Senin, Februari 27, 2006

Kisah Sepotong Nama

Wangsa Aidit (6)

Persoalan nama bisa menjadi persoalan tak penting bagi Shakespeare. What Is an a name? Apakah arti sebuah nama? Tapi cobalah tanyakan apa arti sebuah nama kepada semua anggota keluarga D.N. Aidit. Bersiaplah menerima jawaban yang berbanding terbalik dengan cemooh Shakespeare yang termasyhur itu.

Bagi adik, anak, cucu, keponakan dan semua kerabat D.N. Aidit, nama bisa menjadi persoalan hidup mati. Kata Aidit yang melekat di belakang namanya menjadi password yang telah membawa mereka pada sebuah jalan hidup yang sungguh berliku, pedih, dan sangat… sangat… tidak menyenangkan.

Aidit. Selembar nama itu menjadi bala bagi siapapun yang mengenakannya. Tak pandang bulu. Apakah anak kecil atau orang tua yang sudah renta. Bahkan orang-orang yang tak ada nama Aidit di identitasnya tetap akan menanggung bala jika diketahui bersangkut, langsung atau tidak, dengan siapa pun yang memiliki nama Aidit. Bala itu macam-macam bentuknya: dari mulai ditangkap, dipenjara, diasingkan ke pulau yang jauh, diawasi, dan diekskomunikasi dari kerabatnya yang lain.

Itu bala yang dihumbalangkan secara langsung oleh penguasa. Sejumlah bala yang tak kalah memedihkan juga datang bertubi-tubi dari masyarakat biasa, para tetangga, teman, bahkan kerabat. Para pemilik nama Aidit dijauhi. Tak berkawan. Dicaci maki sebagai “anggota keluarga setan” menjadi pengalaman sehari-hari.

Tak banyak yang bisa diperbuat. Diam adalah pilihan yang paling masuk akal. Sesekali salah satu pemilik nama Aidit itu melawan. Berkelahi dengan para pengejeknya. Wajah yang melebam dan babak belur adalah hadiah yang ditangguk dari aksi perlawanan dan perkelahian itu

Boleh percaya boleh tidak, sudah lama sekali, jauh sebelum pageblug 1965, persoalan nama memang sudah menjadi bahan pembicaraan di keluarga Aidit. Kita bisa memulainya dari nama Dipa Nusantara Aidit: nama yang paling masyhur dari serentetan nama Aidit yang lain.

Kita tahu, nama asli Aidit adalah Ahmad Aidit. Itulah sebabnya semua adik dan kerabat Aidit memanggilnya Bang Amat. Ada dua versi tentang muasal nama Dipa Nusantara Aidit. Versi pertama menyebutkan bahwa ketika Aidit berada di Batavia dan terlibat dalam aktivitas politik di Menteng 31, Aidit mengirim surat kepada ayahnya, Abdullah. Surat itu berisi permohonan agar Abdullah mengijinkan Aidit berganti nama. Abdullah mengabulkan. Maka bergantilah nama Ahmad Aidit menjadi Dipa Nusantara Aidit. Perubahan nama itu kemudian oleh Aidit sendiri disahkan di hadapan notaris.

Pada masa itu, perubahan nama bukanlah barang aneh. Beberapa pemuda aktivis melakukannya. Mungkin untuk menandai perbatasan antara nilai-nilai lama dengan nilai-nilai baru. Mengganti nama lama dengan nama baru diharapkan bisa menjompakkan semangat memerjuangkan nilai-nilai baru tersebut. Salah satu nama yang juga mengubah nama adalah Hanafi. Salah satu pentolan Menteng 31 ini juga mengganti nama depannya dengan inisial A.M. yang merupakan kependekan dari kata Anak Marhaen. Jadilah Anak Marhaen Hanafi.

Nama Dipa Nusantara sendiri dipakai Aidit untuk menghormati jasa pahlawan nasional Pangeran Diponegoro. Aidit berharap, penggunaan nama Dipa itu bisa memantik inspirasi dan semangatnya untuk membebaskan Nusantara dari cengkeraman kolonialisme. Persis seperti yang pernah pula diupayakan Diponegoro.

Tetapi tak sedikit yang sinis menanggapi perubahan nama Aidit. Salah satu argumen kelompok ini adalah: Aidit menghapus nama Ahmad menjadi Dipa Nusantara sepenuhnya alasan politis. Mosok pemimpin PKI namanya Ahmad?

