Senin, Januari 28, 2008

Soeharto dan Ibu-ibu yang Diperkosa Jin

:: Soeharto dalam 27 Front Page Koran Hari Ini

Dari 27 koran yang bisa saya dapatkan hari ini, hanya Lampu Merah yang tidak memasang headline berita kematian Soeharto. Lampu Merah “membandel” dengan memasang headline berjudul “Ibu-ibu Diperkosa Jin”.

Selebihnya, semua memasang headline berita kematian Soeharto. Tak hanya itu, nyaris semua halaman muka (front page) koran-koran yang terbit hari ini dipenuhi oleh berita tentang kematian Soeharto dan tak menyisakan untuk berita yang lain. Suara Karya, Bisnis Indonesia, Non-Stop, Top Skor dan Lampu Merah menjadi contoh koran yang tak menghabiskan semua front page-nya untuk memberitakan kematian Soeharto.

Saya belum membaca secara detail semua koran. Tapi, dari pembacaan secara acak, ada satu feature yang menarik buat saya, yaitu feature di halaman 2 Koran Tempo yang berjudul “Dua Puluh Menit Menuju Cendana” yang ditulis oleh Dwi Wiyana. Feature ini menceritakan pengalaman sopir ambulance yang membawa jenasah Soeharto dari RSPP ke Cendana. Ini mengingatkan saya pada tulisan Jimmy Breslin berjudul “Ini Sebuah Kehormatan” yang menceritakan kisah penggali kuburannya John F Kennedy.

Saya puas bisa mendapatkan nyaris semua koran yang saya temukan di Jakarta. Ada beberapa yang saya tak bisa dapatkan yaitu Suara Pembaruan edisi Minggu (27/1) dan Kontan edisi Senin (28/1). Mungkin saya akan mencarinya lagi.

Saya membayangkan, 30 tahun kemudian, saya tak akan kesulitan jika mesti menulis tentang kematian Soeharto. Ini sumber sejarah, saya kira. Mungkin, kelak, saya juga bisa membantu siapa saja yang hendak meneliti subjek ini.

Di bawah ini, Anda bisa melihat 27 front page koran hari ini.

post-script: Untuk bisa melihat gambar dengan lebih jelas, klik saja dua kali gambar yang hendak Anda lihat.






















































-----------------------

Soeharto dan Titimangsa 27 Januari?

Soeharto mati pada 27 Januari 2008. Apa yang dilakukan Soeharto pada 27 Januari di tahun-tahun sebelumnya? Pada 27 Januari 1969, Soeharto mengirimi Nixon ucapan selamat menjadi Presiden Amerika. 39 tahun kemudian, pada 27 Januari juga, Soeharto menerima ucapan selamat jalan yang terakhir. Apa aktivitas Soeharto pada 27 Januari di tahun-tahun awal kekuasaannya? Buku “Jejak Langkah Pak Harto: 28 Maret 1968 – 23 Maret 1973” bisa memberikan jawabannya. Baca selengkapnya....

Selengkapnya......

Minggu, Januari 27, 2008

Former President of Indonesia and Brutal Ruler, Dies




"Brutal Ruler". Ya, judul postingan ini, yang ada kata-kata "Brutal Ruler", dipilih oleh Times edisi online untuk menyebut Soeharto dalam headline berita kematian Soeharto. Saya hanya mengunduhnya begitu saja.

Bukan hanya Times, berita kematian Soeharto juga diangkat banyak (edisi online) surat kabar berpengaruh di luar negeri, bersanding dengan berita kemenangan Obama di primay dan kaukus pemilihan calon presiden untuk partai demokrat. Ada yang hanya menurunkan berita dan ada yang menurunkan tulisan khusus.

Nyaris semua berita di media massa luar negeri mencantumkan kata "diktator" dalam tulisannya. Frase "pelanggaran HAM", "kekerasan" dan "korupsi" bertaburan dalam setiap berita tentang kematian Soeharto.

Apa boleh buat, tuan, dunia sudah kadung punya catatannya sendiri tentang sampeyan!

Sejak jam 5 sore, saya bolak balik ke Gambir sebanyak tiga kali. Apalagi selain mengumpulkan koran-koran sore. Sindo edisi sore terbit tepat waktu sehingga tak ada berita kematian Soeharto. Harapan saya tinggal Sinar Harapan dan Suara Pembaruan. Akhirnya saya mendapat Sinar Harapan di Tugu Tani Menteng tepat jam 8 malam. Harganya hampir dua kali di atas normal: 4 ribu perak (Suara Pembaruan tak saya peroleh hingga jam 8 malam).

