah kutip mengutip teori-teori tentang nasionalisme. Project kebangsaan yang ia gelar berhulu dari pengalaman empirik dan ia menghayati sepenuhnya sebagai kerja-kerja empirik. Ia bukan dan belum sempat menjadi pengobar teori-teori nasionalisme, ia adalah seorang aktivisnya.

Dia bekerja, mengadvokasi dengan senjata pena yang disiarkan di koran yang ia terbitkan sendiri dan ia menyediakan diri dan waktunya 24 jam sehari, dengan modal yang tidak tergantung pada bantuan pemerintah, dan ia juga mencari nafkah dengan cara seperti itu.

Dalam kriteria-kriteria itu, saya berani bilang, Tirto adalah archetype dari generasi baru pemimpin pergerakan yang bekerja sebagai orang merdeka, tidak bergantung pada bantuan pemerintah, yang bekerja 24 jam sehari dan 7 hari seminggu dengan mencatat realitas dan berusaha semampu mungkin mengubah realitas itu menjadi seperti yang ia bayangkan dan ia hidup dari pekerjaan yang itu juga.

Anda juga berkali-kali menyebut Tjahaja Sijang. Baiklah, saya ikuti logika Anda yang menyebutkan Tjahaja Sijang yang diterbitkan oleh NZG yang melahirkan Gereja Masehi Injili yang pengaruhnya di Minahasa setara dengan Nahdlatul Ulama di Pulau Jawa.

Tidakkah anda mengerti bahwa Nahdlatul Ulama mulanya berdiri di bawah naungan gagasan “keagamaan” dan diasuh oleh semangat memertahankan tradisi dan pengetahuan lokal dalam beribadah.

Tirto bergerak tidak di dalam kategori “agama” (Islam dalam kasus NU dan Kristen dalam kasus Gereja Masehi Injili), “lokalitas dan primordialisme” (Jawa dalam kasus NU dan Minahasa dalam kasus Gereja Masehi Injili), sesuatu yang justru menjadi argumen dan semangat awal pendirian NU yang Anda sebut sebanding pengaruhnya dengan Gereja Masehi Injili di Minahasa.

Tidakkah Anda menyadari hal sepele yang begitu telanjang itu ketika menyebut-nyebut NU?

Lantas bagaimana dengan pers Tionghoa dan peranakan Tionghoa atau pers Belanda dan peranakan Belanda?

Singkat saja:

Orang yang masuk kategori peranakan Belanda yang bergerak di luar kerangka framming kolonialisme baru muncul secara sistematis ketika terbentuk ISDV di bawah pengaruh Sneevliet dan Indische Partij melalui Douwes Dekker/Setiabudhi. (Anda bisa membaca laporan Petrus Blumberger sebagai laporan yang tertua atau laporan Frances Gouda yang paling mutakhir dalam soal persepsi orang-orang Belanda atau peranakan Belanda ihwal kebangsaan di Hindia-Belanda)

Bagaimana orang (peranakan) Tionghoa? Bahkan setelah abad 20 sudah masuk dekade ke-3, mereka masih meributkan tiga pilihan: (1) bergabung dengan nasionalisme Tionghoa di tanah Tiongkok ala Sun Yat Sen seperti dibela terutama oleh Kwee Kek Beng dengan Sin Po-nya atau (2) “merapat” pada pemerintah Hindia Belanda seperti yang ditunjukkan Chung Hwa Hui (CHH) yang berkecenderungan ekslusif.

Kesadaran untuk ikut aktif mengusahakan kebangsaan Hindia Belanda muncul dengan artikulasiy ang jelas setelah berdiri Partai Tionghoa Indonesia (PTI). Kapan itu? Pada 1932. Sejak itulah, bisa dibilang, baru muncul pers Tionghoa dengan cara berpikir yang nyaris sepenuhnya menyepakati gagasan nasionalisme Indonesia lewat koran Sin Tjit Po. (Sin Po, CHH dan PTI menjadi wakil dari apa yang disebut sebagai "tiga aliran politik bangsa Tionghoa" di Hindia Belanda)

(Bandingkan, Boedi Oetomo saja sudah tobat dari nasionalisme ke-Jawa-annya pada 1927.)

Saya kutipkan artikel edisi Sin Tjit Po 2 Desember 1929 (tiga tahun kemudian PTI dideklarasikan). Artikel yang berjudul ”Darah Tionghoa” itu ditulis Liem Koen Han yang kelak mendirikan Partai Tionghoa Indonesia.

