Minggu, November 25, 2007

Biarkan Buku Membukakan Dirinya

Jorge Luis Borges, orang Argentina yang meraih Nobel Sastra pada 1986, pernah membayangkan surga itu seperti sebuah perpustakaan yang agung.

Tentu saja saya tahu itu metafora. Tapi bagi orang yang justru tak pernah bisa membaca secara maksimal di perpustakaan, macam saya ini, metafora Borges itu pastilah berlebihan.

Kemarin saya nonton film Everything is Illuminate. Ada seorang kakek yang tak buta tapi selalu ingin dianggap buta, namanya Baruch, yang sewaktu muda terkenal punya kelakuan aneh. Tiap hari dia berkunjung ke perpustakaan di desanya. Tapi dia tak pernah membaca. Dia hanya sibuk menenteng-nenteng buku. Ia hanya menaruh buku itu di atas meja dan diam mematung seraya memandangi tumpukan buku di hadapannya.

Saya kadang merasa seperti tokoh Baruch jika berkunjung ke perpustakaan. Selalu bersemangat melihat katalog manual maupun digital, sibuk memesan buku, tapi kerap berakhir buruk: hanya membuka-buka saja, sesekali mencatat, dan seringnya berakhir dengan menulis order foto copy (terutama jika uang saku lagi berlebih).

Tapi ini bukan hanya terjadi di perpustakaan.

80% koleksi buku yang saya punya tersusun di paviliun bagian depan rumah. Selain ada sekira 1500-an buku, di paviliun itu juga saya tumpuk koran-koran, kliping-kliping, kertas-kertas kerja yang belum selesai, majalah dan jurnal, sebiji komputer pentium 3 yang sering ngadat, serta meja bundar dan empat kursi yang semuanya dari jati. Dan, tentu saja: semuanya berantakan dan acak kadul. Simbok menyebut ruangan itu sebagai "gua hira".

Apa yang terjadi: saya sangat jarang membaca di ruangan itu. Saat susah tidur, saya sering pergi ke paviliun dan mengambil beberapa buku. Lalu duduk di kursi. Membuka-buka buku, garuk-garuk, ngudud klepus-klepus, menguap, lalu beranjak ke dalam rumah sembari menenteng buku. Sembari rebahan di karpet, saya bisa lama membaca, kadang hingga pagi. Ketika bangun, saya sering menyadari, buku di karpet itu makin banyak ketimbang malam sebelumnya.

Jika saya sedang di kantor Jakarta, yang di semua ruangannya penuh dengan buku-buku, saya juga mengalami hal serupa. Bukan sekali dua saya berada di kantor Jakarta selama seminggu atau dua minggu dan saya tak pernah membaca serius. Membaca sambil lalu saja. Sekadar say hello, barangkali. Sebagian besar waktu saya habiskan di depan monitor, bekerja, menulis, menyunting naskah, membuka blog, sesekali chatting, browsing atau menghabiskan waktu dengan rebahan di sofa empuk sembari mencari-cari film bagus di HBO, Cinemax, AXN, atau nonton bola di EPSN dan MUTV.

Ya, saya lebih bisa membaca di ruangan yang tak terlalu banyak buku. Saya bisa secara acak mengambil salah satu di antaranya dan sering berjam-jam menekuri satu biji buku saja. Jika bukunya tak menarik, saya bisa ambil yang lain, begitu dan begitu seterusnya. Tapi saya bisa lebih tahan lama memegang buku jika begitu, ketimbang di ruangan yang sesak dengan buku, entah di perpustakaan pribadi, kantor atau perpustakaan umum.

Itulah sebabnya saya menyebar 300-an koleksi buku lainnya di seantero rumah. Di depan tivi, di karpet dekat pintu, di jendela, di kamarku atau kamar adikku, di buffet, kadang di dapur juga ada. 100-an buku juga saya angkut ke kantorku di dekat alun-alun kidul Jogja.

Dengan begitu, saya berharap, saya bisa ambil salah satu buku jika sedang rebahan, nonton tivi, atau jika lagi bengong tak karuan. Dan, seperti biasanya, saya bisa lebih tahan membaca.

Saya tak tahu kenapa dan saya tak berniat mencari jawabannya. Mungkin ini memang prilaku dan kebiasaan saya.

Seorang lelaki paruh baya, berusia sekitar 46 tahun, yang koleksi bukunya 20 kali lipat lebih banyak dari saya, yang sampai menyewa sebuah rumah di tepi jurang Dago Bengkok di Bandung hanya untuk menyimpan seperenam koleksi bukunya (sisanya tersebar di Bali, Jogja, Jakarta dan tertinggal di kota-kota lain yang pernah ia kunjungi: Athena, Yerusalem, Baghdad, Bam di Iran yang hancur oleh gempa, Sabharmati di India, hingga Tibet), ternyata punya prilaku yang sama dengan saya.

Dia pernah menyewa sebuah rumah kecil yang temboknya berdempetan dengan tembok perpustakaan nasional di Salemba. Alasannya, agar bisa lebih dekat dengan perpustakaan dan bisa dengan mudah pergi ke perpustakaan jika mau.

Hasilnya, dia hanya sekali masuk ke perpustakaan itu dan itu pun berakhir dengan sia-sia: bengong nggak jelas, hanya melihat katalog, memesan buku, dan dua jam kemudian ngeloyor pergi naik bajaj ke Kwitang.

Ternyata saya tak sendiri. Ada juga orang-orang yang betah membaca, tapi tidak di perpustakaan.

******

Dua malam lalu, untuk pertama kalinya, saya memikirkan hal ini. Pemicunya sederhana: buku Surat-surat Politik Iwan Simatupang: 1954-1966.

Ini buku yang punya kisahnya sendiri sampai bisa di tangan saya. Dulu, seorang teman di kampusku, mencari buku ini setengah mati untuk keperluan skripsinya tentang novel Iwan Simatupang, Merahnya Merah. Hingga dia mengundurkan diri dari kampus tanpa menggondol ijazah, saya tak berhasil membantunya. Ajaibnya, saya menemukan buku ini di sebuah toko buku tua nan sepi di pojok kota Palangkaraya, persis pada saat saya sedang tak memerlukannya.

Itu terjadi pada awal bulan September silam. Saya biarkan saja buku itu. Sewaktu saya mau berangkat ke Jakarta, seperti biasa, saya menyambangi “gua hira”, melihat-lihat rak buku, dan mengambil beberapa. Salah satunya buku Surat-surat Politik Iwan Simatupang itu. Hingga dua minggu di Jakarta buku itu tak pernah saya sentuh.

Dua hari yang lalu, saya tidur sore di sela-sela rak buku di ruangan belakang kantor. Iseng saya ambil bukunya Iwan dan membacanya. Asik juga membaca surat-surat Iwan yang ia kirimkan pada karibnya, B Sularto. Tapi yang jauh lebih menarik adalah surat-surat itu –juga novel Merahnya Merah-- ditulis sewaktu Iwan sedang tinggal di Hotel Salak. Bukan tinggal sehari dua hari, tetapi menetap selama –setidaknya—dua tahun, bersama anaknya (Iwan sudah bercerai ketika itu).

Saya berpikir seperti apa rasanya seorang manusia bohemian macam Iwan tinggal di hotel selama dua tahun. Di kamar yang tak seberapa luas, dengan seorang anak, memikirkan biaya sewa, makan, dll. Iwan menyebut dirinya sebagai “manusia hotel” atau ia juga menyebutnya “manusia in transito”.

Esoknya, setelah seharian bekerja, saya berbaring di tempat yang sama, di sela-sela rak besi perpustakaan di ruangan belakang kantorku. Saya kembali memikirkan tentang “manusia hotel”. Pada satu momen saya menoleh ke buku-buku yang tersusun di sampingku. Dan: aku menemukan biografi Sofyan Ponda yang ditulis Mottinggo Boesje dan dikata-pengantari oleh Rosihan Anwar.

Ada yang tahu Sofyan Ponda? Dia orang yang banyak mendirikan hotel-hotel kelas menengah di Jakarta di tahun 70-an. Hotel Sofyan, yang salah satunya ada di Gondangdia Lama, mengambil namanya. Hotel Menteng juga dia yang bikin dan punya. Dia pernah dijuluki “raja hotel-hotel kecil”.

Saya membaca buku itu dengan senang. Menarik menelusuri kisah hidupnya yang bohemian, yang menikah sampai tiga kali, yang tetap ke bar dan panti pijat walau sudah berusia 60 tahun, dan mengagumi Conrad Hilton yang mendirikan Hotel Hilton itu. Blak-blakan dia bagi kisah hidupnya. Tanpa malu-malu.