Versi pertama inilah yang hingga kini paling santer terdengar. Salah seorang yang “mengedarkan” versi ini adalah adik kandung Aidit sendiri, Sobron Aidit. Sejumlah literatur tentang Aidit yang paling kredibel sekalipun, seperti esai Leclerc atau bukunya Peter Edman, meyakini versi inilah yang paling bisa dipercaya.

Versi lain yang nyaris tak muncul ke permukaan dikemukakan oleh Asahan Sulaiman Adit, bungsu dari tujuh bersaudara Aidit. Versi ini bisa dijumpai dalam buku Menolak Menyerah, Menyingkap Tabir Keluarga Aidit (Yogyakarta: Era Publisher, 2005) yang merupakan sebuah reportoar karya dua penulis muda Budi Kurniawan dan Yani Andriansyah. (Buku itulah yang paling banyak menyumbangkan informasi bagi penulisan esai ini, khususnya untuk bagian-bagian tentang kehidupan keluarga Aidit di luar Sobron dan D.N. Aidit sendiri).

Kata Asahan, Ahmad Aidit telah berubah menjadi Dipa Nusantara Aidit sejak ia dilahirkan. Sumber yang digunakan Asahan adalah sebuah akte kelahiran Aidit sendiri. Akte itu bertarikh 1923, tahun kelahiran Aidit, dan ditandatangani langsung oleh Abdullah Aidit langsung. Asahan ingat betul, akte yang berhiaskan lukisan indah itu masih menggunakan bahasa Melayu agak kuno. Di akte itulah tertulis: Anak dari Abdullah Aidit yang lahir pada 1923 yang saya beri nama Ahmad Aidit, bila dia telah menginjak usia dewasa akan menggunakan nama Dipa Nusantara Aidit.

Jadi jelas, tegas Asahan, nama Dipa Nusantara bukanlah ciptaan abangnya ketika ia sudah di Batavia, melainkan nama yang memang diciptakan oleh ayahnya langsung.

Asahan, si bungsu yang mahir menggesek biola ini, juga punya sebuah refleksi yang lucu tentang persoalan nama di keluarganya. Begitu menyadari bahwa nama Dipa Nusantara adalah ciptaan ayahnya, Asahan langsung berpikir: Kenapa ayahnya tak menamai anaknya yang lain dengan nama segagah Dipa Nusantara?

Asahan bertanya-tanya, kenapa namanya tidak ditambah menjadi Sulaiman Dian Khatulistiwa saat masih kecil? mengapa ketika dewasa namanya tidak berganti menjadi Sulaiman Dian Khatulistiwa Aidit yang disingkat SDK Aidit. Sedangkan Sobron umpamanya menjadi Sobron Penata Persada Aidit dan disingkat SPP Aidit. Lalu Murad, misalnya, berubah menjadi Murad Zamrud Jawa Dwipa Aidit atau MZJD Aidit. Sedangkan Basri menjadi Basri menjadi Basri Sengsara Sepanjang Masa Aidit dan disingkat BSSM Aidit—Basri adalah abang Asahan yang sepanjang hidupnya selalu dirundung sengsara hidup sehingga menurut Asahan dia itu tak berhak menggunakan nama yang jaya berbinar-binar.

Asahan sendiri akhirnya memang melakukan perubahan nama. Asahan adalah nama hasil perubahan itu. Aslinya ia bernama Sulaiman. Setelah hidup menggelandang di Eropa, Asahan berpikir untuk mengganti nama. Maka diperolehlah nama Asahan. Lengkapnya Asahan Alham. Alham sendiri merupakan akronim dari kalimat alhamdulillah. Nama Aidit dibuang jauh-jauh untuk selama-lamanya.

Murad, adik Aidit yang lain, pernah pula menghapuskan nama Aidit. Ketika ia baru saja dibebaskan dari Pulau Buru pada 1978, Murad langsung menyaksikan sejumlah kenyataan pahit yang jelas-jelas diskriminatif. Mereka selalu siap di-litsus (akronim dari “penelitian khusus”, sebuah metode screening yang dipraktikkan orde Baru). Mereka yang tak lulus litsus hampir dipastikan tidak akan pernah bisa memiliki KTP. Mereka juga tak mungkin bisa menjadi pegawai negeri sipil maupun tentara. Mereka dijegal.

