Minggu, Februari 25, 2007

Derita yang tak Tertanggungkan oleh Cerita

Derita menjadi tertanggungkan ketika menjelma menjadi cerita. (Hannah Arendt)

Seorang petinju pada akhirnya akan sadar bahwa hidup tak bisa ditaklukkan hanya bermodalkan kepalan tangan. Riwayat Rahman Kili Kili, petinju yang Kamis lalu ditemukan gantung diri, menegaskan kembali hal yang sebetulnya sederhana itu.

Rahman memang pernah berjaya dan sempat mewakili Indonesia di Olimpade dan Kejuaran Dunia Yunior. Tapi itu semua seperti tak berarti sebab Rahman menjadi mantan petinju yang hidup di Indonesia, bukan di Amerika. Rahman bukan Joe Frazier atau Mohammad Ali. Rahman juga bukan Jim Braddock yang kisahnya pernah difilmkan oleh Ron Howard dengan judul Cinderella Man.

Rahman Kili Kili hanya seorang petinju yang pernah berjaya pada satu waktu tapi dipaksa untuk menelan kenyaataan betapa kejayaan dan kejatuhan di Indonesia begitu tipis marginnya.

Itulah sebabnya dalam panggung tinju Indonesia tak mungkin ada Cinderella Man, bahkan untuk seorang Elyas Pical sekali pun yang mencatatkan diri sebagai The Indonesian Man pertama yang meraih gelar juara dunia. Apalagi untuk seorang Rahman Kili Kili. Ring tinju baru terasa menyenangkan bagi seorang mantan petinju yang kebetulan punya cakap dan cuap yang mulus macam Syamsul Anwar Harahap.

Di sini ironi lagi-lagi menyembul: bahkan di Indonesia, ring tinju lebih menghargai mantan petinju yang cakap berkomentar ketimbang mantan petinju yang pernah jadi juara dunia.

****
Kita percaya, tak ada orang yang sesiap petinju dalam menghadapi kerasnya hidup dalam pengertian yang paling fisikal. Mereka juga dibekali kemampun membaca lawan dan menyiasatinya dengan cerdik lewat sejumlah strategi bertinju. Itulah sebabnya petinju yang hebat tak selalu mengandalkan otot, tapi juga otak.

Tapi kita patut heran, kenapa sungguh sering kita dengar para petinju dan mantan petinju punya kehidupan yang boyak, bermasalah dan dilimpahi kasus-kasus kriminal, seakan-akan mereka hanya bermodal otot yang keras dalam mengarungi hidup dan kehidupan?

Sudah lama kita terbiasa menganggap petinju sekadar manusia berotot, yang seakan-akan tak membutuhkan keteguhan mental atau kejernihan pikiran dalam membaca kekuatan dan kelemahan lawannya.

Saya pernah membaca tulisan Pablo Picasso yang bernada minor ihwal manusia-petinju. Menurutmu, apa itu seorang artis? kata Picasso, ”…Seorang lumpuh yang hanya punya matanya, seakan-akan dia seorang pelukis, atau hanya punya kupingnya kalau dia musisi, atau sebuah lyre (harpa kecil) di setiap jengkal hatinya kalau ia seorang penyair, atau kalau ia seorang petinju, maka ia hanya punya otot?”

Picasso ingin meninggikan derajat seniman (pelukis), seraya pada saat yang sama merendahkan musisi, penyair dan terutama petinju. Jangan heran jika Picasso menyebut petinju di tempat paling buncit, setelah musisi dan penyair; sebuah kenyataan yang sadar atau tak menggambarkan bagaimana seorang Picasso menilai derajat seorang petinju.

Tapi Picasso tentu saja tak sendirian. Suara Picasso adalah suara manusia zaman ini, manusia yang ditatah otaknya oleh doktrin modernisme yang mengalasdasari dirinya dengan rasionalisme. Akibatnya, hal ihwal yang sifatnya fisikal menjadi sekunder. Jangan heran jika kuli yang bertumpu pada otot, yang bekerja 12 jam sehari dengan keringat yang hampir mengering, dibayar hanya 25 ribuan. Peradaban kita adalah peradaban yang memuja rasionalisme dan pada saat yang bersamaan merendahkan otot.