Ia menghimbau pers Tionghoa agar menjadi media yang efektif dalam ”menginsyafkan” pandangan-pandangan yang keliru tentang orientasi ke-Tionghoa-an yang berporos pada Tiongkok: ”... Ada baek jang sekarang satoe soerat-kabar nationalistisch seperti „Sin Po” toeroet bikin melek mata pembatjanja boeat liat itoe kebeneran jang apa dinamaken „darah Tionghoa” sebenernja ada darah tjampoeran dari setaoe berapa matjem bangsa.”

Untuk mengetahui itu, Anda bisa membaca laporan Beny G Susetyo (“Tionghoa dalam Pusaran Politik”), Leo Suryadinata ( “The Pre-World War Peranakan Chinesse Press of Java: A Preeliminary Survey” dan ‘”Politik Tionghoa Peranakan Jawa”) atau Lea E Williams ( “Overseas Chinesse Nationalism: Genesis of the Pan-Chinese Movement in Indonesia”).

Jika saya disebut rasis karena mengatakan kesadaran akan kebangsaan Hindia Belanda orang Tionghoa terlambat dibanding yang lain, Anda harus juga mengikutsertakan orang-orang seperti Beny G Susetyo, Leo Suryadinata atau Lea E Williams yang juga mengakui hal yang sama dengan yang saya tuliskan empat paragraf sebelum paragraf ini.

Jadi jelas: “Tirto dipilih bukan semata karena ia pribumi. Dan Douwes Dekker (peranakan Belanda), keluarga Badjenet (peranakan Arab) atau Kwee Kek Beng (peranakan Tionghoa) tidak dijadikan sebagai tonggak bukan karena non-pri.”

Rasiskah jika Tirto dan Medan Prijaji yang dipilih?

Nasionalisme selalu membentangkan demarkasi yang tegas antara “kami yang dijajah” dengan “mereka yang menjajah”, atau dalam kata-kata Tirto: antara “kami yang diprentah” dengan “mereka yang memrentah”. Pembentangan garis demarkasi itulah yang dimulai dengan artikulasi yang tegas dan begitu telanjang oleh dan dalam diri Tirtoadiserjo, sampai-sampai dijadikan jargon Medan Prijaji.

Saya kira, sebuah pilihan yang adil ketika bersepakat dengan Pramoedya Ananta Toer yang memilih Tirto dengan Medan Prijaji-nya sebagai “Sang Pemula”.

Tetapi memang harus diakui, di arusnya yang terdalam, rasisme juga bertolak dari, dengan mengutip James Baldwin dalam Notes of Native Soon, “Pengandaian adanya garis yang tegas antara “kami” dan “mereka”.”

Di level persamaan itu, Tirto adalah seorang yang rasis. Tetapi jika benar demikian, Tirto sama rasisnya dengan Soekarno atau Hatta atau Tan Malaka (di Indonesia), Thomas Jefferson atau George Washington (di Amerika Serikat), Nehru atau Bipin Chandra Pal (di India), Simon Bolivar (di Bolivia), Son Ngoc Tanh (di Kamboja), Ho Chi Minh (di Vietnam), Jose Rizal atau Makario Sakay (di Filipina), Jose Gaspar Rodriguez de Francia (di Paraguay), Ferenz Kazinsky (di Hungaria), Jose Joaquin Fernandez de Lizardi atau Morales y Pavon (di Meksiko), atau juga Pedro Fermin de Vargas (di Kolombia).

Bagaimana dengan usul Anda agar project ini diganti menjadi “Seabad Medan Prijaji”?

Usul Anda sudah saya simpan baik-baik di dalam laci meja. Tapi tenang saja, saya tak mengunci laci itu karena kuncinya sudah hilang sejak lama. Sudah lama sekali. (Sikap ini saya adopsi dari semangat yang dikobarkan oleh konsepsi “differance”-nya Jacques Derrida)

Semoga kita tetap dilimpahi “sikap adil sejak dari pikiran”.

15 komentar:

Okky P. Madasari mengatakan...

Sampai juga pada bahasan ini...

Anonim mengatakan...

pada akhirnya..sebuah jawaban.

lida mengatakan...

Waw. Waw...

zenrs mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
zenrs mengatakan...

Okky, Anonim, dan Lida...

Saya percaya pada apa yang sudah dilakukan "para penduhulu": berpolemik itu penting dan menyehatkan!

sang.pencipta mengatakan...