Ketika Murad masih tinggal di Cikole, Bandung, Murad nekat tetap memasang nama Aidit. Tetapi ketika sedang berwirausaha di bilangan Depok dengan memelihara ternak, atas desakan sejumlah kawan-kawan dekatnya, Murad akhirnya menyembunyikan identitas Aidit-nya. Alasannya cukup bisa diterima Murad: dengan tetap menggunakan nama Aidit ada kesan kalau Murad sedang menantang. Melenyapkan identitas Aidit itu dilakukan Murad hingga waktu yang cukup panjang. Ketika Murad menikah untuk yang keduakalinya hingga dianugerahi seorang anak, Murad juga menyembunyikan identitas Aidit-nya kepada istri kedua dan anaknya itu. Enam menantu Murad yang menikahi enam anak Murad dari istri pertama bahkan baru-baru ini saja mengetahui rahasia nama Aidit di belakang nama Murad. Beberapa tahun kemudian, setelah Murad berketetapan mennyandang kembali nama Aidit, Murad baru menceritakan semuanya.

Menyembunyikan nama Aidit memang menjadi pilihan yang paling banyak diambil keluarga Aidit. Selain Asahan dan Murad, Ilham Aidit juga melakukan hal yang serupa. Dlam rentang waktu yang cukup lama, ia hanya menggunakan nama Ilham. Ilham pernah pula menambahkan nama Alam Putera di belakang namanya. Alam Putera adalah nama samaran yang sering digunakan ayahnya ketika sering menulis di media massa pada masa mudanya.

Ilham juga memilih tak menerakan nama Aidit di belakang dua puterinya. Ilham tak mau ejekan dan cacian yang biasa dia terima dulu juga dialami anak-anaknya. Ilham juga cukup lama menyembunyikan nama Aidit kepada dua puterinya itu. Baru dua tahun yang lalu Ilham menceritakan kepada dua anaknya itu ihwal siapa nama kakeknya. Kendati beberapa guru anak-anaknya di sekolah telah mengetahui rahasia ini, namun untungnya dua putri Ilham tak mengalami pengalaman pahit dirinya dulu.

Kakak kandung Ilham, Iwan Aidit, yang kini masih bermukim di Kanada, juga melakukan hal yang diambil Ilham kepada anak-anaknya. Iwan menghapuskan nama Aidit dari belakang namanya. Iwan kini menyandang nama Iwan Hignasto Legowo.

Tak cuma adik, anak dan cucu Aidit yang punya kisah tentang arti sebuah nama bagi hidup mereka. Moyang dari wangsa Aidit sendiri, Abdullah Aidit, punya kisah yang menarik tentang nama Aidit yang tersampir didirinya itu. Bedanya, kisah yang menimpa Abdullah bukan kisah sedih, melainkan cerita ringan yang, menurut hemat saya, masih relevan dikisahkan di sini semata untuk menegaskan bahwa keluarga Aidit memang punya persoalan yang khas dengan sebuah nama, sekaligus juga untuk meluruskan silap paham yang banyak beredar ihwal identitas dan kiprah Abdullah Aidit.

Ketika pada tahun 1950 Abdullah menjadi anggota parlemen mewakili daerah Belitung, Abdullah ketika itu sama sekali belum memiliki rumah sendiri. Akhirnya oleh sekretariat parlemen Abdullah diinapkan di hotel. Uniknya, setelah diatur sedemikian rupa, Abdullah harus menginap di hotel Centraal di jalan Citadel. Bukan hotelnya yang jadi masalah. Yang jadi pokok perkara adalah dengan siapa Abdullah menginap? Ternyata, Abdullah Aidit harus menginap dengan anggota parlemen bernama… Abdullah Aidid!

Ini kebetulan yang langka. Keduanya punya nama persis. Yang membedakan hanya satu huruf, yaitu huruf paling belakang nama masing-maing: Aidit dan Aidid. Jika Abdullah Aidit merupakan anggota parlemen non-fraksi, sedangkan Abdullah Aidid adalah anggota fraksi Masyumi. Barangkali, kebetulan inilah yang menyebabkan beredarnya salah kaprah ihwal jati diri Abdullah Aidit yang pernah santer dikabarkan sebagai anggota Masyumi. (bersambung)

0 komentar: