Senin, Oktober 29, 2007

Indonesia Raya Berkumandang di Moskwa

Bapak Utuy pasti menyambut kedatangan kita. Dia pasti tersenyum di atas sana. Jadi kita taburkan saja bunga-bunga ke makan-makam yang tidak diperhatikan, makam-makam yang sudah tidak ada namanya.

Kata-kata itu diucapkan Prof. Ludmilla Demidyuk, pengajar sastra Indonesia di Universitas Moskwa. Ludmilla siang itu datang ke pemakaman umum Moskwa untuk berziarah ke makam Utuy Tatang Sontani, pengarang terkemuka Indonesia pada masa Orde Lama yang dikenal lewat novel berjudul Tambera. Sayangnya, seusai habis-habisan mencari, makam Utuy tak juga kelihatan. Ludmilla akhirnya ambil keputusan untuk menaburkan bunga-bunga setaman yang dibelinya ke makam-makam tak terawat atau (dalam kata-kata Ludmilla sendiri) “makam-makam yang sudah tak diperhatikan dan tak ada namanya.”

Ludmilla, saya kira, tepat sekali mengatakan itu. Utuy Tatang Sontani adalah satu dari sekian banyak anak negeri ini yang punya karya besar dan dihormati orang tetapi justru tak pernah dihargai secara adil oleh bangsanya, tak diperhatikan, seakan-akan seperti orang-orang tak bernama. Utuy ada di deret terdepan dari para anonim sejarah Indonesia.

Selengkapnya......

Kamis, Oktober 18, 2007

Mudik sebagai Negosiasi Identitas

Mudik adalah gerak sentrifugal “mendekati” apa yang dianggap sebagai asal muasal diri, sementara arus balik kembali ke rantau menjadi gerak sentripetal “menjauhi” “sumur” asal muasal.

Mustofa W. Hasyim pernah menulis cerpen berjudul Mudik. Cerpen itu bercerita tentang kehidupan menjelang lebaran di sebuah kompleks perumahan kumuh di pinggiran rel di Jakarta. Di situ digambarkan bagaimana penghuni rumah di sepanjang rel merasa gelisah tiap sebuah kereta melintas ke arah timur. Seakan ada yang bergerak-gerak dalam dada dan seperti terdengar teriakan yang memberi peringatan bahwa mereka memiliki tanah asal, punya masa lampau, kerabat yang sedang menunggu.

Gemuruh suara kereta yang bergerak ke timur, dalam cerita itu, adalah panggilan untuk kembali ke tanah asal yang primordial: kampung halaman, tanah kelahiran, rahim yang melahirkan, puak dan kerabat, teman masa kecil, dan sehimpun kenangan tentang periode kehidupan yang tak bisa lagi (di)kembali(kan).

Selengkapnya......

Kamis, Oktober 11, 2007






to err is human, to forgive is divine
(alexander pope)




puasa adalah zakatnya rohani dan zakat adalah puasanya materi. lebaran menggenapkan keduanya. selamat lebaran. maaf lahir batin.












Minggu, Oktober 07, 2007

Bulan di Dalam Kuburan

[cerpen pertama buat Arief Debukaki: "Rief, jika pun kita pernah menjadi anak mursal, setidaknya sekarang kita sudah sadar ihwal ke-mursal-an kita ini. Dari situ, kita sadar bahwa "bulan" selalu ada di dalam diri kita."]

Bulan tak pernah akrab dengan malam lebaran, bahkan kendati sebuah sajak pernah menulis puisi yang misterius tentang hubungan rahasia antara bulan dengan malam lebaran.

Aku sudah melewati 25 kali lebaran. Dan, sungguh, aku tak pernah melihat bulan menampakkan cahayanya di malam lebaran. Aku tidak tahu kenapa. Padahal aku sangat ingin malam lebaran disempurnakan oleh cahaya bulan. Tidak perlu cahaya yang benderang seperti saat purnama, cukuplah selarik cahayanya saja. Tapi harapan itu tak pernah terkabulkan.