Ada kata-kata Sofyan Ponda yang aku suka: “Orang tidak mungkin kaya karena mendirikan hotel, tapi orang kaya biasanya memiliki hotel!”

Tiba-tiba, semuanya terangkai sedemikian rupa menjadi pemahaman baru. Saya menangkap sebuah ide yang berlesatan di udara. Ya, saya akan menulis satu esai tentang ini. Dalam waktu 2,5 jam, esai itu selesai.

Belum sempurna, memang. Saya masih merasa perlu mamajang kata-kata Knut Hamsun dalam novelnya yang menggairahkan, Lapar. Kata-kata itu begitu kuat. Tanpa kata-kata Hamsun, saya merasa ada yang tak lengkap dari esai itu. Sayangnya saya hanya ingat kira-kiranya saja. Persisnya saya lupa. Dan saya tak mau gegabah. Sialnya: saya tak puna novel Hamsun itu, copy yang saya punya ada di Jogja.

Itulah sebabnya esai itu ku biarkan saja bengong di salah satu folder. Tak akan saya kirim sebelum saya baca lagi Hamsun. Sampai kapan? Entahlah. Pastinya sampai saya baca lagi novel Lapar-nya Hamsun itu.

Kapan saya bisa membaca Hamsun? Entahlah. Saya tak akan bersusah payah mencarinya. Sebab, jika memang sudah waktunya, buku itu pasti menampakkan dirinya dengan cara yang tak terduga-duga. Jika saat ini saya belum menganggap kelar esai itu dan belum juga dapat menemukan buku Hamsun, itu artinya memang belum saatnya esai itu saya kirim dan belum pula saatnya saya bisa membaca lagi Hamsun.

Seperti waktu saya menemukan buku Surat-surat Politik Iwan Simatupang. Siapa yang menyangka buku itu tergeletak di toko buku tua dan sepi di Palangkaraya? 5 ribu perak harganya.

Kebetulan? Mungkin saja. Sayangnya saya tak percaya dengan kebetulan. Ya, tak ada kebetulan dalam hidup. Apa yang kita anggap kebetulan-kebetulan itu sebenarnya adalah kepingan puzzle (ke)hidup(an) yang terangkai sedemikian rupa dan lantas membentuk apa yang kita sebut sebagai “sejarah”.

James Redfield, dalam novel Celestine Prophecy yang disebut-sebut membangkitkan gelombang eko-turisme, menyebut itu sebagai “koinsidensi”.

****

Saya pernah membaca Balthasar Oddysey: Nama Tuhan yang Keseratus karangan Amin Maalouf. Buku itu mengisahkan perjalanan Balthasar, seorang saudagar buku dari Spanyol, yang bepergian dari Mesir hingga ke Inggris untuk menemukan buku Nama Tuhan yang Keseratus. Barangsiapa bisa menemukan buku itu dan bisa melafalkan nama Tuhan yang ke seratus (asmaul husna berjumlah 99 bukan?), maka kiamat bisa tertunda.

Tapi sewaktu buku itu sudah diperoleh, Balthasar susah betul membacanya. Tiap kali mulai membaca, matanya sering meremang kabur. Berkali-kali dia mencoba dan selalu gagal. Paling banter cuma dua halaman saja bisa dia baca dalam sehari. Akhirnya buku itu ia taro begitu saja. Hingga beberapa lama. Ketika ia iseng membuka buku itu lagi, ternyata Balthasar bisa membacanya. Meski kadang matanya suka meremang kabur, toh buku Nama Tuhan yang Keseratus bisa dibacanya dengan relatif mudah.

Ada kata-kata Balthasar yang bagus di situ. “Kadang buku sendiri yang memilih kapan ia bisa dibaca dan oleh siapa,” begitu kira-kira kalimat Balthasar.


Begitulah kira-kira hubungan pribadi saya dengan buku-buku. Saya sering membeli buku dan saya tak menyentuhnya hingga berbulan-bulan bahkan tahun. Sampai satu waktu –tiba-tiba—buku itu membukakan dirinya, minta untuk aku buka dan aku baca. Kadang karena buku itu tergeletak di depan tivi atau di samping kasur dan aku malas beranjak ke bunker penyimpanan buku untuk mengambil buku yang lain. Atau kadang tiba-tiba aku menyentuhnya karena pekerjaan menuntunku untuk menyentuh dan membacanya.

Banyak buku yang tak ingin saya sentuh. Tapi jika sudah waktunya, buku itu pasti aku sentuh dan aku buka lalu aku baca. Buku yang menuntun dan menentukan kapan saatnya ia mesti dibaca.

“Buku itu seperti mahluk hidup, kok!” ujar lelaki paruh baya yang sempat kuceritakan tadi itu, lelaki yang nama belakangnya sama dengan nama depanku itu.

Itulah sebabnya, barangkali, saya jarang bisa membaca tekun di perpustakaan. Barangkali seperti seorang lelaki pemula yang sudah susah payah belajar dan menghapal kata-kata cinta tapi tak mampu berbicara sepatah pun sewaktu perempuan yang ditaksirnya sudah berada di depannya; tapi di lain waktu ia bisa dengan lancar bilang “I love you” pada perempuan yang sama saat ia tak merencanakannya sama sekali.

Orang yang mencari akan ditemukan. Kalau tak salah, itu kata-kata Rumi.

Selengkapnya......

Kamis, November 22, 2007

Agar Indonesia Tak Lekas Keriput

-- untuk bersihar lubis

"Kalau kamu mencurahkan tenaga untuk menulis,
seluruh dunia akan mendukungmu...." (Pramoedya Ananta Toer, 1986)

Siapa yang masih percaya bahwa penjara bisa membungkam pengarang dan kata-kata sebaiknya menyimak sumpah Tan Malaka.

Dari dalam kubur, kata Tan Malaka sewaktu diinterogasi polisi Hongkong pada 1927, “Suaraku akan terdengar lebih keras!”

Pengarang boleh mati atau dipenjara. Tapi kata-kata tak pernah bisa dikerangkeng. Sekali tertulis, kata-kata akan tumbuh sendiri, seperti organisme yang hidup, menembusi ruang dan waktu, menempuhi riwayatnya sendiri.

Umur kata-kata seringkali jauh lebih panjang ketimbang usia pengarangnya. Seperti wabah sampar, kata-kata yang ditulis dari kamar yang pengap atau kaki gunung yang sunyi bisa menyebar hingga tempat-tempat yang jauh di seberang benua. Ya, sampai jauh, seperti kata Nyi Ontosoroh kepada Minke: “Tahu kau mengapa aku sayang kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.”

Jika kematian pengarangnya sekali pun tak sanggup menghentikan riwayat peredaran kata-kata, untuk apa lagi mahkamah dan penjara?

Para hakim, jaksa dan polisi, tidakkah Anda mengerti bahwa (gagasan tentang) Indonesia (yang merdeka) dirumuskan, disuar-pendarkan, dibayangkan dan –karenanya bisa dibilang—dilahirkan dari sel-sel penjara dan pulau-pulau pengasingan?

Sewaktu menerbitkan hasil penelitiannya tentang dunia pergerakan antara 1927-1934, John Ingleson dengan tepat memberi bukunya itu judul yang metaforis: “Road to Exile”. Dengan memilih metafora itu sebagai judul bukunya, Ingleson seperti hendak menegaskan bahwa jalan pergerakan menentang kolonialisme Belanda adalah satu rute panjang nan terjal menuju pemenjaraan dan pengasingan.

Dunia pergerakan adalah jalan pintas menuju pemenjaraan dan pengasingan. Banyak aktivis pergerakan yang mesti merasakan pengapnya gedung Landraad seperti yang dialami Soekarno, dinginnya sel penjara seperti dialami Hatta atau Tan Malaka dan buasnya pulau pengasingan yang bertabur malaria dan kolera seperti yang dialami oleh Mas Marco Kartodikromo hinggwa wafatnya di Digoel.

Banyak yang tumpas umurnya. Tak sedikit yang merosot dan jatuh mentalnya, tidak hanya menjadi gila, tapi juga menyerah dalam keputusasaan dan rasa gentar. Tapi, kita juga tahu, pada sosok-sosok terbaik aktivis pergerakan –yang beberapa sudah saya sebutkan namanya barusan-- pemenjaraan dan pengasingan justru membuat visi dan gagasan ihwal Indonesia yang merdeka makin menemukan bentuknya yang jelas dan benderang.

Dan dari dingin dan sunyinya penjara dan pengasingan itulah, mereka mengolah batin, memertajam kepekaan, dan mengasah pikiran. Dari tempat yang jauh dari hiruk pikuk, mereka bertapa dan menggelar apa yang oleh Profesor Sartono Kartodirdjo sebagai “laku yogi” atau "mesu budi" menurut Mangkunegoro V dalam Serat Wedhatama.

Mereka membaca buku yang bisa mereka jangkau, memikirkan apa yang bisa mereka pikirkan dan merenungkan apa yang bisa direnungkan. Hasil pembacaan, pikiran dan perenungan itu mereka olah kembali dan –selayaknya para empu keris—bahan-bahan olahan itu mereka tempa-lipat sedemikian rupa menjadi “berbilah-bilah keris” dengan daya pamor yang gilang-cemerlang.

Soekarno melahirkan berbilah-bilah “keris” berupa berlembar-lembar artikel yang bagus tentang hubungan Islam dan negara. Hatta melahirkan “keris” yang ia namai “Alam Pikiran Yunani”. Sjahrir melansir “keris” yang kelak masyhur dengan julukan “Indonesien Operveinzingen”.

Karya-karya itulah, yang jumlahnya pasti berlimpah jika semuanya disebutkan satu per satu, yang menjadi “medical record” atas embrio yang masih begitu belia: Indonesia. Karya-karya itu pula yang mesti dibaca bagi siapa pun yang ingin memahami bagaimana gestur dan tekstur gagasan (ke)Indonesia(an) dalam bentuknya yang masih janin.

Indonesia –sedikit banyak—memang ditemukan, dibayangkan, disuar-pendarkan dan dirumuskan dari pengapnya ruang pengadilan, dinginnya lantai penjara dan ganasnya pulau pengasingan.

Jika kita memberi dorongan dan dukungan pada Bersihar Lubis, pastikan bahwa dorongan dan dukungan itu bukan hanya untuk Bersihar Lubis karena dia pasti tak akan gontai dan tak akan berhenti menulis. Pastikan bahwa dorongan dan dukungan kita juga bukan semata untuk kebebasan berkarya karena situasi yang tidak bebas dan pemenjaraan justru kerap menjadi ladang persemaian karya-karya besar.

Kita memberi dukungan dan dorongan pada Bersihar Lubis terutama karena kita tidak ingin artikel atau pledoi Bersihar kelak akan diingat dan dibaca oleh anak cucu kita sebagai “medical record” dari Indonesia yang sudah tua, keriput, megap-megap dan nyaris sekarat.

Saya tidak menginginkan itu. Kita tidak menginginkan itu.

Selengkapnya......

Minggu, November 18, 2007

"Oral Sex" Raja Jawa

Saya masih ingat, belasan orang yang ada satu ruangan dengan saya terkejut bukan main sewaktu saya bilang: “Oral seks di Kraton Jawa, dan itu dilakukan oleh sesama laki-laki bangsawan, bahkan diabadikan dalam Babad Tanah Jawi!”

Ketika itu saya berhadapan dengan dua kelompok orang yang sedang bersitegang. Kelompok pertama adalah anak-anak UKM Seni dan Tradisi di bekas kampus yang sudah saya tinggalkan. Mereka baru saja kena “musibah” ditegur keras dan bahkan dibekukan kepengurusannya karena mementaskan satu lakon yang –bagi jajaran rektorat—dianggap melanggar batas-batas kesopanan. Kelompok satunya adalah anak-anak BEM, baik universitas maupun fakultas, yang mengecam pertunjukan itu dan mereka pula yang “menekan” pihak rektorat untuk “menegur keras” UKM Seni dan Tradisi.

Peristiwa itu berlangsung pada tengahan 2005 silam. Sudah lama, memang. Tapi saya masih ingat bahwa argumen pihak rektorat untuk membekukan kepengurusan UKM Seni dan Tradisi karena pertunjukkan itu tidak (1) mengindahkan nilai-nilai ketimuran, (2) tidak edukatif dan (2) tidak memedulikan status kampus sebagai “pabrik” penghasil guru yang mesti bermoral adilihung.

Terus terang saja saya tak sabar karena jargon “nilai-nilai ketimuran” terus direpoduksi selama dua jam terus menerus tanpa ada satu pun dari mereka yang pernah menjelaskan apa yang dimaksud dengan jargon “nilai-nilai ketimuran” itu. Saya yang tadinya hanya mendengarkan–maklum udah mahasiswa tua yang kudu tahu diri—tak tahan untuk tidak angkat bacot.

Dan saya ceritakanlah soal hisap-menghisap sperma itu.

Pangeran Puger diangkat menjadi Sultan Mataram dengan gelar Pakubuwana I setelah berhasil mengalahkan Amangkurat III (keponakannya sendiri). Puger sendiri didukung dan memang meminta dukungan dari VOC. Kendati demikian, status Paku Buwana I bermasalah karena ia naik melalui satu proses yang –katakanlah-- tidak normal. Pangeran Puger merasa ia belum memeroleh “wahyu keraton”. Pendeknya, kekuasaan Puger tidak legitimate.

Lantas, bagaimana ia membangun legitimasinya?

Serat Babad Tanah Jawi memberi legitimasi dengan mengisahkan bahwa Pangeran Puger menghisap sperma Amangkurat II (kakaknya sendiri atau ayah dari Amangkurat III). Dahsyatnya lagi, Puger menghisap sperma ketika abangnya itu sendiri sudah menjadi mayat. (Apa kira-kira istilahnya? Oral sex cum nekrofilia? Hehehe….)

Adegan itu tercatat dalam Poenika Serat Babad Tanah Jawi Wiwit saking Nabi Adam doemagi in Taoen 1647; yang dalam edisi cetakan 1941 ada di halaman 260. Adegan yang sama bisa dilihat dalam monograf yang detail dan memukau karya Darsiti Soeratman yang berjudul Kehidupan Dunia Kraton: Surakarta: 1830-1935 di halaman 212.

Tentu saja saya tahu bahwa babad bukanlah karya ilmiah sejarah. Sudah biasa jika babad-babad itu merupakan hasil kolase fiksi dan fakta. Tapi, pada level membangun legitimasi kekuasaan di hadapan massa rakyat, sudah tak relevan lagi itu fakta atau fiksi. Yang terang, secara sadar fragmen itu memang diciptakan untuk menjelaskan bahwa Puger atau Pakubuwana I sudah menerima “wahyu keraton” dengan menghisap sperma Sultan sebelumnya, Amangkurat II, yang adalah kakak angkatnya sendiri.

Bisakah Anda bayangkan, seorang Sultan Mataram yang menyandang gelar Panembahan Senapati ing Alaga Sayidin Panatagama (Panglima Perang dan Ulama yang Menata Agama) membangun legitimasinya dengan cara menghisap sperma kakaknya sendiri yang sudah jadi mayat?

[Dalam kasus Ken Arok, Kitab Pararaton membangun legitimasi kekuasaany dengan mengisahkan bahwa Ken Arok sudah membawa wahyu kraton (kadang disebut wahyu keprabon) karena sewaktu bayi Ken Arok ditemukan di hutan, badannya sudah memancarkan cahaya berkilauan. Cahaya dari kemaluan --ada yang menyebut dari paha-- Ken Dedes yang dilihat Ken Arok pun kadang ditafsirkan sebagai wahyu kraton yang mendatangi Ken Arok. Bayangkan: wahyu keraton berasal dari selangkangan perempuan. Ck ck ck ck]

Ketika itu saya ajukan sepucuk pertanyaan retoris: “Jadi, jika UKM Seni dan Tradisi dianggap melanggar nilai-nilai ketimuran hanya karena mementaskan lakon hasil adaptasi Serat Centhini, nilai ketimuran mana yang dilanggar?”

Saya masih belum selesai. Saya bilang: “Justru apa yang kita sebut sebagai tradisi kebudayaan Timur itulah yang getol mengeksplorasi pengalaman seksual.”

Serat Centhini, yang disebut-sebut sebagai kitab dengan kadar ensiklopedis karena kekayaan materinya dalam mengungkap kekayaan pengetahuan Jawa, menyediakan satu bagian khusus yang mengajarkan detail hubungan seksual. Muhidin M Dahlan pernah dengan ciamik mengadaptasi sex education ala Centhini ini dalam novel tebalnya, Kabar Buruk dari Langit.

Belum cukup? Dari Bugis, ada juga kitab semacam Serat Centhini ini. Nama kitabnya: “Assikalaibineng”. Sebuah disertasi di UI–yang sayangnya sudah saya lupa judul dan penulisnya—pernah mengkaji manuskrip bugis ini. Dalam khasanah Melayu, dikenal kitab yang dinamai “Serat Pegawai”. (Belum lagi kalau menyebut Kamasutra dari India atau The Secret Garden dari jazirah Arab)

Dari dunia pesantren, sejumlah kita kuning juga menguraikan hal yang sama, di antaranya Kitabun-nikah, Uqudullijain dan Ushfuriyah. Yang juga perlu disebut barangkali adalah Qurrat al-Uyun yang detail mengurai tipe-tipe perempuan berdasar perspektif seksual dan juga membahas tahapan-tahapan dalam hubungan suami istri serta sejumlah persoalan seks lainnya.

[Soffa Ihsan pernah menulis buku–In the Name of Sex: Santri, Dunia Kelamin dan Kitab Kuning-- yang cukup detail memerikan bagaimana prilaku seksual di pesantren, baik antara santri dengan santri maupun santri dengan pengasuhnya dan ini berlangsung sesama jenis. Ada satu istilah yang bisa menggambarkan hubungan macam itu: “mairil”. Remuk redam gini saya pernah mondok di pesantren, jadi tahu dikit-dikitlah “kenakalan” santri-santri yang saban hari hanya melihat mahluk yang sejenis dengannya]

Saya tidak bilang bahwa karya-karya itu mengajarkan pornografi. Sewaktu saya menyebutkan karya-karya itu, saya cuma ingin menegaskan bahwa soal seksualitas adalah medan wacana yang terbuka untuk dibicarakan, diapresiasi dan dipelajari dengan terbuka, tanpa pandang kelas sosial, apakah itu bangsawan atau jelata dan sahaya.

UKM Seni dan Tradisi dan pementasannya tersebut, saya bilang ketika itu, justru meneruskan kembali tradisi kebudayaan Timur yang memposisikan seks sebagai satu diskursus. Bedanya, kali ini menggunakan medium seni pertunjukkan. Dan sejauh yang saya lihat, pertunjukkan itu memang jauh dari pornografi.

Salah satu peserta diskusi sempat menyela dengan mengatakan bahwa perilaku “amoral” itu kan dilakukan oleh para bangsawan dan bukan rakyat kebanyakan.

Saya jawab: Pertama, dalam kesadaran orang Jawa di masa silam, kraton justru adalah sumur di mana standar moralitas Jawa ditimba. Nilai-nilai kebudayaan Jawa banyak lahir dari sana. Jadi, agak sukar untuk menarik segregasi yang hitam putih antara kraton dan jelata-sahaya. Jangan heran jika bagi orang Jawa pada masa itu, menjadi abdi dalem adalah jalan hidup terbaik untuk mengabdi pada pusat moral dan duniawi sekaligus; perilaku yang hingga kini masih bisa kita saksikan di Kraton-kraton Jawa.

Kedua, rakyat jelata juga terlibat dalam konfigurasi tata nilai macam itu, termasuk dalam soal seksualitas. Saya contohkan saja satu kasus yang pernah dieksplorasi dengan cukup detail oleh Darsiti Soeratman dalam monograf yang saya sudah saya sebutkan di awal tadi.

Di Kraton Surakarta, bukan hal aneh jika ada abdi dalem yang mengirimkan anak gadisnya (minimal berusia 12 tahun) ke Kraton. Resminya mereka diminta untuk belajar tari Bedhaya. Mereka kerap disebut para Bedhaya. Di luar yang resmi-resmian itu, para orang tua yang mengirimkan anak gadisnya ke Kraton itu biasanya berharap agar anaknya “dihamili oleh raja” sehingga bisa dinikahi sebagai istri selir (garwa selir atau priyantun dalem). Jika itu terjadi, kekayaan dan status keluarga si gadis bisa terangkat (macam itu bisa masuk delik perdagangan perempuan gak ya?)

Dan harapan itu kerap terkabul. Bukan sekali dua para bedhaya itu kedapatan hamil. Jika beruntung, raja bisa menikahinya. Jika apes, raja cukup “memberikan” bedhaya yang hamil itu pada abdi dalem yang lain. Itulah sebabnya, pelajaran tari bagi para bedhaya itu disindir sebagai “magang selir”: magang bagi siapa-siapa yang ngiler jadi selir.

Bukan sekali dua raja menyukai lebih dari satu bedhaya. Siapa yang disukai raja bisa dengan mudah memeroleh hadiah yang mahal-mahal. Jangan heran jika sesama bedhaya sendiri sering bersaing satu sama lain.

Biasanya, raja memanggil salah satu bedhaya ke ruangan kerjanya di bangsal Madusuka. Jika sudah begitu, semua penghuni keputren sudah tahu sama tahu. Lucunya, karena persaingan itu tadi, kerap terjadi ketika raja sedang menunggu bedhaya yang dipanggilnya, bedhaya yang lain kadang nekat dengan lebih duluan “menyusup” ke ruangan raja.

Peristiwa macam itu menjadi praktik yang lazim. Banyak bedhaya yang ketiban apes tak kunjung hamil sehingga peluang untuk diangkat sebagai selir pun makin tipis. Jika sudah begitu, siap-siap saja orang tua si gadis menarik pulang anaknya untuk dikawinkan dengan orang di luar kraton.

Jika sudah begitu, mestikah diherankan jika raja-raja Jawa bisa memiliki jumlah anak puluhan? Saya punya daftar: Pakubuwana III beranak 46 orang, Pakubuwana IV beranak 56 orang, Pakubuwana V beranak 45 orang, Pakubuwana IX beranak 57 orang. (Padahal zaman itu belum ada viagra! Hehehehe…..)

Salah satu buku yang banyak mengisahkan kehidupan seks di kraton Jawa dan masih mudah diperoleh adalah buku Otto Soekatno, Seks Para Pangeran. Di buku itu ada salah satu bab yang mengisahkan bagaimana Amangkurat I membantai mertuanya sendiri, Pangeran Pekik, karena Pekik melindungi anak Amangkurat I sendiri (berarti cucu Pekik sendiri) yang kedapatan berselingkuh dengan selir ayahnya. Amangkurat I ini memang terkenal tiran. Pernah membunuh ribuan ulama dan penguasa lokal. Barangkali, Amangkurat I ini pantas dijuluki Kaisar Nero dari Jawa.

Dan yang beginian bukan monopoli kraton yang didukung dengan diam-diam oleh kawula raja yang mengirim anak gadisnya untuk jadi penari bedhaya saja, tetapi juga memang menjadi cermin dari apa yang terjadi di masyarakat.

Dalam tradisi reog di Ponorogo, misalnya. Lazim terjadi seorang warok “memelihara” seorang anak laki-laki yang rupawan. Hubungan macam ini disebut “gemblakan”. Ada kepercayaan bahwa seorang warok bisa makin berlipat kekuatan magisnya jika bisa “memelihara”, “mencecap” dan “menyerap” energi gemblaknya yang masih ingusan dan jelas-jelas bujangan thing thing. (pedofili bukan ya?)

Jadi, apa yang dimaksud dengan nilai-nilai luhur kebudayaan Timur? Jika memang ada, yang mananya? Tentu saja ada jawaban atas pertanyaan itu. Yang saya ingat, para peserta diskusi yang jumlahnya belasan orang itu kesulitan menjawab.

Dengan mengerahkan kemampuan “speak-speak guk-guk” yang rada-rada hiperbolis, saya berharap diskusi itu bisa membuat mereka yang hadir untuk lebih berhati-hati dan syukur-syukur mencoba merumuskan dengan lebih mantap apa disebut sebagai “nilai-nilai luhur kebudayaan Timur”. Ini mungkin lebih baik ketimbang terus-menerus mereproduksi kata-kata yang sudah menjadi jargon.

Seringkali apa yang sebelumnya dibayangkan sebagai konsep yang sudah jelas dari sononya ternyata masih berlubang di sana-sini.

Selengkapnya......

Kamis, November 15, 2007

Goenawan dan Harapan yang Tak Selesai

Siapa yang berharap ia harus siap kecewa.

Saya mencari, membeli dan lantas mulai membaca buku “Tuhan dan Hal-hal yang Tak Selesai” karya Goenawan Mohamad dengan sejumlah harapan. Tapi sayangnya saya menangguk kecewa karenanya.

Pada 23 September 2007, saya membaca sajak-sajak Goen di Kompas; sajak-sajak yang menafsir-ulang roman klasik Cervantes dan menatahnya kembali menjadi rentetan bunyi, kata, baris dan bait yang mengesankan, juga memesona. Seorang teman yang sedang jatuh cinta, amat sering membaca dua baris sajak Goen –dua baris sajak yang kata temanku itu bisa menggambarkan suasana hatinya: “Aku Don Quixote de La Mancha, majenun yang mencarimu.”

Dan di bawah sajak-sajak itu, tercetak beberapa baris atribusi Goen yang salah satunya berbunyi: “Dalam waktu dekat akan terbit buku kumpulan aforismenya, Tentang Tuhan dan Hal-hal yang Tak Selesai”.

Saya tidak tahu atribusi itu dibuat Goen sendiri atau dibuat oleh Hasif Amini, editor (tamu) rubrik puisi Kompas yang juga sahabat Goen. Dan, terus terang saja, atribusi itu membuatku menunggu terbitnya buku Goen yang satu ini.

Saya berharap akan “menemukan Goen yang lain”, bukan Goen yang menulis Catatan Pinggir (Caping), bukan Goen yang menulis dengan serakan kutipan dan nama-nama besar yang frase-frasenya dicuplik dengan pas dan seringkali cantik.

Goen yang macam itulah, juga Goen yang penyair, yang saya kenal pertama kali di semester pertama kuliah. Via Caping dan puisi-puisinya tentu saja. Saya membacanya, kadang saya ikut-ikutan gayanya menulis (terutama gaya dia menyusun lead) dan bukan sekali dua saya mengutipnya.

Saya seringkali tergoda untuk mencari dan membaca buku-buku yang dicuplik/diulas Goen di esainya. Ulil Abshar Abdalla, dalam esai obituari Edward Said di Kompas, pernah menyebut Goen sebagai “makelar budaya” yang pintar mengenalkan dan memprovokasi orang untuk juga membaca buku-buku yang dikutipnya.

Nirwan Arsuka, dalam salah satu sesi workshop penulisan esai di Yogyakarta beberapa bulan silam, menyebut hampir tak ada penulis esai (berusia muda) di Indonesia yang tak membaca Caping dan banyak di antaranya kepincut dengan Caping. Nirwan, saya kira, tak berlebihan, setidaknya bagi saya pribadi.

Tapi, jujur saja, belakangan saya jarang bisa menikmati Caping seperti beberapa tahun silam. Seringkali saya menangkap kesan Goen mengulang kembali apa yang sudah ditulis sebelumnya; sesuatu yang cukup wajar karena Caping ditulis terus menerus per pekan. Terutama ketika berbicara tentang Tuhan, agama dan sikap keberagamaan, spiritualitas, sekulerisme, Goen –saya kira—selalu berbicara dengan sudut pandang dan pokok pikiran yang sama.

Di satu sisi ini sebentuk konsistensi Goen dalam tema-tema itu, tapi –jujur saja—saya tak banyak menemukan hal yang baru di situ. Saya tidak menyebut repetisi, apalagi copy-paste, karena Goen –seperti biasa—tetap menghadirkan kutipan-kutipan segar dan baru, mengenalkan pemikir dan nama-nama baru, dan terkadang diksi-diksi yang tak saya kenal yang membuat saya penasaran dan terpaksa membuka KBBI yang bercover merah itu.

Tapi, itu permukaan. Di jantungnya yang terdalam, Goen tetap berbicara dengan sudut pandang dan pokok pikiran yang sama dalam tema-tema itu: merayakan pluralisme, spiritualitas yang melintasi sekat-sekat primordialisme dan agama, dll.

Itulah sebabnya, sekitar dua tahun terakhir, tiap kali Goen menulis tema-tema itu, saya kadang membacanya sepintas lalu saja dan –tentu saja— tanpa greget seperti saya membacanya empat atau lima tahun silam.

Ketika mendengar akan terbit buku Goen yang baru, saya berharap akan menemukan Goen yang –seperti “dijanjikan” oleh atribusi Goen di bawah sajak-sajaknya di Kompas- menulis aforisma: kalimat-kalimat yang ringkas, padat, tidak bertele-tele dan tidak “menghambur-hamburkan” kutipan. Mungkin seperti Kalender Kearifan-nya Leo Tolstoy atau kalau pun tulisannya agak panjang ya… seperti Sang Nabi-nya Kahlil Gibran atau tulisan-tulisannya Inayat Khan (untuk menyebut yang pernah saya baca).

Saya tidak berharap Goen akan berbicara dengan sudut pandang atau pokok pikiran yang baru dan mengejutkan, karena Goen –saya menebak ketika itu—akan tetap berbicara dari semangat dan pokok pikiran yang sama. Jadi, harapan saya pada buku Goen yang baru ini, adalah harapan yang –katakanlah—harapan yang sifatnya “teknis”: soal cara Goen menulis. Itu saja harapan saya.

Dan, itulah yang terjadi: siapa yang berharap ia mesti bersiap kecewa. Kali ini saya yang berharap dan akhirnya kecewa.

“Tuhan dan Hal-hal yang Tak Selesai” adalah buku yang tak banyak bedanya dengan Caping. Tak hanya itu, para pembaca setia Caping niscaya dengan mudah menemukan tema-tema yang juga pernah diuraikan Goen di Caping dan dengan sudut pandang yang juga sama.

Hal itu bahkan sudah terlihat dalam tulisan I (ada 99 tulisan Goen di sini, dan masing-masing tulisan oleh Goen disebut sebagai “tatal”: serpihan-serpihan kayu yang dipadatkan, tiang-tiang mesjid Demak terbuat dari bahan tatal macam itu). Di situ, Goen menulis tentang tatal yang menopang mesjid Demak. Goen, di situ, membayangkan agama yang tersusun oleh hal-hal yang terbuang, seperti remeh serpih kayu yang disusun jadi tatal, bukan oleh pokok yang lurus dan kukuh.

Tulisan pertama ini bukan hanya berbicara dengan pikiran yang sama dengan esai-esai Goen yang lain jika berbicara tentang Tuhan, agama dan keberagamaan atau spiritualitas, tetapi tema tentang mesjid Demak dan tatal juga sudah diuraikan Goen di Caping berjudul “Jenar” yang tayang di Tempo edisi 12 Januari 2003.

Tema-tema yang digarap ulang kembali dengan mudah akan ditemukan oleh para pembaca yang akrab mengikuti Caping. Sekadar menyebutkan contoh: tulisan ke-24 tentang film the Passion of Christ, tulisan ke-28 (lead tulisan ini bahkan hampir sama dengan Caping berjudul “Pagoda”), tulisan 32 yang mengutip puisi Chairil, tulisan 35 yang menyinggung soal momen sederhana seperti melihat burung kecil yang mengejutkan, tulisan 60 tentang menara Babel (pernah digarap sewaktu Goen mereview film Inarritu, Babel).

Itu adalah contoh yang saya pilih secara acak. Seandainya saya menulis ini di ruang perpustakaan saya sendiri, dengan koleksi Caping yang lengkap, saya niscaya bisa menemukan lebih banyak. Sebab, banyak sekali bagian yang rasanya saya akrab dan pernah membacanya, tapi saya lupa persisnya di Caping edisi berapa itu pernah muncul.

Belum lagi soal “hobi” Goen yang lain yaitu mengutip frase-frase atau bait-bait sajak hasil karya orang lain. Ini juga masih sangat sering muncul di buku Goen yang ini. Kutipan-kutipan itu, tidak hanya dikutip lengkap, semisal satu baris, satu frase atau satu bait, tapi sering juga satu kata.

Kadang, jujur saja, saya terganggu dengan cara Goen menyelipkan kutipan satu kata untuk menjelaskan apa yang ingin disampaikannya.

Misalnya pada tulisan 51: “Di baliknya ada masyarakat, kekuasaan, juga hukum: sebungkah mereka (l’autre, kata Lacan) yang memberi diriku stabilitas sebuah nama, sebuah identitas, melalui bahasa.”

Atau pada tulisan 52: “Dan di tatapan subyek seperti itulah dunia tersaji bagaikan gambar –sebagai weltbild, untuk memakai kata-kata Heideger, dunia yang diringkas jadi obyek…”

Karena saya berharap tidak melihat Goen yang menulis Caping, seperti yang sudah saya ceritakan di awal, saya kecewa menemukan hal-hal semacam itu di buku Goen yang ini. Kutipan l’autre dari Lacan atau Weitbeld dari Heideger itu terasa seperti menggambarkan Goen yang kurang yakin bahwa pembaca juga belum mengerti apa yang hendak ia sampaikan. Menurut hemat saya, penulis esai pemula, seandainya Goen tak mencantumkan l’autre dan weitbeld sekali pun, pembaca tetap bisa menangkap apa yang hendak ia utarakan. (Atau mungkin Goen kurang percaya diri? Mudah-mudahan bukan.)

