Minggu, Oktober 07, 2007

Bulan di Dalam Kuburan

[cerpen pertama buat Arief Debukaki: "Rief, jika pun kita pernah menjadi anak mursal, setidaknya sekarang kita sudah sadar ihwal ke-mursal-an kita ini. Dari situ, kita sadar bahwa "bulan" selalu ada di dalam diri kita."]

Bulan tak pernah akrab dengan malam lebaran, bahkan kendati sebuah sajak pernah menulis puisi yang misterius tentang hubungan rahasia antara bulan dengan malam lebaran.

Aku sudah melewati 25 kali lebaran. Dan, sungguh, aku tak pernah melihat bulan menampakkan cahayanya di malam lebaran. Aku tidak tahu kenapa. Padahal aku sangat ingin malam lebaran disempurnakan oleh cahaya bulan. Tidak perlu cahaya yang benderang seperti saat purnama, cukuplah selarik cahayanya saja. Tapi harapan itu tak pernah terkabulkan.

Sewaktu masih ingusan, aku pernah membicarakan soal ini dengan ibu. Di kepung suara bedug dan gema takbir, aku mendekati ibu yang sedang duduk di dekat tungku. Tangan ibu begitu cekatan mengisi ketupat yang masih kosong dengan butir-butir beras.

“Kenapa kamu tidak berkumpul dengan teman-temanmu di mesjid? Kau kan senang sekali menabuh bedug. Apa kamu sudah tidak suka lagi memukul bedug?”

Aku menggeleng. Aku duduk di sebelah ibu. Tanganku memain-mainkan kayu bakar yang dilalap api tungku. Bau daging yang dijereng oleh air yang sudah dicampuri rempah-rempah menelusup diam-diam ke hidungku. Ibu, seperti juga semua ibu teman-temanku, menghabiskan malam lebaran di dapur, menanak nasi, menyiapkan ketupat, memasak opor, dan setelah itu menyetrika baju, sarung dan sajadah yang akan dibawa oleh suami dan anaknya ke lapangan besok.

“Kenapa ibu selalu di dapur kalau malam lebaran?”

Ibu menoleh sambil tersenyum. Dirangkulnya pundakku. Bau keringat dan asap tercium olehku.

“Katanya bapak dulu pintar nabuh bedug. Betul ya, Bu?”

“Kamu sendiri jadi anak yang paling pintar nabuh bedug. Coba tebak, dari siapa asalnya kepintaranmu itu? Dari bapak, kan? Tadi waktu shalat maghrib berdo’a buat bapak tidak?”

Lagi-lagi aku menggeleng. “Kenapa? Bapak sedih lho kalau kamu nggak berdo’a.”

“Arief sudah berdo’a, tapi bukan buat bapak.”

“Buat siapa?”

“Buat bulan.”

“Kok?”

“Arief berdo’a pada Tuhan supaya malam ini mengirim bulan ke langit. Arief ingin mengajak ibu ke halaman dan menunjukkan pada ibu kalau do’a Arief itu manjur. Biar ibu tahu, kalau Arief anak yang sholeh. Kan ibu sendiri yang bilang kalau do’a anak yang baik pasti dikabulkan Tuhan.”

Ibu makin merapatkan rangkulannya ke pundakku. Aku merasa badan ibu sedikit bergetar. Sayup-sayup aku dengar ibu terisak.

“Arief ingin bulan datang malam lebaran ini. Dari dulu bulan kan gak pernah kelihatan kalau malam lebaran. Siapa tahu kalau bulan datang, ibu gak sedih lagi. Soalnya kalau malam lebaran ibu suka diam saja. Ibu susah sekali senyum kalau malam lebaran.”

Kali ini ibu tidak terisak, tapi benar-benar menangis. Aku melihat bulir-bulir air mata meleleh di dua pipi ibu yang kempis.

“Arief gak mau ke mesjid, Bu. Biar Arief di sini saja. Kasihan ibu sendirian. Nanti kalau bulan muncul, aku mau mengajak ibu ke halaman.”

Ibu memegang kedua pipiku. Aku diciumnya berkali-kali. Air matanya makin deras.