Tak sia-sia Sinar Harapan mengundurkan jadwal terbitnya. Seluruh halaman Sinar Harapan sore itu berisi tentang Soeharto. Halaman depan berisi liputan aktual dan sisanya berisi artikel-artikel tentang Soeharto dari pelbagai sudut pandang, sampai-sampai ada tulisan tentang Soeharto dan Sepak Bola Indonesia. Komplit-plit.

Besok saya berjanji pada diri sendiri akan membeli dan mengumpulkan semua koran yang bisa saya peroleh di Jakarta. Untuk arsip dan data base, tentu saja. Ini peristiwa langka. Saya pernah mencari arsip-arsip koran mengenai kematian Soekarno dan Hatta. Saya tahu susahnya kayak apa. Makanya saya gak mau kecolongan momen kematian Soeharto dengan mencoba semampunya mengumpulkan semua koran. Ya, besok pagi.

Kelak, 20 atau 30 tahun lagi, siapa tahu saya bisa membantu orang yang hendak meneliti kembali momen langka ini.

-------------------

Ini daftar berita di media massa luar negeri (dalam versi online)yang memberitakan kematian Soeharto. Saya mencarinya mulai pukul 4 sore dan terakhir jam 9 malam:

BBC

CNN

New York Times

The Telegraph

Times

News of the World

ABC News

AFP

Reuters

Associated Press

International Herald Tribune I

International Herald Tribune II

The Straits Times I

New Straits Times II

---------------------

Soeharto dan Titimangsa 27 Januari?

Soeharto mati pada 27 Januari 2008. Apa yang dilakukan Soeharto pada 27 Januari di tahun-tahun sebelumnya? Pada 27 Januari 1969, Soeharto mengirimi Nixon ucapan selamat menjadi Presiden Amerika. 39 tahun kemudian, pada 27 Januari juga, Soeharto menerima ucapan selamat jalan yang terakhir. Apa aktivitas Soeharto pada 27 Januari di tahun-tahun awal kekuasaannya? Buku “Jejak Langkah Pak Harto: 28 Maret 1968 – 23 Maret 1973” bisa memberikan jawabannya. Baca selengkapnya....

Selengkapnya......

Sabtu, Januari 26, 2008

Death!

Akhirnya....

Dua tahun lalu, juga di hari Minggu, Pram lebih dulu. Bung Pram, sambutlah "kawan lamamu" ini sebaik-baiknya.

Selamat jalan, Jenderal!

Selengkapnya......

Jumat, Januari 25, 2008

Sampah!

Coba sampeyan lihat gambar di bawah ini. Sampeyan pasti sering atau pernah melihatnya.

Coba perhatikan sosok di ujung paling kiri dan paling kanan. Keduanya, sama-sama ada dalam posisi dengan tinggi yang palind rendah. Bedanya, yang di ujung kiri tampak rendah karena masih berbentuk kera sementara yang ujung kanan tampak rendah karena ia dalam posisi duduk. Selain itu, keduanya juga sama-sama tak mengenakan pakaian. Telanjang. Bedanya, gambar di ujung kanan, manusia macam kita, duduk telanjang sambil memelototi komputer.

Ini satire yang bagus saya kira. Charles Darwin pasti tak pernah berpikir bahwa evolusi (kecerdasan) manusia, yang mampu menciptakan mesin hebat bernama komputer, ternyata bisa berakhir sama: ketelanjangan manusia.

Di hadapan kecanggihan komputer dan internet, manusia sangat senang tampil telanjang, membicarakan ketelanjangan, atau menyaksikan mahluk yang satu spesies dengannya sedang berpose dan berakting telanjang juga, akan lebih semangat nontonnya kalau yang berpose dan berakting telanjang itu lebih dari satu orang, bisa berdua, bertiga, bahkan ada yang massal. Albert Camus mungkin benar, sekarang lebih banyak lagi orang macam Kaisar Calligula.

