Kamis, Maret 20, 2008

Nikah di Depan Jenazah Ayah

-- scriptopedia kematian (1)

Beberapa bulan lalu saya pernah menonton feature “10 film bertema wedding terbaik versi HBO”. Beberapa di antaranya sudah saya saksikan. Tapi, dari 10 film tersebut, sepertinya tak ada yang sedramatis pernikahan seperti yang akan saya ceritakan sebentar lagi. Menariknya, ini bukan film, tapi sebuah kisah nyata.

Peristiwa ini berlangsung di Jogjakarta, tepatnya di Bangsal Kencono, salah satu ruangan paling wingit di Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Di ruangan inilah raja-raja dari Dinasti Hamengkubuwana menjalankan kekuasaannya. Usia Bangsal Kencono hampir setua usia Kraton Yogyakarta.

Pernikahan yang aneh, ganjil dan tak pernah terjadi sepanjang sejarah kraton ini digelar pada 7 Oktober 1988. Keganjilan ini disebabkan –setidaknya—oleh tiga pokok: (1) akad nikah dilaksanakan di Bangsal Kencono, (2) akad nikah digelar untuk empat pasangan kakak-beradik sekaligus dan (3) pernikahan dilaksanakan di hadapan jenazah Sultan Hamengkubuwana IX.

Hamengkubuwana IX, yang pernah menduduki beberapa jabatan penting di republik ini (dari mulai Menteri Pertahanan, Ketua KONI hingga Wakil Presiden), wafat pada 2 Oktober di Rumah Sakit Geoge Washington, Amerika.

Hari itu, jenazah Hamengkubuwana IX baru saja tiba di Jogja, setelah sempat disemayamkan pada malam sebelumnya di Jakarta. Sebelum tiba di Jakarta, jenazah dibawa dari bandara Honolulu oleh pesawat Garuda Indonesia Airways. Sebelum tiba di Honolulu, jenazah dibawa oleh Air Force II (pesawat kepresidenan Wakil Presiden Amerika) langsung dari Washington.

Akad nikah dilangsungkan hanya beberapa saat setelah jenazah Hamengkubuwana IX disemayamkan di Bangsal Kencono. Di tengah suasana duka yang menjalar ke seantero negeri (pemerintah menetapkan hari berkabung nasional selama 7 hari) itulah, di bawah tatapan ratusan pasang mata yang sembab di dalam Kraton dan puluhan ribu pasang mata yang mencoba mengintip dari luar pagar, akad nikah yang ganjil dan aneh itu pun digelar.

Siapa saja yang menikah?

Pertama, Gusti Bendoro Pangeran Haryo Yudhaningrat, anak ketiga Hamengkubuwana IX dari istrinya yang kedua, Kanjeng Raden Ayu Hastungkoro. Ia menikah dengan Raden Roro Endang Hermaningrum, seorang sarjana hukum lulusan Universitas Atmajaya Jogjakarta.

Kedua, Gusti Bendoro Pangeran Haryo Candradiningrat, anak keempat Hamengkubuwana IX dari ibu yang sama dengan Yudhaningrat. Ia menikah dengan Hery Iswanti.

Ketiga, Gusti Bendoro Pangeran Haryo Pakuningrat, anak pertama Hamengkubuwana IX dari istrinya yang ketiga, Kanjeng Raden Ayu Ciptomurti. Perempuan yang beruntung menjadi istri Pakuningrat adalah Nurita Afridiani (26 thn), seorang lulusan akademi sekretaris. Saya pernah melihat potretnya sewaktu muda. Hidungnya mancung, sorot matanya tajam, bibirnya ranum, dan kulitnya kuning langsat.

Keempat, Gusti Bendoro Pangeran Haryo Cakraningrat, adik kandung persis Pakuningrat dari ibu yang sama. Ia menikah dengan Laksmi Indra, seorang insinyur yang biasa disapa Etty.

[Hamengkubuwana IX memiliki lima istri. Hamengkubuwana X lahir dari istri yang kedua, Hastungkoro. Dari lima istrinya itu, ia memiliki 22 orang anak. Ini belum seberapa. Simak daftar ini: Pakubuwana III beranak 46 orang, Pakubuwana IV beranak 56 orang, Pakubuwana V beranak 45 orang, Pakubuwana IX beranak 57 orang. Padahal belum ada viagra! Hehehehe….]

Empat pasangan yang menikah itu maju satu per satu mendekati jenazah ayahnya yang terbaring di Bangsal Kencono. Mereka menghaturkan sembah sebanyak lima kali, sama takzim dan khidmatnya seperti mereka menghaturkan sembah sewaktu Hamengkubuwana IX masih hidup. Puluhan pasang mata yang bisa masuk ke Kraton hanya bisa menyaksikan lima kali sembah itu dari jauhan. Tak ada satu pun yang boleh mendekati jenazah.

Mereka menikah di hadapan sebilah keris yang tak diketahui namanya sebagai simbol dari ayahandanya yang sudah mendiang. Semuanya digelar tanpa satu pun kilatan blitz. Tak ada kamera yang memotret. Semua prosesi akad pun digelar nyaris dengan hening karena pengras suara memang tak digunakan.

