Kamis, Oktober 18, 2007

Mudik sebagai Negosiasi Identitas

Mudik adalah gerak sentrifugal “mendekati” apa yang dianggap sebagai asal muasal diri, sementara arus balik kembali ke rantau menjadi gerak sentripetal “menjauhi” “sumur” asal muasal.

Mustofa W. Hasyim pernah menulis cerpen berjudul Mudik. Cerpen itu bercerita tentang kehidupan menjelang lebaran di sebuah kompleks perumahan kumuh di pinggiran rel di Jakarta. Di situ digambarkan bagaimana penghuni rumah di sepanjang rel merasa gelisah tiap sebuah kereta melintas ke arah timur. Seakan ada yang bergerak-gerak dalam dada dan seperti terdengar teriakan yang memberi peringatan bahwa mereka memiliki tanah asal, punya masa lampau, kerabat yang sedang menunggu.

Gemuruh suara kereta yang bergerak ke timur, dalam cerita itu, adalah panggilan untuk kembali ke tanah asal yang primordial: kampung halaman, tanah kelahiran, rahim yang melahirkan, puak dan kerabat, teman masa kecil, dan sehimpun kenangan tentang periode kehidupan yang tak bisa lagi (di)kembali(kan).

Di situ, kampung halaman menjadi titik berangkat, semacam fondasi kedirian; sesuatu yang oleh Amin Maalouf sebut sebagai “afiliasi vertikal”. Dalam kosa kata Maalouf, “afiliasi vertikal” bisa disederhanakan sebagai primordialisme, sesuatu yang sifatnya given dan tak tertampik, datang dari “langit”, mak mbedundu –kata orang Jawa: saya lahir dari rahim siapa, di kampung mana, berjenis kelamin apa, berwarna kulit apa, berambut lurus atau kriting, berpuak apa, dll.

Di situ, kampung halaman hadir sebagai sesuatu yang berkaitan dengan asal usul tiap orang. Bagi orang Jawa, misalnya, prosesi mudik lebaran adalah manifestasi dari keinginan diri untuk merenungkan dan menelusuri sangkan paraning dumadi: mengingat-ingat kembali jejak-jejak awal sejarah dirinya dan mencoba menikmati “fiksi” mengenai (dalam kata-kata Franz Fanon) “kecantikan dan keaslian diri”.

Itulah sebabnya, prosesi mudik pasti ditingkahi kegiatan yang meleburkan para pemudik dengan sebuah himpunan bernama puak, semacam aktivitas mengumpulkan balung pisah: momen di mana puak yang tercerai-berai di tanah rantau yang terpisah-pisah, coba disatukan dan direkatkan kembali. Inilah saat di mana segenap sanak anggota puak bersemuka di ruang dan waktu yang sama.

Mudik selama sepekan, setelah hidup di rantau selama sebelas bulan, menjadi momen di mana asal usul identitas coba di-refresh, diperteguh, mungkin coba dikekalkan kembali.

Selama kurang lebih setahun lamanya, “afiliasi vertikal” itu mesti berhadapan dengan kehidupan rantau yang menawarkan afiliasi-afiliasi baru: bergabung dengan komunitas baru, membangun relasi-relasi sosial baru, bergaul dengan orang baru dari pelbagai daerah dan peradatan.

Inilah yang disebut Amin Maalouf sebagai “afiliasi horizontal” yang berarti ikatan-ikatan sosial yang bisa kita tolak, mampu kita pilih, serta bisa kita cabut kapan saja kita mau dan semua anyaman afliasi horizontal ini berlangsung dalam kendali kesadaran kita: menjadi anggota partai mana, memilih agama apa, masuk pada komunitas apa, menghayati satu kutub ideologi tertentu, dll.

Arus mudik kembali ke tanah asal dan arus balik kembali ke tanah rantau adalah periode transisi di mana negosiasi antara afiliasi horizontal dan vertikal berlangsung dengan begitu jelas.

Dengan memahami keberadaan dua model afiliasi identitas ini berikut proses negosiasi yang keras antara keduanya, membuat kita lebih memahami (1) identitas kita bukan cuma diturunkan secara vertikal dari para moyang (afiliasi vertikal), melainkan juga dibentuk pengaruh yang datang dari samping (afiliasi horizontal); sekaligus (2) memahami kalau anasir yang memengaruhi dan membentuk identitas itu juga beragam, tidak tunggal: bisa agama, bahasa, ras, etnisitas, istiadat, jenis kelamin, hingga afiliasi parpol.

Afiliasi identitas itu, antara yang horizontal dan vertikal, bernegosiasi sedemikian rupa, kerap berkompromi, tapi kadang bertarung dengan keras. Ada saat di mana afiliasi yang sifatnya horizontal lebih kuat, tapi di momen-momen tertentu afiliasi yang sifatnya vertikal lebih berpengaruh.

Mudik saat lebaran, yang sudah menjadi ritus sosial, adalah perayaan besar-besaran atas afiliasi vertikal, momen di mana semua pemudik mengakui bahwa afiliasi vertikal tetap mereka panggul ke mana-mana, di rantau yang jauh dan dalam rentang waktu yang tak sepenuhnya diketahui di mana ujungnya.

Selama setahun lamanya, mereka hidup di kota, di rantau yang jauh, membangun afiliasi vertikal, merajut ikatan-ikatan sosial yang baru, dan menatah relasi sosial dengan orang-orang yang baru. Selama prosesi itu, afiliasi vertikal kerap kali berada dalam situasi kritis, di mana ia di/terbentur(kan) dengan afiliasi horizontal.

