Selasa, Mei 29, 2007

The Girl in the Café

buat: nd

Coffee has two virtues: it is wet and warm. (Dutch Proverb)

Aku bukan seorang pecandu kopi. Aku harus mengatakan ini karena aku tak ingin menutupinya hanya karena kita pernah ngopi beberapa kali atau hanya karena kamu sedang belajar menjadi peracik kopi di sebuah café.

Tapi aku juga tak ingin berdusta bahwa aku begitu menikmati saat di mana aku mereguk secangkir kecil espresso hitam yang pahit di di hadapanmu. Kau pasti ingat, belakangan aku sering memesan jenis kopi selain espresso. Espresso hitam tanpa gula yang ku pesan jika aku sedang duduk di hadapanmu. Tidak capuccino, tidak juga hot chocolate.

Barangkali, kamulah yang diam-diam mengajariku untuk bisa menikmati kembali khidmatnya segelas espresso.

Dulu aku pernah menjadi seorang pecandu kopi tanpa gula. Kopi pahit. Di awal-awal kedatanganku di Jogja, setiap pagi aku biasa menyeduh kopi tanpa gula. Dan meminumnya dengan tergesa. Aku lupa kenapa tiba-tiba aku bisa melupakan kopi pahit dan beralih menyukai teh panas, aneka macam juice dan bir.

Ya, aku kembali bisa menikmati kopi pahit setelah menghabiskan beberapa jam pada beberapa malam yang lengang bersamamu.

Tapi ada yang berbeda. Dulu, aku selalu menyeduh kopi pahit dalam gelas atau cangkir berukuran besar. Selain karena aku tak punya gelas berukuran kecil, aku juga merasa kopi pahit dengan jumlah yang melimpah lebih bisa memberi pasokan tenaga. Sekarang aku selalu minum kopi pahit dalam cangkir berukuran kecil, untuk tak menyebutnya mini. Kenapa? Karena aku meminum kopi pahit di café dan bukan di kamar kos atau di rumah.

Anehnya, aku akan kembali menyeduh teh hangat dan bukan kopi pahit jika sedang berada di kantor, di rumah atau sedang duduk-duduk bersama teman-teman yang lain. Aku hanya bisa menikmati kopi pahit jika kau sedang berada di hadapanku.

Kalau ingat fakta sederhana itu, aku sering berpikir: aku ini sebenarnya sedang menikmati kopi pahit ataukah sedang menikmati keberadaanmu di depanku?

Yang aku tahu, kopi pahit kembali bisa kunikmati dengan khidmat bersamaan waktunya dengan kedatangan sejumlah persoalan yang kadang tak sepenuhnya bisa kuatasi.

Aku ingat sosok Lawrance dalam film The Girl in the Café. Pernahkah kau menyaksikan film itu?

Ya, Lawrance adalah tokoh utama film produksi BBC tersebut. Dia seorang lelaki paruh baya yang mengalami banyak perubahan setelah bertemu dengan Gina Taunton, seorang gadis muda yang tak jelas asal-usulnya, di sebuah café kecil sewaktu rehat makan siang. Lawrence tak punya apa-apa dalam hidupnya selain “pekerjaan”. Itulah satu-satunya yang ia miliki.

Belakangan aku juga merasa terancam oleh ketakutan tak memiliki apa pun selain pekerjaan. Aku terancam tak lagi memiliki keluarga yang utuh. Terancam tak lagi memiliki orangtua yang utuh. Aku juga terancam untuk mengubur cita-cita melanjutkan studi, karena jenjang studi yang sekarang saja hampir gagal aku selesaikan.

Adakah yang lebih menyesakkan selain menyadari bahwa ada satu cita-cita yang hampir gagal dicapai dan ancaman kegagalan menyelamatkan sebuah keluarga yang mana aku menjadi bagian tak terpisahkan darinya?

Sekarang aku hanya punya pekerjaan plus sejumlah teman baik yang jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Tiap hari aku menyuntuki kertas-kertas kerja. Berpacu dengan deadline harian yang tak pernah tersenyum. Tenggelam dalam tumpukan buku-buku tua, koran-koran tua, catatan-catatan tua, kisah-kisah tua. Laptop menjadi “kiblat” sehari-hari, tuts-tuts laptop menjadi benda yang paling sering kusentuh, screen laptop menjadi benda yang paling sering kutatap.

Kamar kerjaku yang diseraki kertas-kertas lusuh, tebaran buku yang tak rapi ditata dan rak-rak yang dipenuhi koran-koran tua, tak lagi sekadar menjadi ruang kerja, tetapi seperti sudah menjadi kuil tempat aku menggelar “ritual ibadat harian”.

Pada titimangsa itulah kopi pahit kembali bisa kukhidmati dengan penuh takzim. Kopi pahit tanpa gula seperti menjadi metafora yang pas dari hidup yang belakangan terasa sedikit pahit.