Mas Zen,

Bagaimana bisa Anda katakan kalau Anda banyak membaca buku soal sejarah sedangkan menuliskan nama penulis buku "Dutch Culture Overseas" saja salah. Anda tulis "Frank Gouda", yang betul "Frances Gouda". Dan dia seorang perempuan.

zenrs88@gmail.com mengatakan...

Saya tahu penulis buku itu perempuan. Tapi memang saya keliru (bukan salah ketik, memang keliru) menuliskannya. Thanks atas koreksinya. Sudah saya perbaiki.

Saya pernah bilang kalau "Saya banyak baca buku sejarah ya"? Hmmmm... coba saya ingat2.

Tap thanks atas koreksinya.

sang.pencipta mengatakan...

Maksud saya bukan buku sejarah, tapi coba baca kembali kalimat mas di bawah ini:

"Saya membaca cukup banyak literatur ihwal nasionalisme, dari yang sifatnya teroritik hingga historik. Soal “pribumi” (native) dan “non-pri” selalu menjadi pokok penting yang selalu dibahas, dan dalam level tertentu, pernah menjadi salah satu kriteria perumusan “bangsa”, terutama di awal-awal prosesi perumusan dan kelahiran sebuah bangsa. Ini berlaku di banyak sekali tempat, baik di Indonesia, Filipina, Vietnam, hingga nasionalisme di Amerika Latin yang sudah muncul sejak akhir abad 18."

Mas Zen, sebanyak apa sih literatur yang telah anda baca? Kok kesannya anda ini congkak yah? Itu kesannya saya loh.

zenrs88@gmail.com mengatakan...

Hahahaha.... Thanks atas komennya.

Gak apa2 kok saya disebut congkak. Gak masalah. Itu resiko. Saya sedang menikmati peran sebagai "orang antagonis".

Seberapa banyak?

Sebanyak yang membuat saya cukup merasa yakin bahwa saya serius dan sedang tak main-main berpolemik. Inilah cara saya menghormati polemik dan orang-orang yang sedang berpolemik dengan saya.

sang.pencipta mengatakan...

Lagi-lagi Anda salah Mas Zen. Bagaimana bisa Anda tulis kalau penulis buku "Tionghoa dalam Pusaran Politik" itu adalah Benny G Susetyo? Dan itu Anda sebutkan berulang kali?

Setahu saya yang betul adalah Benny G Setiono, bukan Benny G Susetyo. Anda baca bukunya gak sih? Atau asal comot saja biar terlihat berkilau tulisannya?

sang.pencipta mengatakan...

Mungkin kata congkak belum cukup. Tapi pongah lebih tepat untuk anda. Tapi secara umum, tulisan Anda bagus. Saya yang masih kuliah ini jadi banyak belajar, dari tulisan Anda tentunya, bukan dari sifat Anda yang arogan.

zenrs88@gmail.com mengatakan...

Saya baca dong. Bagian dari buku itu yang menyinggung soal pergerakan politik warga tionghoa di Indonesia ada di bagian ketiga bab XXVII, antara halaman 489-519. Judul babnya: Orang Tionghoa dan Pergerakan Partai POlitik Nasional (1926-1942).

Tapi itu juga disinggung dalam bab sebelumnya yang berjudul Muncunlya Kesadaran Politik orang Tionghoa, yang ditulis dari halaman 457-488.

Khusus Partai Tionghoa Indonesia yang bercorak nasionalisme Indonesia, mulai dibahas sejak halaman 501.

Saya keliru lagi deh. Anda benar: Setiono.

Inilah enaknya berpolemik. Orang dituntut kredibel.

Saya pongah? Waw... mesra sekali panggilan Anda. Gak apa2lah. Senang saja saya divonis begitu. Toh, Anda hanya menilainya dari tulisan, bukan karena dari pertemuan pribadi.

Itulah resiko penulis, mesti siap jika kepribadiannya divonis dan dinilai lewat tulisannya. Saya sadar sekali itu.

Anda bisa belajar dari siapa saja, dan Anda bisa ambil apa yang Anda anggap berguna. Proses mengkurasi dan menyunting.

Bukankah memang mesti begitu sikap pembelajar?

Hehehehe....

zenrs88@gmail.com mengatakan...

Oh ya, saya juga masih kuliah loh. Sama seperti Anda.

pinufa mengatakan...

dibantai ni ye...
gpp-lah itung2 sidang skripsi.
maju terus
apa ga lebih pongah dari orang tapi yang mengaku sang pencipta??
link aku duooonggg

Fadly Sansan mengatakan...

Terima kasih mas, mencerahkan. Saya tersesat di masa mudamu :)