Sewaktu masih ingusan, aku pernah membicarakan soal ini dengan ibu. Di kepung suara bedug dan gema takbir, aku mendekati ibu yang sedang duduk di dekat tungku. Tangan ibu begitu cekatan mengisi ketupat yang masih kosong dengan butir-butir beras.

Selengkapnya......

Sabtu, Oktober 06, 2007

Pledoi Si Malin Kundang

Tak enak menjadi Malin Kundang. Bukan hanya karena telanjur dikutuk menjadi batu, tetapi juga karena ia selalu disalahpahami atau bahkan tak pernah dicoba untuk dipahami.

Malin Kundang telah menjadi rujukan imajinatif tentang anak durhaka, manusia yang mursal, pendosa kelas wahid, anak celaka yang tak tahu berterimakasih. Seperti tak tersisa sedikit pun ruang permaafan, tak ada secuilpun kehendak untuk mencoba memahaminya, berikhtiar mengerti dunia batinnya, atau mencoba mengetahui dilema dan pilihan-pilihan dilematis yang ditanggungnya. Malin Kundang dibiarkan sendirian di pantai, menahan gigil yang tak tertahankan, menanggung sangsai yang tak terpetakan, memanggul kesunyian yang tak terperikan.

Seorang penyair yang saya kenal dengan baik menuliskan sebuah pledoi untuknya. Dan atas ijinnya, saya berniat memajangnya utuh di blog ini.

Seumur-umur “memelihara” blog ini, saya tak pernah memajang tulisan orang lain. Jika kali ini saya melakukannya, tulisan itu pastilah lebih dari sekadar bagus, tapi juga memiliki hubungan yang intim dengan suasana dan momen kehidupan yang sedang berlangsung sekarang, setidaknya bagi saya sendiri.

Coba simak salah satu pasase dalam sajaknya ini:

celaka? siapa yang celaka sesungguhnya?
dulu aku tak minta dilahirkan. dengan melupakanmu
aku berharap masa lalu segera padam. tapi kau tak kunjung hilang ibu.
maka, izinkan aku mencintaimu dengan kesombongan ini
agar semua terlunaskan
agar dendam terbayarkan

Penyair yang masih amat muda ini, mengajak saya –dan pada gilirannya saya mengajak Anda semua—untuk mencoba memahami Malin Kundang, mencoba mengerti dunia batinnya, mencoba mengetahui getar pikirannya.

Puisi ini saya pajang khusus buat siapa pun yang tak bisa mudik, yang tak mampu mudik, dan terutama yang tak ingin mudik. Sungkem di haribaan ibu memang laku yang menggetarkan. Tapi, memilih secara sadar untuk tidak sungkem pada ibu, pastilah jauh lebih menggetarkan, karena pilihan itu dibayangi oleh sekian rasa takut. Apalagi jika bukan rasa takut dikutuk menjadi seperti Malin Kundang, Si Anak Mursal?

Sila dibaca dan direnungkan!

Selengkapnya......

Rabu, Oktober 03, 2007

Malam Lebaran

Bulan tak pernah akrab dengan malam lebaran, bahkan kendati seorang penyair pernah menulis puisi yang misterius tentang hubungan rahasia antara malam lebaran, bulan dan kuburan.

Malam Lebaran

Bulan di atas kuburan

Sajak yang muncul pertama kali di majalah Zenith pada Juni 1953 itu begitu pendek. Bukan yang terpendek, memang. Sutardji pernah menulis dua sajak yang lebih pendek. Yang pertama sajak Luka yang isinya hanya: “ha ha”. Yang kedua sajak Kalian yang isinya hanya: “Pun”. Hamid Jabbar pernah pula menulis sajak berjudul Doa Terakhir Seorang Musafir yang isinya hanya: “Amin”.

Selengkapnya......