Saya kira, cara pandang model itu berbanding lurus dengan sekuplet puisi TS Elliott. Di salah satu puisinya, Elliot menulis: "I have measured out my life with coffee spoons."

Lihatlah bagaimana Elliot mengukur segala macam kepahitan, kebahagiaan dan pengalaman hidupnya melalui sendok-sendok kopi. Elliot mungkin ingin memberi tahu, makin banyak sendok menuangkan kopi, makin pahit juga hidupnya. Dan makin sedikit sendok kopi yan dituang, makin tidak pahit pula hidupnya.

Tetapi kopi tetaplah kopi. Rasa pahit adalah bagian tak terpisahkan dari dirinya. Rasa pahit akan selalu setia menemani kopi. Rasa pahit tak mungkin berkhianat pada kopi, seperti kepahitan juga selalu mengiringi hidup.

Jangan heran jika Pak Seno, dalam salah cerita Dewi Lestari yang terkenal, pernah titip pesan begini: “…kita tidak bisa menyamakan kopi dengan air tebu. Sesempurna apa pun kopi yang kamu buat, kopi tetap kopi, punya sisi pahit yang tak mungkin kamu sembunyikan.”

Ya, bukankah seperti itu juga hidup?

Orang boleh pergi ke salon seminggu empat kali untuk menghaluskan wajah dan menyegarkan rambut. Tetapi bukankah tetap akan ada setidaknya sebiji jerawat atau sebintik komedo juga sebutir ketombe?

Kopi adalah sepucuk nubuah: sekuat apa pun kita mencoba membuat hidup terasa manis, kepahitan toh sewaktu-waktu akan datang berkunjung.

Pada momen-momen yang dilimpahi rasa pahit yang bergelombang seperti sekarang, masuk akal kupikir jika aku mulai bisa menikmati kopi pahit.

Tetapi fakta bahwa aku baru bisa menikmati kopi pahit kembali setelah beberapa kali duduk di hadapanmu adalah soal yang lain dan mungkin juga misteri yang lain.

Ada satu lelucon yang menarik dari sebuah jamuan makan malam di istana Kerajaan Inggris, Buckingham Palace. Biarkan aku mengisahkannya padamu.

Pada jamuan makan malam itu, Sir Winston Churchill dikisahkan bercakap-cakap dengan bangsawan Inggris yang anggun bernama Lady Nancy Astor:

Lady Nancy Astor: “Jika kau adalah suamiku, Winston, aku akan menyuguhi kopi yang rasanya seperti racun.”

Winston Churchill: “Jika aku adalah suamimu, madame, aku tetap akan meminumnya.”

Kira-kira kamu tahu apa artinya itu? Entahlah. Tapi jika boleh menebak, seandainya Winston Churchill menjadi suami dari Lady Nancy Astor, dia mungkin tak akan percaya kalau Lady Nancy Astor yang terkenal anggun, lembut dan baik akan menyuguhkan kopi yang rasanya seperti racun. Lagipula, walaupun yang bersangkutan sudah mengingatkan bahwa kopi buatannya terasa seperti racun, masih adakah orang yang sanggup menolak kopi yang dibuat dan disuguhkan oleh perempuan seperti Lady Nancy Astor?

Kamu tentu saja bukan Lady Nancy Astor. Tapi aku ikut senang mendengar ceritamu yang akan mulai bekerja dan belajar menjadi peracik kopi. Menjadi seorang barista, katamu. Nikmati saja pekerjaan barumu itu. Kendati barangkali penghasilanmu tak seberapa dibanding pekerjaanmu terdahulu, setidaknya kau bisa menjadi seorang barista, menjadi seorang peracik kopi. Itu pekerjaan yang spesial.

Aku membayangkan, satu waktu, tempatmu bekerja mengalami perubahan desain interior. Ruangan bar, tempat barista menyiapkan dan meracik menu-menu yang dipesan, tak lagi ditempatkan di belakang, tetapi ditempatkan persis di tengah ruangan kafe sehinga setiap pengunjung, mungkin juga aku, bisa menyaksikan kesibukanmu menyiapkan menu, menaruh kopi hitam yang sudah dirajang, menuangkan air panas, mengaduknya dengan gerakan tangan yang tertata.

Mungkin itu bisa menjadi sebuah “pertunjukan” yang menarik. Barangkali seperti menyaksikan jemari seorang pianis yang lincah menekan-nekan tuts. Dan suara denting sendok dan cangkir akibat kesibukanmu meracik dan menyaipkan menu bisa sama merdunya dengan petikan dawai akustik.

Ah, mungkin saya terlalu berlebihan. Tapi ada satu mimpi yang pelan-pelan sedang kuanyam. Biarlah kali ini aku berterus terang.

Aku ingin mengalami momen di mana pada satu malam kau mendatangiku dengan cangkir kecil di tangan seraya berkata: “Ini racikan kopi yang terbaru. Maukah kau jadi orang pertama yang mencicipinya?”