“Bu, Arief gak berdoa buat bapak karena bapak jahat meninggalkan ibu di dapur sendirian tiap malam lebaran.”

Air mata ibu mengucur makin deras. Kali ini, aku sendiri yang menyekanya dengan tanganku.

******

Malam itu aku tertidur di pangkuan ibu. Di depan tungku. Sewaktu adzan subuh terdengar, aku terbangun. Aku cari ibu. Seperti yang sudah kuduga, ibu ada di dapur. Dengan mata yang masih sembab dan mulut yang menguap, aku bertanya pada ibu apakah semalam bulan muncul di langit.

“Sudah, kamu mandi sana. Agak cepat mandinya. Biar kamu bisa shalat Subuh berjamaah di mesjid. Habis itu kamu langsung pulang. Makan ketupat dan opor dulu sebelum shalat Ied. Itu sunnah, lho….”

Dari jawaban itu aku tahu bulan tak muncul malam itu. Sejak itu aku tak pernah lagi bertanya pada ibu soal bulan yang selalu menghilang di malam lebaran. Tak hanya itu, sejak itu aku tak pernah benar-benar khusyuk lagi berdo’a. Belasan tahun kemudian, hingga malam lebaran yang ke-25 ini, aku bahkan tak pernah lagi berdo’a.

Lebaran itu menjadi lebaran yang paling menyedihkan. Aku merasa Tuhan begitu pelit dan tak mau tahu. Masak minta supaya bulan muncul saja tak dikabulkan? Padahal bulan itu tidak untukku, tapi untuk ibu. Aku berdo’a agar bulan muncul karena aku pikir kehadiran bulan bisa membuat itu tersenyum di malam lebaran. Aku ingin ibu berbahagia.

Karena itu pula aku merasa sebagai anak yang tak berbakti, anak yang tak mampu membahagiakan ibunya. Doa yang tak terkabul itu membuatku merasa aku bukanlah anak yang shaleh. Sebab, jika aku anak shaleh, doa ku pasti dikabulkan Tuhan. Ibu sendiri yang bilang. Lagipula, doa itu kan untuk membahagiakan ibu?

Lebaran itu juga menjadi awal dari permusuhan diam-diam dengan bapakku yang sekali pun tak pernah aku lihat. Aku marah pada bapak yang tak bisa membuat ibu tersenyum di malam lebaran. Marah karena bapak meninggalkan ibu sendirian di dapur, di depan tungku, di setiap malam lebaran.

Setelah shalat Ied di lapangan, aku mendatangi ibu. Aku menciumnya lama sekali, lebih lama dari lebaran-lebaran sebelumnya. Aku menangis keras-keras dan terus memeluk ibu dengan sekuat-kuatnya. Ibu sepertinya sampai sesak nafas. Tapi rasa bersalah memberiku tenaga berlebih untuk memeluk ibu lebih kuat dari biasanya. Lebih lama dari biasanya.

Ibu sampai harus memaksa agar aku melepaskannya. Ibu memaksa tanganku melepaskan pelukan. Dan aku makin sedih karenanya. Aku merasa, ibu tak memaafkanku. Dan ibu juga tak memahamiku.

Seharian aku menghilang dari rumah. Seharian pula ibu mencariku.

*****

Sudah 7 lebaran aku tak pulang. Sudah 25 lebaran aku hidup. Selama itu pula aku tak pernah melihat bulan muncul di malam lebaran. Dan seperti malam-malam lebaran sebelumnya, sejak doa yang tak terkabul itu, aku tak pernah lagi berharap bulan akan muncul di malam lebaran.

Kini aku bukan anak kecil lagi. Aku sudah menjadi lelaki dewasa yang mandiri, hidup dari keringatnya sendiri, berkelana dari satu kota ke kota lainnya, dari satu pulau ke pulau lainnya. Aku telah menjadi seorang pemuda yang kepalanya dipenuhi cita-cita yang besar dan dada yang disuburkan oleh ambisi yang juga besar.