Coba simak gambar yang tengah, di situ tampak sosok telanjang yang sedang membawa tombak. Berapa jiwa mahluk yang satu spesies dengan dia yang mesti tewas oleh tombak macam itu, atau oleh anak panah, dalam peperangan antar suku? Anehnya, evolusi kecerdasan manusia tetap saja tak membuat manusia berkurang naluri membunuhnya. Jika dulu tombak, sekarang dengan Kalashnikov 47 atau bahkan bom atom. Jangan salahkan jika ada yang beranggapan bahwa manusia sebenarnya tak banyak berubah.

Bertrand Russel, filsuf hebat abad-20 yang jenius dalam banyak hal ini, menyebut fenomena seperti itu sebagai “omong kosong intelektual” atau “intellectual rubbish”. Istilah itu dipakai Russel untuk menjelaskan betapa banyak hal dari konsep-konsep yang sering kita anggap intelektual ternyata memiliki bolong-bolong yang tak terduga, aib-aib yang memalukan, sekaligus dusta-dusta yang tak termaafkan, termasuk keyakinan-keyakinan kita tentang betapa mulianya manusia modern dibanding orang-orang Badui yang bar-bar.

Russel membicarakan “intellectual rubbish” itu dalam bukunya berjudul “Unpopular Essays”, tepatnya di halaman 71-111. Dua hari lalu saya membacanya (dari terjemahan Mochtar Pabottingi) dengan rileks, sambil diselingi nonton film klasik buatan tahun 1955 yang memesona, “East of Eden”, yang dibintangi James Dean, yang juga membintangi film yang lebih terkenal, lebih legendaris dan masih sering dibicarakan, “Rebel without A Cause”.

Di esainya yang cukup panjang ini, Russel menulis dengan rileks. Berbeda dengan esai-esainya di buku yang sama, di bagian ini Russel bahkan sama sekali tak merumuskan apa itu “intellectual rubbish”. Ia banyak menyajikan contoh-contoh dari konsep, teori, doktrin atau kepercayaan yang baginya omong kosong dan tak ada artinya. Dia mengolok-olok beberapa pemikiran Paus, para pemimpin sekte agama, teori-teori pemikir dan teolog berkaliber macam Lao Tze, Thomas Aquinas, Mahatma Gandhi, Spinoza bahkan hingga Plato dan Aristoteles.

Russel, misalnya, mengolok Plato karena (1) dia tidak menyenangi drama dengan alasan yang sangat sepele: karena dalam drama lelaki memerankan tokoh perempuan (dulu perempuan nggak boleh main drama atau theater, itulah sebabnya tokoh Viola dalam film “Shakespeare in Love”, yang dimainkan Gwyneth Paltrow, harus menyamar jadi lelaki untuk bisa bermain drama yang disutradarai Shakespeare) dan karena (2) Plato secara konyol pernah menulis bahwa manusia yang sepanjang hidupnya tak mencari kebijaksanaan akan lahir kembali sebagai seorang perempuan.

Aristoteles diolok-oloknya juga karena secara absurd pernah mengajukan teori bahwa (1) jika kawin terlalu muda maka anaknya akan perempuan semua, (2) darah wanita lebih hitam dari darah lelaki, (3) gajah yang menderita insomnia harus digosok punggungnya dengan garam dan (4) jumlah gigi wanita lebih sedikit dan lebih jelak dari gigi lelaki (Maulida, silakan kau marah-marah pada dua Almukarrom dari Athena ini: Gus Plato dan Gus Aristoteles. Aing mah teu pipiluan, euy. Hahaha….)

Russel juga menceritakan kepercayaan bangsa Cina tentang kesucian mayat dengan nada yang sinis. Dia bercerita tentang seorang tabib Prancis yang diminta mengajar tentang kedokteran modern bagi orang Cina. Permintaan tabib itu untuk membedah mayat disambut dengan penuh ketakutan. Anehnya, tabib itu diberi keleluasaan untuk membedah hidup-hidup tubuh penjahat berapa pun yang dikehendakinya. Majikan Cina-nya heran dengan penolakan tabib Prancis tersebut, sama herannya dengan tabib Prancis itu terhadap usulan majikannya.

Thomas Aquinas, teolog gereja terpenting selama abad pertengahan, juga tak luput dari olok-oloknya. Aquinas pernah membayangkan masyarakat kanibal yang tak pernah makan daging selain daging manusia. Kata Aquinas, semua orang dari masyarakat kanibal itu penuh dosa (juga pasti masuk neraka) karena tubuhnya tak lagi asli karena setiap sel tubuhnya adalah kepunyaan orang lain yang sudah dimakannya.