Rahman Kili Kili, yang dikabarkan frustasi karena beban hidup dan ekonomi, yang hanya tahu berkelahi dan bertinju, akhirnya menyadari benar hal itu.

Jadi, jika pun hari ini kita masih senang menonton pertarungan tinju, alam bawah sadar kita sebenarnya sedang beroperasi. Ya, sedang beroperasi. Sebab tinju yang masih kadang kita saksikan itu menjadi medium tempat kita mengenali kembali salah satu naluri bar-bar manusia.

Freud dan Erich Fromm pernah berpanjang lebar mengulas naluri destruksi yang diidap manusia. Bagi Freud, ada dua naluri yang bertarung dalam kesadaran manusia yaitu naluri kehidupan (eros) dan naluri kematian (thanatos). Ciri naluri kehidupan adalah penyatuan dan integrasi. Naluri kematian berciri pemisahan dan disintegrasi.

Fromm kemudian merevisi pandangan itu dengan melansir tesis yang intinya adalah manusia pada dasarnya memegang prinsip biofilia (memuja kehidupan). Fromm akui bahwa ada pergulatan antara semangat biofilia dengan patologi nekrofilia, tapi tak pernah ada manusia yang mutlak hanya memiliki satu orientasi saja. Selalu ada semangat nekrofilis dan biofilis sekaligus.

Manusia modern mencoba melenyapkan naluri nekrofilia itu melalui sistem yang kita sebut sebagai hukum. Tapi, hukum seringkali justru hanya sanggup menyamarkan, jika tak dibilang merawat diam-diam, naluri nekrofilis itu.

Tinju yang sudah menjadi olahraga adalah kreatifitas manusia untuk terus bisa memelihara naluri destruksi tanpa manusia harus kehilangan prestisenya sebagai mahluk yang beradab; sebuah kesantunan penuh topeng dari apa yang kita banggakan sebagai peradaban modern.

Itulah sebabnya tinju juga diperlengkapi senarai aturan main yang mencoba membuat tinju menjadi olahraga yang nyaman dan beradab. Tinju barangkali tak lagi menjadi olahraga bar-bar, tapi setidaknya masih bisa kita sebut sebagai “yang paling bar-bar dari yang tidak bar-bar”.

Janganlah heran jika kita pernah mendengar komentar Joe Frazier, petinju yang pernah menaklukkan sekaligus ditaklukkan oleh Muhammad Ali. “Tiap kali sedang berada di atas ring,” kata Frazier yang putrinya juga menjadi seorang petinju profesional, “Aku (selalu) ingin memukulnya, menjauh darinya dan melihatnya sakit. Aku ingin jantungnya.”

Jika menonton tinju dipercaya sebagai salah satu cara manusia merayakan kembali naluri destruksinya dengan cara yang santun, maka menonton tinju tanpa pernah sekalipun bertinju menjadi penegasan betapa kita pada saat yang sama juga sedang mengingkari naluri bar-bar itu.

Dengan hanya menonton tinju dan bukannya bertinju, bisa jadi kita seakan hendak bersaksi: “Tinju itu memang mengasyikkan, tapi biarlah kita menonton saja, cukup orang-orang bar-bar itu yang melakukannya!”

Menonton tinju merupakan perayaan dan pelupaan sekaligus. Tapi apakah dengan itu kita menjadi makin beradab?

