Selalu di Tempat yang Salah
Romo Mangunwijaya, dalam sebuah esainya yang begitu romantik, menyebut Sjahrir sebagai negarawan yang berpikir dalam hitungan abad, bukan warsa, apalagi bulan. Romo Mangun menyebut Sjahrir sebagai negarawan persis seperti James Freeman Clarke mendefinisikan negarawan, yang menurut Freeman berbeda dengan politisi yang hanya memikirkan soal pemilu yang akan datang, negarawan justru memikirkan generasi yang akan datang.
Tetapi, sudah jelaskah siapa Sjahrir dan di mana ia berada dalam kesadaran sejarah kita?
Dalam epilog dari biografi Sjahrir: Politcs and Exile in Indonesia, Rudolf Mrazek memberikan sebuah jawaban: “Sjahrir tetap (saja) diletakkan di tempat yang salah… dan dilupakan.”
Ironis tentu saja, sama ironisnya dengan bagaimana ia menjemput ajal. Dia wafat dalam status tahanan politik di Swiss. Tetapi persis di hari kematiannya, Bung Karno, orang yang paling bertanggungjawab atas penahanan Sjahrir dan mungkin juga atas sakitnya Sjahrir, ironisnya justru langsung mengangkatnya sebagai pahlawan nasional. Ironi bisa diperpanjang, mengingat Bung Karno justru akhirnya juga wafat dalam status tahanan politik.
Sjahrir mungkin punya banyak nila. Dia barangkali adalah tipe orang yang tidak taktis. Tetapi Sjahrir tentu saja tak sepenuhnya keliru. Dalam batas-batas tertentu, Sjahrir bisa jadi benar. Bukankah kedaulatan de facto dan de jure Republik Indonesia akhirnya ditangguk lewat sebuah proses perundingan (Konferensi Meja Bundar), kendati tentu saja tak memuaskan semua orang dan dengan mengorbankan banyak orang yang anti perundingan, yang diantaranya adalah para pemimpin Indonesia lapis satu (dari Amir Syarifuddin, Musso hingga Tan Malaka)
Sebagai pungkasan, saya petikkan kisah yang tercatat dalam tulisan Moh. Roem, Suka Duka Berunding dengan Belanda. Ketika jenazah Sjahrir akan diterbangkan ke Jakarta dari bandara Schiphol, Schermerhorn, orang yang menjadi rivalnya di Perundingan Linggarjati, dengan begitu emosional melepas kepergian Sjahrir dengan mengeluarkan kata-kata yang nyaris seperti sebuah elegi:
“Pada hari ini dan di sini, orang menyadari, “bahwa Sjahrir benar”! (Sjahrir had gelijk). (Tamat!)
Rabu, April 26, 2006
Di Mana Bung Sjahrir (5)
Diposting oleh zen di 5:49 AM 1 komentar
Jumat, April 21, 2006
Di Mana Bung Sjahrir? (4)
Di Penjara karena Paux Vas
Sejak itulah Sjahrir perlahan tapi pasti tenggelam, sebuah proses sejarah yang tidak hanya menyesakkan bagi Sjahrir dan para pengikutnya, melainkan juga membikin heran banyak orang asing yang mengikuti perkembangan Indonesia. Seorang diplomat diplomat asing, di hari dikebumikannya Sjahrir, merasa heran bagaimana bisa Sjahrir bisa tersingkir dan dilupakan secara tragis, padahal, kata dia, di masa awal revolusi dunia internasional jauh lebih mengenal Sjahrir ketimbang tokoh pergerakan mana pun.
Sjahrir memang praktis tersingkir. Setelah penyerahan kedaulatan pada Konferensi Meja Bundar 1949, Sjahrir makin jauh dari dunia politik. Sesekali ia masih disibukkan oleh statusnya sebagai Ketua Umum Partai Sosialis Indonesia. Tetapi kekalahan tragis yang menimpa PSI dalam pemilu 1955, hampir dipastikan membikin kemungkinan kembalinya Sjahrir ke dalam percaturan politik menjadi betul-betul tertutup.
Puncak pengasingan Sjahrir terjadi ketika ia, bersama Anak Agung, Soebadio Sastrosatomo, Sultan Hamid, Roem dan pemimpin Masyumi lainnya, dipenjarakan oleh Soekarno pada 1962 dengan tuduhan terlibat Bali Connection.
Seperti terpapar dengan detail dalam Sjahrir: Politics and Exile in Indonesia, karya sejarawan Ceko, Rudolf Mrazek, pada 18 Agustus 1962 mantan raja Gianyar akan dingaben dalam sebuah upacara besar. Anak Agung Gede Agung, putra Sang Raja, mengundang sejumlah karibnya: Soetan Sjahrir, Moh Hatta, Roem, Sultan Hamid dari Pontianak, Soebadio Sastrosatomo plus ribuan tamu dan penonton lain yang hadirtentu saja.
Tapi Anak Agung, dalam kata-katanya sendiri, melakukan faux pas, semacam blunder dalam bersikap dan mengambil keputusan: dia tak mengundang Soekarno. Sadar akan kekeliruannya, Anak Agung segera mengundang Soekarno. Tetapi Soekarno tampaknya sudah merasa dihina karena tak diundang. Soekarno, menurut Anak Agung sendiri, akhirnya merasa kecewa.
Lantas pada7 Januari 1962, Soekarno yang sedang melakukan perjalanan di Makasar untuk kampanye Irian Barat, dilempari granat. 3 orang tewas, 28 penonton luka. Soekarno dan rombongan sendiri selamat.
Delapan hari berselang, dua orang Belanda ditangkap. Sejak itulah mulai beredar desas-desus bahwa peristiwa itu diakibatkan oleh apa yang disebut sebagai “Bali Connection”: sebutan untuk komplotan politik yang terdiri dari orang-orang yang berkumpul pada upacara ngaben Raja Gianyar.