15 komentar:

Arya Perdhana mengatakan...

boleh deh kapan2 kita ngopi bareng Zen? sambil ngobrol santai soal pahitnya hidup? hehehe.

cya mengatakan...

ah ya.. secangkir kopi pahit selalu istimewa
mengingatkanku pada seorang teman
aneh ya betapa segelas kopi bisa membawa kita pada berbagai hal


*cya meninggalkan jejak juga akhirnya. mencoba menunjukkan eksistensi mungkin? ^^

Zam mengatakan...

weh,..

kalimatnya mantab.. hingga mahasiswa berotak bebal macam saya harus mengunalng-ulang membacanya untuk mengerti.. :D

ah, kopi.. saya suka juga, walau ndak sampai maniak. kalo COffeemix itu karena gratisan di kantor :D

suka nongkrong di Blandongan gak?

zam - jengjeng.matriphe.com

ikram mengatakan...

to smell a good coffe as well as to taste a good, never been so special without a good barista.

and the best barista is the one that wait for you at home to serve her tastiest blend

Gitareja mengatakan...

aku penggemar kopi, cappuccino tepatnya, bukan kopi pahit. But it will always be my delight pleasure to have some coffee with you, and we can talk about your 'dian sastro version' barrista... hehehe...

Rieke Pernamasari mengatakan...

tulisan yang menyentuh. sepertinya ada yang sedang rindu seseorang nih...
kalau aku jadi dia, untuk paragraf terakhir, aku akan menelpon sekarang dan berkata "Mau mampir ke cafe ku?"
hehehe...;)

ira puspitaningsih mengatakan...

jen, tulisan ini ada karena kamu terlalu mengakrabi laptop, dan tuts-tutsnya...

lalu kapan jemarimu akan beradu dengan jemari seorang perempuan...

ayolah, cari perempuanmu di usiamu yang sekarang ini...

selak modar lho kowe...
malah nyesel ngko...

btw, kopi itu memang enak
kopi favoritku buatan nenek
yang langsung dipetik dari tegalan
lalu ditumbuk sendiri dengan lumpang batu, dan di sangrai sampai matangnya sempurna

itu kopi paling yahud
mungkin karena kopi asli buatan nenek ya, hehehe...

turabul-aqdam mengatakan...

ZEN, ada dua 'huahahahahaha' buatmu.

huahahahahaha pertama,... dah berani masuk cafe? dulu tak ajak ke Hugo ga pede.

huahahahahaha kedua,.. kapan jemarimu beradu dengan jemari perempuan? *hmm... belum tau Ira..

turabul-aqdam mengatakan...

dan satu bonus 'huahahahahaha' kuberikan untuk kau simpan,

kau gunakanlah ketika kesedihan itu mencapai titik nadir dan tak ada cara lain menghadapinya, kecuali menjadikannya sebagai lelucon.

ekowanz mengatakan...

pertama kesini nih...
rangkaian kalimatnya bagus om :D

*sign comment buat other sengaja ga dikasih y*

perempuan bukan tjatjing pita mengatakan...

padahal saya sedang penasaran mengapa kebanyakan orang jawa timur gandrung abis minum kopi.. bukan kapal api tentunya.. tetapi kopi tumbukan aslie..
konon katanya, kalau bertamu dan disuguh teh.. itu bukan pertanda baik..
tapi saya ga yakin.. mereka-mereka yang saya sebut gandrung minum kopi.. menginsyafi bahwa pahitnya kopi bisa juga untuk menakar pahitnya hidup, hehe

Anonim mengatakan...

wuihhh... tulisannya manis bener. padahal kan lagi ngomongin kopi pahit ;)

"nd" itu siapa ya? tokoh fiksi atau nyata? kalo nyata, apakah yang bersangkutan udah baca tulisan ini? kalo udah, kaya apa reaksinya? jadi malu nih gw keliatan penasaran.

Uthie mengatakan...

duh, ga ngerti deh klo soal jenis2 kopi. taunya mah, pabrik kopi aroma di bandung. akakakakakak...

slam knal...

Sat mengatakan...

Aku gak suka kopi. Apalagi yang pahit. Kadang aku ngerasa hidup ini gak usah dibuat lebih pahit lagi kalau memang sudah pahit.

Memesan sebuah kopi pahit berarti sama saja dengan memesan kepahitan, bukan? Aku lebih senang memesan es teh saja. Sederhana, simpel, mendinginkan otak, dan manis....

Anyone for es teh manis? ;)

Islah mengatakan...

mas, momennya jangan hanya satu malam saja untuk menikmati racikan barunya, kalau bisa setiap kamu merindukannya. caranya, buatin cewek itu kedai kopi baru dan kerja di sana suruh dia jadi barista utamanaya. interiornya tergantung kesukaanmu, mungkin dengan memperbanyak buku dan koran kuno di kadai kopi itu. namanya BOOK COFFE BAR jargonnya MENYERUPUT KOPI SAMBIL MEMBACA! tempatnya gak usah jauh-jauh dari kantor kerjamu. Gimana mas?