Selasa, Februari 28, 2006

Bertemu Pelarian

Wangsa Aidit (7)

Budi Kurniawan, salah seorang penulis buku Menolak Menyerah: Menyingkap Tabir Keluarga Aidit, dihubungi oleh Ilham Aidit pada salah satu hari di bulan April 2005. Ilham mengundang Budi ke sebuah pertemuan. "Bung datang ya. Ada pertemuan keluarga. Ibaruri datang dari Prancis." Begitu bunyi undangannya.

Pada pertemuan itu, hadir sekitar 50 orang keluarga Aidit. Di sana ada Murad Aidit bersama beberapa anak dan cucunya, beberapa sepupu dan ponakan Ilham pun hadir. Beberapa saudara jauh DN Aidit yang datang dari Pulau Belitung pun terlihat hadir. Dan seperti yang dijanjikan Ilham, Ibaruri Aidit, anak sulung D.N. Aidit benar-benar hadir.

Ibaruri adalah anak pertama pasangan DN Aidit-Dr Tanti. Jauh sebelum Tragedi 30 September 1965 terjadi, Iba dan Ilya disekolahkan DN Aidit ke luar negeri (Moskow, Rusia). Ketika itu ada semacam naluri politik dalam diri DN Aidit untuk menyekolahkan anak-anak perempuannya ke luar negeri sehingga jika ada gejolak politik yang membahayakan, mereka bisa menyelamatkan diri. Sementara yang laki-laki seluruhnya bersekolah dan berada di Indonesia.

Iba dan Ilya sebenarnya sukses meraih gelar sarjana di Eropa Timur. Tapi gelar itu menjadi tak bermakna apa-apa ketika mereka kemudian ‘pindah’ dan terpaksa berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain, dari satu negeri ke negeri yang lain. Di Prancis dan beberapa negara Eropa lainnya, gelar itu tak diakui.

Namun seperti kebanyakan korban politik lainnya, Iba tetap tegar. Berbekal berbagai bahasa yang ia kuasai, hingga kini Iba --juga keluarga Aidit lainnya-- mampu bertahan hidup. Iba memang agak menyesal juga karena tak bisa menjadi WNI. Tapi semua itu rupanya tak menghilangkan kecintaannya pada negeri ini. Ia juga tak menghiba-hiba untuk mendapatkan status kewarganegaraan itu.

Ibaruri, juga adiknya Ilya, praktis tak pernah lagi melihat ayah-ibunya. Terakhir kali mereka bertemu, ya… ketika kedua orangtuanya itu melepaskan kepergian mereka sewaktu hendak berangkat ke Eropa.

Budi Kurniawan akhirnya betul-betul bertemu dengan Ibaruri. Di pertemuan keluarga Aidit yang digelar di sebuah tepian danau yang sejuk di kawasan Ciputat, Tangerang, Banten, Budi Kurniawan berkenalan dengan Iba. Ketika itu, setelah sebelumnya dikenalkan pada beberapa anggota keluarga lain yang belum dikenalnya, Ilham membimbing Budi menemui seorang perempuan berambut pendek, berkulit putih, dan berwajah agak bundar. Budi bersalaman dengannya.

Ibaruri. Begitulah perempuan itu menyebut namanya. (Bersambung)

2 komentar:

about:blank mengatakan...

hmmh...ini materi-materi
yang akhirnya dimasukan ke dalam
buku "menolak menyerah..." kah ?
kalau begitu pemilik blog salah
satu dari dua penulis ?
salam kenal

Budi Kurniawan mengatakan...

Bung Zenrs88, apa kabar? Saya Budi Kurniawan, penulis buku Menolak Menyerah, Menyingkap Tabir Keluarga Aidit dan Melawan dengan Restoran.
Terimakasih telah mengutip dan "mempromisikan" isi buku-buku yang saya tulis.

Salam hangat,
Budi Kurniawan