Akhirnya pada 16 Januari 1962, Sjahrir, Anak Agung, Soebadio, Sultan Hamid, Roem dan beberapa pemimpin Masyumi lainnya, ditangkap. Tak begitu jelas siapa yang bermain dalam isu “Bali Connection”. Ada yang menyebut Soebandrio, tetapi jenderal Nasution juga disebut. Akhirnya, tidak bisa tidak, Soekarno pun tersangkut.
Dan Soekarno, dua tahun kemudian, seperti terlacak dalam autobiografi yang disusun Cindy Adams, mengakuinya. Soakerno menyebut penangkapan Sjahrir sebagai “hukum revolusi”: pukul musuh kamu, bunuh atau dibunuh. Penjarakan atau dipenjarakan.
Beberapa waktu yang lalu, kata Soekarno dengan kata-kata yang menggeletar, “Sjahrir merencanakan komplotan untuk menggulingkanku dan merenggut pemerintahan. Kini Sjahrir dalam penjara. Aku tidak menaruh dendam. Aku menyadari bahwa ini suatu permainan dua sisi yang mengerikan dan aku terlibat. Permainan untuk kelangsungan hidup.”
Dan dalam status sebagai tahanan politik itu, tanpa proses pengadilan yang fair dan terbuka, Sjahrir mengembuskan nafasnya yang terakhir. Sjahrir, lelaki yang dalam usia 36 tahun menjadi Perdana Menteri pertama, mendiang “dalam pengasingan”; sesuatu yang menurut Mrazek nyaris selalu melingkupi kehidupan dan karir politik Sjahrir. (Bersambung)
Diposting oleh zen di 11:10 AM 1 komentar
Selasa, April 18, 2006
Di Mana Bung Sjahrir? (3)
Konduktor Sjahrir
Tetapi bukan berarti Sjahrir selalu berpangku tangan. Setidaknya Sjahrir cermat membaca keadaan, persisnya membaca kecenderungan dan arah politik global, yang kemudian ia implementasikan dalam sejumlah taktik dan strategi diplomasi yang dalam beberapa tahun kemudian jelas menuai hasil “baik”, jika kata “cemerlang” barangkali dinilai terlampau superlatif.
Jika Agus Salim, dengan segenap erudisi, retorika dan humornya yang memikat, menjadi pelaku/aktor dibalik keberhasilan operasi diplomasi (terutama di Timur Tengah, khususnya Mesir); Sjahrir, dengan intusinya membaca situasi tata mondial termutakhir, bisa disebut sebagai “konduktor yang cermat dan sabar mengelola, menjaga dan mengatur irama pertunjukan orkestra diplomasi Indonesia di dunia internasional”.
Momen simbolik Sjahrir sebagai konduktor operasi diplomasi Indonesia terjadi pada Agustus 1947, hanya berselang beberapa hari dari Agresi I Belanda. Peristiwa itu terjadi di depan Dewan Keamanan PBB di Lake Succes. Di situlah Sjahrir berpidato, mewakili sebuah bangsa baru di Timur Jauh yang sedang terancam kemerdekaannya.
Sjahrir, seperti diceritakan kembali dengan baik oleh Charles Wolf Jr., memulai pidatonya dengan mengisahkan sebuah bangsa yang sudah mengenal tulisan sejak seribu lima ratus tahun silam, yang memiliki berserat-serat sejarah emas di bawah Sriwijaya dan Majapahit, yang terbentang dari Papua di Timur hingga Madagaskar di Barat. Dalam pasang surut sejarah yang sukar dirumuskan, bangsa itu mulai ditindas oleh orang-orang Eropa.
Dengan cemerlang sekaligus efektif, Sjahrir mengakhirinya dengan kata-kata: “Dalam proses itu, negeri saya kehilangan kemerdekaannya… dan jatuh dari tempatnya yang megah dahulu menjadi tanah jajahan yang lemah dan hina.”
Di atas mimbar di Lake Succes, di hadapan DK PBB, Sjahrir seakan menjadi konduktor di mana dunia internasional, perlahan tapi pasti (dan dipercepat oleh kebebalan politik Belanda), bergerak ke arah seperti yang diinginkan Sjahrir: mengutuk Belanda dan memaksa Belanda duduk di perundingan!
Apa yang dilakukan Sjahrir ketika itu mengingatkan pada pidato pertama kali Yasser Arafat di PBB mewakili PLO yang dianggap sebagai representasi keinginan bangsa Palestina untuk bebas dari pendudukan Israel. Di momen itulah Palestina, seperti juga Indonesia ketika Sjahrir berpidato, untuk kali pertama mendapat pengakuan secara de facto sebagai sebuah bangsa di perserawungan resmi antar negara.
Jika Sjahrir memulai pidatonya dengan sebuah kisah, Arafat memulainya dengan memamerkan sebuah ranting zaitun yang patah, yang kata Arafat jadi simbol keinginan merdeka bangsa Palestina yang terancam rengkah.
Di bawah juru runding Sjahrir pula Indonesia berunding dengan Belanda di Linggarjati. Dan seperti kita tahu, Sjahrir tersingkir dari kursi Perdana Menteri karena dinilai terlalu kompromistis dengan Belanda; hal yang sama juga terjadi pada Schermerhorn, juru runding Belanda di Linggarjati, yang seperti bisa kita baca dalam buku hariannya yang sudah diterbitkan dengan judul Schermerhorn, ternyata juga dibenci oleh banyak kalangan konservatif di Belanda karena dianggap terlalu memberikan kompromi pada Indonesia.
Hal inilah yang menjadi salah satu pasal pokok dari kesukaran kesadaran sejarah Indonesia memosisikan Sjahrir. Sejak itu, Sjahrir selalu saja dianggap sebagai juru runding yang gagal, politisi yang dinilai terlalu kompromistis, peragu, dan terlampau berbelaskasih terhadap Barat.