****
Anda masih ingat atau pernah mendengar Alfaridzi? Jika tak, akan saya ingatkan secukupnya.

Alfaridzi adalah petinju muda yang diakui punya bakat istimewa. Dalam puncak karirnya, Alfaridzi menjadi sosok populer, yang tak semata karena kemampuannya dan skill-nya dalam bertinju, tapi juga karena parasnya yang ganteng. Dengan kulit putih dan raut muka yang bersih, Alfa barangkali lebih pas menjadi model ketimbang petinju. Pada masa jayanya, Chris John yang kini menjadi sosok paling populer dalam dunia tinju profesional di Inodonesia, kalah populer, bahkan kendati ia berhasil mengkanvaskan Alfa pada satu laga.
Alfa punya nasib tak kalah tragis dari Rahman Kili Kili. Bedanya, Rahman tewas karena gantung diri, sementara Alfa tewas sehabis bertarung dengan petinju Thailand, Kongtawat Ora, pada awal April 2001. Alfa memang tak wafat di atas ring, tapi di rumah sakit, selang beberapa hari usai laga terakhirnya.

Tapi ada yang menarik dari kematian Alfa. Beberapa jam sebelum pertarungangan terakhirnya, Alfa sempat menulis di secarik kertas sebuah pasase berbunyi: “….ibu, jangankan darah dan keringat, nyawa pun akan Alfa korbankan demi keluarga.....”

Carik kertas itu diserahkan Alfa pada kekasihnya, seraya berpesan agar kertas itu diberikan pada ibunya kelak jika ia benar-benar mati di atas ring. Firasat Alfa terbukti benar dan sepenuhnya presisi.

Kita tak tahu apakah Rahman meninggalkan wasiat atau testimoni pungkasan. Yang bisa kita baca dari kesaksian saudara-saudara Rahman adalah beberapa hari terakhir sebelum kematiannya, Rahman selalu tampak murung. Rusnani, salah satu saudara Rahman memberi kesaksian kalau belakangan Rahman suka menulis buku harian dan senang membaca buku-buku agama.

Menarik untuk merenungkan hal ini. Bagaimana bisa seseorang seperti Rahman yang begitu intens membaca buku-buku agama, sangat intens ketimbang waktu-waktu sebelumnya, bisa mengambil pilihan tragis yang tak dibenarkan oleh nyaris semua agama di dunia. Apa yang terjadi? Kurang mantapkah kepastian dan janji-janji manis agama bagi para pemeluknya yang taat sampai-sampai Rahman memilih menggantung diri? Ataukah Rahman yang salah membaca dan memahami buku-buku agama? Sayang saya tak tahu jawabnya.

Kenyataan bahwa Rahman juga selalu menulis catatan harian di hari-hari terakhirnya sempat membuat saya berpikir untuk tak lagi mengutip Hannah Arendt. Ada salah satu parafrase Arendt, penulis trilogi Asal-Usul Totalitaransime, yang begitu saya suka, dan pernah saya kutip dalam salah satu tulisan.

Arendt, yang banyak menulis ihwal trauma, dendam dan luka bangsa Yahudi pasca holocaust, percaya bahwa menulis, tepatnya bercerita lewat medium tulisan, adalah salah satu model terbaik dalam swa-terapi, penyembuhan diri sendiri, dari sebuah kondisi batin yang koyak moyak oleh guncangan mental, oleh luka-luka, atau pengkhianatan. Saya dengan senang hati selalu mengutip parafrase Arendt itu: “Derita menjadi tertanggungkan ketika menjelma menjadi cerita.”

Tapi aktivitas menulis catatan harian oleh Rahman (kita belum tahu apa isinya) ternyata tak mampu menanggungkan luka dan himpitan beban mental yang menerjangnya. Kurang jujurkah Rahman dalam menulis seperti yang disyaratkan Arendt agar tulisan bisa menyembuhkann? Ataukah Arendt yang silap untuk memahami hal sederhana betapa derita kadang terlalu perkasa untuk ditanggungkan sekadar oleh sebuah cerita yang dituliskan?

Atau barangkali Arendt hanya memaksudkan hipotesanya itu bagi para penulis dan pengarang saja? Jika benar begitu, ya sudah saya akan meninggalkan Arendt, persisnya kutipan Arendt itu, karena saya yakin, luka dan derita yang ditanggung para anonima, manusia-manusia yang tak mampu menggerakkan pena untuk mencatatkan dirinya dalam sejarah, jauh lebih kompleks dan lebih berat ketimbang derita bohemian para pengarang dan penulis.

Saya sungguh ingin tahu apa yang ada di kepala Rahman, atau orang-orang yang tewas bunuh diri, di hari-hari kehidupannya. Barangkali kita akan menemukan sebuah arus pemikiran yang mengalir deras tetapi sekaligus juga tak beraturan. Saya membayangkan, isi kepala Rahman dan siapa pun yang akhirnya memutuskan bunuh diri, barangkali sama riuhnya dengan isi kepala Plato sewaktu memikirkan lebih dulu “idea” atau “realita” atau seriuh isi kepala Muhammad sewaktu dibuat pusing oleh wahyu pertama Tuhan yang praktis tak mungkin bisa ia laksanakan secara letterlijk (kalau saya jadi Muhammad yang buta aksara, barangkali saya akan jengkel jika setelah bertapa berbulan-bulan lamanya Tuhan justru datang dengan perintah “sepele” yang sialnya tak bisa saya lakukan: bacalah… bacalah… bacalah!)

Menarik juga untuk merenungkan kebiasaan lain Rahman Kili Kili di hari-hari terakhirnya. Seperti yang juga dituturkan Rusnani, Rahman dikisahkah kerap melakukan aktivtas lari, jogging, mengelilingi kampung, tiap pagi dan sore di hari-hari terakhirnya.

Jika Rahman sudah memutuskan gantung diri sewaktu ia masih berlari-lari, maka Rahman berarti sedang mengenang dan menghayati semua laku yang bertahun-tahun sebelumnya ia lakoni. Saya jadi ingat Kawabata, yang kabarnya banyak menghabiskan hari-hari terakhirnya sebelum ia bunuh diri diam-diam pada April 1972 dengan berjalan-jalan memandangi rak-rak buku di kamar kerjanya, tanpa sedikit pun menyentuh apalagi membacanya.

Agak mirip, bukan? Seorang atlet ingin mengenang kehidupan yang diakhirinya dengan berolahraga, seperti seorang penulis yang mengenang kehidupan yang akan diakhirinya dengan memandangi lekat buku-buku.

Tapi jika lari-larinya Rahman tiap pagi dan sore dilakukan sebelum ia mengambil keputusan gantung diri, maka lari-lari itulah yang barangkali sebelumnya diyakini sebagai salah satu swa-terapi. Bukankah lebih masuk akal jika seorang mantan petinju yang depresi mencoba melarikan diri dengan berolahraga ketimbang melakukan swa-terapi dengan menulis dan bercerita seperti yang pernah dengan begitu lirihnya diungkapkan Hannah Arendt. Dari sini saya mulai yakin, tampaknya bercerita sebagai aktivitas menanggungkan derita seperti yang dbilang Arendt hanya berlaku bagi para penulis dan pengarang(?).

Saya jadi ingat film Forrest Gump. Si tokoh yang punya keaenahan prilaku (diperankan dengan sempurna oleh Tom Hanks) mengalami banyak transformasi dan pencerahan ketika melakukan aktivitas lari-lari yang gila-gilaan. Sayang, Rahman tak segila Forest Gump dalam berlari-lari, jadi endingnya pun tak seindah film Forrest Gump (astaga, bahkan film secemerlang Forrest Gump pun tak kehilangan selera klasiknya yang senang mengahiri cerita dengan ending yang menyenangkan).

Ending Rahman Kili Kili tentu saja jauh dari menyenangkan.

1 komentar:

M Irfan Zamzami mengatakan...

Apakah yang membedakan Socrates, pemikir klasik, dengan Einstein, pemikir modern? Socrates dibenci orang karena ia tak suka demokrasi, Einstein terusir dari Jerman karena ia Yahudi. Seperti yang dikatakan Kitab Kejadian, Hawa telah memakan buah terlarang, sebab itu pengetahuan selalu berekses. Blogmu semakin canggih saja...