buat: nd
Coffee has two virtues: it is wet and warm. (Dutch Proverb)

Tapi aku juga tak ingin berdusta bahwa aku begitu menikmati saat di mana aku mereguk secangkir kecil espresso hitam yang pahit di di hadapanmu. Kau pasti ingat, belakangan aku sering memesan jenis kopi selain espresso. Espresso hitam tanpa gula yang ku pesan jika aku sedang duduk di hadapanmu. Tidak capuccino, tidak juga hot chocolate.
Barangkali, kamulah yang diam-diam mengajariku untuk bisa menikmati kembali khidmatnya segelas espresso.
Dulu aku pernah menjadi seorang pecandu kopi tanpa gula. Kopi pahit. Di awal-awal kedatanganku di Jogja, setiap pagi aku biasa menyeduh kopi tanpa gula. Dan meminumnya dengan tergesa. Aku lupa kenapa tiba-tiba aku bisa melupakan kopi pahit dan beralih menyukai teh panas, aneka macam juice dan bir.
Ya, aku kembali bisa menikmati kopi pahit setelah menghabiskan beberapa jam pada beberapa malam yang lengang bersamamu.
Tapi ada yang berbeda. Dulu, aku selalu menyeduh kopi pahit dalam gelas atau cangkir berukuran besar. Selain karena aku tak punya gelas berukuran kecil, aku juga merasa kopi pahit dengan jumlah yang melimpah lebih bisa memberi pasokan tenaga. Sekarang aku selalu minum kopi pahit dalam cangkir berukuran kecil, untuk tak menyebutnya mini. Kenapa? Karena aku meminum kopi pahit di café dan bukan di kamar kos atau di rumah.
Anehnya, aku akan kembali menyeduh teh hangat dan bukan kopi pahit jika sedang berada di kantor, di rumah atau sedang duduk-duduk bersama teman-teman yang lain. Aku hanya bisa menikmati kopi pahit jika kau sedang berada di hadapanku.
Kalau ingat fakta sederhana itu, aku sering berpikir: aku ini sebenarnya sedang menikmati kopi pahit ataukah sedang menikmati keberadaanmu di depanku?
Yang aku tahu, kopi pahit kembali bisa kunikmati dengan khidmat bersamaan waktunya dengan kedatangan sejumlah persoalan yang kadang tak sepenuhnya bisa kuatasi.
Aku ingat sosok Lawrance dalam film The Girl in the Café. Pernahkah kau menyaksikan film itu?
Ya, Lawrance adalah tokoh utama film produksi BBC tersebut. Dia seorang lelaki paruh baya yang mengalami banyak perubahan setelah bertemu dengan Gina Taunton, seorang gadis muda yang tak jelas asal-usulnya, di sebuah café kecil sewaktu rehat makan siang. Lawrence tak punya apa-apa dalam hidupnya selain “pekerjaan”. Itulah satu-satunya yang ia miliki.
Belakangan aku juga merasa terancam oleh ketakutan tak memiliki apa pun selain pekerjaan. Aku terancam tak lagi memiliki keluarga yang utuh. Terancam tak lagi memiliki orangtua yang utuh. Aku juga terancam untuk mengubur cita-cita melanjutkan studi, karena jenjang studi yang sekarang saja hampir gagal aku selesaikan.
Adakah yang lebih menyesakkan selain menyadari bahwa ada satu cita-cita yang hampir gagal dicapai dan ancaman kegagalan menyelamatkan sebuah keluarga yang mana aku menjadi bagian tak terpisahkan darinya?
Sekarang aku hanya punya pekerjaan plus sejumlah teman baik yang jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Tiap hari aku menyuntuki kertas-kertas kerja. Berpacu dengan deadline harian yang tak pernah tersenyum. Tenggelam dalam tumpukan buku-buku tua, koran-koran tua, catatan-catatan tua, kisah-kisah tua. Laptop menjadi “kiblat” sehari-hari, tuts-tuts laptop menjadi benda yang paling sering kusentuh, screen laptop menjadi benda yang paling sering kutatap.
Kamar kerjaku yang diseraki kertas-kertas lusuh, tebaran buku yang tak rapi ditata dan rak-rak yang dipenuhi koran-koran tua, tak lagi sekadar menjadi ruang kerja, tetapi seperti sudah menjadi kuil tempat aku menggelar “ritual ibadat harian”.
Pada titimangsa itulah kopi pahit kembali bisa kukhidmati dengan penuh takzim. Kopi pahit tanpa gula seperti menjadi metafora yang pas dari hidup yang belakangan terasa sedikit pahit.
Saya kira, cara pandang model itu berbanding lurus dengan sekuplet puisi TS Elliott. Di salah satu puisinya, Elliot menulis: "I have measured out my life with coffee spoons."