Diposting oleh zen di 10:49 AM 0 komentar
Kamis, April 13, 2006
Di Mana Bung Sjahrir (2)
Perjuangan Kita
Perjoengan Kita adalah jawaban atas dorongan banyak kalangan agar Sjahrir ikut serta dalam pemerintahan. Perjoengan Kita dengan demikian bisa ditempatkan sebagai penjelasan di mana posisi Sjahrir sekaligus sebagai cetak biru dari program yang hendak dijalankan Sjahrir begitu ia diangkat menjadi Perdana Menteri.
Perjoengan Kita ditulis untuk menjelaskan, tulis Sjahrir beberapa tahun kemudian (Out of Exile, 1949: 263), “…kedudukan kita sehubungan dengan sejarah masa silam dan perjuangan sekarang, dan menjelaskan apa yang kita anggap sebagai taruhan dan tujuan revolusi.”
Dalam tulisannya yang paling termasyhur itu, terlihat benar betapa Sjahrir adalah orang yang merdeka, tak bergantung pada siapa pun, sekaligus terlihat tanpa beban. Itu terpancar dari serangan-serangannya yang tajam, yang di beberapa bagian bahkan sangat kasar, terhadap semua kalangan yang menurutnya laik dihantam.
Ia mengritik habis kaum nasionalis generasi tua yang bekerjasama dengan Jepang. Menurutnya, unsur-unsur kolaborator itu mesti dibabat habis hingga ke akarnya. Pembersihan Indonesia dari para kolaborator itu adalah awal mula dari apa yang ia sebut sebagai perjuangan “demokrasi sosial” dan “revolusi demokrasi”.
Ada yang menarik jika kita bandingkan Perjoengan Kita cetakan pertama dan cetakan-cetakan selanjutnya. Di cetakan pertama, Sjahrir bahkan menggunakan kata sekasar “anjing-anjing yang berlari” kepada kaum nasionalis yang bekerjasama dengan Jepang, Soekarno-Hatta termasuk tentu saja; kalimast kasar yang kemudian raib pada cetakan-cetakan selanjutnya.
Ia juga menyerang angkatan muda yang menurutnya terlampau diayun-ayun oleh romantisme revolusioner yang membodohkan. Para pemuda dinilainya tak memiliki pengertian yang jelas tentang apa yang mereka perjuangkan, selain hanya Merdeka atau Mati! Titik.
Jika para pemuda itu, kata Sjahrir, “mulai merasa kemerdekaan belum juga tercapai sedangkan kematian masih jauh, mereka akan terus berada dalam kebimbangan.”
Ia juga membidik soal pentingnya “partai revolusioner buruh demokratik” yang menurutnya tak harus besar yang penting ditopang oleh pasukan yang berdisiplin ketat. Hanya partai yang demikianlah yang menurutnya bisa menjadi inti revolusi Indonesia.
Yang tak kalah berharga adalah uraian Sjahrir atas posisi Indonesia dalam percaturan politik mondial. Ia yakin Indonesia tak terlepas dari arus yang terjadi, dalam kata-kata Sjahrir sendiri, “di dunia kapitalisme dan imperialisme Anglo-Saxon”.
Perjuangan melawan imperialisme, menurut Sjahrir, pada hakikatnya ialah membangun jarak: untuk memaksa segala amcam gerakan dan dorongan politik sampai lemah, untuk menciptakan ruangan supaya di dalamnya orang yang lemah relatif dapat bergerak bebas.
Di titik inilah Sjahrir sudah memancangkan orientasi perjuangannya yang lebih mementingkan diplomasi ketimbang perjuangan bersenjata. Baginya, kaum kapitalis melulu menghitung dari sudut pandang laba-rugi. Selama mereka tak mengeluarkan biaya, mereka kemungkinan akan netral dalam perjuangan Indonesia. Dan Indonesia, kata Sjahrir, harus memastikan bahwa kita tidak memeroleh kebencian asing, agar mereka bisa berada di belakang Indonesia.
Yang paling menyentuh adalah simpati Sjahrir terhadap orang-orang yang terjebak pada sisa kolonialisme dan tak bisa bergerak, mereka adalah orang Belanda sendiri (Sjahrir tak pernah membenci orang Belanda, ia hanya menentang sistem kolonialisme Belanda), Indo-Belanda, orang Ambon yang memihak Belanda dam orang Indonesia yang menjadi tentara kolonial sebelum Jepang muncul. Di sini humanisme Sjahrir yang terkenal itu muncul. Sjahrir menyebut orang-orang seperti itu sebagai “orang-orang yang terjepit atau in-between”.
Bagian inilah yang menurut Sal Tas, karib Sjahrir yang merupakan aktivis anti kolonial di Belanda, sebagai bagian paling mengesankan dari Perjoeangan Kita. Dalam kenang-kenangan saat Sjahrir wafat, Sal Tas menyebut perhatian dan simpati Sjahrir itu sebagai “panggilan untuk keksatriaan” (Souvenir of Sjahrir, 169: 150)
Begitu terbit, Perjoeangan Kita segera dan selama bertahun-tahun kemudian menjadi masalah yang hangat dipertukarcakapkan oleh para politisi, kaum intelektual dan para akademisi.
Ben Anderson, dalam disertasinya Java in A Time of Revolution (1972: 195), menyebut Perjoeangan Kita sebagai “satu-satunya usaha yang dilakukan selama bertahun-tahun pasca perang untuk menganalisa secara sistematik kekuatan domestik dan internasional yang memengaruhi Indonesia dan memberikan perspektif yang masuk akal bagi gerakan kemerdekaan di masa depan”.
Beberapa karib dekat Sjahrir menyebut pamflet itu menunjukkan cara berpikir Sjahrir yang ternyata begitu dekat dengan Mao sehingga bahkan ada yang berpikir kalau dua orang itu sempat bertemu. Franklin Weinstein, sarjana Amerika yang menulis disertasi seputar kaum elit Indonesia, menyebut Perjoeangan Kita sering dibandingkan dengan On New Democracy-nya Mao dan bahkan rakyat di dunia komunis menerima Perjoeangan Kita sebagai sumbangan yang setaraf dengan sumbangan Mao.