Hasil dari perserawungan antara yang horizontal dan vertikal itulah yang mewarnai atau bahkan membentuk identitas. Tapi warna atau bentukan identitas itu sendiri tak akan pernah final, karena di lain waktu pasti ia akan mengalami benturan baru, negosiasi baru, atau mungkin pertarungan baru, dengan afiliasi horizontal yang lebih mutakhir.

Identitas, dengan demikian, adalah sebuah medan pertemuan dan saling pengaruh, saling mewarnai, dan (kadang) saling mengalahkan.

Per definisi, identitas karenanya agak sukar untuk disepadankan dengan “jati diri”; karena memang tidak ada diri yang sejati, diri yang original, diri yang esensial, diri yang ajek dan stabil; model pemahaman atas identitas yang disindir oleh Amartya Sen sebagai “identitas yang soliter”.

Dan karena itulah, identitas tidak hadir sebagai sesuatu yang tetap, tetapi sebagai sesuatu yang terus bergerak, bukan semata yang kasat tapi juga yang tak kasat, bukan hanya yang tergapai tapi juga yang tak terjangkau, bukan hanya yang terwujud tapi juga yang sedang diwujudkan sekaligus yang sudah gagal diwujudkan, bukan hanya yang berkelanjutan tapi juga yang terputus, bukan hanya kesadaran tapi juga ketidaksadaran.

Di udik itulah, di tanah asal yang jauh dari kerkahan hiruk-pikuk kota, para pemudik mencoba menjaga jarak terhadap kehidupan kota yang kompetitif, mencoba menyatu dengan–dan bukan sedang mencoba menaklukkan-- ruang dan waktu.

Maka, bagi para pemudik yang menggelar mudik setiap tahun, kehidupan bisa dimengerti ke dalam dua model: siklis atau spiral.

Kehidupan hanya menjadi siklis pada saat mudik dan arus balik tidak cukup mampu memberi perubahan yang signifikan. Sebagai gerak siklis, hidup dimengerti sebagai gerak baku menjauhi tanah asal (gerak sentriptetal) untuk kemudian kembali mendekati tanah asal (gerak sentrifugal), dan seterusnya, dan seterusnya, tanpa ada perubahan yang cukup berarti.

Sementara kehidupan menjadi satu gerak spiral ketika gerak ulang-alik mudik ke tanah asal dan arus balik kembali ke kota mampu memberi corak perubahan yang cukup berarti, menjadi bekal untuk melangkah maju setahap demi setahap menapaki jenjang kemanusiaan yang lebih baik. Mungkin juga lebih tinggi.

Hanya para pemudik itu sendiri yang tahu seperti apa gerak hidupnya: spiral atau siklis?

4 komentar:

kw mengatakan...

itu dulu kali zen. lha sekarang aku mudik ke kampung di ujung pantai selatan jawa yang untuk menjangkaunya harus naik di punggung buaya pun masih di telponin suruh kerja. karena sudah ada sinyal, jadi bisa online dan kerja.

jadi gimana tuh?

cya mengatakan...

sekali2 posting yang lain.. misalnya seperti PR di sini

egois mengatakan...

met lebaran aku minta maaf ya kalau ada salah.
mas zen sebenarnya aku bingun kalau memang mudik menjadi rutinitas masyarakat secara umum di negara ini, ada beberapa persoalan yang membuat para pemudik tidak lagi merasakan nyaman dan bahagia karena ramainya jalan dan keinginan secara sama-sama. itu pun ditambah ketidak ketegasan pemerintah untuk menentukan hari raya . masa masyarakat secara umum telah pulang dengan jauh-jauh berdesakan bahkan ada yang rela menunggu berjam-jam untuk antri, sesampai di rumah ternyata hari raya tidak dilaksanakan secara merata. orang-orang astrologi NU dan Muhamadyah yang pandai merukyah dapat berbeda pendapat. hal terebut berdampak pada masyarakat, secara tidak langsung masyarakat bingung mau ngikuti yang mana. sedangkan MUI tidak dapat menegaskan secara menyeluruh kepada masyarakat dan golongan2 yang merasa benar terhadap hasil perhitungan bintangnya. APA KATA DUNIA....kalau hal tersebut tidak di selesaikan dan di komunikasikan dengan baik.
tiap tahun akan ada orang-orang yang mudik dan sesampai di rumah kecewa.......

Rohadi M Raja mengatakan...

Lampung, Aktual.com — PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Cabang Bakauheni mencatat jumlah pemudik yang telah kembali dari Sumatera ke Jawa melalui Pelabuhan Bakauheni, Lampung, mencapai 210.036 orang pada H+4 Lebaran 2015.

Berdasarkan data dari posko Pelabuhan Penyeberangan Bakauheni, Rabu (22/7) menyebutkan, dari jumlah tersebut diperkirakan masih ada sekitar 437.165 orang yang belum kembali karena jumlah penumpang arus mudik lalu mencapai 647.800 orang.

Pemudik sepeda motor yang sudah kembali mencapai 20.437 unit, dan masih tersisa 44.919 unit yang belum kembali ke Jawa.

ASDP Bakauheni: H+4 Lebaran, 210 Ribu Pemudik Kembali ke Jawa