Dengan semangat mengolok-olok yang kental, Russel menggojlok pandangan Aquinas itu. Masalahnya, kata Russel, jika semua pendosa akan dibakar di neraka (termasuk dari masyarakat kanibal itu), lantas daging siapa yang mau dibakar? Karena daging-daging manusia berkut sel-selnya sudah tercampur baur. Tubuh si A, misalnya, yang semua selnya diambil dari korban yang dimakannya harus dibakar, sementara pada saat yang sama korban-korban yang dimakan itu yang juga kanibal dagingnya juga harus dibakar, maka tak akan lagi jelas siapa yang mesti menanggung dosa dan siapa yang mesti menanggung sakit kepanasan. (bebaqaran wae, ya? Hehehehe….)

Dia juga mengejek suster-suster gereja yang jika mandi pun masih harus mengenakan pakaiannya. Jika ditanya untuk apa mandi masih mengenakan pakaian, suster-suster itu biasa menjawab: “Apa kau lupa Tuhan maha tahu dan melihat?”

Dengan nada yang rasanya setengah gusar, Russel balik mengejek: “Jika Tuhan maha tahu dan melihat, apa kau kira Tuhan tak bisa menembus pakaian yang kau pakai waktu mandi?” Lucu sekali, kata Russel, bagaimana bisa seorang yang saleh punya imajinasi tentang Tuhan yang senang mengintip hambanya yang sangat saleh, hobi yang tak ada bedanya dengan penyakit voyeurism macam di film-film bokep.

Pemerintahan Inggris, tanah kelahiran Russel, juga tak luput dari olok-oloknya. Sewaktu Inggris terlibat Perang Dunia I, Inggris mencoba menanam bahan pangan sebanyak-banyaknya, termasuk menanam kentang di hari Sabat atau Sabtu (salah satu dari 10 larangan Tuhan seperti diajarkan Musa). Sewaktu Inggris tak kunjung menang perang, masyarakat menganggap bahwa ini akibat pemerintah melanggar larangan menanam kentang di hari Sabat. Tapi, sewaktu akhirnya Jerman berhasil dikalahkan, masyarakat Inggris punya alasan yang –bagi Russel—begitu konyol: “Sebab orang Jerman melangar seluruh dari sepuluh perintah Tuhan, sementara Inggris hanya melanggar satu perintah saja.”

Para pemimpin sekte keagamaan juga diolok-oloknya dengan pedas. Salah satu yang paling lucu adalah peristiwa yang terjadi pada 1820 di New York. Ketika itu, kata Russel, seorang perempuan yang jadi pemimpin sebuah sekte, mengatakan bahwa ia bisa berjalan di atas air dan ia juga mengumumkan bahwa dirinya akan memertontonkan kehebatannya itu pada jam 11.00 besok harinya.

Pada waktu yang telah ditentukan itu, ribuan pengikut ketua sekte itu sudah berkumpul di sebuah danau. Ketika tiba saatnya, ketua sekte itu berkhotbah lebih dulu dan mengakhiri khotbahnya dengan pertanyaan: “Percayakah kalian semua bahwa saya sanggup berjalan di atas air?”

Dengan suara yang bulat, ribuan pengikutnya mengangguk seraya berteriak: “Ya, kami percaya!”

Coba, kira-kira apa yang dikatakan ketua sekte itu? Dia ternyata berkata gini: “Kalau begitu, saya tak perlu melakukannya lagi!” Mereka semua lantas pulang ke rumahnya masing-masing dengan perasaan yang puas.

Banyak aneka lelucon intelektual dan doktrin-doktrin teologi yang diacak-acak oleh Russel di esainya yang ringan tapi serius itu. Anda bisa membacanya sendiri jika ingin lebih puas. Tapi, cukup jelas, Russel ingin mengingatkan pembacanya bahwa penting untuk berhati-hati dengan semua teori dan kepercayaan yang sepintas terasa meyakinkan. Russel memberitahu bahwa banyak hal dari itu semua sebenarnya adalah omong kosong yang keropos.

Itulah sebabnya, sewaktu berceramah untuk mengenang Moncure Conway, ia membacakan pidato berjudul “Free Thought and Official Propaganda”. Di situ, ia mengejek dengan serius konsepsi William James tentang “will to believe” atau “kehendak untuk percaya” (bisa dibaca pada buku James yang terkenal, “The Varieties of Religious Experience: A Study in Human Nature”, yang edisi terjemahannya diterbitkan oleh penerbit Jendela).