Tulisan-tulisan dalam “Tuhan dan Hal-hal yang Tak Selesai”, apa boleh buat, memang tak banyak berbeda dengan Caping. Kita juga masih akan sering menjumpai tulisan-tulisan yang panjang, tulisan-tulisan yang –bagi saya—jauh dari ringkas. Lebih pendek dari Caping, memang, tapi masih bergaya Caping. “Caping banget”, pinjam istilah anak-anak sekarang. Kata-kata masih “berhamburan”, masih muncul beberapa kutipan yang –bagi saya—tidak perlu.

Dan karenanya, kalau bolehlah saya menilai: Goen terasa bertele-tele dan seakan tak yakin bahwa pembaca bisa mencerna apa yang ingin ia katakan bisa ditangkap hanya lewat tulisan pendek atau paragraf yang ringkas atau pasase yang padat.

Padahal, Goen bisa menyusun tulisan pendek yang ringkas dan padat, dengan paragraf berjumlah satu atau dua biji saja, dan hasilnya bagus juga.

Misalnya, saya contohkan beberapa, tulisan 37: “Dilihat dari langit dan keabadian, sejarah tak berbunyi, tak berwarna; tak merisaukan hati: kisah kegagalan yang tak menimbulkan jera, kegairahan dan trauma yang tak dijumlah karena tiap kali terasa berbeda. Ini menjelaskan kenapa dewa-dewa dalam Mahabharata dan Illiad berbuat heboh dan tanpa sesal.”

Sayangnya, yang seperti itu tak banyak jumlahnya. Kebanyakan, kalau boleh saya bilang, seperti Caping yang (di)pendek(kan). Ada beberapa paragraf yang kuat dan mengesankan, tapi karena Goen tak mampu menahan hasratnya untuk terus berkata-kata, paragraf yang kuat tersebut jadi berkurang kemandiriannya (dan kekuatannya), karena diimbuhi oleh paragraf lain lengkap dengan kutipan dari pemikir lain.

Buku ini, karenanya, masih menampakkan Goen yang menulis Caping, sebagai esais yang masih merasa perlu “mendesakkan” banyak kata-kata.

Jika saya editor buku ini, mungkin saya akan mencantumkan sub-judul berbunyi: “Versi Lain Catatan Pinggir” atau mungkin “Catatan Pinggir Volume 7 “.

Selengkapnya......

Sabtu, November 10, 2007

Yang "Membakar" Surabaya dengan Mulutnya

Pada 17 Agustus 1978, berlangsung sebuah upacara kecil nan khidmat memeringati kemerdekaan RI di sebuah penjara di Jakarta. Persis ketika sang saka merah putih dikerek ke udara dan lagu Indonesia Raya dinyanyikan, salah seorang tahanan yang sudah cukup renta tampak menangis.

Ismail Suny, orang yang kini dikenal sebagai pakar hukum tata negara, yang dibui karena berseberangan pendapat dengan Soeharto, mendekati lelaki tua yang masih tampak gagah itu. Dengan setengah berbisik, Suny berkata: "Mengapa Bung menangis? Biasa sajalah."

Suny tak berhenti sampai di situ. Ia melanjutkan ucapannya dengan mengutip sekuplet kata-kata Ho Chi Min: “Dari penjaralah justru muncul orang-orang besar.”

Ho Chi Minh mungkin benar. Seandainya Suny berbicara dengan seorang aktivis muda berusia dua puluhan yang dijebloskan ke penjara karena berunjukrasa, kata-kata Ho Chi Minh yang ia kutipkan mungkin bisa menginjeksi nyali dan denyut nadi perlawanan aktivis itu.

Tapi Suny tak tak berbicara dengan seorang anak muda. Dia berbicara dengan seorang lelaki yang usianya sudah melewati separuh abad, yang dijelujur riwayat hidupnya dipenuhi kisah-kisah heroik perjuangan, seorang lelaki yang pada satu masa pernah memompa semangat dan nyali penduduk seantero kota dengan pidato-pidatonya yang membakar.

Suny sedang berbicara dengan Bung Tomo.

Bung Tomo hadir di penjara bukan sebagai inspektur upacara yang dimintai wejangannya. Bung Tomo mengikuti upacara peringatan kemerdekaan RI di penjara, menatap dikereknya bendera merah putih ke udara di penjara, dalam status sebagai tahanan politik.

Kita tak pernah tahu kenapa Bung Tomo menangis. Yang kita tahu, tiap kali kita mengenang nasib orang-orang yang berjuang memertahankan proklamasi di saat-saatnya yangg tergenting, atau jauh ke belakang lagi, mengenang orang-orang yang pasa masa kolonial Belanda keluar masuk penjara untuk menggerakkan kesadaran rakyat, kita seakan sedang menemukan sebuah kitab yang isinya melulu tragika hidup: riwayat-riwayat hebat yang di ujung hidupnya, atau setidaknya pada penggal tertentu hidupnya, harus menerima rentetan kekecewaan hidup. Mungkin juga kegagalan hidup.

Kita tak bisa mengerti, bagaimana orang macam Bung Tomo bisa dipenjarakan. Membahayakan pemerintah? Apa mungkin dia membahayakan negara yang dulu ia perjuangkan dengan semua kenekatan dan keberaniannya yang legendaris itu?

Jika kita berbicara tentang kisah-kisah heroik perlawanan terhadap upaya Belanda menduduki Indonesia pasca proklamasi 1945, nyaris mustahil kita tak menyebut Bung Tomo. Dalam soal perlawanan langsung di medan tempur yang riil, si bung yang satu ini, melampaui “tiga bung” paling masyhur dalam sejarah Indonesia: apakah itu Bung Karno, Bung Hatta atau pun Bung Sjahrir.

“Menjaga Bung Karno, Menjaga Bung Hatta, Menjaga Bung Sjahrir,” tulis Chairil Anwar dalam sajaknya yang terkenal, Krawang-Bekasi.

Bung Tomo tak ada di sajak itu. Chairil bukannya lupa dan tak tahu siapa Bung Tomo. Chairil justru sangat tahu, Bung Tomo tak perlu dijaga. Juga tak perlu dikawal. Bagaimana pula mengawal seorang pemimpin perang yang hidupnya berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan cepat, dari satu front ke front lain dengan kilat?

*****

Di sebuah sudut kota Surabaya, di ruang kecil seukuran kamar tidur, Bung Tomo duduk di depan sebuah meja kecil. Di depannya, tersorong sebuah mikrofon. Tangannya memegang beberapa helai kertas yang sudah dicoreti oleh potlot.

Dari memoar yang ia tuliskan sendiri, kita simak apa yang berkecamuk di kepala anak muda bertubuh ramping mungil ini.

“Pidatoku mulai kubaca. Aku lupa bahwa aku sedang berada sendirian di dalam studio. Seolah-olah di mukaku ada beribu-ribu, bahkan puluhan ribu orang yang mendengarkan pidatoku. Seakan-akan pendengarku itu seorang demi seorang kudekati dan kupegang bahunya, kuajak waspada, bersiap, menghadapi bahaya yang mendatang…. Tak dapat kulukiskan betapa gembiraku, ketika selesai aku membaca. Hampir tak kubersihkan peluh yang membasahi mukaku…. Aku mendengar beberapa orang di antara mereka itu berkata: “Tidak berbeda dengan Bung Karno’.”

Titimangsa ketika itu menunjuk 14 Oktober 1945. Dan dentang pukul terlihat berhenti di angka 19.30 malam. Itulah saat untuk pertama kali Bung Tomo berbicara di corong Radio Pemberontakan Rakyat Indonesia. Dan itulah kali pertama Radio Pemberontakan tersebut mengudara.

Radio itu didirikan atas inisiatif Bung Tomo. Kisahnya berawal dari kepergian Bung Tomo ke Jakarta pada awal Oktober. Dalam statusnya sebagai wartawan Antara dan Biro Penerangan Komite Nasional Indonesia Daerah Surabaya, Bung Tomo bertemu dengan pemimpin-pemimpin republik, menceritakan bagaimana di Surabaya arek-arek tak pernah membiarkan sekali pun bendera Belanda berkibar sekenanya, dan juga mengusulkan agar didirikan sebuah siaran radio untuk membakar dan menjaga semangat rakyat, sebagai penyeimbang atas siasat diplomasi pemerintah. Dan radio itu, kata Bung Tomo, sifatnya klandestin dan di luar tanggungjawab pemerintah.

Dari situlah Radio Pemberontakan itu lahir. Dari corong radio tersebut, pidato-pidato dengan menggunakan pelbagai bahasa asing dan bahasa daerah disiarkan. Lagu-lagu perjuangan didendangkan.

