Minggu, Maret 16, 2008

Ijazah

Inilah salah satu contoh dari teks yang dibacakan sewaktu seorang Doktor ditahbiskan di sebuah universitas di Eropa pada 1932:

“Saluten! Sapienti consilo a mairoribus nostis institutum est ut bonarum artium studiosi, anteaquam doctrinam suam ad communem vitae usum confferrent laudabiliter peractis studiis adademicis publicum peterent industriae et eruditionis testimonium et documentum. Quamobrem cum ornatissimus Jan Rusconi e pago Ede legibus academicis satisfecisset atque ad summos honores iam contenderet ipsius eruditiioni debitos. Nos, quo causam honestissimam aduivaremus, cum de progressibus eius in disciplinis ad faculatem Litterarum et Philosophiae pertinentibus disquisiotinem intstituimus, tum audivimus eum defendetem dissertationem cui titulus: Sjair Kompeni Welanda Berperang dengan Tjina voorzien van inhoudsopgave en aanteekeningen.

In quibus omnibus cum sese talem praestitisset, ut nobis doctrinam et diligentiam probaret, honorificum quod ei debetur virtutis testimonium tribuimus idque propter insignia eius prae ceteris merita CUM LAUDE. Quaproter, Nos, pro prostate nobis concessa, eundem Jan Rusconi LITTERARUM et PHILOSOPHIAE DOCTOREM solemni more creavimus et renuntiavimus et ei concessimus quiquid iuris et honoris doctori letime creato aut lege aut longa consuetudine tribui haberiquie solert. Cuius rei quo sit certior et testatior fides, diploma hoc publicum, manu Actuarii Nostri subscriptum et maiori Universitatis sigillo confirmatum, ei tredendum curavimus.”


Artinya:

"Salam dan hormat bagi pembaca! Dengan pertimbangan arif bijaksana maka menjadi ketentuan para pembesar kami bahwa para mahasiswa susastra, setelah menjalankan studi akademis secara gemilang sebelum membaktikan kesarjanaannya bagi kehidupan publik perlu menerbitkan bukti dan dokumen kegiatan sistematik (adademisi) dan keterpelajarannya. Karen Jan Rusconi yang sangat cemerlang dari kota Ede memenuhi persyaratan akademis dan berusaha mencapai kehormatan tertingginya yang masih menjadi tugas kesarjanaannya, ketika kami menguji kemajuannya dalam displin yang berhubuangan dengan Fakultas Sastra dan Filsafat, dan pada saat kami mendengar dia memertahankan disertasi yang berjudul Sjair Kompeni Welanda Berperang dengan Tjina voorzien van inhoudsopgave en aateekeningen.

Kami memberikan dukungan bagi pencapaian yang sata pantas mendapat penghormatan itu. Berdasarkan semua alasan yang tersebut di atas ketika dia menunjukkan keutamaan begitu luar biasa sehingga membuktikan kepada kami keterpelajarannya, ketekunan dan kerajinannya, maka kami memberikan kesaksian bahwa saudara yang terhormat tersebut pantas diberikan tandajasa yang melebihi yang lain-lain dengan Cum Laude. Karena itu, Kami, dengan wewenang yang dilimpahkan kepada kami, dengan megah menobatkan dan melantik Jan Rusconi tersebut Doktor Sastra dan Filsafat dan menyerahkan apa saja yang dari pertimbangan hukum dan dari pertimbangan kehormatan baik yang berdasarkan undang-undang atau berdasarkan tradisi panjang harus diberikan kepada dan harus dimiliki oleh seorang doktor yang secara syah dinobatkan. Agar keyakinan terhadap dokumen tersebut lebih syah dan lebih terjamin berdasarkan sumpah kami merasa berkewajiban menyerahkan ijazah negeri yang ditulis oleh Panitera Kami dan disahkan cap utama Universitas."


Teks ini ditulis dalam bahasa Latin, yang selama belasan abad menjadi “Bahasa Tuhan”. Pilihan bahasa ini, membuat teks penahbisan tersebut memiliki gema seperti suara dari langit, mungkin seperti do’a-do’a para paderi di gereja. Ini meneguhkan aura kemegahan, keagungan dan sekaligus kesungguhan yang dikelola oleh pihak universitas.

Teks ini kadang disebut “Kredensial” atau “Surat Kepercayaan” yang tradisinya bahkan sudah bertahan sejak abad XV atau bahkan jauh lebih tua lagi. Sepertinya ini menunjukan konservatisme atau kekolotan. Tapi, percayalah, melalui apa yang sepintas konservatif atau kolot inilah kecenderungan untuk “memberhalakan” ijazah itu dimulai.

Ijazah ini menjadi “modal” yang –jika dikelola dengan maksimal—akan berubah menjadi “harta” dan dari “harta” kemudian dialihkan menjadi “kuasa”.

Doktor Daniel Dhakidae, yang terjemahannya atas teks bahasa Latin saya gunakan di atas, menyebut ini sebagai “lingkaran yang tak terputuskan karena kekuasaan pada gilirannya harus sekali lagi berputar-balik untuk mengkonversikan ‘barang’ jadi ‘modal’ lagi dalam siklus yang hampir-hampir tak pernah putus”.

7 komentar:

pitik mengatakan...

gmana ya kalo ditulis pake huruf honocoroko ijasah dari lulusan2 di jawa itu ya?bagus kayaknya..hehehe

Anonim mengatakan...

bagaimana dengan ijazah S-1 mu sendiri? ditulis pakai huruf apa?

kw mengatakan...

saya suka steve jobs, pramudya dan andrie wongso. mereka tak punya ijasah tetap keren.
...
...
...

dan zen! tentu saja :)

sayurs mengatakan...

komen ke dua (by anonim) ra tegel mbacanya... sing nulis kok yo sampe ati.. wkakakaka...

lamanday mengatakan...

Srinivasa Ramanujan Iyengar (Ramanujan), jenius dari pedalaman India yang hidup di pergantian abad 1900 an, juga hampir tidak pernah mengenyam pendidikan formal tentang matematik, tapi ia jadi seorang penemu banyak teori matematika murni yang mencengangkan dunia.

Bukan pendidikan formal yang utama.

Tapi kisah Lintang dalam Laskah Pelangi mungkin bisa menginspirasi bahwa bakat dan kecerdasan juga bisa tersia-sia jika tidak tersalurkan secara tepat, dan barangkali saat ini, di zaman ini, saluran yang paling diagungkan adalah pendidikan formal.

Peng-agung-an yang, mau tidak mau harus dihadapi...

Ramanujan mati muda, di usia 32 tahun. Ia tidak hidup di zaman kita sekarang.

...

haris mengatakan...

ijazah itu berhala paling tahan lama mungkin

ikram mengatakan...

Tulisan ini sangat berbau politik dalam negeri (atau dalam hati) hehehe.