Russel lantas mengajukan konsep yang ia namai “will to doubt” atau “kehendak untuk meragukan”. Sikap itu penting sebab, kata Russel dalam ceramah yang diadakan pada 1922 itu, “Tak satu pun dari kepercayaan-kepercayaan umat manusia itu benar sepenuhnya. Masing-masing kepercayaan itu mempunyai sudut-sudut yang kabur dan keliru.”

Saya jadi ingat sewaktu pertama kali diajari tentang Bertrand Russel oleh profesor saya yang terkenal, Prof. Syafi’i Ma’arif, di kelas Filsafat Sejarah di awal-awal kuliah dulu. “Russel itu,” kata Profesor yang pernah jadi Ketua PP Muhammadiyah ini, “adalah wakil paling terkemuka dari aliran agnostisisme yang tak mau memikirkan lama-lama soal Tuhan itu ada atau tidak, karena bagi mereka ada atau tidaknya Tuhan itu sama sekali gak penting dan bukan urusan mereka.”

Anda boleh ikut Russel atau tidak. Tapi, ada yang menarik dari kata-kata penutup Russel di esainya tentang “intellectual rubish” itu. Gini bunyinya: “Seorang bijaksana akan menikmati kebaikan yang begitu banyak tersedia, dan sehubungan dengan sampah (rubbish) intelektual: ia akan menemukan secara melimpah, di masa kita dan di tiap masa yang lain.”

Anda berminat untuk menemukan “sampah-sampah” macam itu di mimbar khotbah hari Jumat atau di kapel pada Minggu pagi atau dalam berita di TV atau di koran-koran dan buku-buku? Jika mau, bagaimana kalau kita memulainya dengan memeriksa “sampah” yang mungkin berserakan di blog kita sendiri lebih dulu?

Jangan sampai deh memukul air di dulang terpercik wajah sendiri. Bukan begitu? Yuuuukkkk……

Selengkapnya......

Jumat, Januari 18, 2008

Adik Kecil Socrates

Semalam saya menonton interview Peter F Gontha dengan Sinta Nuriyah di Q-TV, membaca bagian kedua buku Arthur Shcopenhauer, The World as Will and Idea, lalu mengakhirinya dengan ngobrol gak bermutu bersama dua teman sekantor yang gagal jadi pastor tapi berhasil menggondol gelar sarjana filsafat dan teologi.

Interview di Q-TV dengan mantan ibu negara, Sinta Nuriyah, lebih banyak berbicara tentang pemberdayaan perempuan. Itu sih gak menarik. Biasa aja. Yang menarik justru sewaktu mulai menyentuh soal kehidupan pribadi Sinta Nuriyah.

Sinta Nuriyah adalah seorang anak mbarep, sulung. Coba tebak, dia punya adik berapa? Satu? Dua? Empat? Lima? Delapan? Sampeyan salah kabeh. Adik Sinta Nuriyah ternyata ada… 17 orang! Dan itu lahir dari (pinjam istilahnya Rendra) “gua garba” yang sama, dari simbok yang esa.

Saya yang tadinya nonton sambil leyeh-leyeh di sofa langsung terlonjak dan bener-bener mangap tak percaya. Ibu dari Sinta Nuriyah ternyata adalah anak tunggal. Dia merasa gak nyaman jadi satu-satunya anak. Kesepian. Itulah sebabnya dia memilih beranak banyak. Tapi kalo banyaknya sampai 18, weleh… weleh!

Sinta Nuriyah menyebutnya sebagai sweet revenge alias balas dendam yang manis. Itu betul-betul metafora yang manis dan berkadar humor, Bu.

[Dari buku Richard Dawkins berjudul Sungai dari Firdaus yang menjelaskan tentang DNA dan genetika dengan bahasa populer, saya menemukan bahwa ada lelaki dari Maroko bernama Moulay Ishmael yang punya harem seribu lebih. Bayangkan, berapa si Moulay itu punya anak? Sultan-sultan Jawa jelas lewat, bro!]