Sehari menjelang pertempuran 10 November, radio ini pula yang menyerukan segenap arek-arek Surabaya untuk memertahankan Surabaya dengan apa pun alat dan cara yang dimungkinkan dan jika perlu membumihanguskan Surabaya sendiri jika dirasa Sekutu sudah terang akan berhasil merebut Surabaya.

Pidato-pidato Bung Tomo yang membakar, suaranya yang menggelegar dan kemampuannya memilah yel-yel, membuat tak ada orang Surabaya yang tak mengenal suaranya. Orang tak akan lupa pada seruan di setiap pembukaan orasinya: "Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!"

Sepintas ia tampak gagah dan berkarakter keras. Tapi sesungguhnya dia seorang yang lembut. Kelembutannya, sekaligus rasa frustasinya menyaksikan ulah para politisi Indonesia, tercermin dalam salah satu surat cinta yang ia tulis untuk istrinya pada sekitar awal tahun 1950-an:

“Pagi ini begitu besar kangenku, sehingga ingin saya menulis kemari. Aku saiki dadi politikus tenan. Aku rapat sedino nganti ping pitu. Ibu pertiwi seakan-akan tersenyum di hadapan mataku! Doakan untuk kakandamu, sayang! Agar aku selalu dapat kekuatan. Hanya di waktu malam sebelum tidur, saya selalu merasakan adanya kekosongan! Saya tak mempunyai seorang di sampingku yang dapat melihat air mataku bercucuran, saya menjadi jengkel karena egoisme yang begitu besar dari beberapa orang yang mengaku pemimpin. Sampai ketemu sayang. Veel liefs van je... Tomo (Salam mesra dari Tomo).”

Bung Tomo yang keras hati, yang lembut dan yang idealis, bercampur lebur dalam surat cintanya yang pendek pada istrinya itu.

Di pengujung pemerintahan Soekarno dan awal pemerintahan Soeharto yang mula-mula didukungnya, Bung Tomo kembali muncul ke permukaan. Namun, di awal 1970-an, ia kembali berbeda pendapat dengan pemerintahan Orde Baru. Pada 11 April 1978 ia ditahan. Ia baru dilepaskan setahun kemudian.

Pada 7 Oktober 1981, ia meninggal dunia di Mekkah saat sedang menunaikan haji. Jenazahnya dibawa ke tanah air dan dimakamkan bukan di sebuah Taman Makam Pahlawan, melainkan di Tempat Pemakaman Umum Ngagel di Surabaya.

Bung Tomo memang bukan pahlawan jika ukurannya adalah selembar Surat Keputusan pemerintah. Dia, paling banter, hanya mendapat Bintang Mahaputra Utama pada 1995 secara anumerta.

Tapi, apa arti sehelai dua helai kertas yang bisa lusuh macam itu bagi seseorang macam Bung Tomo?

Selengkapnya......

Senin, November 05, 2007

Biografi Hujan

Hujan --bisa jadi-- adalah isyarat dari langit yang tak mampu lagi menampung awan atau tentang awan yang tak lagi kerasan menggantung kelamaan.

Di kaca depan, aku melihat rinai hujan melukis jelujur garis rapuh yang mudah timbul dan mudah pula tenggelam. Lalu, dengan kecepatan yang perlahan, rinai itu mewariskan kelembaban yang –entah bagaimana caranya—tiba-tiba menyelinap ke kaca bagian dalam dan membentuk titik air yang begitu halus, juga lembut.

Kadang aku iseng menggerakkan ujung telunjukku di kaca bagian dalam yang lembab oleh titis air hujan yang begitu halus itu. Kadang guratan ujung telunjukku tak membentuk apa-apa. Kadang aku menuliskan sebuah kata. Sore ini aku mencatatkan namamu di sana.

Coba kau tengok halaman rumahmu yang basah dan becek itu. Perhatikan bagaimana hujan dan pepohonan bersenggama dengan diam-diam. Bayangkanlah, kira-kira apa yang dikatakan akar pohonan itu pada langit yang mengiriminya kekasih bernama hujan?

Selengkapnya......

Jumat, November 02, 2007

Mau Buku Gratis? Saya Akan Membaginya

Jika saya Paul Warfield Tibbets Jr., barangkali saya akan menyesal, mungkin juga meminta maaf. Tapi saya bukan Tibbets Jr. Dan itulah sebabnya saya hanya bisa berandai-andai.

Hari ini saya mendengar Tibbets Jr. wafat dalam usianyanya yang ke-92 tahun. Dia menghembuskan nafas terakhirnya di satu kawasan di Ohio.

Tibbets Jr. adalah pilot pesawat pembom B-29 yang membawa bom atom yang masyhur dinamai dengan julukan Little Boy. Bom itulah yang dijatuhkan di kota Hiroshima pada 6 Agustus 1945. Sudah jelas, ribuan orang tewas karena pemboman itu, langsung maupun tidak. Cukup jelas pula kerusakan ekologis akibat pemboman itu. Dan, cukup benderang juga, seperti apa akibat pemboman ini terhadap konstelasi politik dan militer dunia yang sedang dicengkau Perang Dunia II itu.

Tibbets pernah mengunjungi Horoshima beberapa hari setelah pemboman yang menjadi peristiwa pembunuhan massal terbesar yang pernah terjadi di muka bumi. Ia memberi testimoni begini: "Beberapa jalan dan daratan yang kami lalui telah melengkung dan tertekuk-tekuk akibat bom. Hal tergila yang pernah dilihat."

Bandingkan dengan testimoni yang diberikannya beberapa saat sebelum ia menjatuhkan Little Boy: "The city we had seen so clearly in the sunlight a few minutes before was now an ugly smudge. It had completely disappeared under this awful blanket of smoke and fire."

Ketika itu, Tibbets Jr., baru berusia 30 tahun. Dia didampingi oleh seorang ko-pilot yang, menurut kesaksiannya sendiri, membuatnya lebih berani menjatuhkan Little Boy. "If Dante had been with us on the plane, he would have been terrified."

Dante adalah nama ko-pilot yang mendampingi Tibbets Jr. Dante juga adalah nama seorang pengarang Italia terkenal, Dante Alighieri, yang pernah menulis Divina Commedia yang menggambarkan situasi di akhirat ke dalam tiga bagian: purgatorio, paradiso, dan inferno. Bagian yang paling kontroversial dari Divina Commedia adalag bagian inferno (neraka) yang menggambarkan situasi neraka dan bahkan menyebut Muhammad sebagai salah satu penghuninya.

Jika Dante Alighieri hanya bisa menggambarkan situasi neraka, Dante yang ko-pilot inilah yang membuat Tibbets Jr., bisa punya cadangan keberanian untuk menjadikan Hiroshima seperti "neraka" yang membara pada pukul 08.15 pagi.

Dan, yang saya tahu, Tibbets Jr., disebut-sebut tak pernah mengungkapkan penyesalan dan permintaan maaf atas kerusakan yang ditimbulkan bom atom Little Boy, persis seperti sikap pemerintah Amerika Serikat. Jika saya berada di posisi Tibbets Jr., dan sudah mendekati haro-hari akhir kehidupan, barangkali saya akan menyatakan penyesalan dan pasti akan meminta maaf.

Bagaimana jika Anda adalah Tibbets Jr.? Apakah Anda akan menyatakan penyesalan dan meminta maaf?

Jika Anda ingin mendapatkan buku Max Havelaar atau The Alchemist , silakan tulis komentar atau jawaban Anda. Dua jawaban atau komentar yang saya anggap terbaik akan saya kirimi dua novel hebat itu. (Jika Anda sudah memiliki dua novel itu, saya akan berikan opsi novel lain yang mungkin belum Anda miliki).

Saya tunggu hingga 2 minggu sejak tulisan ini resmi dilansir.

Selengkapnya......

Senin, Oktober 29, 2007

Indonesia Raya Berkumandang di Moskwa

Bapak Utuy pasti menyambut kedatangan kita. Dia pasti tersenyum di atas sana. Jadi kita taburkan saja bunga-bunga ke makan-makam yang tidak diperhatikan, makam-makam yang sudah tidak ada namanya.

Kata-kata itu diucapkan Prof. Ludmilla Demidyuk, pengajar sastra Indonesia di Universitas Moskwa. Ludmilla siang itu datang ke pemakaman umum Moskwa untuk berziarah ke makam Utuy Tatang Sontani, pengarang terkemuka Indonesia pada masa Orde Lama yang dikenal lewat novel berjudul Tambera. Sayangnya, seusai habis-habisan mencari, makam Utuy tak juga kelihatan. Ludmilla akhirnya ambil keputusan untuk menaburkan bunga-bunga setaman yang dibelinya ke makam-makam tak terawat atau (dalam kata-kata Ludmilla sendiri) “makam-makam yang sudah tak diperhatikan dan tak ada namanya.”