Kendati aku tetap bekerja dengan mendatangi kota dan pulau-pulau yang jauh, tapi situasi sudah mulai berubah. Aku bekerja dengan hati yang tak lagi penuh. Aku bukan lagi seorang idealis, tapi sudah menjadi seorang realis yang pahit.

Lebih-lebih, aku gagal membahagiakan ibu. Ya, aku tak pernah menjadi sarjana seperti yang ibu inginkan. Bacaan-bacaanku, cita-cita dan ambisiku membuatku menjadi orang yang begitu jengah dengan aktivitas duduk di ruang kuliah.

Aku baru sadar bahwa kuliahku tak mungkin terselamatkan di tahun ketiga kuliahku. Itu sudah cukup untuk membuatku enggan pulang ke rumah. Padahal, sudah tiga tahun itu pula aku tak pulang. Aku merasa gagal menjadi sarjana bukan dosa, tapi aku sangat tahu ibu pasti kecewa. Lagi pula, ketika itu aku berpikir bahwa ibu pasti bangga jika aku ceritakan bahwa anaknya ini sudah berhasil menyelamatkan puluhan anak dari buta aksara.

Tapi aku juga tak bisa berdusta bahwa aku memang tak tega membuat ibu tahu kegagalanku memenuhi harapannya. Aku sangat tahu, ibu bekerjakeras mencari nafkah untuk memenuhi biaya kuliahku. Kendati sejak tahun kedua kuliah aku sudah mengirim surat pada ibu untuk tak lagi mengirimiku wesel, ibu tetap saja membandel.

Dalam salah satu suratnya, ibu bilang, wesel itu adalah satu-satunya kebahagiaan ibu. “Ibu merasa bahagia tiap kali pergi ke kantor pos mengirimu wesel. Kalau kamu memang sudah bisa mencari uang sendiri, simpan saja uang kiriman ibu. Siapa tahu kamu butuh,” tulis ibu di salah satu suratnya.

Tiap kali aku membayangkan ibu berjualan di pasar, aku selalu saja merasa berdosa dan bersalah, betapa pun aku bisa menenangkan diri dengan ratusan argumen tentang betapa tidak pentingnya sekolah. Dalam hal seperti ini, rasa bersalah itu tak bisa ditawar oleh berapa pun banyaknya aforisma.

Kadang aku mengirim surat untuk sekadar menanyakan kabar dan memberitahu keberadaanku. Dari situ ibu tahu aku sering berkelana. Ibu pernah memintaku untuk menyambangi kampung halaman bapak jika aku sedang di Kalimantan. Beberapa kali aku sudah menyambangi Kalimantan, tapi aku tak pernah memenuhi permintaan ibu. Diam-diam aku masih memelihara kemarahan pada Bapak yang meninggalkan ibu dan membiarkannya sendirian membesarkanku.

Dan selama itu pula aku tak pernah pulang. Aku kehilangan semangat untuk pulang, bukan hanya karena aku tak akan pernah bisa menjadi sarjana, tapi lebih-lebih karena aku masih terusik dengan adegan ketika ibu bersikeras melepaskan pelukanku sewaktu aku menangis keras-keras sembari memeluknya di hari lebaran. Ya, hari lebaran ketika aku berdoa agar bulan muncul di malam lebaran. Aku tidak dendam karenanya. Aku hanya merasa, ada jurang pengertian di antara kami berdua.

*****

Lebaran yang ke-25 ini aku pulang untuk pertama kalinya. Tapi aku tak akan pernah bisa melihat ibu. Aku hanya bisa melihat pusaranya. Dan untuk keperluan itulah aku pulang.

Ibu wafat delapan bulan yang lalu. Telegram datang ke kontrakanku yang terakhir selang seminggu setelah aku berangkat ke Kalimantan. Selama di Kalimantan aku tak punya firasat apa-apa. Hanya saja, entah kenapa, aku memenuhi permintaan ibu untuk menyambangi kampung halaman bapak. Tentu saja aku tak menemui siapa-siapa, karena bapak memang sebatang kara sejak kecil, tak punya kerabat satu pun. Tapi, setidaknya, aku sudah pernah menginjakkan kaki di kampung di mana bapak dilahirkan. Itu pasti sudah lebih dari cukup bagi ibu karena dengan itu ibu tahu aku sudah mulai mencoba memaafkan bapak.