Saya tak mampu menahan ketawa sewaktu teman saya yang sarjana filsafat, Agustinus alias Ino yang bukunya tentang pemikiran Guattari dan Deleuze diterbitkan Jalasutra, nyeletuk dengan gaya dingin khas pastoral: “Anak yang ke-18 mungkin lahir hanya gara-gara ibunya berdehem!”

Dengan gayanya yang selalu serius, Sebastian Sambi, yang meraih gelar sarjana filsafat dan teologi dengan menulis tesis tentang Derrida, langsung menyambar-nyambar dengan bicara tentang naluri seksual yang tertekan dengan sederetan kutipan dari Freud (maklumlah, dia kelamaan di seminari, jadi praktis dalam hal begituan dia cuma bisa ngutip. Hihihi….).

Kebetulan bagian kedua buku Schopenhauer yang baru saya baca beberapa saat sebelumnya berbicara tentang “kehendak” dan “tubuh” serta bagaimana keduanya berhubungan dan dirayakan (saya paling suka kutipan Schpenhauer yang ini: “Kehendak adalah pengetahuan apriori tentang tubuh dan tubuh adalah pengetahuan aposteriori tentang kehendak”. Pancen jenius! Pantesan Nietzsche sering merujuknya.)

Seperti biasanya diskusi rak mutu, bukannya makin meruncing dan mengerucut, omong-omong makin melebar ke mana-mana. Kalo pinjam istilahnya Markenun alias Emha Ainun Najib di kumpulan esainya yang berjudul “Dari Pojok Sejarah”, diskusi rak mutu kaya gini disebut diskusi nggladrahisme, makin lama makin nggladrah.

Bastian juga bilang bahwa Freud itu diinspirasi oleh Schopenhauer. Saya manggut-manggut setuju, karena begitu juga yang saya tahu. Schopenhauer, di buku itu, memang berbicara tentang kehendak, baik kehendak yang pasif atau Blind Will maupun aktif.

“Pengetahuan tentang manusia itu gak mungkin sempurna karena separuh persepsi manusia atas dunia dan realitas itu dibentuk oleh Blind Will,” kata Bastian.

Blind Will itu, dalam konsep psikoanalisinya Freud, barangkali bisa disebut sebagai "alam bawah sadar".

“Kata Schopenhauer, Blind Will itu susah dipetakan dan pada saat ia masih hidup belum pernah dibahas secara serius. Sebab, kalo ada filsuf yang mau membahas Blind Will, dia bukannya menganalisis pemikirannya Socrates, tapi adik kecilnya Socrates!” ujar Bastian serius.

Saya kebingungan. “Kapan Socrates punya adik kecil? Perasaan Shcpenhauer gak pernah menganalisis adiknya Socrates?”

Sambil tertawa-tawa, dia bilang: “Sana pergi ke toilet, kamu pasti bakalan nemu adik kecilnya Socrates, walau pun dengan ukuran Melayu!”

Woalah, jebule kuwi, toh! Kalo masih belum ngeh maksud dari "adik kecil"-nya Sicrates, mari mari.... saya antar ke toilet. hehehe....

----------------
Moral cerita: Sopan santun dan rasa jengah berbicara vulgar yang merupakan karakter sehari-hari Bastian, ternyata bisa membuat metafora yang sederhana bisa bikin lawan bicaranya terlihat culun, macam saya ini. Hehehe…..

Selengkapnya......

Selasa, Januari 15, 2008

Sebuah Nisan Penuh Cinta

Paper Henri Chambert Loir, sejarawan Prancis yang sempat dididik oleh mahaguru Dennys Lombard, membuat saya kembali membaca sebuah kisah cinta yang melankolik.

Paper itu membicarakan sebuah teks yang susunan hurufnya diacak sedemikian rupa sehingga teks tersebut bukan hanya tak bisa dipahami, tetapi sekaligus juga tak bisa dibaca. Untuk membaca dan memahaminya, kita mesti mengerti lebih dulu polanya. Dan itulah kesulitannya.

Teks yang dibicarakan di situ merupakan sebuah inskripsi yang ditemukan di nisan tua dari awal abad-20 yang ditemukan di Desa Sinderan yang sekarang berada di wilayah Pacitan. Siapa yang menyangka jika inskripsi yang susunan hurufnya diacak sedemikian rupa itu ternyata sebuah pasase penuh pujian dan pernyataan cinta untuk jenazah yang dikubur di bawahnya?