Tetapi sebagai alat untuk menopang kekuasaannya sebagai Perdana Menteri, Perjoeangan Kita seringkali justru memersukar posisi Sjahrir. Terjangan tanpa tedeng aling-aling Sjahrir terhadap generasi tua dan angkatan muda sekaligus membikin Perjoeangan Kita justru (dalam kata-kata Ben Anderson) ”memerbanyak jumlah musuh Sjahrir sebanyak menambah sahabat-sahabatnya”.
Serangan Sjahrir atas kaum muda di tengah heroisme angkatan muda yang merasa sebagai pihak yang paling berjasa dalam tercetusnya proklamasi, masihkah diherankan jika Sjahrir akhirnya tak populer di angkatan pemuda, kelompok yang sangat menentukan itu?
Tak perlu diherankan jika beberapa saat kemudian, banyak angkatan muda yang merapatkan barisan ke kubu Tan Malaka yang konsisten dengan garis perjuangan bersenjata tanpa diplomasi yang mencuat sebagai kekuatan baru lewat organ taktis Persatuan Perjuangan yang didukung 146 organisasi politik, termasuk beroleh dukungan terang dari Jenderal Soedirman.
Di saat-saat genting ketika Sekutu baru saja membumihanguskan Surabaya, dan saat Belanda sudah siap mengambil keuntungan dengan keterlibatan Sekutu, Sjahrir masih sempat-sempatnya menulis: “Bukan nasionalisme (yang) harus nomer satu, tapi demokrasi!”
Cukup jelas: bagi mereka yang tidak cukup memiliki kesabaran revolusioner, Sjahrir adalah suara tanpa tindakan.(bersambung)
Diposting oleh zen di 11:54 PM 1 komentar
Senin, April 10, 2006
Di Mana Bung Sjahrir (1)
Muncul di Pusat Pentas
Jika Tan Malaka menjadi legenda dan misteri karena sepanjang hidupnya memang selalu nyaris berada “di bawah tanah”, maka Sjahir tetap menjadi teka-teki (barangkali) karena ia selalu berdiri tegak “di atas tanah”, “di tengah pentas”, dengan sikap yang tenang dan sabar di tengah arus zaman yang justru sedang tergesa-gesa dan tak sabar!
Sampai di sini saya tak bisa untuk tak mengutip Goenawan Mohamad. Dia pernah mendeskripsikan Sjahrir, persis seperti yang saya maksudkan. Syahrir, kata Goenawan Mohamad dengan memungut analogi dari permainan bulutangkis, “menyerang, mengkritik, tapi pukulannya bukan smash. Dia seorang pemain rally yang pelan, cermat.”
Sejarah mencatat: Sjahrir menjadi Perdana Menteri pertama dengan Amir Syarifuddin sebagai Menteri Pertahanan. Tetapi mereka akhirnya bersimpangjalan, dan final ketika Amir makin radikal setelah kedatangan Musso pada Agustus 1948, karena Sjahrir memang tak pernah goyah oleh godaan sentimentalitas revolusioner golongan komunis yang sering, dalam kata-kata Sjahrir sendiri, “menghancurkan dalam diri mereka sendiri jiwa serta semangat sosialisme yaitu kemampuan untuk menghargai kemanusiaan dan martabat manusia.”
Sjahrir, yang akrab dipanggil Bung Kecil karena perawakannya yang mungil, tentu belajar dari apa yang dilakukan Stalin dengan Gulag-nya. Dan itulah sebabnya ia kokoh berdiri: sosialismenya adalah sosialisme yang percaya atas martabat manusia. Itulah yang menurutnya menjadi inti “sosialisme kerakyatan”; istilah yang kemudian diplesetkan menjadi “soska” alias sosialis kanan, plesetan yang ditujukan pada Sjahrir yang (terutama oleh komunis dan para revolusioner dari kelompok pemuda) dinilai sebagai sosialime malu-malu, sosialisme yang kompromistis, kebarat-baratan.
Sjahrir, tentu saja, akhirnya menjadi tak populer, tidak hanya di mata golongan kiri radikal (baik komunis maupun faksinya Tan Malaka), melainkan juga di mata kebanyakan tentara (dengan wakil Soedirman), dan juga para pemuda yang tak sabar.
Salah satu penyebab awal dari ketidakpopuleran Sjahrir adalah terbitnya brosur politiknya, Perjoeangan Kita.
Brosur politik itu dikeluarkan pada 10 November 1945 bersamaan dengan mulai menghebatnya pertempuran November di Surabaya dan (yang jauh lebih penting), bersamaan dengan berhembusnya isu ihwal akan ditunjuknya Sjahrir untuk membentuk kabinet yang bertanggungjawab kepada parlemen, Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP); isu yang hanya dalam hitungan hari terbukti benar.
Sjahrir lama hanya melihat, menunggu dan menjaga jarak dengan Soekarno-Hatta, terutama sejak Jepang mulai menunjukkan tanda-tanda kekalahannya dari Sekutu. Sjahrir tak terlibat langsung dalam Proklamasi, dan seperti Tan Malaka, ia juga tak menghadiri pembacaan proklamasi. Dan hingga 3 bulan Proklamasi dibacakan, ia juga tak mau terlibat dalam pemerintahanSoekarno-Hatta.
Dengan diawali terbitnya Perjoengan Kita, Bung Kecil memulai perjuangannya menyelamatkan republik yang masih bayi dari ancaman perpecahan dan juga kebebalan politik Belanda yang masih menganggap Indonesia sebagai Hindia Belanda. Sebuah perjuangan yang dilakukan langsung dari dalam: menjadi Perdana Menteri pertama Indonesia dalam usia 36 tahun.(bersambung)
Diposting oleh zen di 6:50 AM 0 komentar
40 Tahun Wafatnya Bung Sjahrir
Pekan ini, tepatnya 9 April, kita merayakan 40 tahun mendiangnya Soetan Sjahrir, Perdana menteri pertama dan termuda dalam sejarah Indonesia. Dengan panggilan Bung, Sjahrir adalah satu dari tiga bung besar yang kita kenal, selain Bung Karno dan Bung Hatta. Tetapi ia adalah bung yang paling dilupakan. Blog ini, mencoba menghadirkan sosok Sjahrir lewat tulisan pendek yang dihadirkan secara berseri.