Dengan memanfaatkan jasa kurir yang mahal, aku mengirimi Ibu anggrek biru. Ya, itu bunga yang selalu ingin dilihatnya. Kata ibu, dulu bapak pernah berjanji akan mengajak ibu ke kampung halamannya dan akan membawa ibu ke hutan di mana anggrek biru tumbuh. Bapak tak pernah menunaikan janji.

Sekarang aku tahu, kiriman anggrek biru itu tak pernah sampai ke tangan ibu. Dia tak pernah tahu kalau aku sudah mengunjungi kampung halaman bapak. Dan itu artinya ibu juga tak akan perna tahu aku sudah mencoba berdamai dengan bapak.

Aku tiba di rumah satu jam menjelang maghrib terakhir di bulan Ramadhan. Atik, seorang anak yatim yang sejak aku SMP diangkat oleh ibu sebagai anak angkatnya, menyambutku di depan pintu. Ia memerkenalkanku pada Barkah, lelaki yang menikahinya tiga tahun lalu. Seorang bocah lelaki muncul di balik pintu dengan malu-malu.

“Iwan, salam sama Uwa Arief,” panggil Atik pada bocah itu. Ah, aku sudah punya keponakan rupanya.

Senja itu juga aku memutuskan untuk berziarah. Atik menyarankanku untuk menundanya sampai besok. Tapi aku menolak. Dorongan itu terlalu kuat. Sangat kuat. Lebih kuat daripada pelukanku pada ibu dahulu yang membuatnya terpaksa menarik tanganku karena kesulitan bernafas.

Langit sudah mulai gelap. Tapi sisa cahaya senja masih cukup untuk menuntunku pada pusara ibu yang berada persis di sebelah pusara bapak.

Aku berdiri di samping pusaranya. Anggrek biru yang kukirim dulu ternyata tumbuh dengan mekar di atas makam ibu. Mungkin Atik yang menanamnya. Sebisa dan sekuat mungkin aku mencoba tak sentimental. Kubiarkan dadaku berdetak dengan wajar. Tak ada isak. 15 menit kemudian aku beranjak pulang. Hari makin gelap.

Aku tengadahkan kepalaku, melihat langit. Dan seperti lebaran-lebaran sebelumnya, tak ada dan tak akan pernah ada bulan di langit pada malam lebaran. Tak mengapa, karena malam lebaran ini, aku sudah merasakah kehadiran bulan. Tapi tidak di atas kuburan. Bulan itu ada di dalam kuburan.

Malam ini, aku merasa dadaku begitu lapang.

10 komentar:

firman firdaus mengatakan...

Bagus Zen. Entah kenapa saya selalu tidak tahan untuk menahan remang air mata jika ada cerita menyangkut ibu dan lebaran.

Thanks.

imam mengatakan...

Terima kasih Mas
Ceritanya menyentuh sekali, kalau saat membaca tidak sedang di kantor, air mata ini sudah jatuh dari pelupuk mata

die sonne mengatakan...

baru saja semalam aku menangis karena bertengkar dengan ibuku...

uh..aku nyaris nangis lagi siang ini..

thanks...

lida mengatakan...

Mas Zen, sesal itu...

Anonim mengatakan...

ini to cerpen yang kau bilang pledoi itu, sungguh menyentuh. Mencoba tidak sentimentil susah juga, ampir nangis gue baca cerpenmu ini, zen. epunk

human wannabe mengatakan...

halah! kamu lagi. seneng banget sih jadi ekshibisionis?!
xixixi...

nice one. at least lebih bagus daripada naskah berapa babak itu. as usual... u r perfect.

(=

Astrikusuma mengatakan...

indah sekali..

salam,
astri :)

Yusuf Dwi Putra mengatakan...

Ibu... :*

Mbah Bei mengatakan...

Pernah baca cerpen ini di koran KR kalo tdk salah, dan air mata ku pun mengalir deras meski tanpa suara ...

exbal ardika mengatakan...

Wangun mas, nuwun ceritane