Saya ketikkan satu baris saja dari inskripsi yang tergurat di nisan itu sebagai contoh:

Z ? G JX F X F N T B D F W E F
D X W B U J H R V W W G Z E B Q
Z Z Z B ? G K B M A G X B Z M Q

Coba, apa yang bisa dibaca dari deretan huruf yang susunannya begitu acak itu?

Nisan yang digurati inskripsi melankolik itu berada di sebuah kuburan yang dinaungi oleh atap yang ditopang dengan sejenis candi kecil bergaya Neo-Yunani. Menurut cerita penduduk setempat, di situ dikubur seorang perempuan Jawa bernama Jamiyah. Dia disebut-sebut meninggal pada usia yang masih relatif muda, sekira 35 tahun. Kuburan, berikut candi, nisan dan inskripsi yang diguratkan di situ dibangun oleh suaminya, seorang Belanda totok bernama Marcus Jacobus van Erp Taalman-Kip. Orang-orang di sekitar kuburan menyebutnya Meneer Gip.

Kebangsaan pasangan suami istri itu, lingkungan setempat yang Jawa serta sudah mulai berkembangnya bahasa Melayu membuat siapa pun yang ingin memahami inskripsi ini mesti tahu lebih dulu bahasa apa yang digunakan. Belanda? Jawa? Melayu? Belum lagi persoalan untuk menemukan pola susunanan hurufnya yang jelas-jelas lebih rumit.

Banyak orang yang penasaran dengan inskripsi itu dan sudah banyak peneliti yang mencoba memecahkannya. Hingga nyaris satu abad, rahasia yang membekap inskripsi itu masih juga tak terkuak. Sampai kemudian, datanglah sejarawan Belanda, Willem Remmelink, yang salah satu bukunya pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh penerbit Jendela, Perang Cina dan Runtuhnya Negara Jawa 1725-1743.

Dia berhasil memecahkan inskripsi itu. Caranya, dia lebih dulu mencari polanya, dan ia berhasil menemukannya. Dari jurnal Archipel edisi 49 tahun 1995, saya menemukan kalimat apa yang sebenarnya tergurat di nisan Nyai Jamiyah itu. Seluruhnya ternyata menggunakan bahasa Belanda. Saya kutipkan di sini:

“Aan myne innig geliefde vrouwe Djamilah. Geboren in achttien hondred drie en zeventig, overleden den twaalf den December wegentien hondred en een. O myn Djamiyah myn roos van Saron, hoe meet ik U myne liefde en hoogachting betuigen? De heele wereld is my daartoe te klein. Zal ik U ooit wederzien? Als er een leven is hierna maals moet gy thans in het paradyz zyn. Gy waart zoo goeden wee zoo met vuil gegoid. Daarom ik zal den moeilyken weg over Golgotha nemen en uw eer terug vinden, Tot weder ziens!”

Karena nilai kuliah bahasa Belanda saya sedang-sedang saja, saya percayakan terjemahannya pada Henri Chambert Loir. Begini terjemahannya:

“Kepada istriku yang sangat tercinta, Djamiyah. Lahir pada tahun 1873, meninggal pada 12 Desember 1901. O Djamiyah, mawarku dari Saron, bagaimana cinta dan hormatku harus kunyatakan? Dalam hal ini, seluruh dunia terlalu kecil buatku. Apakah aku akan bertemu lagi denganmu? Kalau ada kehidupan di akherat, maka kamu pasti ada di sorga sekarang. Kamu begitu baik, kamu begitu saja dilempari kotoran. Oleh akrena itu, jalan sulit di atas bukit Golgotta akan kutempuh untuk mencarimu. Sampai jumpa lagi!”

Romantik bukan? Mungkin sampeyan-sampeyan sekalian pernah membayangkan untuk mengguratkan sebait puisi romantik di nisan orang yang sampeyan cintai. Tapi pernah terpikirkan tidak untuk mengguratkannya dengan susunanan huruf yang diacak? Jika itu dilakukan, saya kira, romantisme itu bisa lebih kuat. Ya, seberapa dalam cinta sampeyan hanya sampeyan sendiri yang tahu. Liris dan personal, bukan?

Kecuali jika ada sejarawan macam Remmelink sudi jauh-jauh datang dari Belanda untuk keluyuran di kuburan dan memecahkan bait puisi yang sudah sampeyan acak lebih dulu, itu lain soal.