Ludmilla, saya kira, tepat sekali mengatakan itu. Utuy Tatang Sontani adalah satu dari sekian banyak anak negeri ini yang punya karya besar dan dihormati orang tetapi justru tak pernah dihargai secara adil oleh bangsanya, tak diperhatikan, seakan-akan seperti orang-orang tak bernama. Utuy ada di deret terdepan dari para anonim sejarah Indonesia.

Siapa yang kini ingat, misalnya, Semaoen atau Alimin atau Darsono? Mereka adalah nasionalis-nasionalis generasi awal yang bergerak lebih dulu daripada Soekarno-Hatta atau Sjahrir. Hanya karena mereka dianggap eksponen komunis, kita seperti memberi permakluman jika mereka tak diberi tempat yang lapang dan apa adanya dalam narasi sejarah Indonesia.

Maka sungguh mengejutkan jika film Gerimis Kenangan dari Sahabat yang Terlupakan (salah satu film buatan anak negeri yang diputar dalam Jogja Netpac Asian Film Festival yang berlangsung pada 7-12 Agustus 2006) produksi Indonesian Council for Caulture Relation (ICCR) bisa mewawancarai saksi hidup bagaimana para penubuh nasionalisme Indonesia generasi pertama itu beraktivitas dan hidup di pembuangan Rusia. Beberapa di antaranya bahkan pernah menjadi murid Semaoen.

Yuri Sholomov dan Lev Dyomin adalah salah dua murid Semaoen yang masih hidup dan berhasil diwawancarai. Keduanya adalah generasi pertama orang Rusia yang memelajari bahasa Indonesia. Semaoen bahkan merelakan diri menjadi pengajar bahasa Indonesia dan ia sendiri turun tangan langsung menyusun buku/diktat tata bahasa Indonesia khusus bagi murid-muridnya (buku itu ditunjukkan di salah satu adegan film ini). Siapa yang menyangka, Semaoen, penulis brosur Penoentoen Kaoem Boeroeh yang termasyhur itu pernah menulis buku jenis begini?

Semaoen sadar kerja macam itu bukan kerja sepele. Ia meletakkan penulisan buku itu dalam kerangka diplomasi politik kebudayaan. Dengan menulis itu, Semaoen setidaknya sedang menyiapkan sekelompok orang yang kelak bisa diharapkan menjadi jembatan dari saling pengertian dan kerjasama kedua negara. Semaoen paham Rusia (dulu Sovyet) adalah salah satu kekuatan yang potensial bisa men-support Indonesia. Itulah sebabnya, selain mengajar bahasa Indonesia, ia menulis surat pada Stalin untuk memperhatikan perjuangan Indonesia.

Surat itu berhasil. Indikasinya jelas: Stalin memerintahkan dibangunnya seksi Indonesia dalam kementrian penerangan Rusia. Dan hubungan politik dan kebudayaan kedua negara pun dimulai.

*****
Saya tak tahu bagaimana rasanya jika saya menyaksikan kejadian seperti ini langsung dengan mata saya sendiri. Lima orang lelaki tua berdiri di pojok sebuah taman di Moskwa. Cuaca ketika itu lumayan cerah. Dengan sisa-sisa tenaga renta, kelimanya menenteng klarinet. Tangan kiri memegang sehelai buku kecil. Dan mulailah mereka memainkan lagu.

“Indonesia, tanah air ku
Tanah tumpah darahku….”

Ya, mereka memainkan lagu Indonesia Raya. Saya yang hanya menyaksikannya lewat film mungkin tak tergetar-getar amat. Tapi bisakah anda bayangkan, ketika sedang menaiki taksi di Moskwa, tiba-tiba sopir taksi yang anda tumpangi bersenandung kecil memainkan nada yang begitu anda kenal, misalnya lagu Rayuan Pulau Kelapa. Atau ketika menyusuri rak-rak di sebuah toko buku, tiba-tiba salah satu penjaga toko, di sesela melayani anda, mendadak bersenandung lagu Rayuan Pulau Kelapa.

Adegan itu direkam dengan dingin dalam film ini. Menyaksikan Gerimis Kenangan dari Sahabat yang Terlupakan persis ketika kita hendak menjelang ulang tahun kemerdekaan Indonesia ke-61 mendatangkan sebuntal rasa haru. Sayangnya, itu rasa haru yang mengganggu. Mungkin juga malu.

Alexandra Kasatkina, misalnya. Anak muda Rusia yang sedang menyelesaikan program doktoralnya ini paham bahasa Jawa Kuna. Dia teliti kitab Kunjarakarna untuk memahami soal “agama asli Jawa” yang belum tersentuh Hindu/Buddha. Kasatkina kini fokus dalam subjek “atma” (dia menerjemahkannya sebagai soul/jiwa). “Agama asli Jawa”, kata Kasatkina, “percaya manusia terdiri dari lima lapis atma.”

Di bawah bimbingan Prof. Alexander Oglobin, Kasatkina dan sejumlah karib seusianya kerap mendiskusikan Ngarakrtagama, Kunjarakarna, hingga Pararaton (berapa anak muda kita yang pernah mendiskusikannya?).

Atau simak juga wawancara dengan DR Elena Revunenka, peneliti dan salah seorang pimpinan Museum Kuns Kamera St. Petersburg. Kini, entah ada berapa orang yang punya kompetensi macam dia: menguasai bahasa dan tulisan Batak Kuna sekaligus mahir menerangkan soal dunia (ke)batin(an) orang Batak.

Berkali-kali DR. Elena mengatakan bahwa di Batak nyaris sudah tak ada lagi yang bisa berbahasa dan membaca aksara Batak Kuna. Sepintas ada rasa bangga saat Elena mengucapkan itu. Tapi dari helaan nafasnya, kita juga tahu, Elena seperti menyesali kemungkinan lenyapnya lagi satu bahasa dan aksara dari muka dunia.

Film ini memang tak berpretensi gagah. Film yang disutradarai oleh wartawan budaya majalah Tempo, Seno Joko Suyono, ini meluncur tanpa narasi dan teks. Isinya hanya kelebatan gambar-gambar dan serangkaian wawancara. Tapi dari sana, dari rangkaian wawancara yang sinambung dan tak terputus itu, kita jadi mengerti betapa lumpuhnya strategi kebudayaan kita.

Kita bisa melacaknya dari Museum Kuns Kamera. Museum yang didirikan pada masa Peter I yang berkuasa di pergantian abad 17-18 ini punya kenangan hebat tentang Indonesia. Ketika hubungan Indonesia-Rusia masih kuat-kuatnya, koleksi tentang Indonesia (baik buku atau benda-benda) ditempatkan di sebuah ruang utama. Koleksi tentang Indonesia ketika itu menjadi koleksi Ketimuran yang terbesar.

Sayangnya itu sudah berlalu. Sebagian terbesar koleksi tentang Indonesia kini sudah “digudangkan”. Pelan tapi pasti, koleksi dan tema-tema tentang Jepang atau Korea mulai menggantikan subyek kebudayaan Indonesia. Mereka membangun pusat studi atau pusat kebudayaanya sendiri-sendiri. Studi atas Jepang atau Korea kini lebih diminati.

Kita terharu menyaksikan Indonesia Raya dimainkan serombongan lelaki tua di pojok lapangan St. Petersburg, sama terharunya ketika kita mendengar seorang lelaki tua supir taksi dan perempuan paruh baya penjaga toko bersinar-sinar parasnya ketika mereka menyanyikan lagu Rayuan Pulau Kelapa. Tapi pada saat yang bersamaan kita juga merasa malu begitu menyadari kita tak pandai merawat hubungan kebudayaan yang hangat itu dengan sebaik-baiknya.

Kita mungkin senang dan syaraf kebanggan nasional kita pun akan terangkat menyaksikan sejumlah kecil orang tua di Rusia dan lebih sedikit lagi sejumlah anak muda di Rusia mendiskusikan kitab Batak Kuna, Ngarakrtagama, Pararaton atau Kunjarakarna. Tapi pada saat yang bersamaan kita juga juga disergap rasa sedih yang mencengkau begitu menyadarai makin punah saja orang Indonesia yang bisa membaca kitab-kita tua.

Tanpa strategi kebudayaan yang lebih agresif dan serius, orang-orang seperti Elena atau Kasatkina bisa jadi akan menjadi orang-orang terakhir di luar negeri yang bisa membaca aksara Jawa atau Batak Kuna. Kita sedih jika mereka menjadi semacam the Last Mohicans-nya kebudayaan-kebudayaan kuna nusantara di dunia manca.

Selengkapnya......