Selengkapnya......Diposting oleh zen di 6:17 AM 0 komentar
Selasa, Maret 28, 2006
Pedang Bolivar untuk "el Commandante"
Beberapa hari setelah memenangkan pemilu dan menjadi putra pibumi pertama yang menjadi Presiden Bolivia sepanjang 500 tahun sejarah Bolivia, Eva Morales langsung meledakkan seuntai kalimat nyalang: “Ini bukan tentang Eva Morales. Ini tentang rakyat yang memeroleh kembali hak mereka.”
Che Guevara sayangnya tak sempat menyaksikan momen ini. Ya… sudah lama sekali Che memimpikan munculnya pemimpin Amerika Latin yang berasal dari suku Indian. Dalam bayangannya, pemimpin berdarah Indian itu yang kelak akan memulihkan harkat bangsa Indian yang berabad-abad lamanya dijadikan paria di benuanya sendiri.
Eva Morales seperti menjawab mimpi Che. Ia tak sekadar menjadi pemimpin berdarah Indian sebab Morales juga berambisi mengembalikan hak-hak orang Indian yang berabad-abad lamanya dirampas.
Akan halnya Che, Morales membikin Amerika berdegup. Seakan menapaki semua tilas yang ditinggalkan Che, Morales langsung mengemborkan retorika anti Amerika dengan tanpa cadang. Bersama Fidel Castro dan Hugo Chavez, Morales menyepakati sebuah simpul kekuatan yang mengikat ketiganya ke dalam apa yang disebut Chavez sebagai “Poros Kebaikan”.
Oleh Chavez, Morales diberi sebuah hadiah berupa replika pedang Simon Bolivar. Anda tentu tahu kalau Bolivar bukan orang sembarangan. Ia sudah menjadi pahlawan di hati semua bangsa Amerika Latin dua abad sebelum Che menjadi simbol baru perlawanan rakyat Amerika Latin terhadap kolonialisme dan imperialsme bangsa Spanyol.
Prestasi yang ditorehkan Bolivar tak sembarangan. Lahir di Venezuela pada 1783, Bolivar menjadi pemimpin dari gerakan perlawanan terhadap kolonialisme Spanyol. Dan tak sekadar memimpin perlawanan, Bolivar akhirnya berhasil memerdekakan sejumlah bangsa di Amerika Latin, dari mulai Venezuela, Peru, Kolombia, Panama, Ekuadro dan Bolivia. Nama Bolivia bahkan dicuplik dari namanya. Itulah sebabnya di seantero Amerika Latin, Bolivar disemati julukan El Liberator alias Sang Pembebas.
Saya pernah membaca sebuah buku babon sejarah Amerika Latin. Kalau tak salah judulnya Pergolakan di Amerika Latin. Saya lupa siapa yang menulis karena sudah lama sekali saya baca buku bersampul biru dengan cover polos tanpa gambar itu. Di buku itulah saya pertama kali mengenal sosok Bolivar. Pertama kali membaca saya terkejut luarbiasa. Hebat sekali ini orang, pikir saya ketika itu, bisa membebaskan enam negara sekaligus!
Baru setelah membaca novel Gabriel Garcia Marquez berjudul In the General and His Labyrinth saya jadi sedikit mengerti sisi kemanusiaan seorang Bolivar yang legendaris itu. Di novel historis yang ditopang oleh riset data yang mengesankan, Marquez memaparkan akhir-akhir kehidupan Bolivar yang muram. Bolivar digambarkan Marquez sebagai lelaki tua yang mulai merasakan letih. Ia diserang insomnia yang akut. Ia tak bisa tidur lelap. Penghiburannya satu: menghanyutkan diri di sungai atau mengambangkan badan di bak mandi.
Sosok legendaris yang unik itulah yang replika pedangnya diterima Morales. Penyerahan replika pedang Simon Bolivar itu setidaknya menandai dua peristiwa simbolik.
Pertama, Morales seakan menerima pentahbisan menjadi anak spiritual Bolivar. Ia diharapkan terutama oleh bangsa Bolivia untuk membebaskan bangsanya dari pelbagai keterpurukan di segala bidang. Jika dulu Bolivar membebaskan Bolivia dari kolonialisme Spanyol, Morales dipilih oleh lebih separuh pemilih Bolivia untuk membebaskan negerinya dari tekanan Amerika yang tak henti-hentinya mendiktekan segela yang dimauinya.
Morales paham benar perkara ini. Lahir di dataran tinggi Orinoca, Morales kecil hidup di lingkungan yang mayoritas penduduknya menjadi penanam koka, tanaman obat yang juga jadi bahan dasar kokain. Sepertiga pendapatan Bolivia ditangguk dari tanaman Koka. Tapi sejak Amerika menggalakkan kampanye pemusnahan koka, kondisi berubah. Ribuan tanaman koka dimusnahkan. Penghasilan mereka tak hanya turun melainkan banyak diantaranya kehilangan mata pencaharian. Pemusnahan inilah yang menjadi biang utama kebencian rakyat Bolivia pada Amerika.
Dan Morales muncul menjadi pembela utama para petani koka itu dengan mendirikan Cocalero Movement, organisasi kiri yang kerja utamanya melakukan advokasi pada para petani koka. Morales makin diperhitungkan ketika ia mendirikan dan memimpin langsung Movement Toward Socialism Party (Movimiento al Scocialismo) yang mengajukannya sebagai kandidat presiden.