Sebelumnya, mereka sudah lebih dulu menyambut kedatangan jenazah mendiang yang baru saja diturunkan dari ambulance yang membawa jenazah dari bandara Adi Sucipto. Mereka berjejer di sebelah kiri dari jalan yang akan dilewati peti jenazah. Semuanya mengenakan pakaian serba hitam dan bawahan terbuat dari batik berwarna coklat yang bercorak truntum latar cemeng. Semuanya tanpa hiasan dan perhiasan. Hari itu tak boleh.

“Saya sedih dan bingung,” kata Gusti Bendoro Pangeran Haryo Cakraningrat mengoementari pernikahannya ini.

[Beberapa tahun silam, saya pernah membaca berita pernikahan yang sejenis. Kali ini menimpa orang biasa yang bukan bangsawan. Saya lupa di koran mana dan di daerah mana. Yang terang, pernikahan ini –seingat saya—bisa jadi lebih dramatis.

Berkebalikan dengan peristiwa di Bangsal Kencono, pernikahan ini hanya menikahkan satu pasangan. Tapi -- ini yang lebih dramatis-- pasangan ini menikah di hadapan lima jenazah sekaligus yang merupakan keluarga dari mempelai lelaki yang tewas karena kecelakaan ketika hendak menghadiri akad nikah ini]

16 komentar:

sayurs mengatakan...

temen ndesoku ada yang ngalami itu, tapi yang dihadapinya adalah jenazah sang ibu. itu pun juga ada keris di situ, entah apa maknanya..

Rezki mengatakan...

Aneh

kw mengatakan...

sedih banget yak. kenapa harus dipaksakan? apakah ini berhubungan dengan "hari baik" itu?

iman brotoseno mengatakan...

Saya ada disana,..Cakraningrat yang biasa dipanggil Mas Sas adalah sahabat, kakak kelas di UI dulu.

omith mengatakan...

wah aku pernah hadir acara pernikaahan seperti ini..
di temen ku yg kedua ortu na meninggal saat kecelakaan..
dan detik itu juga dilangsung kan pernihkaan di depan jenasah..

*tragis memilukan*
plus haru biru boo

Anusapati mengatakan...

Kalo tidak salah, dulu aku pernah baca, Sultan HB IX juga menikah di depan jasad ayahnya yang mangkat 1940. (Coba cek deh, mungkin aku salah). Tapi soal keluarga Sultan HB IX, menarik juga Zen untuk tahu apa yang terjadi pada 2 saudara tiri HB IX yang Perwira KNIL, saat HB IX kukuh ikut republik di tahun 1945.

haris mengatakan...

pernikahan yang pasti amat sulit....

nonadita mengatakan...

kasihan sekali jenazah harus melewati rangkaian prosesi pernikahan dulu sebelum dikebumikan.

padahal sebaiknya penguburan jenazah lekas-lekas dilaksanakan, tho?

Chic mengatakan...

saya juga menikah di depan jenasah ayah saya, sebelum jenasah ayah saya dibawa ke pemakaman.

memang sih tidak ada profesi adat dan sebagainya, hanya ritual akad nikah di depan penghulu yang ngga sampai 15 menit. tapi tidak lah aneh dan ganjil untuk dilaksanakan.

mikow mengatakan...

apa ini karenakan permintaan almarhun sebelum wafat?

leksa mengatakan...

seorang teman saya yang belajar Teologi Islam di paramadina pernah bercerita .. pada dasarnya pernikahan adalah hak dari kedua mempelai. Penghulu berperan sebagai penyemat dan lebih pada adat dan ritual agama. Apalagi saksi. Secara konsep seperti itu..

Jadi saya melihat ini mungkin bagian dari adat. Tidak aneh, jika memang kontruksi sosial mengehendaki begitu..

*komen panjang pertama di Mas Zen :p

ikram mengatakan...

Aneh dan menzalimi hak jenazah untuk segera dikuburkan. Tapi tentu keluarga punya alasan lain yang jadi otoritas mereka... Nggak mau ikut campur ah :)

Btw Zen, aku malah pernah baca ada sepasang jenazah dikawinkan. Dulunya mereka pacaran, lalu meninggal kecelakaan. Terus dikawinkan lalu dikubur.

Ckckckck. Malam pertama di kuburan!

adiwiarta mengatakan...

Kok saya tidak menemukan alasan kenapa pernikahan ini dilangsungkan demikian ya?
Referensi penulisan cerita ini bisa dibagi kan? Buku atau orang?

Salam kenal, blog yang bagus!
_andi

Nadya Fadila mengatakan...

hiii...iya aneh...
entah apa alasan dibaliknya!=pp

mPitzky mengatakan...

mo kawin repot, mo mati lebih repot lagi. dem. besok aku mo langsung jalan aja ke lobang kuburku sendiri tuz nunggu Izrail menyentak arwah dari raga. ntar tukang galinya tinggal nguruk. asik keknya.

xixixi...

Endang Suhendar mengatakan...

Hery Iswanti anak siapa? asal mana? istri pangeran yang lain jelas asal-usulnya, tapi siapa Hery Iswanti? Trims