Saya sih gak kepikiran untuk menulis inskripsi yang romantik di nisan kekasih atau istri saya jika mereka wafat lebih dulu. Paling banter saya akan menulis inskripsi yang susunannya begini:

E I R U C R E M E I D D E R F A M A S N A R A C A P K O K H E L O B U M A K A N A S I D AY HARAM N A G N A J I T N A G G N E P U M G N A B A N A K N I J I I N I I L A K H A L A P A K A T I P A T N A I R I D N E S U K A I N I K U K I U U L U H A D N E M U A K A Y N A G E T N A G N I D N A B A D A I T K I T N A C G N A Y U K H I S A K E K O R T S A S N A I D

Itulah susunan huruf yang mungkin akan aku tulis di nisan kekasih atau istriku jika dia meninggal lebih dulu. Coba tebak, apa kalimat dari susunan huruf-huruf yang sudah kuacak itu?

Daripada sampeyan pusing, mendingan aku terjemahkan sekalian di sini deh. Gini nih kalimatnya:

“Dian Sastro, kekasihku yang cantik tiada bandingan, teganya kau mendahuluiku. Kini aku sendirian. Tapi, tak apalah. Kali ini, ijinkan abangmu mencari pengganti. Jangan marah, ya. Di sana kamu boleh kok pacaran sama Freddie Mercurie. Muach!”

Hahahaha….

Selengkapnya......

Minggu, Januari 13, 2008

Dua Orang Kakek Haji Rebutan Seorang Nenek Haji

Sewaktu membaca majalah Pandji Poestaka edisi 17 Juli 1930, saya menemukan berita yang bikin saya tertawa terpingkal-pingkal. Coba lihat dan baca kliping di bawah ini:



Kalau berita ini bener, saya geli sendiri. Belum sampe ke tanah air, dua haji yang sudah kakek-kakek ini masih sempet-sempetnya rebutan nenek-nenek. Soal mabrur nggaknya haji mereka emang Tuhan yang atur, tapi kalo gini kejadiannya, sampe tikam-tikaman segala, waduhhh....

Apa nenek haji yang direbutin itu secantik Sophia Loren atau Barbara Streisand yang awet muda itu kali?

Selengkapnya......

Jumat, Januari 11, 2008

Berapa Presiden RI yang Sudah Wafat?

Soeharto sedang sekarat. Mari berhitung, ada berapa mantan presiden RI yang sudah meninggal?

Jika jawabannya satu orang, maka pastilah itu merujuk pada Presiden Soekarno. Ya, dia wafat pada 21 Juni 1970.

Jika jawabannya dua orang, maka pastilah itu merujuk pada Mr. Assa'at. Ya, dia wafat pada 16 Juni 1976. Dia juga Presiden RI loh, persisnya antara Desember 1949 sampai Agustus 1950. Ibukota RI waktu itu ada di Yogyakarta. Lha, terus Soekarno ngapain kalau Assa'at yang jadi Presiden? Soekarno tetap jadi Presiden, kok. Cuma waktu itu dia jadi Presiden Republik Indonesia Serikat (RIS, bukan RI).

Jika jawabannya tiga, maka pastilah itu merujuk pada Mr. Sjafruddin Prawiranegara. Ya, dia wafat pada 15 Februari 1989. Dia juga bisa dianggap presiden loh, persisnya antara Desember 1948 sampai pertengahan 1949. Lha, terus ngapain Soekarno kalau Sjafruddin jadi Presiden? Soekarno tetap jadi presiden, kok. Cuma berhubung dia lagi ditahan Belanda gara-gara Agresi Militer II, maka Soekarno dan Hatta sempat mengirim telegram kepada Sjafruddin yang sedang berada di Sumatera untuk mendirikan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (DPRI) di Sumatera. Sjafruddin inilah yang menjadi Ketua PDRI dan memimpin pemerintahan Indonesia dengan bergerilya.

Nah, jadi jika Soeharto meninggal, tebaklah, sudah berapa Presiden RI yang wafat? Mau pilih versi yang umum atau versi yang barusan saya paparkan?

Saya gak lagi do'ain Soeharto meninggal. Saya cuma mendadak ingat sama Pram. Mungkin dia sudah tak sabar menunggu untuk mengucapkan kalimat: "Welcome, bro...."

[akhirnya saya bisa menulis pendek, jadi gak perlu read more. hehehe....]

Selengkapnya......