Dengan mengusung janji legalisasi koka, dan janji kontrol yang lebih maksimal atas sektor gas alam yang terlalu dikuasi pengusaha-pengusaha besar yang pelit, Morales dengan segera mencuat ke langit-langit panggung politik Bolivia. Morales tahu persis, selain sumber penting ekonomi, koka adalah simbol bagi orang Bolivia. Mengunyah daun koka bagi orang Bolivia tak ubahnya menelan obat yang menyehatkan. Mengunyah koka berarti mengusir dingin. Mengunyah koka berarti menghilangkan lapar. Mengunyah koka sama dengan menahan derita.
Wajar saja jika Amerika was-was. Morales tidak hanya menjadi penghalang utama kampanye pemusnahan koka tetapi juga menjadi ancaman serius bagi kepentingan modal Amerika yang banyak berkeliaran di Bolivia lewat perusahan-perusahaan gas alam, dari mulai Exxon Mobile hingga Repsol. Seperti Castro ketika berhasil menumbangkan Fulgencio Batista di akhir 1950-an, Morales juga menggemborkan isu nasionalisasi perusahaan asing, terutama perusahaan gas alam dan energi. Chavez, presiden Venezuela yang merupakan salah satu pengahasil minyak terbesar, jelas ada di belakang Morales.
Kedua, selain menjadi simbol penahbisannya sebagai anak spiritual Bolivar, pemberian replika pedang Bolivar juga bisa dibaca sebagai penahbisan kepada Morales sebagai calon pemimpin kiri Amerika Latin masa depan. Di banding Castro yang sudah 79 tahun dan Chavez yang 55 tahun, Morales yang berusia 44 tahun jelas yang termuda. Ia seakan menyatakan siap menjadi El Commandante gerakan kiri Amerika Latin di masa depan.
Ada yang menarik untuk dicermati dalam soal ini. Ketika Morales bersua dengan Castro di Havana pada pengujung Desember 2005, Morales menyebut pertemuan keduanya sebagai “Pertemuan pejuang (dari) dua generasi untuk kemerdekaan harga diri”. Dengan menyatakan itu, Morales bisa dibilang sedang menyatakan dua hal sekaligus.
Pertama, Morales mengakui senioritas Castro (juga Chavez). Dalam hal Castro, Morales memang memujanya. Ia memanggil Castro dengan panggilan El Commandante. Kunjungan ke Havana yang merupakan muhibah pertama Morales ke luar negeri meneguhkan kesetiaan Morales kepada Castro. Kepada dua orang itulah, Morales akan banyak berguru dalam hal menghadapi macam-macam intrik Amerika Serikat. Castro dan Chavez memang kenyang asam garam menghadapi laku lancung intelijen Amerika yang berkali-kali hendak melengserkan dan bahkan membunuh mereka berdua.
Kedua, Morales secara implisit juga mencoba meyakinkan para seniornya itu betapa dirinya siap menjadi pemimpin kiri Amerika Latin seumpama salah satu atau kedua mentornya itu tak lagi berkuasa. Kendati sama-sama berasal dari partai berhaluan kiri, Morales dalam hal nyali memang jauh lebih “nekat” ketimbang Presiden Brasil Lula Da Silva, Presiden Argentina Nestor Kirchner, apalagi Presiden baru Chili Michelle Bachelet.
Dunia menunggu dengan sedikit cemas kiprah Morales. Tak bisa disangkal, pasangnya kekuatan kiri di Amerika Latin kerap kali berbanding lurus dengan naiknya kadar otoritarian di negeri tersebut. Tapi bagi rakyat Bolivia, tepatnya warga suku Indian, Morales adalah harapan. Ia bahkan sudah menjadi pahlawan jauh hari sebelum memenangkan pemilu.
Morales segera akan menentukan masa depan Bolivia. Tentu saja dengan replika pedang Simon Bolivar di tangannya.
Diposting oleh zen di 7:04 AM 2 komentar
Senin, Maret 27, 2006
Ibu Bangsa itu Seorang Ibu Kost
Ramadhan KH mengakhiri bukunya yang termasyhur, Kuantar ke Gerbang, dengan sebuah fragmen singkat yang menyentuh. Hari itu, Soekarno datang ke Bandung bersama istrinya, Inggit Garnasih. Dengan ditemani Mas Mansur, Soekarno membawa Inggit ke jalan Lengkong Besar, menuju kediaman Haji Anda. Di sana, Soekarno bermaksud mengembalikan Inggit kepada keluarganya. Saat itu juga, lewat sebuah pertemuan yang kaku nan hambar, Inggit resmi diceraikan dan dikembalikan kepada keluarganya.
Ada yang penting untuk dikenang dari kejadian itu. Persis hanya beberapa kerjap sebelum rombongan Soekarno hendak angkat koper, Inggit sempat bersalaman dengan Soekarno. Di detik persentuhan yang terakhir itu, Inggit mencurahkan sepucuk doa yang bersahaja: “Selamat jalan. Semoga selamat dalam perjalanan.”
Bagi siapa pun yang awas membaca riwayat Soekarno, sepucuk doa Inggit itu bukanlah sesuatu yang bersahaja. Sepucuk doa itu bukan semata berisi harapan agar Soekarno sampai ke Jakarta dengan selamat tanpa suatu apa, melainkan jauh lebih besar dari itu. Doa yang bersahaja Inggit sebenarnya adalah harapan agar cita-cita dan visi besar Soekarno, lelaki yang siang itu telah menjadi mantan suaminya, betul-betul selamat hingga mewujud menjadi realitas sejarah.