Lihatlah bagaimana Elliot mengukur segala macam kepahitan, kebahagiaan dan pengalaman hidupnya melalui sendok-sendok kopi. Elliot mungkin ingin memberi tahu, makin banyak sendok menuangkan kopi, makin pahit juga hidupnya. Dan makin sedikit sendok kopi yan dituang, makin tidak pahit pula hidupnya.
Tetapi kopi tetaplah kopi. Rasa pahit adalah bagian tak terpisahkan dari dirinya. Rasa pahit akan selalu setia menemani kopi. Rasa pahit tak mungkin berkhianat pada kopi, seperti kepahitan juga selalu mengiringi hidup.
Jangan heran jika Pak Seno, dalam salah cerita Dewi Lestari yang terkenal, pernah titip pesan begini: “…kita tidak bisa menyamakan kopi dengan air tebu. Sesempurna apa pun kopi yang kamu buat, kopi tetap kopi, punya sisi pahit yang tak mungkin kamu sembunyikan.”
Ya, bukankah seperti itu juga hidup?
Orang boleh pergi ke salon seminggu empat kali untuk menghaluskan wajah dan menyegarkan rambut. Tetapi bukankah tetap akan ada setidaknya sebiji jerawat atau sebintik komedo juga sebutir ketombe?
Kopi adalah sepucuk nubuah: sekuat apa pun kita mencoba membuat hidup terasa manis, kepahitan toh sewaktu-waktu akan datang berkunjung.
Pada momen-momen yang dilimpahi rasa pahit yang bergelombang seperti sekarang, masuk akal kupikir jika aku mulai bisa menikmati kopi pahit.
Tetapi fakta bahwa aku baru bisa menikmati kopi pahit kembali setelah beberapa kali duduk di hadapanmu adalah soal yang lain dan mungkin juga misteri yang lain.
Ada satu lelucon yang menarik dari sebuah jamuan makan malam di istana Kerajaan Inggris, Buckingham Palace. Biarkan aku mengisahkannya padamu.
Pada jamuan makan malam itu, Sir Winston Churchill dikisahkan bercakap-cakap dengan bangsawan Inggris yang anggun bernama Lady Nancy Astor:
Lady Nancy Astor: “Jika kau adalah suamiku, Winston, aku akan menyuguhi kopi yang rasanya seperti racun.”
Winston Churchill: “Jika aku adalah suamimu, madame, aku tetap akan meminumnya.”
Kira-kira kamu tahu apa artinya itu? Entahlah. Tapi jika boleh menebak, seandainya Winston Churchill menjadi suami dari Lady Nancy Astor, dia mungkin tak akan percaya kalau Lady Nancy Astor yang terkenal anggun, lembut dan baik akan menyuguhkan kopi yang rasanya seperti racun. Lagipula, walaupun yang bersangkutan sudah mengingatkan bahwa kopi buatannya terasa seperti racun, masih adakah orang yang sanggup menolak kopi yang dibuat dan disuguhkan oleh perempuan seperti Lady Nancy Astor?
Kamu tentu saja bukan Lady Nancy Astor. Tapi aku ikut senang mendengar ceritamu yang akan mulai bekerja dan belajar menjadi peracik kopi. Menjadi seorang barista, katamu. Nikmati saja pekerjaan barumu itu. Kendati barangkali penghasilanmu tak seberapa dibanding pekerjaanmu terdahulu, setidaknya kau bisa menjadi seorang barista, menjadi seorang peracik kopi. Itu pekerjaan yang spesial.
Aku membayangkan, satu waktu, tempatmu bekerja mengalami perubahan desain interior. Ruangan bar, tempat barista menyiapkan dan meracik menu-menu yang dipesan, tak lagi ditempatkan di belakang, tetapi ditempatkan persis di tengah ruangan kafe sehinga setiap pengunjung, mungkin juga aku, bisa menyaksikan kesibukanmu menyiapkan menu, menaruh kopi hitam yang sudah dirajang, menuangkan air panas, mengaduknya dengan gerakan tangan yang tertata.
Mungkin itu bisa menjadi sebuah “pertunjukan” yang menarik. Barangkali seperti menyaksikan jemari seorang pianis yang lincah menekan-nekan tuts. Dan suara denting sendok dan cangkir akibat kesibukanmu meracik dan menyaipkan menu bisa sama merdunya dengan petikan dawai akustik.
Ah, mungkin saya terlalu berlebihan. Tapi ada satu mimpi yang pelan-pelan sedang kuanyam. Biarlah kali ini aku berterus terang.
Aku ingin mengalami momen di mana pada satu malam kau mendatangiku dengan cangkir kecil di tangan seraya berkata: “Ini racikan kopi yang terbaru. Maukah kau jadi orang pertama yang mencicipinya?” Selengkapnya......