Dan jangan juga dilupakan, di balik doa yang pendek itu, terhampar sebuah kisah cinta yang indah, bergelora, menggugah, sekaligus juga penuh dengan keganjilan; sebuah kisah cinta yang, diakui atau tidak,menjadi salah satu fragmen yang sebetulnya menjadi bagian penting nan indah yang tak bisa diabaikan begitu saja dari keseluruhan episode perjalanan bangsa ini mencapai kemerdekaannya
Setia Hingga ke Flores
“Sebagai pohon nyiur runtuh disambar geledek, demikian bunyi berita tersiar beberapa hari yang lalu dalam surat kabar bahwa Ir. Soekarno mengambil keputusan dengan sesukanya sendiri untuk mengundurkan diri dari segala pegerakan. "…Satu tragedi Soekarno yang belum ada contohnya dalam riwayat dunia. Orang kata karena pengaruh istrinya. …Orang yang memunyai karakter tidak akan terpengaruh oleh karena apa juga. Bukan pemimpin kalau masih terpengaruh oleh air mata istri yang tak tahan hidup melarat.”
Bukan main terkejutnya Inggit membaca tulisan Bung Hatta di koran Daulat Ra’jat itu. Sekujur tubuhnya terasa terbakar. Dalam kata-kata Inggit sendiri: “Aku merasa seperti terinjak seluruh diriku.”
Hatta melansir tulisannya persis ketika tersiar kabar Soekarno mengundurkan diri dari Partindo dan PPKI dengan alasan tidak cocok dengan asas dua organ pergerakan itu. Hatta, juga semua-mua aktivis pergerakan, tentu saja merasa masygul. Tetapi dalam hal diagnosanya atas peranan Inggit dalam pengunduran Soekarno, Hatta jelas kurang begitu mengerti duduk perkara.
Di luar perkiraan Hatta ketika itu, Inggit bukanlah perempuan yang menggerogoti karakter Soekarno. Justru Inggit-lah yang dengan caranya sendiri berhasil meneguhkan karakter Soekarno dan dalam momen-momen tertentu Inggit pula yang mengembalikan Soekarno ke jalurnya ketika godaan untuk ngelencer ke luar jalur sedang memikat Soekarno.
Juga berbeda dengan diagnosa Hatta, Inggit adalah istri yang menemani Soekarno di masa-masa tersulit sepanjang perjuangannya. Inggit-lah yang menemani dan mengurusi semua kebutuhan Soekarno ketika ia dipenjara di Sukamiskin di awal tahun 1930-an. Inggit pula (juga ibunya Inggit) yang rela menemani Soekarno ketika ia dibuang ke Ende, di Flores. Inggit juga tetap berada di samping Soekarno ketika ia dibuang ke Bengkulu. Bersama Inggit-lah masa-masa susah dilewati Soekarno.
Berbeda dengan tuduhan Hatta yang menuduhnya sebagai perempuan yang tak bisa diajak melarat, Inggit justru merelakan diri menjadi melarat dengan menguras tabungan yang dimilikinya untuk membantu Soekarno sebisanya. Ia jual perhiasan dan harta benda yang ia miliki untuk membiayai aktivitas Soekarno. Inggit yang membelikan buku buat Soekarno. Inggit yang putar otak untuk membeli kebutuhan makan, minum dan penganan tiap kali rumahnya dijadikan tempat rapat dan diskusi para aktivis pergerakan.
Inggit pula yang selalu menjadi penengah ketika terjadi perdebatan yang menjurus kasar di antara sesama aktivis itu dengan masuk ke ruangan rapat untuk menawarkan minum, makan dan penganan. Inggit pula yang menerjemahkan pertanyaan-pertanyaan masyarakat Sunda di Bandung tiap kali Soekarno mengadakan tanya jawab, diskusi atau kursus-kursus politik.
Soekarno mungkin seorang singa podium, tetapi ia tak ubahnya Hamlet yang rapuh dan selalu kesepian ketika sendiri dan jauh dari massa. Ia adalah seorang penglima besar revolusi yang dengan perkasanya mengobarkan perang terhadap Malaysia, Inggris dan Amerika, tetapi sebetulnya ia adalah lelaki yang bahkan menyembelih seekor ayam pun tak sanggup. Soekarno adalah lelaki yang sangat membutuhkan afeksi. Kasih sayang. Ia membutuhkan figur seorang ibu karena ia sendiri sudah berjauhan dengan ibu kandungnya sendiri sejak masa sekolah. Ia sudah sering bertemu dengan noni-noni Belanda yang cantik, tapi ia butuh seorang perempuan yang bisa mengawaninya tiap detik, bahkan di saat-saat yang terpedih sekalipun.
Inggit adalah jawaban atas semua kebutuhan psikologis Soekarno itu.
Pasang Surut Soekarno-Inggit
Inggit Garnasih awalnya adalah ibu kos bagi Soekarno. Ketika itu, Soekarno baru saja datang dari Surabaya. Ia datang ke Bandung pada 1920 untuk menempuh studi di sekarang ITB). Atas rekomendasi HOS Cokroaminto, mentor Soekarno di Surabaya, Soekarno pun tinggal di rumah Inggit Ganarsih yang ketika itu menjadi istri Sanusi, seorang pengusaha menengah yang juga menjadi pengurus Sarekat Islam afdeling (cabang) Bandung
Soekarno ketika itu masih menjadi suami dari Utari, putri HOS Cokroaminoto. Tapi hubungan suami istri keduanya tak berjalan mulus. Soekarno lebih merasa sebagai abang ketimbang seorang suami. Kedatangan Utari ke tak berhasil mengubah keadaan.
Entah kenapa, barangkali karena sehari-hari berdekatan, Soekarno berani mengisahkan semua persoalan keluarganya kepada Inggit. Dan Inggit, laiknya seorang ibu kos yang baik, dengan sabar mendengar keluh kesah anak kosnya yang perlente dan bersemangat itu. Sesekali Inggit memberi masukan agar Soekarno berusaha memerbaiki hubungannya dengan Utari.
Tapi saran Inggit tak pernah berhasil direalisasikan Soekarno. Akhirnya, setelah berpikir matang-matang, Soekarno mengembalikan Utari kepada ayahnya, Cokroaminoto. Mereka bercerai, dan konon kabarnya, tanpa sempat sekalipun mengadakan hubungan suami istri.
Sekembalinya dari Surabaya, diselingi kerja kerasnya belajar dan beraktivitas, Soekarno makin dekat saja dengan Inggit. Tak urung, hembusan gunjingan pun menerpa. Sadar akan situasi keluarganya, Sanusi pun melepas Inggit. Sanusi, dengan keikhlasannya yang luar biasa, menyarankan agar Inggit merawat dan membantu Soekarno sebisanya.
“Akang rido,” kata Sanusi, “Kalau Eulis (Inggit) menerima lamaran Kusno (Soekarno) dan kalian berdua menikah. Mari kita jagokan dia, sehingga ia benar-benar menjadi orang penting. Mari kita bantu dia sampai ia benar-benar menjadi pemimpin rakyat. Dampingi dia, bantulah dia, sampai ia benar-benar mencapai cita-citanya,” kata Sanusi.
Mereka pun menikah. Dan Inggit tampaknya berhasil melakukan apa yang diinginkan Sanusi. Ya, Inggit benar-benar menjadi pendamping yang tidak hanya setia, melainkan juga menjadi seorang pendukung Soekarno yang paling aktif dan militan.
Tetapi Inggit akhirnya juga menjadi kartu mati bagi seorang Soekarno. Ketika usia Soekarno makin beranjak tua, hasrat untuk menimang anak tentu saja makin tak terbendung. Sayangnya, Inggit tak bisa memberinya buah hati. Ia perempuan mandul.
Petaka itu datang ketika Soekarno sedang diasingkan ke Bengkulu. Soekarno justru terpikat oleh salah satu anak angkatnya sendiri, Fatmawati. Kedekatan keduanya makin tak tertahan ketika Inggit harus pergi ke untuk mengantarkan Omi, putri angkat Soekarno yang pertama, mendaftar sekolah di Taman Siswa.
Sekembalinya dari Yogya, Inggit menyadari situasi telah berubah. Awalnya Soekarno ingin memadu Inggit. Tapi Inggit menampik. Ia mengijinkan Soekarno menikah tapi minta diceraikan terlebih dahulu. Perceraian itu pun terjadi pada 1942 ketika mereka sudah tinggal di Pegangsaan Timur, Jakarta.
Inilah yang membuat riwayat Inggit menjadi istimewa. Ia memang mencintai Soekarno luar dalam; sebuah kecintaan yang membuatnya rela menderita dan melarat. Tetapi, kecintaan itu tak membuatnya kehilangan karakter sebagai seorang perempuan agung. Dari hulu hingga hilir, Inggit tetap konsisten menolak poligami, bahkan ketika ia harus kehilangan lelaki yang sangat dicintainya.
Perceraian itu membuat Inggit kehilangan kesempatan menikmati masa-masa emas menjadi istri Soekarno. Jika ia menerima dimadu, boleh jadi dirinyalah yang akan jadi ibu negara dan menikmati sejumlah fasilitas. Tapi Inggit telah memutuskan. Ia tampaknya menyadari bahwa tugasnya sebagai istri Soekarno telah usai. Ia telah menunaikan dengan sebaiknya-baiknya sebuah tugas historis untuk mengantarkan seorang lelaki besar yang pernah dilahirkan bangsa ini sampai ke pintu gerbang cita-citanya.
Inggit dan (Sejarah) Indonesia
Dengan sebuah proses penalaran yang bersahaja, kita bisa melacak bagaimana peranan Inggit dalam sejarah Indonesia modern. Peranan itu tentu saja tak terlepas dari peran yang dimainkan Kusno, panggilan Inggit terhadap Soekarno, dalam sejarah Indonesia itu sendiri. Dan seperti yang dipaparkan dengan ringkas di atas, Inggit punya peranan kunci dalam menemani Soekarno di awal-awal aktivismenya sebagai seorang pengobar nasionalisme yang paling menggugah.
Pendek kata, seumpama Soekarno adalah seorang grand master catur, Inggit adalah seorang sekondan yang tidak hanya setia, cerdik, dan punya banyak akal ketika menghadapi situasi-situasi terjepit, tapi juga punya kecerdasan emosional yang mumpuni. Kecerdasan emosional Inggit inilah yang berperan besar bagi kehidupan dan kepribadian Soekarno.
Seperti yang bisa kita baca dari Daniel Goleman, kecerdasan emosi adalah kemampuan seseorang dalam mengenal emosi dirinya sendiri sehingga ia dapat mengendalikan emosinya, mengenal emosi orang lain sehingga seseorang mempunyai keterampilan bergaul, dan dapat membina hubungan baik dengan orang lain. Kecerdasan emosi macam ini pula yang dimiliki Inggit sehingga ia mampu memetakan dan membaca struktur mental Soekarno, apa yang diinginkan Soekarno, dan bagaimana cara memerlakukan Soekarno. Tidak aneh rasanya jika kemudian kita menemukan betapa Inggit seperti tahu apa yang dibutuhkan Soekarno, apa yang diinginkan Soekarno dan bagaimana menjawab semua kebutuhan itu dengan proporsional.
Dengan ditemani seorang sekondan yang memiliki kecerdasan emosional di atas rata-rata, Soekarno pun naik pelahan tapi pasti ke langit-langit pergerakan nasionalisme di Hindia Belanda. Dengan Inggit yang telaten, Seokarno mampu menyelesaikan kuliahnya kendati aktivisme politik makin membuatnya kehilangan waktu. Bersama seorang sekondan yang punya karat kesetiaan tak tertandingi itulah, tak aneh jika Soekarno bisa melewati karang-karang terjal yang siap membuasi dirinya dengan pelbagai macam godaan dan muslihat.
Dari awalnya sekadar menjadi ibu kos bagi Soekarno muda, Inggit dengan cepat bermetamorfosis menjadi kawan, ibu sekaligus istri bagi Soekarno. Ya... Dari ibu kos menjadi ibu bangsa.
Diposting oleh zen di 12:18 PM 8 komentar
Template asal oleh
headsetoptions
diadaptasi ke Blogger oleh
blog and web | dipercantik oleh udin